NovelToon NovelToon
Laki-laki Yang Berani Ngajak Nikah

Laki-laki Yang Berani Ngajak Nikah

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Delapan tahun Tira dan Dimas menjadi kekasih. Delapan tahun pula ia menunggu satu kepastian yaitu pernikahan. Namun, ketika Dimas tak kunjung datang membawa lamaran, ayah Tira justru menjodohkannya dengan Fahri, lelaki asing yang bahkan tak pernah ia cintai.

Tira akhirnya menikah dengan Fahri, meninggalkan cinta yang telah menemaninya selama delapan tahun. Tapi bagaimana jika lelaki asing itu perlahan membuatnya menemukan cinta yang selama ini ia cari? Dan bagaimana jika Dimas baru datang ketika Tira sudah menjadi istri orang lain?

#Konflik Etika #Nikah Paksa #Air Mata Pernikahan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28

Motor pun melaju meninggalkan kawasan ITC. Tira menyandarkan kepalanya ke punggung Fahri. Di sepanjang perjalanan pulang, senyumnya tidak hilang. Ia mulai menyukai rutinitas kecil ini. Bertemu di stasiun. Pulang bersama. Makan sesuatu yang ia suka. Bercerita tentang hari masing-masing. Lalu kembali ke rumah yang perlahan mulai terasa seperti rumah sungguhan. Dan malam itu, Tira akhirnya sadar bahwa rasa bahagia tidak selalu datang dalam bentuk kejutan besar. Kadang cukup ketika seseorang mengingat makanan kesukaanmu, lalu sengaja membawamu ke sana setelah hari yang melelahkan. Bagi Fahri mungkin itu hal kecil. Namun bagi Tira, perhatian kecil itu perlahan menjadi sesuatu yang besar di dalam hatinya. Ahhh indahnya jatuh cinta sama suami sendiri.

***

Hari itu Tira pulang jauh lebih lambat dari biasanya. Sejak sore ada masalah di kantor yang membuatnya tidak bisa meninggalkan meja begitu saja. Beberapa kali ia melihat jam dan semakin panik karena tahu Fahri sudah menunggunya di stasiun. Pukul tujuh malam, Tira akhirnya mengirim pesan. [Bang, pulang dulu saja. Jangan tunggu aku. Ini masih belum selesai.]

Balasan Fahri datang beberapa menit kemudian. [Saya tunggu.]

Tira menghela napas, ia kembali menatap layar. Lelaki itu memang begitu. Kalau sudah mengatakan akan menunggu, ia benar-benar menunggu. Pekerjaannya baru selesai sekitar pukul setengah sembilan malam. Dengan tubuh yang terasa remuk, Tira bergegas menuju stasiun. Ketika akhirnya tiba di Stasiun Depok, jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Penumpang tidak seramai biasanya.

Tira berjalan keluar sambil menyeret langkah. Matanya terasa berat. Kepalanya penuh dengan pekerjaan yang belum sepenuhnya hilang dari pikiran. Namun begitu melihat Fahri berdiri di dekat tempat parkir, ia langsung merasa sedikit lega. Lelaki itu masih mengenakan pakaian kerja. “Bang...”

Fahri segera menghampiri. “Capek?”

Tira hanya mengangguk. “Bang, kan sudah aku suruh pulang. Terus kenapa masih di sini? Abang pasti capek juga nungguin aku.”

Fahri mengambil tas Tira. “Karena saya mau jemput istri saya.” Fahri tahu Tira sudah kelelahan. Ia hanya mengambil helm, lalu berdiri di hadapan Tira. “Pakai.” Tira menurut. Fahri memasangkan helm itu dengan hati-hati, kemudian memeriksa talinya. “Sudah pas?” Tira mengangguk. Fahri menatap wajahnya beberapa saat. “Kamu ngantuk?”

“Sedikit.”

“Sedikit?” Fahri tersenyum tipis. “Mata kamu sudah seperti mau tutup.”

Tira tertawa lemah. “Capek banget.”

Fahri kemudian naik ke motor. Sebelum menyalakan mesin, ia menoleh. “Nanti peluk saya yang erat.”

Tira yang hendak naik langsung terdiam. “Hah?”

“Peluk pinggang saya.”

“Kenapa?”

“Biar nggak jatuh.”

Tira menatapnya dengan wajah sedikit merah. “Aku nggak akan jatuh.”

“Kamu tadi bilang ngantuk.” Fahri menunggu.

Tira akhirnya naik dan duduk di belakangnya. “Nggak apa-apa.”

Fahri tersenyum kecil. “Pegang yang erat, ya.” Tira perlahan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Fahri. Begitu motor mulai bergerak, tubuhnya otomatis mendekat. Wajahnya hampir menyentuh punggung suaminya. Tira tiba-tiba merasa jantungnya berdetak lebih cepat. Padahal mereka sudah menikah. Sudah pernah juga seperti ini tetapi tetap saja Tira selalu deg-degan. Mereka sudah melewati masa-masa yang jauh lebih dekat dari sekadar berpelukan di atas motor. Tetapi entah mengapa malam itu terasa berbeda. “Jangan tidur,” kata Fahri. “Kalau ngantuk, bilang.”

“Iya.” Tira menurut. Lengannya mengencang di pinggang Fahri.

Fahri tersenyum kecil, lega. Sejak melihat wajah Tira yang sangat lelah, ia takut istrinya tertidur di perjalanan dan kehilangan keseimbangan. Jalanan malam cukup sepi, tetapi ia tetap mengendarai motor dengan hati-hati.

Sementara itu, Tira menyandarkan kepalanya pelan di punggung Fahri. Aroma pakaian suaminya yang samar bercampur dengan udara malam. Aneh. Sederhana sekali. Tetapi membuat hatinya tenang. “Bang...” panggil Tira pelan. “Makasih sudah nunggu.” Depok malam ini terasa sangat indah, bagi Tira dunia malam ini hanya milik mereka berdua. Hanya ada ia dan Fahri.

Tira semakin merapatkan pelukannya. Bukan lagi karena takut jatuh. Ia hanya ingin menikmati perjalanan itu sedikit lebih lama. Di dalam hati, ia mulai mengakui sesuatu yang selama ini belum berani ia katakan. Ia rindu Fahri. Bukan sekadar rindu karena seharian tidak bertemu. Ia rindu perhatian lelaki itu. Rindu mendengar suaranya. Rindu melihat wajahnya ketika pulang. Rindu ditanya apakah sudah makan. Dan malam ini, setelah hari yang melelahkan, ia sadar bahwa ada seseorang yang rela menunggunya tanpa mengeluh. Seseorang yang tidak meminta imbalan apa pun. Seseorang yang hanya ingin memastikan istrinya pulang dengan selamat. Tira tersenyum kecil sambil memeluk Fahri lebih erat. “Bang.” tak ada jawaban sebab suara Tira kecil, bertarung dengan angin malam. “Aku sayang Abang.”

Motor Fahri seolah melambat sesaat. “Apa?”

Tira langsung panik. “Nggak apa-apa.” pipinya kembali terasa panas, jantung deg-degan parah.

***

Beberapa hari terakhir Tira mulai menikmati kehidupan barunya. Rutinitas sederhana bersama Fahri terasa semakin menyenangkan. Pagi berangkat kerja bersama, sore bertemu di stasiun, sesekali makan di luar, lalu pulang ke rumah dan bercerita tentang pekerjaan masing-masing.

Sayangnya, masa lalu rupanya belum selesai. Malam itu, ketika Tira sedang duduk di sofa sambil menunggu Fahri selesai mandi, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.

[ Tir, ini aku.]

Nomor baru. Tira langsung tahu siapa pengirimnya. Dimas. Ia menatap layar cukup lama. Nomor itu sudah beberapa kali muncul setelah nomor-nomor sebelumnya ia blokir. Setiap kali diblokir, Dimas selalu menemukan cara untuk menghubunginya lagi. Tira menghela napas. Ia sebenarnya bisa langsung memblokir nomor tersebut. Namun malam itu ia merasa harus menyelesaikan semuanya. Bukan untuk Dimas. Untuk dirinya sendiri. Ia membuka pesan itu. [Aku cuma mau bicara.]

Tira mengetik balasan. [Dimas, kita sudah selesai. Tolong berhenti menghubungi aku seperti dulu.]

Tidak lama kemudian pesan masuk lagi. [Aku cuma mau tahu kabarmu.]

Tira menatap kalimat itu dengan wajah datar. Dulu, kalimat seperti itu mungkin akan membuat hatinya berdebar. Sekarang tidak. Ia hanya merasa lelah. [Aku baik. Dan aku ingin kamu berhenti menghubungiku. Aku sudah menikah. Aku punya kehidupan yang harus aku jalani. Tolong hormati itu.]

Dimas membalas cepat. [Kamu benar-benar bahagia sama dia?]

Jari Tira berhenti di atas layar. Pertanyaan itu membuatnya kesal. Bukan karena ia tidak tahu jawabannya, tetapi karena Dimas masih merasa berhak menanyakan kebahagiaannya. Tira akhirnya mengetik, [Itu bukan lagi urusan kamu.] Ia mengirim pesan itu, lalu menutup percakapan. Tidak ada lagi penjelasan. Tidak ada perdebatan. Tidak ada kesempatan kedua. Setelah itu ia memblokir nomor tersebut. Tira meletakkan ponselnya di atas meja.

Namun beberapa detik kemudian ia mengambilnya lagi. Ada rasa bersalah yang tiba-tiba muncul. Bukan kepada Dimas. Kepada Fahri. Ia menatap pintu kamar mandi. Suara air masih terdengar dari dalam. Tira menggigit bibir. Ia merasa tidak nyaman menyembunyikan sesuatu dari suaminya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!