NovelToon NovelToon
MENANTU MISKIN INI TERNYATA PRESDIR!

MENANTU MISKIN INI TERNYATA PRESDIR!

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Dian Mita

Tiga tahun menikah, Rendy selalu dihina, diperlakukan seperti pembantu, dan dibeda-bedakan oleh ibu mertua serta iparnya karena hanya dianggap seorang sopir miskin tak berpendidikan. Clarissa, sang istri, hanya bisa diam menahan tekanan keluarga besarnya. Puncaknya, saat bisnis keluarga mengalami krisis, Rendy difitnah mencuri, dipaksa menandatangani surat cerai, dan diusir di tengah hujan deras tanpa membawa apa pun.
​Namun, keluarga itu tak pernah tahu bahwa Rendy sebenarnya adalah satu-satunya ahli waris Pradipta Group—konglomerat terbesar yang sengaja menyamar demi menguji ketulusan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian Mita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Penyelamatan di Restoran Mewah

Atmosfer di dalam restoran mewah itu mendadak membeku. Rasa sakit pada pergelangan tangannya dipadu aura intimidasi yang memancar dari tubuh Rendy membuat Pak Hadi gemetaran hebat. Pria tua buncit itu mencoba bangkit dari marmer dingin, namun tatapan mata Rendy yang setajam sembilah belati mengunci pergerakannya di tempat.

Asisten Bagas melangkah maju dua langkah, menyerahkan selembar kartu nama berstempel timbul berlapis emas tepat di depan wajah Pak Hadi.

"Bapak Hadi dari Wijaya Properti?" panggil Bagas dengan nada yang amat dingin dan formal. "Saya Bagas, Asisten Pribadi Utama dari Pradipta Group. Pria yang berdiri di hadapan Anda saat ini adalah Presdir Rendy Pradipta, pimpinan tertinggi konsorsium Pradipta."

Kata 'Pradipta' menghantam kesadaran Pak Hadi bak petir di siang bolong. Wajahnya yang semula merah padam oleh amarah seketika berubah pucat pasi, seperti kain kafan. Keringat dingin bercucuran deras melintasi dahi licinnya.

"Pr-Pradipta Group...?" bisik Pak Hadi gagap, matanya membelalak tak percaya menatap sosok tegap di hadapannya. "Ma-maafkan saya! Saya tidak tahu kalau wanita ini berhubungan dengan Anda, Tuan Presdir! Saya sungguh tidak tahu!"

"Mulai detik ini," ujar Rendy dengan suara berat yang bernada perintah mutlak, "seluruh lisensi proyek properti milik perusahaanmu di kota ini dibatalkan. Dalam waktu satu jam, tim audit Pradipta Group akan membekukan seluruh asetmu."

"Tuan Presdir! Tolong, jangan! Saya mohon ampun!" jerit Pak Hadi histeris. Tanpa peduli pada harga dirinya, pengusaha tua itu merangkak mencoba menggapai ujung sepatu kulit Rendy.

Namun, dua pengawal berbadan tegap di belakang Rendy bergerak cepat. Mereka mencengkeram kedua paha dan lengan Pak Hadi, menyeret pria tua yang melolong ketakutan itu keluar dari restoran mewah tersebut seperti menyeret sampah.

Para pengunjung restoran yang menyaksikan kejadian itu hanya bisa menunduk tak berani bersuara, menyadari betapa mengerikannya kekuasaan pria berjas abu-abu gelap itu.

Clarissa berdiri kaku di tempatnya. Gaun merah marun yang dikenakannya terasa dingin menempel di kulit. Air matanya mengalir perlahan, menatap Rendy dengan perpaduan rasa syok, kebingungan, dan kerinduan yang membakar dada.

"Mas... Mas Rendy..." bisik Clarissa serak, hendak melangkah mendekat.

Namun, sebelum Clarissa sempat meraih ujung jasnya, Rendy menyambar pergelangan tangan wanita itu dengan cengkeraman yang kuat namun terukur. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Rendy menarik Clarissa melintasi area makan restoran menuju sebuah lorong privat yang temaram di dekat pintu keluar darurat.

Sreeek!

Rendy mendorong tubuh Clarissa secara perlahan hingga punggung wanita itu membentur dinding marmer lorong yang dingin. Sebelum Clarissa sempat bereaksi, Rendy memajukan tubuh tegapnya, menghimpit Clarissa tepat di antara kedua lengannya yang mengunci di sisi dinding.

Jarak di antara mereka seketika menguap tak bersisa.

Dada bidang Rendy yang kokoh bergeser langsung menempel rapat pada dada Clarissa yang naik turun oleh napas yang memburu cepat. Aroma wangi parfum maskulin berkelas yang memancar dari tubuh Rendy menyergap seluruh indra penciuman Clarissa, sangat berbeda dengan aroma minyak kayu cendana yang biasa dikenakan mantan suaminya dulu.

"Mas..." desah Clarissa lirih, tenggorokannya terasa kering.

Kedekatan fisik yang begitu intim ini membakar kembali ingatan akan kehangatan malam-malam mereka di bawah selimut kontrakan. Hawa panas meluap dari tubuh tegap Rendy, menyalurkan gesekan kulit dan ritme detak jantung mereka yang bersatu rapat di dalam kegelapan lorong temaram.

Rendy menundukkan kepalanya sedikit. Manik matanya yang gelap dan pekat mengunci mata Clarissa. Pandangan Rendy turun menyusuri bibir merah Clarissa yang gemetaran rapat, memancarkan kilatan gairah dan kepemilikan yang amat lapar—sebuah tatapan dari seorang penguasa yang pernah memiliki wanita ini sepenuhnya.

Napas Rendy yang hangat berembus halus mengusap leher mulus Clarissa, menyebarkan gelombang getaran panas yang membuat seluruh persendian Clarissa melentur pasrah. Jemari tegap Rendy merayap naik, mengusap rahang lembut Clarissa dengan ibu jarinya, meraba sisa air mata yang membasahi pipi mulus istrinya.

"Kamu datang menyerahkan diri pada pria tua itu hanya demi lima miliar rupiah, Clarissa?" bisik Rendy rendah, suaranya begitu dalam dan membahayakan di celah napas mereka yang bersatu.

Clarissa memejamkan mata erat-erat, meremas kain jas tebal Rendy di bagian dadanya. Kehangatan fisik Rendy yang menghimpitnya begitu memabukkan, membangkitkan rasa haus akan perlindungan suaminya yang selama ini hilang.

"Aku... aku terpaksa, Mas..." bisik Clarissa terengah-engah, dadanya yang membusung di balik gaun marun menekan pelan dada bidang Rendy saat ia bernapas. "Ibu dan Dion... rumah kami mau disita... Aku tidak punya pilihan lain..."

"Kamu selalu punya pilihan," potong Rendy dingin. Jemarinya yang menangkup rahang Clarissa sedikit menekan, memaksa wanita itu untuk membuka matanya dan menatap lurus ke dalam manik matanya yang tajam. "Tapi kamu selalu memilih untuk meragukanku."

Clarissa menatap wajah tegap di hadapannya. Dalam jarak beberapa senti ini, ia melihat kerapian jahitan jas berkelas yang membungkus bahu kokoh Rendy, kilauan jam tangan eksklusif yang bernilai puluhan miliar di pergelangan tangannya, serta wibawa mutlak yang belum pernah ia lihat selama tiga tahun mereka menikah.

Rasa heran dan kebingungan yang luar biasa besar akhirnya menembus rasa paniknya.

Dengan jemari yang gemetaran hebat, Clarissa menyentuh kerah kemeja sutra mahal yang dikenakan Rendy. Ia menatap pakaian mewahnya dari atas hingga ke bawah dengan mata yang menceritakan keguncangan batin yang teramat sangat.

"Rendy..." bisik Clarissa dengan suara bergetar dan tatapan penuh tanda tanya, "kenapa... kenapa pakaianmu seperti orang kaya?"

Sambungan Bab 15

Pertanyaan Clarissa mengudara lembut namun sarat akan kehampaan di antara helaan napas mereka yang saling beradu. Jemari lentiknya yang masih berada di atas kerah kemeja sutra Rendy terasa gemetaran hebat. Segala bentuk kebohongan, penyamaran, dan kebenaran yang tersembunyi selama tiga tahun pernikahan mereka seolah menuntut jawaban di lorong remang tersebut.

Rendy tidak langsung menjawab. Pria itu menyunggingkan senyum tipis—sebuah senyuman dingin yang memancarkan kejayaan sekaligus jarak yang amat membentang. Jemari tegapnya yang semula menangkup rahang Clarissa perlahan mundur, melepaskan cengkeramannya dari tubuh wanita itu.

Ia melangkah mundur satu pijakan, merapikan lengan jas abu-abu gelapnya dengan gerakan yang amat elegan dan presisi. Seketika itu pula, hawa panas dan kehangatan fisik yang baru saja memabukkan Clarissa terenggut lepas, meninggalkan rasa dingin yang menusuk hingga ke tulang.

"Pakaian orang kaya?" ulang Rendy dengan suara rendah yang amat tenang, namun sanggup meremukkan hati Clarissa hingga berkeping-keping. "Ini bukan sekadar pakaian orang kaya, Clarissa. Ini adalah identitas asliku yang selama tiga tahun ini sengaja kubuang hanya demi membuktikan cintaku padamu."

Clarissa terkesiap, matanya membelalak lebar dalam genangan air mata yang tak henti menetes. "Apa... apa maksudmu, Mas?"

Asisten Bagas melangkah mendekat dari ujung lorong, membungkuk hormat tepat di samping Rendy seraya membukakan dokumen berstempel lambang mahkota emas.

"Nyonya Clarissa," panggil Bagas dengan nada dingin yang sarat ketegasan. "Pria yang Anda usir dari rumah kontrakan dalam keadaan basah kuyup tiga hari lalu bukanlah seorang pengangguran melarat. Beliau adalah Rendy Pradipta, satu-satunya pewaris tunggal dan Pemilik Kuasa Tertinggi dari Pradipta Group."

BUMM!

Dunia Clarissa serasa hancur berantakan. Kenyataan itu menghantam dadanya jauh lebih menyakitkan daripada lecehan Pak Hadi atau ancaman kebangkrutan keluarganya. Pria yang selama tiga tahun dianiaya oleh ibunya, dipanggil kuli oleh adiknya, dan dihina sebagai beban keluarga... adalah penguasa raksasa bisnis terbesar di negeri ini.

"Ti-tidak mungkin..." tangis Clarissa pecah, tubuhnya melemah hingga hampir tersungkur jika ia tidak memegangi dinding marmer di belakangnya. "Mas Rendy... kenapa kamu membohongiku? Kenapa kamu berpura-pura miskin selama ini?!"

Rendy menatap mantan istrinya tanpa ada keraguan sedikit pun di dalam matanya.

"Aku tidak membohongimu," sahut Rendy dingin, membalikkan badannya untuk melangkah pergi. "Aku hanya ingin dicintai sebagai seorang manusia biasa, bukan karena harta dan takhtaku. Tapi kamu dan keluargamu telah memilih uang... dan membuangku."

Tanpa menoleh lagi, Rendy melangkah pergi meninggalkan lorong gelap tersebut, diiringi Bagas dan para pengawal tegapnya. Clarissa terduduk di atas lantai marmer yang dingin, meraung meratapi kebodohan dan penyesalan yang tak akan pernah bisa diulang kembali.

1
Dian Paramita Dewi
Semangat....terus berkarya ☺️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!