Rangga Hidayat, anak tunggal konglomerat properti, kehilangan kedua orang tuanya dalam pembunuhan berencana yang dikamuflase sebagai kecelakaan. Ia sendiri hampir tewas, lalu dibuang di tepi hutan dekat Desa Sumbermulyo. Seorang nenek miskin, Saroh, menemukannya dan merawatnya dengan penuh kasih. Di desa terpencil itu, Rangga belajar hidup sederhana: bertani, beternak, bermain, dan berteman. Ia mengalami ejekan, candaan, persahabatan, dan cinta pertama. Perlahan ia tumbuh menjadi pemuda tang gigih. Ketika dewasa, ia merantau ke kota untuk bekerja, menyelidiki kematian orang tuanya, dan menghadapi konflik batin antara balas dendam dan pengampunan. Novel ini mengikuti perjalanan emosionalnya dari anak manja menjadi lelaki dewasa yang bijaksana, dengan latar pedesaan yang hangat dan intrik kota yang kelam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thomaz3235, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 : PULANG KE DESA DAN KERINDUAN YANG MENDALAM
Akhir pekan pertama Rangga di SMP terasa sangat lama dan menyiksa. Setiap hari, setiap jam, setiap menit, ia menghitung mundur waktu hingga hari Sabtu tiba, saat ia bisa kembali ke desa dan bertemu dengan Nenek tercinta. Ia belajar dengan sangat giat selama seminggu, bahkan sampai larut malam setiap hari, agar ia bisa pulang lebih cepat dan tidak meninggalkan pekerjaan rumah yang menumpuk. Ia juga menyisihkan sebagian uang sakunya untuk membeli buah-buahan dan makanan bergizi untuk Nenek, karena ia tahu Nenek perlu asupan yang baik untuk memulihkan kesehatannya.
Hari Sabtu akhirnya tiba dengan sinar matahari yang cerah. Begitu bel terakhir pelajaran berbunyi, Rangga langsung berlari sekencang mungkin menuju terminal angkutan umum. Ia naik angkutan yang paling cepat, meskipun harus membayar lebih mahal dari biasanya. Perjalanan yang biasanya memakan waktu satu jam, ia tempuh dengan waktu setengah jam karena ia terus meminta sopir untuk mempercepat. Ia kemudian berlari dari terminal menuju desa, melewati sawah-sawah yang mulai menguning, melewati sungai yang airnya jernih, dan melewati pohon beringin besar tempat ia biasa bermain dengan teman-temannya. Akhirnya, ia melihat gubuk Nenek dari kejauhan, dan hatinya berdebar kencang.
"Nenek!" teriaknya begitu ia tiba di halaman, napasnya tersengal-sengal. Ia langsung berlari masuk ke dalam gubuk.
Nenek Saroh sedang duduk di teras, menjemur cabe di bawah sinar matahari. Wajahnya masih pucat dan tampak lelah, tetapi matanya berbinar-binar saat melihat cucunya datang. "Nak! Kau pulang!" serunya dengan suara yang masih lemah tetapi penuh kebahagiaan.
Rangga berlari memeluk neneknya dengan hati-hati, mencium keningnya yang keriput. "Nek, bagaimana keadaan Nenek? Apa Nenek sudah minum obat? Apa Nenek sudah makan dengan teratur? Apa Nenek masih demam?"
"Iya, Nak. Nenek baik-baik saja. Bu Siti dan tetangga sering menjenguk dan membawakan makanan. Nenek sudah minum obat sesuai jadwal. Nenek rindu padamu, Nak. Setiap malam Nenek memandang ke arah jalan, berharap melihatmu datang." Nenek Saroh mengusap rambut Rangga, matanya berkaca-kaca karena haru.
"Mari Nek, aku masakkan makanan untuk Nenek. Aku bawakan buah-buahan dari kecamatan. Aku juga akan membantu Nenek di kebun. Aku tidak mau Nenek bekerja terlalu keras," kata Rangga dengan penuh semangat, matanya bertekad. Ia segera membuka bungkusan yang ia bawa, mengeluarkan pisang, pepaya, dan beberapa butir telur ayam.
Sepanjang akhir pekan, Rangga merawat Nenek dengan penuh kasih sayang dan dedikasi. Ia memasak makanan bergizi untuk Nenek, mencuci pakaian dan peralatan dapur, membersihkan seluruh rumah dari debu dan sarang laba-laba, serta membantu Nenek di kebun dengan mencabuti rumput liar dan menyiram tanaman. Ia juga mendengarkan cerita-cerita Nenek tentang masa lalu dengan penuh perhatian—tentang kakeknya yang sudah meninggal ketika Nenek masih muda, tentang desa saat masih sangat sepi dengan hanya sepuluh rumah, tentang masa-masa sulit ketika Nenek harus bekerja keras sendirian, dan tentang bagaimana Nenek pertama kali menemukannya di pinggir hutan dalam kondisi sekarat.
"Nak," kata Nenek Saroh suatu malam saat mereka duduk di teras, menikmati angin malam yang sejuk. Langit di atas mereka dipenuhi bintang-bintang yang berkelap-kelip, dan suara jangkrik terdengar dari kejauhan. "Nenek tidak pernah menyesali keputusan Nenek untuk merawatmu, meskipun saat itu Nenek tidak tahu siapa kau dan dari mana kau berasal. Kau adalah anugerah terbesar dalam hidup Nenek. Tanpamu, Nenek mungkin sudah tua dan kesepian sendirian di gubuk ini."
Rangga memeluk neneknya erat-erat, air mata mengalir di pipinya. "Aku juga tidak pernah menyesal, Nek. Nenek adalah keluargaku satu-satunya. Nenek adalah segalanya bagiku. Aku berjanji, suatu hari aku akan membawa Nenek ke kota, ke rumah yang lebih baik dan nyaman. Aku akan membahagiakan Nenek. Aku akan membalas semua kebaikan Nenek."
Nenek Saroh tersenyum, tetapi ada kerinduan yang mendalam di matanya. "Nenek tidak butuh rumah mewah atau harta berlimpah, Nak. Nenek hanya butuh kau bahagia dan sehat. Itu sudah cukup bagi Nenek. Melihat kau tersenyum adalah kebahagiaan terbesar bagi Nenek."
Saat Rangga harus kembali ke kecamatan pada hari Minggu sore, perpisahan itu terasa lebih berat dari sebelumnya. Rangga mencium tangan Nenek dengan penuh hormat dan memeluknya erat-erat, seolah tidak ingin melepaskan. "Aku akan pulang setiap akhir pekan, Nek. Aku janji. Jangan sedih, ya. Aku akan selalu mendoakan Nenek."
"Nenek tidak sedih, Nak. Nenek hanya merindukanmu. Tapi itu adalah bagian dari cinta yang tulus." Nenek Saroh mengusap air matanya yang mengalir. "Pergilah, Nak. Raih mimpimu. Jadilah orang yang berguna bagi banyak orang. Nenek akan selalu bangga padamu."
Sepanjang perjalanan kembali ke kecamatan, Rangga terus memikirkan Nenek. Ia membayangkan Nenek yang duduk sendirian di teras gubuk, memandangi sawah yang terbentang luas, dan menunggu kepulangannya dengan sabar. Hatinya terasa perih dan sesak, tetapi ia tahu bahwa ia harus kuat. Ia harus belajar dengan giat, agar ia bisa cepat lulus dan kembali ke desa untuk merawat Nenek selamanya. Ia tidak akan membiarkan Nenek kesepian lagi.
Di sekolah, Rangga menjadi lebih fokus dan disiplin dari sebelumnya. Ia tidak membuang waktu untuk hal-hal yang tidak penting seperti bergosip atau bermain-main. Ia belajar di perpustakaan setiap jam istirahat, membaca buku-buku tambahan di luar pelajaran, dan selalu duduk di barisan depan agar bisa mendengar dan mencatat pelajaran dengan jelas. Guru-gurunya sangat terkesan dengan semangat belajarnya yang luar biasa.
"Rangga, kau benar-benar luar biasa," kata Pak Budi, guru matematikanya, suatu hari sambil memeriksa nilai ujian Rangga. "Nilai-nilaimu selalu sempurna. Tidak ada satu pun soal yang kau jawab salah. Kau pasti bisa menjadi juara kelas. Kau punya potensi untuk menjadi apa pun yang kau inginkan."
Rangga tersenyum, merasa bangga tetapi tetap rendah hati. "Terima kasih, Pak. Saya hanya berusaha sebaik mungkin. Saya tidak ingin mengecewakan Nenek saya dan orang-orang yang telah membantu saya."
Anisa sering mendampingi Rangga belajar di perpustakaan. Mereka menjadi teman belajar yang sangat baik dan saling mendukung. Rangga membantu Anisa dalam pelajaran matematika dan IPA yang dianggap sulit, sementara Anisa membantu Rangga dalam pelajaran bahasa Indonesia dan sejarah yang membutuhkan banyak hafalan. Mereka saling menguatkan, saling mengingatkan untuk tidak menyerah, dan saling berbagi mimpi untuk masa depan.
"Rangga, kau tahu? Aku sangat kagum padamu," kata Anisa suatu hari saat mereka sedang belajar bersama di perpustakaan. Matanya menatap Rangga dengan penuh kekaguman. "Kau punya beban yang sangat berat, tetapi kau tidak pernah mengeluh. Kau selalu tersenyum, selalu bersemangat, dan selalu berusaha yang terbaik. Aku beruntung bisa berteman denganmu. Aku belajar banyak dari keteguhan hatimu."
Rangga menatap Anisa, hatinya berdebar-debar. "Aku juga beruntung, Anisa. Kau adalah sahabat terbaik yang pernah aku miliki di sekolah ini. Terima kasih sudah selalu mendukungku dan tidak pernah menjudgeku dari penampilan luar."
Mereka tersenyum, dan dalam hati Rangga, perasaan itu semakin kuat dan mendalam. Ia menyadari bahwa ia tidak hanya menyukai Anisa, tetapi ia mulai mencintainya dengan segenap hati. Namun ia tidak berani mengungkapkan perasaannya. Ia masih miskin, masih bergantung pada beasiswa, dan masih memiliki banyak tanggung jawab terhadap Nenek. Ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan mengungkapkan perasaannya ketika ia sudah menjadi seseorang yang layak untuk Anisa, ketika ia sudah bisa berdiri di atas kakinya sendiri.
---
[Bersambung...]
---