Selama ribuan tahun, Kekaisaran Shen berdiri di Benua Zhanxi, melewati perang, pergantian kaisar, serta zaman yang terus berubah. Namun di balik sejarah panjang itu, terdapat satu nama yang hanya dianggap sebagai legenda.
Shen Hao Feng.
Kaisar pertama sekaligus pendiri Kekaisaran Shen—seorang Dewa Fana yang telah menghilang selama lebih dari sepuluh ribu tahun.
Ketika perang kembali menghancurkan wilayah Kekaisaran Shen dan musuh mulai menginjak tanah yang dahulu ia bangun dengan tangannya sendiri, sosok yang seharusnya hanya tinggal dalam sejarah itu akhirnya kembali.
Ia melihat bagaimana kekaisarannya berubah. Ia melihat rakyatnya menderita. Dan ia melihat tanah yang pernah ia lindungi dihancurkan oleh tangan musuh. Kini, Shen Hao Feng tidak kembali untuk merebut takhta. Ia kembali untuk mencari tahu siapa yang berani menghancurkan Kekaisaran Shen.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dyo Erdika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20. Akhir Perang para Dewa Fana
"Fire Explosion!!." Jing Yun melesat dengan tombaknya yang berapi.
Bi Yao memutar tombaknya serta energinya meledak. "Demon Glory." Tubuh Bi Yao berubah lebih kekar. "Demon Hunt!." Bi Yao menabrakkan tombaknya dengan tombak Jing Yun.
Jing Yun melompat mundur lalu berlari di antara pepohonan lebat. Matanya mengawasi Bi Yao yang masih diam di tempat.
Bi Yao menarik nafas dalam dan mendiamkan tombaknya di depan. Kedua tangannya terentang tatapannya ke atas langit.
"Black Hole..."
"Ngungg!... Bom!..."
Jing Yun terbelalak dan ia tertekan ke tanah dan memuntahkan seteguk darah segar. Nafasnya memburu melihat bola hitam besar muncul dari ruang.
Bi Yao menyeringai kejam. "Jing Yun... Apa kau tahu jika Black Hole ini meledak maka seluruh kehidupan dalam radius 20 Mil akan mati tak tersisa."
"Apa?."
Jing Yun tak mengira Bi Yao akan mengambil langkah nekat. "Tapi..." Jing Yun berusaha berdiri walau energi Black Hole itu terus menekannya. "Naga Api!."
'"Crash..." Seluruh bagian wajah Jing Yun berdarah karena tekanan itu menggetarkan otaknya.
"Masih belum!." Jing Yun menatap tajam Bi Yao dengan mata berdarahnya. "Bentuk kedua pedang Naga Api!." Jing Yun menghentak kakinya dan tombak yang jatuh terhempas ke atas dan Jing Yun mengambilnya sebelum jatuh.
"Huft... Berserker." Tubuh Jing Yun terlahap api merah dan matanya memerah seperti iblis api. Tombaknya kini menjadi pedang berapi dan suhu di sekitarnya mampu menghanguskan apapun dalam sekejap.
Bi Yao merasa sedikit tegang melihat wujud baru Jing Yun akan tetapi dia merasa tidak perlu takut karena memiliki banyak kartu AS.
"Kemarilah!." Bi Yao menyeringai.
Jing Yun berhenti berjalan kemudian menatap Bi Yao dan menghilang dari tempatnya. Wajah Jing Yun dekat dengan wajah Bi Yao.
Matanya melebar. "Apa-
Mulut Jing Yun berasal dari api menyeringai hingga Bi Yao anehnya merasa takut. "Menjauhlah!!..."
Jing Yun menendang wajah Bi Yao menghantam tanah.
"Duar!."
Bi Yao menggeram marah. "Jangan meremehkanku!." Bi Yao menarik Black Hole di atas untui jatuh. "Haha sehebat apapun dirimu kau tidak akan bisa menghancurkan Black Hole ku!.
Jing Yun mengarahkan pedangnya ke arah Black hole yang terus turun menambah tekanan walau Jing Yun tertekan namun api di tubuhnya membeirkan kekuatan dan efek penyembuhan membuat serangan Bi Yao sia-sia.
"Aku akan tunjukan padamu apa itu kekuatan sebenarnya." Jing Yun menarik nafas pelan dan melancarkan serangan 3x tebasan api.
Bi Yao terkekeh. "Kau pikir itu cukup? Naif!."
"Naif?." Jing Yun berpindah ke belakang Bi Yao tiba-tiba. "Apa kau lupa julukanku? Sang Naga Keajaiban."
"S-sejak kapan kau-
Jing Yun memutar kepala Bi Yao ke tanah dan ia menahannya hingga tak bisa bergerak. "Lihat serangan terbaikmu dengan benar Bi Yao!."
Bom!... Tebasan pertama Jing Yun tidak ada dampak namun mengurangi kecepatan Black Hole.
"Bom!..." tebasan kedua mampu memberi retakan walau sedikit.
"M-mustahil..."
"Bom... Duar!..." Tebasan ketiga masuk ke dalam badan Black Hole hingga ia meledak menghempaskan segalanya dengan kencang.
"Hahaha!!..." Jing Yun tertawa seperti iblis saat memegang kepala Bi Yao yang syok dan gemetar.
"K-kau bukan manusia siapa sebenarnya kau!." Bi Yao menepis tangan Jing Yun dan melompat mundur.
"Aku?." Jing Yun ke belakang Bi Yao dan menendangnya ke depan hingga terhempas beberapa Km. "Sudah kubilang aku sang Naga Keajaiban, Naga Api. Jing Yun."
"Ugh!." Bi Yao terhantam batu besar. Namun ia tak ada waktu untuk diam. Bi Yao terbang untuk melarikan diri dari Jing Yun.
"Sial! Aku pikir dia tidak sekuat itu! Bahkan saat aku membunuh jutaan pasukan manusia itu pun karena aku memakai formasi!. Dia benar-benar gila!."
Jing Yun melesat ke atas dan pedangnya ia hempaskan ke atas langit tertutup awan. "Serang."
Siyut...
Wush!...
Siyush...
Ratusan pedang berapi jatuh dari langit menyerang jarak Bi Yao hingga ia terpaksa bermanuver.
Bi Yao berbalik untuk membalas serangan namun Jing Yun sudah di hadapannya serta tangannya menghantam wajah Bi Yao ke tanah.
Jing Yun berdiri diam di dekat Bi Yao menatapnya dengan tatapan berapinya yang membara seperti mata Naga sendiri.
Saat Bi Yao menatapnya dia masuk ke dalam alam sadar Naga Api dimana dia berukuran besar dan agung serta bersatu dengan tubuh fana Jing Yun.
"N-naga api benar-benar seperti Dewa..." Bi Yao tak berkedip saat Naga api menghembuskan nafas api hingga Bi Yao hangus.
Jing Yun kembali nornal melihat Bi Yao tewas setelah jiwa nya terbakar. "Guru... Aku harap anda baik-baik saja melawan Mong Haochen."
.....
"Thunder Strike!." Bei Yun melempar kedua sabitnya seperti bumerang.
Chang Jia berlari menghindar dari udara dan sesekali menepis serangan sabit yang berniat mengepungmya.
"Semakin lama semakin sadar jika Bei Yun ini lawan yang merepotkan tapi itu tetap bukan masalah buatku."
Chang Jia diam di tempat dan tangannya diam di gagang pedang.
Bei Yun berkerut menyadari keanehan dalam gerakan Chang Jia. Ia memegang kembali kedua sabitnya.
Bei Yun juga tahu jika Chang Jia spesialis pendekar pedang kilat bahkan kecepatan pedangnya melebihi kemampuan yang dia latih selama beribu-ribu tahun.
Dum!... Mata Chang Jia berubah memutih dan pedangnya saat ia tarik mengeluarkan energi perak.
"Apa itu?." Bei Yun merasa firasat tidak enak pada perubahan Chang Jia.
"3 belahan sungai abadi." Chang Jia berpindah ke sisi belakang samping Bei Yun. Bei Yun terkejut dan menghindar menjauh dan belahan 3x dari Chang Jia memotong langit yanh mampu membuat Bei Yun tercengang.
"Sial kalau aku terkena serangan itu aku pasti sudah tiada!."
"Silver Ultimate." Chang Jia berpindah ke belakang Bei Yun dan pedangnya terangkat.
"Apa-
Bei Yun bergegas menahan pedang Chang Jia akan tetapi pupilnya bergetar dan tergores. Kilatan perak dari tebasan Chang Jia lebih cepat dari pada gerakan Bei Yun.
"Uhak..." Bei Yun terjatuh bertekuk lutut dengan darah mengalir dari mulut, mata, dan hidung maupun telinga.
Tebasan besar muncul di perut Bei Yun dan kemudian lengannya terputus. Chang Jia menyimpan kembali pedangnya.
"K-kau... Cepat..." Akhir suara Bei Yun kemudian bekas darah dari lehernya muncul dan kepalanya terjatuh dari badannya.
Saat Bei Yun di konfirmasi mati Chang Jia kembali normal. "Huft... Memakai transformasi memang memakai banyak tenaga." Ia menatap ke pertempuran Shen Hao Feng. "Guru... Apa anda baik-baik saja?."
....
Pertempuran melawan iblis kecil yang sudah selesai kini mata semua orang melihat pertarungan sengit dan cepat dari Mong Haochen melawan Shen Hao Feng.
Berbagai teknik kuat di keluarkan hingga alam benar-benat terganggu. Shen Hao Feng memakai ketiga teknik Dewa Han yakni Keabadian, Entitas, dan Bencana berulang kali hingga Mong Haochen tak memiliki kesempatan membalasnya.
"Hum!." Shen Hao Feng di atas kepala Mong Haochen dan menendangnya jatuh ke tanah.
"U-urgh..." Mong Haochen berusaha bangun lalu energi iblisnya meledak. "Shen Hao Feng!!..." ia menatap ke posisi dimana Shen Hao Feng berada tapi ia sudah tidak ada disana.
"D-dimana dia..."
"Kau mencariku teman?." Shen Hao Feng berada di belakang Mong Haochen. Mong Haochen terlonjak dan akan menyerang akan tetapi Shen Hao Feng lebih dulu menyerang.
"Maaf Mong Haochen tapi aku ingin kau diam dulu." Shen Hao Feng memumul perut Mong Hachen hingga tembus keluar.
"Uhak..." Ekspresi Mong Haochen mengeras melihat ke bawah dari tatapannya yang kian memburam.
"S-sial... Aku tetap saja tidak bisa membunuhmu..." gumamnya serta memejamkan mata untuk pergi ke alam neraka.
Namun Shen Hao Feng memberikan penyembuhan yang tak seberapa hingga Mong Haochen tetap bisa bernafas walau hanya sementara.
"Untuk apa kau melakukan itu Shen Hao Feng. Aku tak butuh belas kasihmu."
"Mong Haochen!." dua suara yang akrab di telinganya membuat matanya terbuka dan itu Chang Jia serta Jing Yun yang menatapnya penuh penyesalan.
"Kaka-
"Kenapa kau membahayakan dirimu sendiri untuk membunuh Guru!." teriak Chang Jia. "Itu sudah kejadian 25.000 tahun yang lalu kenapa kau membawa penyesalannya!."
Sudut bibir Mong Haochen tertawa merintih. "Karena demi senior-senior..."
Jing Yun menepuk bahu Mong Haochen serta berusaha tegar. "Adik... Aku tidak akan memarahimu karena sampai kapanpun kau adalah keluarga kami. Bahkan jika kau mencoba membunuh Guru itu karena keputusanmu benar tapi kau tetaplah keluarga kami."
Mata Mong Haochen membesar sedikit dan Shen Hao Feng tersenyum. "Mong Haochen jika kau pergi ke Neraka percayalah aku akan membawamu ke fase reinkarnasi."
"A-apa? Kenapa- aku tidak memintamu... Melakukan itu- maksudku..." Mong Haochen menjadi sangat bingung.
"Ya... Kau tahu itu." Shen Hao Feng menggeleng saat Mong Haochen merasa efek penyembuhan rendah sudah tidak ada.
Akan tetapi sebelum Mong Haochen benar-benar tewas. Otaknya memutar ingatan terindahnya 25.000 tahun yang lalu saat bersama Qiao Hu, Liang Ren, Mei Ling, San San, Li Hunan, Na Na.
Setelah itu Mong Haochen tewas dalam keadaan bibir sedikit tersenyum walau ia masih merasa menyesal.
Shen Hao Feng mencabut tangannya dari perut Mong Haochen dan membaringkannya ke tanah. "Aku akan membawa rohnya untuk memasuki fase reinkarnasi." Shen Hao Feng mengeluarkan bendera jiwa.
Kemudian ia mengambil jiwa Mong Haochen yang akan benar-benar ke neraka untuk dia masukkan ke fase reinkarnasi.
Chang Jia maupun Jing Yun memberikan rasa hormat pada Mong Haochen. Walau caranya salah tapi ia membawa keadilan bagi temannya yang tewas karena Shen Hao Feng.