NovelToon NovelToon
Dijodohkan, Malah Dimanja Tuan Muda

Dijodohkan, Malah Dimanja Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Cinta Terlarang
Popularitas:179
Nilai: 5
Nama Author: Awan

**Naila Kinanti Prasetya** baru delapan belas tahun ketika kedua orang tuanya terbang ke Amerika demi bisnis, lalu menitipkannya di rumah keluarga **Adiwangsa** — keluarga konglomerat yang sudah menjodohkannya dengan putra mereka sejak Naila masih kecil.

Tapi sebelum mereka sempat bertemu, sang tuan muda, **Radhika Arya Adiwangsa**, lebih dulu mengirim tiga aturan lewat WhatsApp:

> 1. Perjodohan ini tidak aku akui.
> 2. Jangan naik ke lantai tiga.
> 3. Jangan dekat-dekat aku.

Naila cuma membalas satu kata: *"oke."*

Enam tahun lebih tua, dingin, dan menyebalkan — Naila pikir "Mas" yang satu ini benar-benar membencinya. Sampai ia sadar: pria yang katanya cuma menganggapnya adik itu diam-diam menanam empat pohon lemon di balkon khusus untuknya, menyimpan diam-diam setiap fotonya sejak kecil, dan menghajar siapa pun yang berani menyakitinya.

*"Katanya jaga jarak,"* Naila mengadu, matanya berkaca-kaca. *"Katanya aku cuma adik…"*

Radhika menyudutkannya ke daun pintu, suaranya rendah dan berbahaya. *"Lari kenapa? Emang Mas bakal makan kamu?"*

…tapi malam itu, Mas ingkar janji.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7

Bab 7: Bekas Gigitan

Tubuh Naila kehilangan keseimbangan.

Ia sempat mengayunkan tangan untuk bertahan, tetapi tali tas menarik bahunya ke belakang. Lututnya menghantam trotoar lebih dulu. Telapak tangan kanannya menyusul menahan tubuh.

Perih tajam menyambar sampai siku.

"Aduh!"

Ponselnya terlepas dan jatuh di rerumputan. Naila tetap diam beberapa detik, terlalu kaget untuk bangun. Ketika membalik telapak tangan, kulit di bawah ibu jarinya terkelupas. Debu abu-abu menempel pada luka, dengan satu kerikil kecil tertanam di bagian paling merah.

Matanya langsung panas.

Naila paling tidak tahan sakit. Jarum suntik saja bisa membuat telapak tangannya berkeringat, apalagi melihat darah sendiri mulai muncul di sela debu.

Ia meniup luka sambil mencoba menarik kerikil itu memakai kuku kiri. Sekali. Gagal. Pada usaha kedua, batu kecil itu lepas dan rasa perihnya membuat air mata jatuh tanpa izin.

Suara mesin terdengar dari belakang.

Rolls-Royce hitam bergerak pelan di sisi trotoar, kaca pengemudinya terbuka. Radhika duduk di balik kemudi, masih memegang gelas kopi yang sama. Mobil yang tadi pergi rupanya memutar balik.

Ia menghentikan kendaraan tepat di samping Naila, lalu menjentikkan jari.

"Naik."

Naila cepat-cepat mengusap air mata dengan punggung tangan. "Nggak mau."

"Kelasmu jam delapan."

"Biarin."

"Tujuh tiga puluh satu. Kalau terus duduk di situ, kamu sampai kampus pas dosennya makan siang."

Naila berusaha berdiri. Lututnya ngilu, telapak tangannya berdenyut, tetapi harga dirinya masih utuh.

"Aku bisa pesan mobil."

"Silakan." Radhika melirik layar ponsel Naila yang masih memperlihatkan tiga pembatalan. "Sambil menunggu, mungkin kamu bisa menginap di pos satpam."

"Pergi sana."

Radhika tidak pergi. Mobil itu justru mengikuti ketika Naila mulai berjalan lagi. Kecepatannya lebih lambat daripada orang bersepeda.

"Panggil aku Mas dulu, baru kuantar."

Naila menoleh dengan mata merah. "Mimpi."

"Baik. Semoga kuliahnya menyenangkan."

Mobil maju dua meter.

Naila melihat jam. 07.33.

"Mas Radhika!"

Rem langsung ditekan.

Radhika menoleh melalui jendela. "Apa? Nggak dengar."

Naila menarik napas dalam-dalam, lalu memasang senyum semanis mungkin. Suaranya sengaja dibuat lembut dan panjang.

"Mas Radhika, tolong antar Naila ke kampus, ya?"

Kopi di tangan Radhika berhenti di dekat bibir. Mata gelapnya bergerak menyapu wajah Naila, seolah panggilan itu telah menarik sesuatu dari masa lalu.

"Depan," katanya akhirnya.

"Aku duduk belakang."

"Aku bukan sopirmu. Duduk depan."

Naila membuka pintu penumpang dengan kesal. Begitu duduk, ia sengaja menjatuhkan tas di antara mereka sampai Radhika mengangkatnya dan memindahkan tas itu ke belakang.

"Sabuk pengaman."

"Tanganku sakit."

Untuk membuktikan, Naila mengangkat telapak tangan yang lecet. Darah tipis bercampur debu. Wajah Radhika berubah dalam sekejap.

"Kena apa?"

"Jatuh."

"Sudah besar jalan nggak lihat-lihat."

Naila yang semula hanya hendak mencari simpati langsung merasa sesak. "Siapa yang bikin aku jalan?"

"Aku sudah menawarkan tumpangan."

"Kamu tahu di sini susah pesan kendaraan, tapi nggak bilang. Kamu malah pergi."

"Kamu sendiri yang bilang bisa."

"Karena aku baru tinggal sehari! Mana aku tahu gerbang ojol ada di ujung lain?"

Suara Naila pecah di kalimat terakhir. Air mata yang tadi sempat berhenti berkumpul lagi. Ia membalik wajah ke jendela, malu terlihat menangis karena luka sekecil itu.

Radhika terdiam.

Ia memang sengaja menjauh hanya untuk membuat Naila memanggilnya kembali. Namun setelah berputar di tikungan, ia tidak pernah benar-benar pergi. Mobilnya berhenti di bawah pohon dua ratus meter dari sana, menunggu gadis keras kepala itu berubah pikiran.

Ia tidak memperhitungkan trotoar licin.

"Sini," katanya lebih pelan.

Naila menolak menoleh.

Radhika mengambil pergelangan tangannya dengan hati-hati. Kali ini Naila tidak sempat menarik diri. Ia memiringkan telapak tangan yang terluka ke arah cahaya, alisnya mengerut ketika melihat sisa pasir menempel.

"Masih ada kotoran."

"Aku tahu."

Radhika mengambil botol air mineral dari cup holder dan sekotak tisu dari laci. Ia membuka tutup botol dengan satu tangan.

"Bakal perih."

"Jangan. Nanti saja di kampus."

"Kalau dibiarkan, malah infeksi."

Air jernih mengalir tipis ke telapak Naila. Ia mendesis dan refleks mencengkeram lengan Radhika dengan tangan kiri. Laki-laki itu tidak menyuruhnya lepas. Ia hanya menunggu sampai sisa debu turun, lalu menepuk kulit sehat di sekitar luka memakai tisu.

"Pelan-pelan," protes Naila.

"Ini sudah pelan."

"Kalau cepat, tanganku copot?"

"Kalau cepat, kamu teriak sampai satpam datang."

Naila memang nyaris ingin berteriak. Namun gerakan Radhika semakin ringan setiap kali bahunya menegang, seolah laki-laki itu mengenali batas sakitnya tanpa perlu diberi tahu.

Radhika membungkuk dan meniup luka itu perlahan.

Hembusan hangat menyentuh kulit Naila. Perihnya tidak hilang, tetapi gerakan itu begitu alami, seolah laki-laki ini sudah melakukannya berkali-kali. Jemari panjangnya menahan tangan Naila tanpa menekan bagian luka.

Tadi ia menyebalkan. Sekarang ia tampak menyesal.

Kesempatan bagus.

Naila menatap tangan kiri Radhika yang masih memegang pergelangannya. Sebelum laki-laki itu sempat mengangkat kepala, ia membungkuk dan menggigit bagian di antara ibu jari dan telunjuknya sekuat tenaga.

Radhika menegang.

Ia tidak menarik tangan. Tidak bersuara. Hanya rahangnya yang mengeras sementara Naila menahan gigitan selama beberapa detik.

Ketika dilepas, bekas gigi merah tercetak jelas di kulit. Tidak berdarah, tetapi cukup dalam untuk bertahan lama.

"Itu buat aturan tiga poin," kata Naila sambil mengusap bibir.

Radhika mengangkat alis.

"Buat hapus aku dari WhatsApp. Buat pura-pura jadi sopir. Buat ganggu aku dari kecil. Buat bikin aku jalan sampai jatuh."

"Itu empat."

"Yang terakhir bonus."

Radhika memeriksa bekas gigitan di tangan kirinya. "Masih sama."

"Apa yang sama?"

"Kalau marah, gigit orang."

Naila mendengus. "Aku nggak pernah gigit orang."

"Yakin?"

"Yakin."

"Coba periksa tangan satunya."

Radhika tetap menahan ekspresi, tetapi ada sesuatu dalam tatapannya yang membuat Naila penasaran. Ia mengambil tangan kanan laki-laki itu dan membaliknya.

Di bagian antara ibu jari dan telunjuk, tepat di tempat yang baru saja ia gigit pada tangan kiri, terdapat bekas berbentuk setengah bulan. Warnanya sudah jauh lebih pucat daripada kulit di sekitarnya. Tepi bekas itu tidak rata, jelas bukan luka sayatan.

Naila mengusapnya dengan ujung jari.

"Ini bekas apa?"

"Gigitan."

"Siapa yang gigit?"

Radhika tidak menjawab.

Naila menarik kedua tangannya berdampingan. Bekas baru di tangan kiri memerah jelas. Bekas lama di tangan kanan hanya menyisakan garis pucat, tetapi letaknya hampir sama. Dua jejak giginya dipisahkan empat belas tahun.

"Kamu menyimpan bekas luka selama itu?"

"Bekas luka bukan barang yang bisa kubuang."

"Bisa dihilangkan di dokter kulit."

"Nggak perlu."

Jawaban Radhika keluar terlalu cepat. Naila menatap wajahnya, mencari ejekan seperti biasa. Tidak ada. Sorot laki-laki itu justru tenang, hampir lembut, dan entah mengapa membuat ujung jari Naila yang masih menyentuh bekas luka terasa panas.

Ukuran bekas itu kecil. Terlalu kecil untuk gigi orang dewasa. Naila menempelkan deretan giginya tanpa menggigit, mencocokkan posisi. Polanya mirip, tetapi bekas lama itu seolah dibuat oleh mulut seorang anak.

Sebuah rasa asing mencubit bagian belakang kepalanya.

Gerbang putih. Tangis. Tangan kecil yang mencengkeram seseorang. Rasa asin air mata bercampur kulit.

Gambar itu muncul begitu cepat lalu lenyap.

Naila melepaskan tangan Radhika. "Aku?"

Tatapan Radhika tetap pada bekas lama itu. "Empat belas tahun lalu."

"Waktu aku empat tahun?"

"Berarti masih bisa menghitung."

"Kenapa aku gigit kamu?"

Radhika meraih sabuk pengaman di samping bahu Naila. Tubuhnya condong mendekat, membuat aroma kayu dingin memenuhi napas Naila. Pengait sabuk berbunyi di sisi pinggangnya.

"Aku lupa," katanya.

Naila menatapnya curiga. "Bohong."

"Katanya jangan bicara sama kamu."

"Sekarang aku izinkan."

"Aku nggak butuh izin."

Ia menghidupkan mesin dan membawa mobil kembali ke jalan. Naila masih menatap tangan kanannya yang kini berada di kemudi. Bekas setengah bulan itu terlihat setiap kali Radhika memutar setir.

"Kok nggak hilang?"

"Kamu menggigit sampai berdarah."

"Parah banget."

"Kamu memang ganas."

"Terus kenapa kamu nggak menghindar?"

Pertanyaan itu membuat kabin mendadak sunyi.

Radhika tidak menghindar pagi ini. Empat belas tahun lalu pun ternyata tidak.

Lampu lalu lintas berubah merah. Mobil berhenti. Jari Radhika mengusap singkat bekas baru di tangan kirinya, sedangkan tangan kanan tetap menggenggam kemudi dengan luka lama terbuka di bawah cahaya pagi.

Ingatan yang tidak dimiliki Naila hidup utuh di kepalanya.

Empat belas tahun lalu, halaman rumah lama di Dago dipenuhi kardus. Bagas memasukkan koper terakhir ke mobil, sementara Wulan berulang kali membujuk putrinya yang menangis di teras.

"Naila harus ikut Mama dan Papa ke Jakarta, Sayang."

Anak perempuan berumur empat tahun itu menggeleng sampai rambutnya menempel pada pipi basah. Kedua tangannya melingkari pinggang Radhika yang baru berusia sepuluh tahun.

"Nggak mau. Lemon mau sama Mas Aka."

Radhika berdiri kaku. Ia belum cukup besar untuk mengerti mengapa sebuah keluarga harus pindah begitu tiba-tiba. Yang ia tahu, kamar Naila sudah kosong dan pot bunga berbentuk lebah di jendelanya sudah dimasukkan ke kardus.

"Nanti Mas datang," katanya.

"Bohong!"

"Mas kirim lemon."

"Nggak mau dikirim. Lemon mau tinggal di sini."

Bagas dan Wulan memandang Radhika dari dekat mobil. Keduanya menggeleng pelan. Jangan beri harapan, begitu arti tatapan mereka.

Radhika menelan benjolan di tenggorokan. Ia berjongkok agar sejajar dengan Naila, lalu menghapus air mata gadis kecil itu memakai ujung kausnya.

"Mas tanam pohon lemon buat kamu," bisiknya. "Nanti kalau sudah berbuah, Mas kirim semua lemonnya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!