Alarice Jovelyn Dav Dewantara, atau Jove, adalah putri pertama keluarga Dewantara yang hidupnya nyaris sempurna. Namun, kesempurnaan itu runtuh dua hari sebelum pernikahannya ketika ia memergoki calon suaminya sedang bercinta dengan wanita lain di rumah yang telah mereka persiapkan untuk kehidupan setelah menikah.
Tanpa ragu, Jove membatalkan pernikahannya dan memilih menutup hati. Selama dua tahun, ia menenggelamkan diri dalam pekerjaan hingga membuat kedua orang tuanya khawatir.
Alaska Dewantara akhirnya memutuskan menjodohkan Jove dengan Nicholas Alvarendra, putra sahabat bisnisnya.
Nicholas adalah pria dingin yang juga memiliki luka yang sama. Ia pernah dikhianati tunangannya yang justru hamil dari sahabatnya sendiri. Sejak saat itu, Nicholas tidak lagi percaya pada cinta.
Dua hati yang sama-sama terluka akhirnya dipertemukan dalam sebuah perjodohan.
Mereka menikah tanpa cinta dan membuat kesepakatan untuk tidak saling berharap.
“Pernikahan kita hanya sebatas kertas, jangan berharap lebih.”
“Tenang saja, aku juga tidak ada niat menjalankan rumah tangga ini denganmu.”
Tapi, bagaimana jika dua orang yang sama-sama tidak percaya cinta justru perlahan menemukan kembali arti cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shann29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Acara Keluarga
Beberapa hari setelah kehidupan mereka kembali pada rutinitas masing-masing, Arman tiba-tiba meminta Nic dan Jove ikut dalam sebuah perjalanan ke luar kota.
Salah satu kerabat jauh keluarga Alvarendra akan melangsungkan pernikahan.
Karena hubungan keluarga yang cukup dekat, Arman dan Marry mendapat undangan untuk menghadiri acara tersebut.
“Kalian ikut, ya,” pinta Arman kepada Nic dan Jove saat mereka sedang makan malam bersama.
Nic menatap ayahnya.
“Berapa hari?”
“Tidak lama. Berangkat besok pagi, menginap satu malam, lalu kembali lusa.”
Nic mengangguk.
Jove tidak keberatan.
Toh, pekerjaan mereka masih bisa disesuaikan untuk satu atau dua hari.
Keesokan paginya, mereka berangkat bersama.
Nic yang mengemudikan mobil.
Arman duduk di kursi depan menemani putranya, sementara Jove duduk di kursi belakang bersama Marry.
Sejak mobil meninggalkan rumah, Marry hampir tidak berhenti berbicara.
“Jove, Mama mau cerita sesuatu.”
Jove tersenyum.
“Apa, Ma?”
“Dulu waktu Nic kecil, dia itu paling susah kalau disuruh makan.”
Nic yang mendengar dari depan langsung menghela napas.
“Ma…”
Marry tidak peduli.
“Benar, kan, Pa?”
Arman tertawa kecil.
“Benar. Dulu dia bahkan pernah menyembunyikan sayur di bawah meja.”
Jove menahan tawanya.
“Serius?”
“Serius!” Marry menjawab antusias.
“Dan waktu SD, dia pernah menangis hanya karena Papa tidak membelikannya mainan.”
“Ma,” protes Nic lagi.
Jove akhirnya tertawa.
“Jadi Nic waktu kecil ternyata seperti itu.”
“Dia memang begitu,” jawab Marry puas.
Arman ikut menyahut dari depan.
“Jangan percaya semua cerita Mama-mu.”
“Kenapa?” tanya Jove.
“Karena sebagian cerita itu dilebih-lebihkan.”
“Tidak dilebih-lebihkan,” bantah Marry.
Sepanjang perjalanan, Marry terus bercerita.
Tentang Nic ketika kecil.
Tentang kebiasaannya saat remaja.
Tentang bagaimana Arman dan Marry membesarkannya sebagai anak tunggal.
Jove mendengarkan semuanya dengan senang hati.
Anehnya, ia sama sekali tidak merasa terganggu.
Justru ia merasa nyaman.
Ada sesuatu yang hangat ketika mendengar seorang ibu menceritakan masa kecil anaknya kepada menantu.
Dan Jove senang karena Marry begitu terbuka kepadanya.
Tanpa sadar, hubungan mereka terasa semakin dekat.
Mereka tiba di kota tujuan menjelang sore.
Jove sendiri yang memilih hotel tempat mereka menginap.
Grand Hotel.
Hotel milik keluarga dari pihak ibunya.
Begitu tiba, Jove bahkan meminta pihak hotel memberikan kamar terbaik untuk Arman dan Marry.
“Pastikan Mama dan Papa mendapatkan kamar yang nyaman,” pesan Jove kepada staf hotel.
Marry tersenyum bangga.
“Jove, kamu tidak perlu repot-repot.”
“Tidak repot, Ma. Aku memang ingin Mama nyaman.”
Marry langsung menggenggam tangan Jove.
“Anak Mama memang baik.”
Jove tersenyum.
Sementara itu, Nic yang berdiri di samping mereka hanya memperhatikan.
Entah mengapa ia merasa senang melihat Jove begitu mudah diterima oleh keluarganya.
Setelah orang tua Nic masuk ke kamar mereka, Nic membawa barang-barangnya menuju kamar yang sudah disiapkan untuk dirinya dan Jove.
Begitu pintu kamar tertutup, Nic meletakkan koper.
“Kita satu kamar.”
Jove mengangguk.
“Ya, mau bagaimana lagi? Nanti Papa dan Mama curiga kalau kita berbeda kamar.”
Nic melihat sekeliling kamar.
“Ya sudah, kalau begitu aku di sofa saja.”
Jove tidak membantah.
Mereka memang sudah terbiasa tidur terpisah.
Malam ini hanya situasinya yang berbeda.
Malam harinya, mereka menghadiri acara pernikahan yang digelar di hotel lain.
Jove keluar dari kamar dengan gaun elegan yang membuat langkah Nic terhenti sejenak.
Ia menatap Jove beberapa detik.
Tidak ada kata yang langsung keluar dari mulutnya.
Jove memperhatikan tatapan itu.
“Kenapa?”
Nic seperti tersadar.
“Tidak apa-apa.”
Padahal sebenarnya ia tidak tahu harus mengatakan apa.
Jove memang selalu terlihat cantik.
Saat mengenakan pakaian kerja, auranya tegas dan berkelas.
Saat mengenakan pakaian santai di apartemen, ia terlihat sederhana.
Namun malam ini…
Gaun elegan yang dikenakannya membuat kecantikan Jove terlihat berbeda.
Nic sendiri mengenakan jas hitam.
Aura seorang CEO muda begitu jelas terlihat.
Dan kali ini, giliran Jove yang sempat memperhatikannya sedikit lebih lama.
Mereka kemudian bergabung dengan Arman dan Marry.
Marry langsung tersenyum lebar melihat keduanya.
“Kalian serasi sekali.”
Jove tersenyum malu.
Nic hanya terkekeh.
Kemudian Marry menambahkan dengan santainya,
“Sepertinya sudah cocok, ya, Ma, kalau mereka memiliki bayi.”
Jove langsung terdiam.
Wajahnya perlahan bersemu merah.
Sementara Nic justru tersedak air liurnya sendiri.
“Uhuk!”
Arman tertawa.
Marry juga ikut tertawa.
“Kenapa kalian panik begitu?”
“Ma…” Nic mengusap tenggorokannya.
Marry tersenyum penuh pengertian.
“Tidak usah terburu-buru. Nikmati saja dulu masa berdua kalian.”
Jove hanya tersenyum kecil.
Tidak ada tekanan.
Tidak ada pertanyaan kapan mereka akan memiliki anak.
Tidak ada tuntutan dari Marry.
Dan justru itu yang membuat Jove merasa semakin nyaman.
Ibu mertuanya begitu mengerti dirinya.
Sepanjang acara, Arman dan Marry dengan bangga memperkenalkan Jove kepada kerabat jauh mereka.
Sebagian dari mereka memang belum pernah bertemu Jove.
Pernikahan Jove dan Nic sebelumnya berlangsung sangat intimate dengan jumlah undangan terbatas, sehingga banyak kerabat jauh keluarga Alvarendra tidak sempat hadir.
Kini mereka akhirnya bisa melihat langsung perempuan yang menjadi istri Nic.
Banyak yang memberikan pujian.
Jove hanya membalas dengan senyum sopan.
Namun semakin lama, Nic mulai menyadari beberapa pria di sekitar mereka cukup sering memperhatikan Jove.
Tatapan kagum.
Beberapa bahkan terlihat mencoba mencari kesempatan untuk berbicara dengannya.
Entah mengapa, hal itu membuat Nic merasa tidak nyaman.
Padahal seharusnya tidak ada alasan baginya untuk merasa seperti itu.
Jove adalah istrinya hanya di atas kertas.
Mereka sudah sepakat untuk tidak saling mencampuri kehidupan pribadi.
Namun ketika seorang pria kembali menatap Jove cukup lama, Nic akhirnya bergerak.
Tangannya melingkar di pinggang Jove.
Jove langsung menoleh dari samping.
Nic mendekat sedikit dan berbisik,
“Mereka memperhatikan kita.”
Jove akhirnya mengerti.
Oh.
Mereka sedang menjalankan drama.
Biasanya Nic hanya menggandeng tangannya ketika berada di depan keluarga.
Tetapi kali ini, pria itu lebih berani.
Tangannya berada di pinggang Jove, membuat mereka terlihat jauh lebih dekat.
Jove tidak mengatakan apa-apa.
Ia hanya membiarkan Nic melakukan itu.
Namun entah mengapa, setelah beberapa saat, ia justru mulai merasa nyaman berada di sisi pria itu.
Acara selesai cukup larut.
Mereka kembali ke Grand Hotel.
Arman dan Marry langsung masuk ke kamar mereka untuk beristirahat.
Sementara Jove dan Nic kembali ke kamar mereka.
Jove membersihkan diri terlebih dahulu dan berganti pakaian tidur.
Setelah itu, giliran Nic.
Tidak lama kemudian, terdengar suara benda jatuh dari arah ruang tengah.
Jove yang sedang merapikan rambut keluar dari kamar.
Ia melihat Nic berdiri di dekat sofa.
Sementara sebagian air terlihat tumpah di sofa.
Jove menatap sofa tersebut.
“Kenapa tidak hati-hati?”
Nic mengusap wajahnya.
“Sepertinya aku tadi sudah sangat mengantuk.”
Jove menghela napas.
“Aku telepon bagian housekeeping. Akan meminta kasur tambahan.”
Tangannya baru hendak mengambil ponsel ketika Nic menahannya.
“Jangan.”
Jove menatapnya.
“Kenapa?”
“Ini hotel milik keluarga ibumu.”
Nic menunjuk sofa yang basah.
“Nanti bagaimana kalau ada yang melaporkannya pada keluargamu kalau kamu memesan extra bed untuk kamar ini?”
Jove terdiam.
Benar juga.
Apalagi manajemen hotel cukup mengenalnya.
Kalau tiba-tiba meminta tambahan tempat tidur, bukan tidak mungkin informasi itu sampai kepada keluarganya.
Jove menghela napas panjang.
“Biar aku tidur di bawah saja.”
Jove langsung menggeleng.
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Lantainya dingin.”
“Aku tidak masalah.”
“Aku yang masalah.”
Nic terdiam.
Jove memandang tempat tidur yang cukup luas di depan mereka.
Kemudian menarik napas.
“Tidur saja di tempat tidur.”
Nic menatap Jove.
“Bareng kamu?”
Jove mengangguk kecil.
“Mau bagaimana lagi?”
Nic tidak langsung menjawab.
Untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, mereka akan tidur di tempat tidur yang sama.
Bukan karena perasaan.
Bukan karena keinginan.
Hanya karena sofa basah dan mereka tidak ingin keluarga mengetahui kehidupan sebenarnya dari pernikahan mereka.
Namun entah mengapa…
Bagi Nic, kalimat sederhana Jove itu terasa jauh lebih rumit daripada seharusnya.