Setelah memergoki kekasihnya berselingkuh, Naya yang hancur melarikan diri ke bar untuk menenggelamkan kesedihannya sebelum akhirnya memutuskan menginap di rumah Nessa.
Dalam keadaan setengah sadar, Naya masuk ke rumah Nessa dan menemukan Kafka yang baru pulang dari luar negeri, tetapi karena gelap dan pengaruh alkohol ia mengira pria itu adalah "jasa hiburan" yang sengaja dipesan Nessa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Lunatia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Sisa sore itu dihabiskan Naya dengan mengurung diri di dalam kamar. Ia beralasan ingin membereskan pakaian dari koper dan mandi, padahal kenyataannya, ia butuh waktu untuk menetralkan debar jantungnya yang masih berpacu gila-gilaan.
Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan wajah Kafka yang begitu dekat, embusan napas pria itu di telinganya, dan sensasi bibir mereka yang bertaut di lorong tadi kembali memutar dengan sangat jelas. Kafka benar-benar membuktikan ucapannya. Pria itu tidak lagi memberikan ruang bagi Naya untuk mengelak.
Menjelang magrib, suara ketukan brutal di pintu kamar membuyarkan lamunan Naya.
"Nay! Turun woy! Ayam geprek level dewanya udah siap nih!" teriak Nessa dari luar.
Naya menarik napas panjang, menepuk-nepuk pipinya sendiri di depan cermin untuk memastikan wajahnya tidak terlihat aneh, lalu membuka pintu. Ia mengikuti Nessa menuruni tangga menuju ruang makan.
Di meja makan, Kafka sudah duduk dengan tenang. Pria itu telah mandi dan berganti pakaian dengan kaus polo berwarna putih yang membuat kulit terangnya terlihat semakin bersih, kontras dengan rambut hitamnya yang masih sedikit lembap. Kafka sedang menyusun piring dan gelas es teh manis. Ia terlihat begitu normal, begitu sempurna, seolah insiden panas di lantai dua tadi sama sekali tidak pernah terjadi.
"Lama banget lo, Nay. Keburu dingin nih ayamnya," gerutu Nessa sambil menarik kursi dan langsung mengambil potongan dada ayam berbalut sambal bawang yang tebal.
Naya duduk di seberang Kafka. Ia menunduk, tidak berani menatap pria itu, dan mulai menyendok nasinya dalam diam.
"Kak Naya kelihatannya masih lelah, Kak Nes. Biarkan saja," ucap Kafka santai, membela Naya. Namun, di bawah meja, ujung kaki Kafka dengan sengaja menyentuh pelan pergelangan kaki Naya, membuat wanita itu nyaris menjatuhkan sendoknya.
Naya mendongak, melotot tajam ke arah Kafka, memberikan isyarat agar pria itu berhenti bermain api. Namun Kafka hanya membalasnya dengan mengangkat sebelah alisnya, raut wajahnya tetap sedatar papan ujian.
"Iya sih, perjalanan Solo-Jakarta lumayan bikin pegel. Untung lo bawa Kafka, kalau nggak, nggak kebayang gue lo harus ngadepin Bapak lo sendirian," Nessa mengoceh di sela-sela kunyahannya. "Eh, Kaf, tumben lo makan ayam geprek ginian? Biasanya perut London lo anti sama sambal pinggir jalan."
"Sedang ingin mencoba hal baru," jawab Kafka kalem, mengambil sepotong ayam dan mulai memakannya dengan garpu.
Beberapa saat kemudian, ponsel Naya yang tergeletak di sebelah piringnya bergetar pelan. Layarnya menyala, menampilkan sebuah pesan masuk.
[Kafka] Jangan menunduk terus. Aku jadi tidak bisa melihat wajahmu.
Wajah Naya memanas. Ia melirik Nessa yang sedang sibuk mengelap keringat di dahi karena kepedasan, lalu membalas pesan itu dengan cepat di bawah meja.
[Naya] Berhenti godain aku, Kaf! Kakakmu ada di depan kita.
Hanya butuh dua detik bagi Kafka untuk membalas.
[Kafka] Aku tidak sedang menggodamu. Aku serius. Dan soal Kak Nessa... dia terlalu sibuk dengan ayam gepreknya. Makanlah yang banyak, Sayang. Kau butuh tenaga untuk nanti malam.
"Uhuk! Uhuk!"
Naya tersedak hebat seketika. Wajahnya memerah padam, tenggorokannya terbakar oleh kombinasi sambal dan serangan jantung mendadak akibat pesan Kafka.
"Eh, ya ampun! Minum, Nay, minum!" Nessa panik, buru-buru menyodorkan gelas es teh manis ke arah sahabatnya.
Kafka, dengan gerakan yang luar biasa tenang namun sangat cepat, bangkit dari kursinya. Ia mengulurkan tangannya melintasi meja, mengambil selembar tisu, dan mengusapkannya ke sudut bibir Naya yang basah, sementara tangannya yang lain menepuk pelan puncak kepala wanita itu.
"Pelan-pelan, Kak. Tidak ada yang akan merebut makananmu," tegur Kafka dengan suara selembut beludru, namun matanya memancarkan kilat geli yang luar biasa menyebalkan.
Naya menepis pelan tangan Kafka, menenggak airnya hingga tandas, sambil menatap pria itu dengan tatapan membunuh yang sayangnya sama sekali tidak efektif.
Setelah makan malam yang terasa seperti simulasi uji nyali itu selesai, Nessa menguap lebar. Sahabatnya itu meregangkan tubuhnya.
"Gila, pedesnya bikin ngantuk. Gue mau langsung tidur aja deh," ucap Nessa seraya beranjak dari kursi. Ia menatap adiknya. "Kaf, lo yang cuci piring ya malam ini. Gue capek banget."
"Tentu," jawab Kafka singkat.
"Nay, gue duluan ya. Night!" Nessa melambai pelan dan berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.
Begitu suara pintu kamar Nessa terdengar tertutup rapat dari lantai dua, keheningan yang sangat pekat dan berbahaya langsung turun menyelimuti dapur. Naya yang masih duduk di kursinya, seketika membeku. Ia menatap Kafka yang kini sedang membereskan piring-piring kotor dengan gerakan santai.
Naya buru-buru bangkit. "B-biar aku aja yang cuci piringnya."
Namun saat Naya mencoba mengambil tumpukan piring dari tangan Kafka, pria itu dengan sengaja menangkap pergelangan tangan Naya.
"Aku yang cuci piringnya," ucap Kafka, menatap Naya dengan sorot mata yang perlahan menggelap. "Kakak buatkan saja teh chamomile hangat untuk kita berdua, lalu bawa ke balkon atas. Aku akan menyusul dalam sepuluh menit."
Itu bukan sebuah permintaan. Itu adalah sebuah janji.
Dua puluh menit kemudian, Naya duduk bersandar di kursi rotan di balkon lantai dua rumah Nessa. Udara malam Jakarta terasa cukup sejuk karena sisa hujan sore tadi. Dua cangkir teh chamomile yang mengepulkan asap tipis terletak di atas meja kaca kecil di hadapannya.
Suara langkah kaki pelan terdengar dari arah pintu geser kaca. Kafka melangkah keluar, bergabung dengan Naya di balkon yang temaram. Pria itu menarik kursi rotan di sebelah Naya, namun bukannya duduk berhadapan, Kafka memutar kursi itu hingga ia duduk tepat di samping Naya, bahu mereka nyaris bersentuhan.
Kafka meraih cangkirnya, menyesap teh hangat itu perlahan, lalu meletakkannya kembali. Keheningan yang damai mengelilingi mereka, hanya diselingi suara jangkrik dari taman bawah.
"Dulu, saat aku masih SMA..." Kafka memulai percakapan, suaranya memecah keheningan malam bagaikan alunan musik klasik yang menenangkan. "...aku sering duduk di balkon ini sendirian."
Naya menoleh, menatap profil samping pria itu. Rahang tegasnya diterangi oleh cahaya lampu jalanan yang masuk menembus dahan pepohonan.
"Kau dan Kak Nessa sedang mengerjakan tugas kuliah di ruang tengah," lanjut Kafka, menyunggingkan senyum tipis. "Aku duduk di sini dengan buku pelajaran terbuka, tapi fokusku sepenuhnya tertuju pada suara tawamu dari dalam rumah. Aku selalu menebak-nebak, kapan aku bisa tumbuh cukup besar agar kau berhenti melihatku sebagai bocah ingusan yang sering kau suruh membelikan martabak manis ke depan komplek."
Hati Naya berdesir mendengarnya. Betapa butanya ia selama ini. Ia sama sekali tidak pernah menyadari tatapan Kafka di masa lalu.
"Kaf... aku minta maaf," bisik Naya, menundukkan kepalanya. "Aku benar-benar nggak tahu. Kalau saja waktu itu aku lebih peka..."
"Kalau waktu itu kau peka, kau pasti akan lari menjauhiku," potong Kafka cepat, diiringi kekehan pelan. Pria itu mengulurkan tangannya, meraih jemari Naya yang bertaut di atas pangkuan wanita itu, lalu menggenggamnya erat. "Waktu itu aku masih labil, Kak. Aku belum punya apa-apa untuk ditawarkan padamu selain perasaan cinta monyet seorang remaja. Kau pantas mendapatkan lebih dari itu."
Kafka memutar tubuhnya menghadap Naya. Ia menggeser kursinya semakin dekat, hingga lutut mereka bersentuhan.
"Tapi sekarang berbeda," suara Kafka berubah menjadi jauh lebih serius dan berat. Pria itu mengangkat tangan Naya, mengecup punggung tangannya dengan penuh pemujaan. "Sekarang aku memiliki dunia di dalam genggamanku, dan aku siap meletakkan semuanya di bawah kakimu."
Mata Naya berkaca-kaca. Ia menatap pria yang kini menggenggam tangannya ini. Kafka bukan lagi adik sahabatnya. Kafka adalah rumah barunya.
"Lalu... apa yang sedang kamu tunggu, Tuan Eksekutif?" goda Naya dengan suara bergetar, memberanikan diri menantang tatapan pekat pria itu.
Mendengar tantangan halus dari bibir wanita yang ia cintai, pertahanan Kafka akhirnya hancur sepenuhnya. Seringai tipis dan mematikan terbit di wajah tampannya.
"Aku hanya menunggu izin darimu, Sayang," geram Kafka rendah.
Pria itu melepaskan genggaman tangannya, berpindah menangkup kedua sisi wajah Naya dengan telapak tangannya yang besar dan hangat. Ibu jarinya mengusap lembut tulang pipi Naya, sedetik sebelum ia memiringkan kepalanya dan meraup bibir Naya dengan hasrat yang mendidih.
Kali ini, Naya tidak terkejut. Ia membuka bibirnya, menyambut ciuman Kafka dengan balasan yang sama menggebunya. Tangan Naya merayap ke atas, melingkar di leher kokoh pria itu, meremas rambut hitamnya saat Kafka memperdalam ciuman mereka.
Dunia di sekitar mereka seolah melebur. Udara malam yang sejuk sama sekali tidak mampu mendinginkan hawa panas yang membakar tubuh keduanya. Kafka menciumnya seolah Naya adalah oksigen satu-satunya, menyesap dan menggigit pelan bibir bawah wanita itu, menciptakan erangan tertahan dari tenggorokan Naya.
Tangan Kafka turun, merengkuh pinggang Naya dan menarik wanita itu hingga berpindah dari kursinya, jatuh tepat ke atas pangkuan Kafka.
"Kaf..." Naya terkesiap saat merasakan otot paha Kafka yang keras di bawahnya, napasnya memburu tak terkendali.
Kafka menyandarkan keningnya di kening Naya. Napas pria itu berantakan, dadanya naik turun dengan cepat. Mata legamnya menatap Naya dengan kilat kepemilikan yang absolut dan membara.
"Mulai detik ini, kau milikku, Kak Naya," bisik Kafka posesif, suaranya menggetarkan udara di antara mereka. "Kau kekasihku. Wanitaku. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun, atau apa pun, mengambilmu dariku."
Naya memeluk leher Kafka erat, menyandarkan kepalanya di bahu lebar pria itu. Air mata kebahagiaan menetes dari sudut matanya, membasahi kaus yang dikenakan Kafka.
"Iya, Kafka. Aku milikmu," balas Naya tanpa keraguan sedikit pun.
Malam itu, di bawah sisa cahaya rembulan dan hembusan angin malam Jakarta, Kafka akhirnya mendapatkan apa yang selama ini menjadi doa terbesarnya. Dan bagi Naya, ia baru saja menyerahkan hatinya kepada pria yang akan menjaganya melebihi nyawanya sendiri.