Maya menikah dengan Ryan yang berasal dari desa. Setelah menikah mereka tinggal di rumah Maya yang di beli sebelum dia menikah.
Awalnya adik Ryan dan istrinya datang, mereka bilang hanya menumpang sebentar sampai mendapatkan kontrakan baru di Jakarta. Namun sudah sampai sebulan mereka menginap, bukannya pergi malah ibunya Ryan yang dari kampung datang dan ikut tinggal di rumahnya.
Mereka tidak mau bekerja, mereka justru menjadikan Maya sebagai pembantu.
Puncaknya, adik Ryan menampar Maya, sementara Ryan hanya diam saja tanpa membelanya. Saat itu Maya sadar, ia bukan lagi seorang istri di rumah tangganya sendiri.
Maya yang marah akhirnya memilih menjual rumah itu, dan menggugat cerai suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
Rian dan yang lain pulang ke rumah setelah puas pergi jalan-jalan dengan keluarganya.
Mobil melaju masuk ke halaman dengan suara mesin yang familiar. Rukmini masih tertawa kecil membahas es krim yang tadi mereka beli, sementara Sonya sibuk menenangkan Janu yang mulai rewel. Entah mengapa anak itu selalu rewel.
Lukman turun dari dalam mobil, menyusul mereka semua.
Ceklek...
Begitu pintu rumah dibuka, mereka semua terdiam.
Mia duduk di sofa ruang tamu dengan sikap tenang. Kayla bermain di lantai dekat kakinya. Wajah Mia terlihat lebih segar dibanding tiga hari lalu, tapi matanya dingin. Tidak ada senyum, dan tidak ada sapaan hangat sedikitpun.
Rian yang paling kaget langsung menghampiri istrinya.“Sayang, kenapa kamu sudah pulang?” tanyanya, nada suaranya campur aduk antara lega dan bingung. “Sebentar lagi aku berencana mau menjemputmu"
Mia mengangkat wajah. Tatapannya tajam.
“Aku tidak tahu, karena kamu tidak memberitahuku” suaranya datar, tapi jelas kesal. “Aku menunggu dari siang. Kamu malah bersenang-senang dengan keluargamu tanpa mengajakku dan Kyla"
Rian terdiam. Ia tidak menyangka Mia sudah melihat postingan itu.
Rukmini yang berdiri di belakang langsung masuk campur. Ia meletakkan tas belanjaan dengan keras, lalu menatap menantunya dengan sinis.
“Tidak usah drama,” katanya ketus. “Kamu yang pergi sendiri, jadi pulang juga sendiri. Sudah bagus kami tidak marah kamu kabur begitu saja. Sekarang malah sok-sokan tersinggung. Kami pergi juga tidak menggunakan uangmu, lalu untuk apa kamu marah"
Mia tersenyum sinis, dingin, dan penuh arti. Ia menatap ibu mertuanya lama, lalu mengalihkan pandangan ke Rian.
Mereka lupa bahwa mobil yang tadi mereka pakai seharian adalah mobilnya. Mobil yang dia beli sendiri dengan jerih payahnya.
Mia berdiri perlahan. Ia merapikan ujung bajunya, lalu berbicara dengan suara tenang tapi tegas.
“Oh ya… Mas,” katanya menatap suaminya. “Besok kamu kerja naik ojek saja. Mobilnya mau aku pakai pergi jalan-jalan sama Mama.”
Rian mengedipkan mata, sedikit terkejut. Tapi ia tidak membantah. “Iya, sayang…” jawabnya pelan.
Namun Rukmini langsung bereaksi keras. Wajahnya memerah.“Dasar istri tidak tahu diri!” suaranya meninggi. “Suamimu itu mau bekerja. Kalau naik ojek yang ada bisa telat. Lagian mau ngapain kamu jalan-jalan? Menghabiskan uang saja. Sudah tiga hari pergi, sekarang pulang malah sok berkuasa.”
Mia tidak goyah. Ia menatap mertuanya dengan tenang.“Terserah aku dong,” katanya datar. “Itu mobilku kok.”
Kalimat itu menggantung di udara. Rukmini terbungkam sejenak, tidak menyangka menantunya berani menjawab balik. Sonya menunduk, sementara Lukman hanya mengeram kesal.
Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Mia berbalik. Ia menggandeng tangan Kayla.
“Ayo, sayang. Kita masuk kamar. Di sini banyak bakteri"
Ia berjalan meninggalkan ruang tamu dengan langkah tegap. Di dalam kamar, Mia menghela napas panjang. Jantungnya berdegup kencang, tapi ada rasa lega yang aneh. Kesabaran yang dia tahan selama ini, habis juga.
Di luar, Rukmini masih berdiri dengan wajah marah. “Rian! Kamu diam saja? Istrimu itu sudah keterlaluan!”
Rian hanya duduk di sofa, menatap pintu kamar yang tertutup. Di kepalanya bercampur antara rasa bersalah, rasa kagum yang aneh, dan rasa takut. Untuk pertama kalinya, istrinya tidak lagi hanya diam.
*
*
Flashback On
Siang itu di rumah orang tua Mia, suasana terasa lebih hangat dari biasanya. Kayla yang sejak tadi bermain dengan boneka kesayangannya tiba-tiba berhenti. Ia mendekati ibunya yang sedang duduk di sofa, lalu menarik-narik ujung bajunya.
“Ma… lang,” ucap Kayla dengan suara kecil yang manja. Matanya memandang Mia dengan penuh harap. Bocah dua tahun itu sudah merindukan ayahnya. Sudah tiga hari ia tidak melihat Papa, tidak dipeluk, tidak digendong seperti biasa.
Mia menunduk, mengelus rambut putrinya yang lembut. “Kayla mau pulang? Kangen sama Papa?” tanyanya memastikan, meski di hati ia sudah tahu jawabannya.
Kayla menganggukkan kepalanya dengan cepat. “Eum"
Mia menghela napas panjang. Ia menatap wajah kecil putrinya yang polos, lalu mengalihkan pandangan ke ibunya yang sejak tadi duduk diam di kursi seberang. Maya, sedang menyulam dengan tenang, tapi matanya penuh perhatian.
“Pulanglah,” kata Maya akhirnya, suaranya lembut tapi tegas. Ia meletakkan sulamannya. “Tapi kamu tidak harus terus-terusan mengalah dengan mereka. Lawan saja selagi kamu benar. Jangan biarkan mereka memperlakukanmu seenaknya lagi. Kamu istri Rian, kamu pantas dihargai.”
Mia terdiam sejenak. Kata-kata ibunya masuk ke dalam dadanya yang selama ini penuh luka. Ia mengangguk pelan.
“Baik, Ma,” balasnya. Di dalam hati, ia bertekad. Kali ini ia tidak akan diam terus. Ia tidak akan lagi hanya menghela napas dan mengalah. Jika mereka menekan, ia akan melawan. Jika mereka meremehkan, ia akan berdiri tegak.
Wahyu, ayahnya, yang sejak tadi membaca koran di sudut ruangan, menutup korannya dan berdiri. Ia mendekati putri dan cucunya, lalu menepuk bahu Mia dengan lembut.
“Biar Papa yang antar kalian pulang,” ujarnya. Suaranya rendah dan menenangkan. “Supaya Mama tidak khawatir. Nanti Papa tunggu sampai kalian masuk rumah dengan aman.”
Mia menatap ayahnya, mata sedikit berkaca-kaca. “Terima kasih, Pa.”
Ia merasa sangat beruntung memiliki orang tua yang begitu menyayanginya. Orang tua yang tidak pernah memaksa, tidak pernah menyuruhnya bertahan dalam ketidakadilan, dan selalu siap menjadi tempat pulang ketika dunia terasa terlalu berat.
Setelah mengemas sedikit barang, Mia naik mobil bersama Kayla dan ayahnya. Di perjalanan, Kayla terus memandang keluar jendela, seolah tidak sabar ingin bertemu Papanya. Sementara Mia duduk diam, memandang jalanan yang berlalu. Di kepalanya, tekad itu semakin menguat.
Ia akan pulang. Tapi bukan sebagai istri yang hanya bisa mengalah. Ia akan pulang sebagai Mia yang sudah memutuskan untuk tidak lagi diam.
*Flashback Off*
Ceklek...
Rian masuk kedalam kamar. Dia melihat Mia yang baru saja menidurkan Kayla.
"Sayang, aku minta maaf" ucap Rian yang merasa bersalah dengan istri serta anaknya.
Mia menoleh menatap suaminya. Ada rasa kasihan pada laki-laki itu, tapi sikap Rian yang lembek sering membuatnya kesal.
"Besok aku akan mencari kerja" Mia tidak menjawab, dia justru membuka obrolan lain.
"Kenapa? bagaimana dengan Kayla? Siapa yang akan menjaganya?" tanya Rian panjang.
"Mama yang akan menjaganya, selama aku bekerja" jawab Mia.
Rian menghela nafas panjang, dia mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang. Jujur saja dia ingin melarang istrinya untuk bekerja, tetapi keuangan mereka tidak lagi cukup untuk makan semua orang di rumah tersebut.
"Maaf ya, aku sudah membuatmu kerja lagi" ucap Rian.
"Kau bekerja bukan karena kamu, tapi karena kemauanku sendiri" ucap Mia.
THOR BUAT YG HAJAR MIA DI JEBLOSKAN PENJARA TANPA ADA NEGOSIASI BIAR IPAR DAN MANTAN MERTUA TAU ARTINYA K.A.R.M.A😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈
kl masih bertahan ya goblok saja jd wanita. dah di pukul juga kn, foto trus lapor kan polisi lo.