Chandra adalah dewa jatuh yang turun ke bumi menjadi manusia, dia tidak menyadari kekuatan dewa nya tidak hilang. Kesehariannya adalah melukis dan menjualnya di pasar, hidupnya berubah setelah memasuki galeri teratai hitam menemukan banyak keberuntungan dan juga harem yaitu Yueji siluman rubah ekor sembilan cantik dan mempesona, . Apakah hubungan Chandra akan menyadari bahwa dirinya adalah seorang dewa jatuh setelah bertemu Yueji?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Musang_Galau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teka-Teki Anya
Sabrina yang sedang memangku Anya segera melangkah masuk ke Galeri Seni Teratai Hitam.
"Kami pulang..." serunya.
Kakek Lubis dan Chandra yang sedang duduk serempak menoleh.
"Anya! Hohoho..." Kakek Lubis beranjak dari kursinya dengan wajah berbinar, bergegas mendekati cucunya dan Anya. "Anya, kamu kangen Kakek tidak?"
"Apalah Kakek ini, baru seharian tidak bertemu sudah bilang begitu," ketus Sabrina.
"Sini, Kakek gendong." Tangan Kakek Lubis terangkat dan disambut hangat oleh Anya. "Sabrina, kamu duduk dulu bersama Chandra di sana. Biar Kakek yang mengurus Anya."
Sabrina melirik sedikit ke arah lorong lalu berbisik pelan, "Kakek, kalau nanti Nenek-Nenek kemarin cemburu bagaimana?"
"Kamu bersikap anggun saja. Masa hal seperti itu harus Kakek ajarkan lagi?"
"Ihh, bukan begitu, Kek."
"Sudah, temani Chandra dulu di sana."
"Emmm... Huh!"
Dengan langkah kesal, Sabrina berjalan menghampiri Chandra. Ia menghentakkan tasnya di atas meja, melipat kedua tangan di dada dengan wajah cemberut, lalu membuang muka.
Chandra yang melihat tingkah itu memiringkan kepala. Apa-apaan wanita ini, baru datang langsung begitu? batinnya heran.
"Aku tidak mau ngobrol sama kamu, takut Nenek-Nenek kemarin marah lagi," cetus Sabrina tiba-tiba tanpa menoleh.
"Terserah kamu saja, aku juga tidak minta ngobrol. Kamu mau kopi atau jus?" tawar Chandra tetap ramah.
Sabrina melirik tajam ke arah Chandra. "Huh!" Ia kembali membuang muka.
Ya ampun... gumam Chandra sambil menepuk keningnya sendiri.
Tak lama kemudian, Kakek Lubis kembali dan duduk sembari memangku Anya.
"Aku masih ingin menggendong, tapi pinggangku sudah tidak kuat," meringis Kakek Lubis di hadapan Sabrina dan Chandra.
"Sudah, biar aku saja!" bentak Sabrina lalu mengambil alih Anya.
"Tidak, Anya!" tahan Kakek Lubis.
"Apa sih, Kek? Aku kan masih di sini."
"Hmmm..." Kakek Lubis menundukkan kepala, menyerah.
Sementara itu, tatapan Chandra tertuju pada Anya. Ia mengamati detail paras anak kecil itu dengan saksama.
Sebentar... kok anak ini mirip sekali dengan sosok yang aku lukis, ya? batin Chandra heran sembari mengusap-usap dagunya.
"Chandra, kamu melukis Anya?" tanya Kakek Lubis yang menyadari gelagatnya.
"Bukan sengaja melukis anak ini, Paman. Tapi aku memang sempat melukis seorang anak kecil," jawab Chandra.
"Mana lukisannya? Biar aku lihat," pinta Kakek Lubis penasaran.
Chandra beranjak dari tempat duduknya, melangkah menuju lorong yang mengarah ke halaman belakang untuk mengambil salah satu lukisannya yang terpajang di sana.
"Ini, Paman." Chandra menyerahkan kanvas lukisan tersebut.
"Astaga!"
Mata Kakek Lubis terperanjat seketika. Genggaman tangannya pada bingkai lukisan sedikit gemetar. Dari detail goresan wajah hingga pakaian yang dikenakan, sosok di dalam lukisan itu benar-benar presisi menggambarkan Anya.
Tangan dingin Chandra ini... bagaimana bisa dia menggambar hal yang belum pernah dilihatnya? Luar biasa, batin Kakek Lubis berdecak kagum.
"Mirip, kan, Kek?" tanya Chandra.
"Iya... hampir mirip, Chandra," dalih Kakek Lubis cepat-cepat. Ia sengaja mengelak karena khawatir Anya akan diambil atau diusik jika Chandra menyadari sesuatu.
"Oh iya, Kek, aku lupa sesuatu," potong Sabrina tiba-tiba. "Karena identitas Anya masih sulit diketahui, pihak polisi menyarankan kita untuk mengadopsinya."
"Benarkah?" Wajah Kakek Lubis seketika berbinar terang.
"Iya, Kek."
"Tunggu apa lagi? Ayo berangkat, kita urus berkasnya sekarang!"
"Tapi kalau nanti orang tuanya ketemu bagaimana?"
"Tidak akan. Kita adopsi sekarang!" Kakek Lubis bergegas berdiri dan menarik lengan Sabrina.
"Ehh... Ehh... Buru-buru banget, sih!"
"Ayo, Sabrina!"
"Iya... Iya, Kakek."
Kakek Lubis menoleh sebentar, "Chandra, kami pergi dulu."
"Baik, hati-hati di jalan semuanya," balas Chandra melepas kepergian mereka.
Belum sempat Chandra kembali duduk, Bang Rahmat mendekat dari arah area dalam. "Tuan, ruangan sudah 80% selesai dikerjakan. Hanya ada beberapa material yang perlu dibeli kembali."
"Siap, Bang Mamat. Ayo, aku mau lihat ruangannya," ucap Chandra sembari melangkah ke area renovasi.
"Baik, Tuan."
Di area lain, Yueji terlihat sedang duduk melamun di meja pantry. Jarinya bergerak gelisah, berputar-putar melingkari bibir gelas.
"Kepikiran apa lagi, Nyonya?" tanya Sisi yang datang dan mengelus bahu Yueji.
"Sisi, apa aku terlalu kekanak-kanakan?"
"Tidak, Nyonya."
"Apa aku terlalu manja?"
"Tidak juga, Nyonya."
"Aaaaa, aku takut Chandra menceraikanku!" teriak Yueji merengek.
"Aih, Nyonya ini ada-ada saja. Tidak mungkin Tuan seperti itu," sahut Sisi terkekeh geli.
"Tapi... tapi... dia begitu dingin kepadaku, Sisi."
"Mungkin Tuan sedang memikirkan hal lain, Nyonya."
"Mikirin apa?"
"Mana aku tahu, Nyonya. Istri Tuan kan Nyonya, bukan Sisi," pungkas Sisi tertawa kecil.
Yueji mengusap sisa air mata di sudut matanya, lalu berdiri tegak. "Iya juga, aku harus tanya Chandra langsung!" ucap Yueji yang seketika kembali bersemangat.
"Iya, silakan, Nyonya."
"Tunggu ya, Sisi. Aku ke Chandra dulu."
"Baik, Nyonya."
Sementara itu, Chandra sedang berada di area gudang yang sedang disulap Bang Rahmat menjadi studio lukis pribadinya.
"Sempurna, Bang Mamat. Aku suka hasil kerjanya. Gimana tadi, beli apa saja?"
"Ini, Tuan." Bang Rahmat menyodorkan lembaran catatan material.
Dari arah pintu, Yueji berlari-lari kecil menuju Chandra. Melihat suaminya sedang sibuk bersama Bang Rahmat, mengembang senyum di wajahnya dan ia langsung menyergap dari belakang.
"Sayang..." Yueji memeluknya erat.
"Ehh... Ehh, ada apa ini?" Chandra terkejut karena perhatiannya teralih dari daftar material.
Yueji melepaskan pelukannya, lalu memasang raut wajah muram. "Sayang, kamu marah sama aku, ya?"
"Iya, aku marah. Mau apa, hah?" goda Chandra dengan nada jahil.
"Huaaa... Hiks... Hiks..." Yueji malah seketika pecah dalam tangis.
Chandra panik sendiri. "Lah, eh, malu ada Bang Mamat."
Namun Yueji tetap berdiri di tempatnya sambil menangis sesenggukan.
"Aduh, wanita ini..." gumam Chandra tak tahan, lalu merengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukan. "Sebentar ya, Bang Mamat. Ahh, begini saja, uangnya aku transfer ke Bang Mamat, nanti aku lebihkan biar leluasa belanja materialnya, ya."
"Terserah Tuan saja," jawab Bang Rahmat sambil menahan tawa.
"Mana rekening Bang Rahmat?"
"Ini, Tuan." Bang Rahmat memperlihatkan kode QR dari ponselnya.
Ting-Tong! (Transfer Berhasil: Rp2.000.000)
"Sudah ya, Bang Mamat," Chandra menunjukkan layar ponselnya.
"Siap, Tuan."
Chandra menunduk menatap Yueji yang masih membenamkan wajah di dadanya sembari tersedu-sedu.
"Kamu ini, dibercandai malah menangis," ucap Chandra tersenyum manis. "Kalau menangis terus, nanti diculik Bang Mamat, loh!"
"Hehe, dengan senang hati kalau Tuan Chandra mengizinkan," timpal Bang Rahmat ikut menggoda.
Seketika kepala Yueji terangkat. Tatapan matanya yang tajam langsung mengunci Bang Rahmat.
"Heheh, bercanda, Nyonya," Bang Rahmat langsung gelagapan melihat tatapan membunuh itu. "Tuan, saya izin pamit beli material dulu."
"Baik, Bang Mamat. Hati-hati."
Padahal wajahnya cantik luar biasa, tapi bulu kudukku langsung berdiri ditatap seperti itu, batin Bang Rahmat bergidik lalu buru-buru keluar dari galeri.
"Ayo-ayo, ke kamar," ucap Chandra sembari merangkul Yueji yang kini menempel ketat di sisinya bak kertas diberi lem.
Yueji menengadah memandang suaminya. "Sayang, kamu marah sama aku?"
"Mana ada aku marah?"
"Kamu dingin sama aku?"
"Memangnya aku es? Kamu kenapa, Sayang?"
"Kamu tidak bakal ceraikan aku, kan?"
"Astaga, kamu ini pikirannya kemana-mana."
"Sayang, jawab!"
"Nanti aku jawab... di kamar!"
Tanpa aba-aba, Chandra langsung menyambar tubuh Yueji dan mengangkatnya secara bridal style.
"Hehehe..." Yueji seketika kegirangan diperlakukan seperti ratu.
"Kamu mau berapa ronde?" tanya Chandra dengan lirikan nakal.
"Selama suamiku tidak pakai obat, aku jabanin!" balas Yueji sembari mengunci lengan lembutnya di leher Chandra.
"Wah, menantang, ya!"
"Ahh, tidak Sayang, ampun!" teriak Yueji gemas.
"Kita berangkat!" Chandra pun berlari kecil membawa istrinya menuju kamar mereka.