NovelToon NovelToon
Gadis Geng Motor Adalah Istriku

Gadis Geng Motor Adalah Istriku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Balas Dendam
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Viie27

Sinopsis

Clara Evellyn dikenal sebagai gadis cantik yang keras kepala dan berani. Di balik penampilannya yang anggun, Clara ternyata merupakan anggota geng motor yang disegani. Ia terbiasa hidup bebas, penuh tantangan, dan tidak takut menghadapi siapa pun.

Namun, hidupnya berubah ketika sebuah perjanjian keluarga membuat Clara harus menikah dengan Fedro Alexsander, seorang pria tampan, dingin, dan sangat berkuasa.

Fedro sama sekali tidak menyangka bahwa wanita yang menjadi istrinya ternyata adalah gadis geng motor yang sering membuat kekacauan di jalanan.

Awalnya, pernikahan mereka dipenuhi pertengkaran, rahasia, dan saling curiga. Clara ingin mempertahankan kebebasannya, sementara Fedro berusaha membuat istrinya mengikuti aturan yang telah ia tetapkan.

Tetapi semakin mereka dekat, semakin sulit bagi keduanya untuk menyangkal perasaan yang mulai tumbuh.

Ketika masa lalu Clara mulai mengejar dan mengancam keselamatan mereka, Fedro harus memilih: tetap menjaga jarak atau melindungi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viie27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab. 23

Gadis Geng Motor Adalah Istriku

Bab 23 — Peperangan Antar Geng Motor

“Sekarang waktunya keluarga Evellyn membayar semua kesalahan masa lalu.”

Suara Aria terdengar dingin.

Clara berdiri terpaku.

Puluhan orang berpakaian hitam memenuhi bagian belakang gudang.

Mereka berdiri dalam barisan rapi.

Sebagian membawa tongkat besi, sementara yang lainnya memegang rantai dan benda-benda yang siap digunakan untuk melawan.

Namun yang paling membuat Clara terkejut bukan jumlah mereka.

Melainkan lambang di jaket mereka.

Sebuah gambar burung hitam dengan sayap terbuka.

Clara mengenal simbol itu.

Simbol yang selama ini muncul dalam dokumen E-17.

“Aria…”

Clara menatap adiknya dengan tidak percaya.

“Kenapa?”

Aria tidak menjawab.

Adrian melangkah maju.

“Aria, hentikan semua ini.”

Aria tertawa kecil.

“Setelah bertahun-tahun Ayah menyembunyikanku, sekarang Ayah meminta aku berhenti?”

“Ayah melakukan semuanya untuk melindungimu.”

“Melindungiku?”

Aria tersenyum pahit.

“Apakah menyerahkan anak sendiri kepada keluarga lain disebut melindungi?”

Amara langsung menangis.

“Aria, Mami tidak pernah ingin meninggalkanmu.”

“Tapi Mami tetap melakukannya.”

Suasana mendadak sunyi.

Clara memandang Aria.

Untuk pertama kalinya, ia melihat luka yang selama ini disembunyikan adiknya.

Namun Clara tidak ingin membiarkan kebencian menguasai keadaan.

“Aria.”

Aria menatapnya.

“Kakak tidak perlu ikut campur.”

“Aku saudaramu.”

“Justru karena itu aku tidak ingin menyakitimu.”

Clara mengerutkan kening.

“Lalu kenapa membawa semua orang ini?”

Aria terdiam.

Sebelum ia menjawab, Damian melangkah maju.

“Karena malam ini bukan sekadar pertemuan keluarga.”

Damian menatap Fedro.

“Ini adalah perang.”

Fedro berdiri tegak.

“Perang dengan siapa?”

Damian tersenyum.

“Dengan mereka yang selama ini menguasai wilayah ini.”

Raka melihat ke arah luar gudang.

Kemudian ia menyadari sesuatu.

“Fedro.”

“Apa?”

“Dengarkan.”

Dari kejauhan terdengar suara mesin motor.

Satu.

Dua.

Lalu semakin banyak.

Suara knalpot menggema di sekitar gudang.

Clara menoleh.

Dari pintu besar gudang, cahaya lampu motor mulai terlihat.

Satu per satu motor memasuki halaman.

Puluhan pengendara berhenti di depan gudang.

Mereka mengenakan jaket dengan lambang berbeda.

Clara langsung mengenali beberapa wajah.

Mereka adalah anggota geng motor yang pernah menjadi bagian dari kehidupannya.

Geng yang dahulu ia tinggalkan setelah menikah dengan Fedro.

Clara menahan napas.

“Kenapa mereka ada di sini?”

Raka tersenyum tipis.

“Karena aku memanggil mereka.”

Clara menatap Raka.

“Kamu?”

Raka mengangguk.

“Aku tahu sejak awal kemungkinan terburuknya adalah perang terbuka.”

Fedro menatapnya.

“Berapa orang?”

“Cukup untuk membuat mereka berpikir dua kali.”

Suara mesin motor semakin keras.

Kemudian seorang pria turun dari motor paling depan.

Ia membuka helm.

Clara langsung mengenalinya.

“Reno?”

Reno tersenyum.

“Lama tidak bertemu, Clara.”

Clara melangkah maju.

“Kalian datang untuk apa?”

Reno menatap orang-orang berbaju hitam.

“Untuk membantumu.”

Aria menatap mereka dengan dingin.

“Kalian pikir bisa menang?”

Reno tertawa kecil.

“Kami tidak datang untuk mencari kemenangan.”

Ia menatap Clara.

“Kami datang karena dia pernah menjadi bagian dari keluarga kami.”

Clara terdiam.

Ia pernah menjadi pemimpin salah satu kelompok geng motor sebelum kehidupannya berubah.

Namun malam ini, masa lalu itu kembali.

Dan kali ini, ia berdiri di tengah peperangan yang tidak pernah ia inginkan.

Fedro mendekati Clara.

“Jangan jauh dariku.”

Clara mengangguk.

Namun tiba-tiba Aria mengangkat tangannya.

“Serang.”

Seketika orang-orang berbaju hitam bergerak.

“Sekarang!”

Reno berteriak.

Para anggota geng motor langsung maju.

Suara langkah kaki dan deru mesin motor memenuhi halaman gudang.

Benturan pertama terjadi.

Beberapa anggota kedua kelompok saling berhadapan.

Raka dan Rafael bergerak untuk menghalangi orang-orang yang mencoba mendekati Clara.

Fedro tetap berada di samping istrinya.

“Clara, mundur!”

“Aku bisa menjaga diriku sendiri.”

“Aku tahu.”

Fedro tersenyum tipis.

“Tapi aku tetap akan menjagamu.”

Clara menatapnya sekilas.

Kemudian ia melihat seseorang berlari dari arah samping.

Clara langsung bergerak.

Ia menghindar.

Pria itu kehilangan keseimbangan.

Clara menggunakan kesempatan tersebut untuk menjauhkan dirinya dari serangan.

Reno melihatnya.

“Clara!”

“Aku baik-baik saja!”

Reno mengangguk.

“Seperti dulu.”

Clara tersenyum tipis.

“Sayangnya aku sudah berubah.”

“Tidak.”

Reno tertawa.

“Gadis pemberani itu masih ada.”

Perkelahian semakin meluas.

Namun Clara menyadari ada sesuatu yang aneh.

Orang-orang berbaju hitam tidak menyerang Adrian atau Amara.

Mereka justru berusaha memisahkan Clara dari Fedro.

“Mereka mengincarku!”

Raka langsung memahami.

“Jangan biarkan mereka membawa Clara!”

Fedro berdiri semakin dekat dengan istrinya.

Namun dari sisi lain, seorang pria datang menyerang.

Fedro berhasil menghindar.

Rafael membantu menghentikannya.

“Fedro, bawa Clara keluar!”

“Tidak.”

Clara menggeleng.

“Kita tidak bisa meninggalkan mereka.”

Rafael menatap Clara.

“Kalau tetap di sini, kamu justru menjadi sasaran.”

Clara memandang Aria.

Adiknya berdiri di tengah kekacauan.

Namun ia tidak terlihat panik.

Justru tatapannya terus tertuju kepada Clara.

Clara berjalan mendekat.

“Aria!”

Aria menoleh.

“Kakak masih ingin berbicara?”

“Ya.”

“Di tengah perang?”

“Karena aku tidak ingin melawanmu.”

Aria tertawa getir.

“Terlambat.”

“Aku tidak menganggapmu musuh.”

Aria terdiam.

Clara melanjutkan,

“Kamu adikku.”

“Jangan panggil aku begitu.”

“Kenapa?”

“Karena aku tidak punya keluarga.”

Clara menggeleng.

“Kamu punya.”

Aria menatapnya.

“Kalian meninggalkanku.”

“Aku tidak.”

“Kamu bahkan tidak tahu aku ada!”

Air mata mulai muncul di mata Aria.

Clara terdiam.

Aria melanjutkan,

“Ketika aku kecil, aku selalu bertanya siapa orang tuaku.”

“Aku tidak mendapatkan jawaban.”

“Aku tumbuh tanpa mengetahui bahwa aku memiliki dua saudari.”

Clara perlahan mendekat.

“Aria…”

“Aku membenci keluarga Evellyn.”

“Kalau begitu bencilah aku setelah kita menyelesaikan semuanya.”

Aria mengerutkan kening.

“Maksudmu?”

Clara menunjuk orang-orang yang bertarung.

“Jangan biarkan orang lain menggunakan kebencianmu untuk menghancurkan kita.”

Aria terdiam.

Namun sebelum ia menjawab, Damian tiba-tiba muncul di belakangnya.

“Jangan dengarkan dia.”

Aria menoleh.

Damian berkata,

“Clara hanya ingin membuatmu ragu.”

Clara menatap Damian.

“Dia menggunakanmu.”

Damian tersenyum.

“Tidak.”

Clara mengangkat flashdisk yang diberikan Alena.

“Kalau begitu kenapa data ini menunjukkan nama Damian sebagai salah satu orang yang menerima aliran dana E-17?”

Wajah Damian berubah.

Aria langsung menatapnya.

“Apa?”

Damian terdiam.

Clara melanjutkan,

“Alena memberikan flashdisk ini kepadaku.”

Aria memandang kakaknya.

“Berikan kepadaku.”

Clara tidak langsung menyerahkannya.

“Baca sendiri.”

Ia melemparkan flashdisk tersebut kepada Aria.

Aria menangkapnya.

Damian segera maju.

“Jangan buka.”

Aria menatapnya tajam.

“Kenapa?”

“Karena itu bisa dipalsukan.”

Raka menyela.

“Aku bisa memeriksa datanya.”

Damian menoleh.

“Kamu?”

Raka tersenyum.

“Kalau memang palsu, kita akan tahu.”

Aria menatap Damian.

Untuk pertama kalinya, keraguan terlihat jelas di wajahnya.

“Selama ini kamu mengatakan bahwa keluargaku menghancurkan hidupku.”

“Memang benar.”

“Lalu kenapa namamu ada di dokumen ini?”

Damian terdiam.

Aria menggenggam flashdisk itu erat.

“Jawab aku.”

Damian tidak menjawab.

Clara melihat kesempatan itu.

“Aria, hentikan perang ini.”

Namun tiba-tiba terdengar suara sirene dari kejauhan.

Reno menoleh.

“Polisi!”

Semua orang mulai panik.

Raka mengamati jalan.

“Bukan hanya polisi.”

“Apa?”

“Ada kelompok lain.”

Dari ujung jalan terlihat puluhan motor datang dengan kecepatan tinggi.

Jaket mereka berwarna merah tua dengan simbol ular.

Reno langsung pucat.

“Mereka.”

Clara menatapnya.

“Siapa?”

“Geng Serigala Merah.”

Reno mengepalkan tangan.

“Mereka bukan bagian dari kelompok Aria.”

“Lalu kenapa datang?”

Reno menatap Damian.

“Karena seseorang membayar mereka.”

Damian tersenyum.

Aria langsung menoleh.

“Kamu?”

Damian tidak menjawab.

Namun senyumnya sudah cukup menjadi jawaban.

Reno berteriak,

“Semua mundur!”

Terlambat.

Puluhan anggota Geng Serigala Merah memasuki halaman.

Mereka tidak peduli siapa kawan dan siapa lawan.

Mereka langsung menyerang semua orang.

Kekacauan semakin besar.

“Ini bukan lagi perang antara dua kelompok!” teriak Raka.

Clara melihat sekeliling.

Orang-orang mulai berlarian.

Fedro menarik Clara ke samping.

“Kita harus keluar.”

“Tidak sebelum Aria dan Alena ikut.”

Fedro mengangguk.

“Aku akan bantu.”

Rafael bergerak menuju Alena.

“Alena!”

Alena berlari ke arahnya.

Namun seorang anggota geng menghadang.

Rafael segera membantu Alena menjauh.

Sementara Adrian dan Amara berusaha berlindung di balik kendaraan.

“Clara!”

Suara Amara terdengar.

Clara menoleh.

“Papi dan Mami, tetap di sana!”

“Awas!”

Seorang pria berlari ke arah Clara.

Fedro langsung menghalangi.

Benturan terjadi.

Fedro berhasil membuat pria itu mundur.

Clara memegang lengannya.

“Kamu tidak apa-apa?”

“Tidak.”

Fedro tersenyum.

“Ayo.”

Mereka berlari menuju Aria.

Namun Damian sudah tidak terlihat.

Clara melihat ke arah pintu belakang gudang.

“Damian kabur.”

Raka datang.

“Biarkan.”

“Tidak.”

Clara menunjuk Aria.

“Dia pasti membawa sesuatu.”

Aria tiba-tiba berlari.

“Damian!”

Clara mengejarnya.

Mereka memasuki bagian belakang gudang.

Di sana terdapat sebuah ruangan kecil.

Aria menemukan sebuah meja.

Di atasnya ada koper hitam.

Ia membukanya.

Clara mendekat.

“Apa itu?”

Aria mengeluarkan beberapa dokumen.

“Data E-17.”

Clara membeku.

“Semua?”

Aria mengangguk.

“Sepertinya.”

Kemudian ia menemukan sebuah foto.

Foto tiga anak perempuan.

Clara, Alena, dan Aria.

Namun di belakang foto terdapat tulisan.

Tiga anak. Satu pewaris utama.

Clara mengerutkan kening.

“Kenapa hanya satu pewaris?”

Aria menatapnya.

“Aku tidak tahu.”

Tiba-tiba Alena datang.

“Karena pewaris utama bukan aku.”

Clara dan Aria menoleh.

Alena berdiri di pintu.

“Bukan aku juga.”

Clara menatapnya.

“Lalu siapa?”

Alena menatap Clara.

“Kamu.”

Clara membeku.

“Kenapa?”

“Karena hanya darahmu yang bisa membuka ruang utama E-17.”

Clara menyentuh liontin burung di lehernya.

“Jadi semua ini terjadi karena aku?”

Alena menggeleng.

“Bukan karena kamu.”

Ia menatap Aria.

“Karena orang-orang itu takut pada apa yang bisa kamu buka.”

Aria terdiam.

Kemudian terdengar suara ledakan dari luar.

DUAR!

Dinding gudang bergetar.

Clara terkejut.

Raka berteriak dari kejauhan.

“SEMUA KELUAR!”

Clara menatap Alena.

“Apa yang terjadi?”

“Geng Serigala Merah menyerang gudang!”

Fedro muncul di pintu.

“Clara, kita harus pergi sekarang!”

Clara mengangguk.

Namun Aria tidak bergerak.

“Aku tidak ikut.”

Clara menatapnya.

“Kenapa?”

“Aku masih punya urusan dengan Damian.”

“Kamu tidak bisa mengejarnya sendirian.”

Aria tersenyum tipis.

“Aku sudah sendirian sejak kecil.”

Clara berjalan mendekat.

“Sekarang tidak lagi.”

Aria terdiam.

Clara mengulurkan tangannya.

“Aku tidak akan memaksamu memaafkan keluarga.”

“Tapi aku tidak akan meninggalkanmu.”

Aria menatap tangan tersebut.

Beberapa detik berlalu.

Akhirnya Aria menggenggam tangan Clara.

“Baik.”

Clara tersenyum.

“Kita pergi bersama.”

Mereka berlari keluar.

Di halaman, perang semakin kacau.

Namun perlahan anggota geng motor yang dipimpin Reno berhasil membuat kelompok lawan mundur.

Raka berteriak,

“Jalan keluar aman!”

Fedro membawa Clara menuju mobil.

Adrian dan Amara sudah berada di dalam.

Alena dan Aria menyusul.

Rafael masuk terakhir.

Reno berdiri di luar.

Clara menurunkan kaca jendela.

“Reno!”

Reno tersenyum.

“Pergilah.”

“Kamu?”

“Aku akan mengurus sisanya.”

Clara menggeleng.

“Jangan mengambil risiko.”

Reno tertawa.

“Clara, ini wilayah kami.”

Ia memakai helmnya.

“Kamu pulanglah kepada suamimu.”

Clara tersenyum.

“Terima kasih.”

Mobil mulai bergerak.

Namun baru beberapa meter meninggalkan gudang, Clara melihat sesuatu di kaca belakang.

Damian berdiri di atas atap gudang.

Ia memandang mobil mereka.

Kemudian mengangkat ponsel.

Ponsel Clara berdering.

Nomor tidak dikenal.

Clara mengangkatnya.

Suara Damian terdengar.

“Kamu pikir perang ini sudah selesai?”

Clara menatap ke belakang.

“Belum.”

Damian tertawa.

“Benar.”

“Karena yang terjadi malam ini hanya permulaan.”

Clara mengepalkan tangannya.

“Apa yang sebenarnya kamu inginkan?”

“Bukan aku yang menginginkan semuanya.”

“Lalu siapa?”

Damian terdiam sejenak.

Kemudian berkata,

“Orang yang berada di balik E-17.”

Clara menegang.

“Siapa?”

“Cari tahu sendiri.”

Sambungan terputus.

Clara menatap layar ponselnya.

Di sampingnya, Fedro bertanya,

“Damian?”

Clara mengangguk.

“Dia mengatakan perang ini baru permulaan.”

Alena menatap ke luar jendela.

“Dia benar.”

Aria memegang flashdisk erat.

“Karena ada sesuatu yang belum kita ketahui.”

Clara menoleh.

“Apa?”

Aria menatapnya.

“Orang yang mengendalikan Damian mungkin sudah mengetahui lokasi kita.”

Rafael langsung menoleh.

“Mustahil.”

Aria menggeleng.

“Tidak.”

Ia menunjukkan layar ponselnya.

Sebuah pesan baru muncul.

Kalian boleh membawa tiga saudari itu pergi.

Tapi kalian tidak bisa menghindari perang berikutnya.

Di bawahnya terdapat sebuah foto.

Foto rumah keluarga Adrian.

Clara membeku.

“Mereka mengawasi rumah.”

Adrian langsung menatap foto tersebut.

Amara menggenggam tangan suaminya.

Fedro mempercepat mobil.

Namun Clara menyadari sesuatu.

Peperangan malam ini bukan sekadar bentrokan antar geng motor.

Itu adalah pesan.

Musuh ingin menunjukkan bahwa mereka mampu menjangkau keluarga Evellyn kapan saja.

Dan sekarang, tiga saudari yang selama bertahun-tahun dipisahkan akhirnya kembali bersama.

Clara menatap Alena dan Aria.

“Kita harus mengakhiri semua ini.”

Alena mengangguk.

Aria menatap Clara.

“Kita akan mengakhirinya.”

Rafael tersenyum tipis.

“Bersama.”

Fedro menggenggam tangan Clara.

“Apa pun yang terjadi.”

Clara membalas genggaman itu.

“Bersama.”

Namun jauh di belakang mereka, di dalam gudang yang mulai dipenuhi asap, Damian berdiri di depan seseorang.

Sosok itu mengenakan jaket hitam.

Wajahnya tidak terlihat jelas.

Damian menundukkan kepala.

“Mereka berhasil kabur.”

Sosok tersebut tidak marah.

Justru tertawa kecil.

“Biarkan.”

“Kenapa?”

“Karena sekarang mereka membawa semua bagian yang kita butuhkan.”

Damian mengerutkan kening.

“Maksud Anda?”

Sosok itu menatap foto tiga saudari Evellyn.

“Clara memiliki kunci.”

“Alena memiliki kode.”

“Aria memiliki lokasi.”

Ia tersenyum.

“Dan sekarang mereka bertiga berkumpul.”

Damian terdiam.

Sosok itu kemudian berkata,

“Biarkan mereka mencari kebenaran.”

“Ketika mereka membuka ruang utama E-17…”

Ia berhenti.

“…kita akan mengambil semuanya.”

Malam semakin gelap.

Perang antar geng motor mungkin telah berakhir untuk sementara.

Tetapi perang sebenarnya baru saja dimulai.

Dan kali ini, Clara tidak hanya harus menghadapi musuh dari luar.

Ia juga harus mencari tahu siapa sosok misterius yang selama ini mengendalikan semuanya dari balik bayangan.

Sementara tiga saudari yang telah lama terpisah akhirnya berdiri di sisi yang sama.

Namun pertanyaannya hanya satu—

Apakah hubungan darah cukup kuat untuk membuat mereka saling percaya?

Atau justru rahasia E-17 akan membuat ketiga saudari itu kembali menjadi musuh?

Bersambung

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!