Kecelakaan tragis menimpanya, dianggap sudah mati. Rinda kembali ke rumah setelah beberapa bulan.
Namun ketika kembali, bukan sebuah sambutan selamat datang, melainkan sebuah pesta pernikahan megah antara suami dan kakaknya.
"Jasad ku tak kau cari, Gani! Dan kalian malah menikah lalu menggelar pesta megah? Ingat, aku masih istrimu, dan aku masih pimpinan TBBA!"
Semua mata menatap Rinda dengan tubuh yang bergetar takut. Seolah dirinya bangkit dari kematian. Tak terkecuali dengan Gani dan Teani
Namun diantara ketakutan semua orang, ada satu orang yang tersenyum atas kembalinya dirinya. Sang asisten pribadi, Jexen. Pria muda itu terus saja tersenyum ke arahnya.
Lalu, apakah Rinda akan bertahan dalam pernikahannya lalu menerima Teani sebagai madunya, atau melepaskannya?
Dan bagaimana reaksi Rinda ketika Jexen mengungkapkan perasaannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Hidup 23
Matahari bersinar dengan begitu cerahnya. Udara yang bersih terhirup melalui hidung dan berhembus melalui mulut. Senyum Rinda begitu cerah menatap ke luar jendela dengan pakaian yang sudah rapi.
Setelah blazer dan celana panjang berwarna biru tua, dipadukan dengan kemeja putih di dalamnya, membuat tampilan Rinda sangat elegan.
"Bagaimana perasaan mu pagi ini?"
"Ah Dokter Xerena, sangat baik. Terimakasih. Semua berkat Anda, hari ini saya sungguh sangat baik dan tak ada yang terasa sakit," jawab Rinda. Ia membalikkan badannya dan melihat Xerena yang belum mengenakan jas dokter.
Agaknya Xerena baru datang. Tas masih ada di tangan kanannya, dan tangan kirinya memegang segelas kopi hitam.
Sesaat mengamati wajah Xerena, Rinda mengerutkan alisnya dan baru menyadari sesuatu yang mungkin terasa aneh. Yakni wajah Xerena sedikit ada kemiripan dengan Jexen.
"Dokter, apa mungkin Anda dan Jexen itu saudara? Wajah Anda ternyata ada kemiripan dengan asisten pribadi saya," ucap Rinda.
Xerena langsung membuka matanya lebar, namun senyum wanita itu tetap mengembang. Tangannya yang menenteng tas, mengeratkan pegangannya.
Drtzzz
Sebuah helaan nafas pelan berhembus dari hidungnya saat ponselnya berdering.
"Ya, oke aku segera kesana," ucap Xerena. "Rinda, maaf ya. Aku ada pasien," ujarnya kepada Rinda.
"Oh ya, silakan Dokter."
Xerena keluar kamar dengan terburu-buru. Sambil berjalan cepat, ia benar-benar merasa lega karena panggilan dari perawatnya. Jika tidak ada panggilan itu, dia akan kesulitan menjawab pertanyaan Rinda.
"Rinda curiga sama wajah kita. Memangnya semirip itu, padahal aku lebih cantik kemana-mana. Masa iya kita mirip."
Xerena mengirim pesan kepada Jexen, memeringatkan tentang Rinda yang mungkin mulai curiga karena wajah mereka yang katanya mirip. Dimana sebenarnya Xerena terkadang merasa kesal jika disebut demikian.
Jexen hanya berdecak lirih. Dia sudah pahan jika Xerena merasa kesal. Meski begitu, itu hanya sekedar di luaran tak benar-benar dari hatinya.
Namun apa yang diberitahukan oleh Xerena bisa menjadi peringatan untuk Jexen agar lebih hati-hati. Apalagi dia akan datang ke perusahaan sang ayah.
Tok tok tok
"Mbak," panggil Jexen sambil membuka pintu. "Apa sudah siap?" tanyanya.
"Oh Jex, iya sudah siap. Tapi bukannya ini masih kepagian? Kita tidak mungkin datang ke SJ Grup sekarang kan? Janjiannya juga pukul 10," ujar Rinda.
Jexen tentu tahu, karena memang begitu lah kemarin yang dikatakan Rinda. Sekarang jam masih menunjuk di angka tujuh. Masih sangat lama untuk pergi ke SJ.
Jexen tak kehabisan ide tentunya. Sambil tersenyum, Jexen mengajak Rinda keluar dari rumah sakit lebih dulu.
"Mari kita sarapan dulu saja Mbak sebelum ke SJ Grup. Dan kita tidak perlu ke kantor. Atau Mbak mau pulang saja untuk menaruh barang-barang Mbak?"
Jexen mengambil semua peper bag yang berisi baju baru milik Rinda dan juga baju yang kemarin dipakai oleh nona nya tersebut. Sambil mengangkat semua tas kertas itu, Jexen menunggu jawaban Rinda.
"Astaga, aku lupa. Baiklah kita pulang saja dulu kalau begitu," jawab Rinda. Dia hendak mengambil beberapa paper bag itu dari Jexen, namun Jexen menghindar.
"Biar aku saja Mbak. Udah bawa diri saja," ucap Jexen.
"Haah kamu ini lho Jex. By the way, terimakasih ya. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana berterimakasih kepada mu. Kamu sudah sangat membantuku, bahkan di saat semua orang yang ku anggap keluarga mengabaikan ku."
Bibir Rinda memang tersenyum. Namun wajahnya jelas sekali menunjukkan rasa kecewa yang begitu dalam.
Tangan Jexen memegang tali paper bag dengan kuat. Ingin sekali dia membawa Rinda ke dalam pelukannya. Namun, tentu dia tak bisa melakukan itu. Rinda pasti akan salah paham, dan dia juga tak bisa memberikan alasan tepat untuk melakukannya.
Padahal Jexen berharap bisa memberikan penghiburan dan berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja selama ada aku. Jexen ingin Rinda mengandalkannya, Ia ingin wanita itu terus bersandar padanya. Tapi Rinda pasti sulit bersikap demikian setelah pengkhianatan yang dilakukan oleh keluarga dan suaminya.
"Jangan dipikirkan, Mbak. Mbak adalah nona ku, atasanku, dan bos ku. Membantu mu adalah bagian dari tugas ku. Jadi jangan merasa terbebani oke. Sekarang mari kita cari sarapan. Tapi ada catatan ya, Mbak tidak boleh minum kopi dulu. Itu obat Mbak masih banyak sekali yang harus dihabiskan."
"Hahaha, ya kau benar Jex. Mari kita sarapan tanpa kopi."
Rinda tertawa renyah hingga gigi-giginya terlihat. Melihat tawa Rinda itu, hati Jexen terasa begitu tenang. Ia berkata dalam hati bahwa akan menjaga tawa itu terus ada.
Keduanya keluar dari rumah sakit. Jexen memilih tempat makan yang tak jauh dari SJ Grup. Sebuah kafe yang memiliki menu makanan berat dan sudah buka sejak pukul 08.00. Keduanya sarapan dengan santai, sembari menunggu waktu untuk pergi ke SJ. Rinda meminta proposal yang dikerjakan oleh Jexen. Memeriksanya lembar demi lembar hingga senyum kepuasan itu terbit di bibirnya.
"Bagus Jex, terimakasih ya," ucap Rinda.
"Dengan senang hati, Nona. Sudah jadi tugas saya sebagai asisten pribadi Anda," jawab Jexen. Tangan kanannya diletakkan pada dada sebelah kiri dan tubuhnya sedikit menunduk. Rinda hanya tersenyum saja melihat tingkah sang asisten.
Drtzzz
Ponsel Rinda berdering. Ia segera melihat siapa yang menghubunginya. Baru melihat layarnya saja, Rinda sudah kembali meletakkannya di atas meja.
Tak perlu bertanya, Jexen tahu siapa yang menghubungi Rinda. Jika bukan Teani pastilah Gani.
Ponsel itu kembali berdering, dimana Rinda tetap saja mengabaikannya. Hingga setidaknya lima kali benda pipih itu berbunyi.
"Mau aku saja Mbak yang menjawabnya?" tanya Jexen. Ekspresi wajah Rinda menunjukkan keengganan yang langsung bisa dimengerti oleh pemuda itu.
"Tidak perlu, biar aku saja Jex. Habiskan kopi mu."
Rinda beranjak dari kursinya. Dia berjalan ke tempat yang lebih sepi untuk menjawab panggilan itu.
Tangan Jexen menggenggam erat. Dia tahu itu pasti Gani, karena kalau hanya menjawab telepon dari Teani, Rinda tidak akan menepi seperti itu.
"Apa dia masih memiliki rasa terhadap si brengsek itu?" gumam Jexen lirih.
Huuuft
Hembusan nafas kasar meluncur dari hidung dan bibirnya. Matanya terus saja menatap ke arah Rinda seolah takut wanita itu hilang dari pandangannya.
"Aku sama sekali tidak bisa tenang jika mereka berdua belum lepas sepenuhnya. Tapi aku juga tidak bisa terburu-buru. Rinda membutuhkan waktu untuk mengobati hatinya. Aku bisa gila kalau seperti ini terus."
Jexen hanya bisa menahan rasanya, dia belum bisa mengungkapkan apa yang hatinya pendam selama ini kepada wanita yang dipujanya tersebut.
TBC