Genta, pemuda udik dari gunung dengan kemampuan medis legendaris, turun ke kota metropolitan untuk menikahi Kiara Prameswari, CEO cantik dan dingin dari keluarga konglomerat, sesuai wasiat gurunya. Alih-alih sambutan hangat, Genta justru dihina dan dianggap benalu oleh Kiara dan keluarganya yang tidak tahu bahwa di balik penampilannya yang lusuh, Genta didampingi oleh "Sistem Pewaris Tabib Sakti" yang memungkinkannya menyembuhkan penyakit mustahil. Terjebak dalam pernikahan politik yang dingin, Genta harus menggunakan ilmu medis magis dan bantuan sistemnya untuk menampar balik semua orang yang meremehkannya, menyelamatkan nyawa, dan membangun kekuasaannya sendiri di rimba kota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
Meskipun ragu, Kiara tidak pernah membantah permintaan suaminya lagi setelah semua keajaiban yang pria itu lakukan.
Dalam waktu kurang dari tiga jam, Kiara berhasil membeli sebuah ruko dua lantai tepat berhadapan dengan gedung raksasa Asosiasi Medis Kota.
Ruko itu segera dibersihkan, dan sebuah papan nama sederhana dari kayu dipasang di depan pintunya.
"Klinik Tabib Genta - Menyembuhkan yang Mustahil."
Sementara itu, Genta sedang sibuk meracik obat di halaman belakang kediamannya tanpa diketahui siapapun.
"Sistem, buka Toko Level 2 dan beli resep Pil Kecantikan Surgawi," perintah Genta tegas.
[Mengurangi 2000 Poin Reputasi.]
[Resep Pil Kecantikan Surgawi berhasil dibeli dan ditransfer ke ingatan Master.]
Berbagai jenis tanaman herbal murah yang tadi dibeli Genta di pasar tradisional mulai diolah dengan teknik rahasia.
Genta mencampurkan daun sirih, akar alang-alang, dan beberapa bahan biasa lainnya ke dalam sebuah kuali tanah liat.
Namun yang membuat campuran itu menjadi luar biasa adalah energi meridian yang disalurkan Genta melalui telapak tangannya saat mengaduk.
Energi itu mengubah sifat kimiawi bahan herbal biasa menjadi penawar racun tingkat tinggi yang tiada duanya.
Satu jam kemudian, Genta berhasil membuat satu toples besar berisi pasta kental berwarna kehijauan yang aromanya sangat wangi dan menenangkan.
Genta membawa toples itu dan langsung pergi menuju ruko klinik barunya di pusat kota.
Suasana di jalanan depan Asosiasi Medis Kota saat itu sedang luar biasa kacau balau.
Puluhan mobil mewah terparkir berantakan hingga memakan badan jalan.
Para wanita kaya, sosialita, dan artis yang menutupi wajah mereka dengan kain menangis histeris di depan gerbang asosiasi.
Ketua Asosiasi Medis Kota, Dokter Wijaya Tua yang terkenal sangat arogan, berdiri di podium kecil di depan gedungnya.
"Harap tenang semuanya! Kami sedang memberikan suntikan steroid dosis tinggi kepada para pasien di dalam!" teriak Dokter Wijaya melalui megafon.
"Asosiasi Medis kami memiliki teknologi terbaik, kami pasti bisa menghilangkan sisik gatal ini dalam waktu tiga hari!"
Namun janji manis Dokter Wijaya itu langsung dipatahkan oleh jeritan mengerikan dari dalam gedung perawatannya sendiri.
Tiga orang wanita berlari keluar dari gedung asosiasi dengan wajah yang jauh lebih mengerikan dari sebelumnya.
Sisik merah di wajah mereka tidak menghilang, justru semakin meradang dan mulai mengeluarkan nanah campur darah segar.
"Pembohong! Suntikan kalian malah membuat kulitku terasa seperti dibakar hidup-hidup!" jerit seorang wanita paruh baya meronta-ronta di aspal.
Kepanikan massa langsung meledak tidak terkendali melihat kegagalan telak dari dokter-dokter terbaik di kota tersebut.
Dokter Wijaya pucat pasi, dia mundur berlindung di balik barisan satpamnya karena takut diamuk oleh keluarga para pasien konglomerat itu.
"Ini di luar prediksi medis! Racun ini bermutasi saat bertemu dengan steroid kimia!" gumam Dokter Wijaya panik sendiri.
Tepat di tengah kekacauan yang mencekam itu, suara pukulan gong yang sangat nyaring terdengar dari seberang jalan.
Teng! Teng! Teng!
Semua orang refleks menoleh ke arah sumber suara yang memekakkan telinga tersebut.
Di teras ruko sederhana bertuliskan "Klinik Tabib Genta", berdiri seorang pemuda tampan dengan setelan kemeja rapi.
Genta memegang sebuah palu kayu kecil di tangannya, tersenyum santai menatap lautan manusia yang sedang putus asa di seberang jalan.
"Dokter-dokter bodoh itu hanya akan mempercepat pembusukan kulit kalian dengan suntikan racun kimia mereka," teriak Genta menggunakan tenaga dalamnya.
Suara Genta tidak menggunakan pelantang suara, namun bergema sangat jelas di telinga setiap orang yang hadir di sana.
"Barang siapa yang ingin sisik merahnya rontok dan kembali memiliki wajah cantik tanpa cacat dalam waktu lima belas menit, silakan melangkah masuk ke klinikku!"
Pernyataan arogan dan luar biasa berani itu langsung menghentikan seluruh tangisan dan jeritan di jalanan tersebut.
Menyembuhkan wabah aneh itu dalam waktu lima belas menit?
Bahkan teknologi rumah sakit luar negeri pun tidak ada yang berani mengklaim kesembuhan instan seperti itu.
Dokter Wijaya yang merasa otoritasnya diinjak-injak langsung merebut kembali megafonnya.
"Hei anak muda penipu! Siapa yang memberimu izin membuka praktik medis di seberang gedungkuku?!" bentak Dokter Wijaya murka.
"Jangan dengarkan orang gila ini semuanya! Dia pasti penjual obat herbal palsu yang ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan!"
Para pasien dan keluarga mereka mulai ragu, menatap Genta dengan pandangan penuh kecurigaan.
Penampilan Genta yang masih sangat muda memang tidak meyakinkan sama sekali untuk disebut sebagai seorang tabib ahli.
Namun di saat semua orang ragu, sebuah mobil van hitam pekat berhenti mendadak tepat di depan klinik Genta.
Seorang wanita bertopi lebar dan memakai kacamata hitam berlari keluar dari dalam van dengan langkah tertatih-tatih.
Dia adalah Bella, aktris papan atas nomor satu di negara ini yang kariernya sedang berada di puncak popularitas.
Bella langsung menerobos kerumunan dan jatuh berlutut tepat di depan kaki Genta.
Kacamata dan topinya terlepas, memperlihatkan separuh wajah cantiknya yang kini tertutup oleh sisik merah tebal yang menjijikkan.
"Kumohon Tabib... aku tidak peduli kau penipu atau bukan, tolong hentikan rasa gatal yang membakar ini!" isak Bella dengan suara serak.
"Suntikan dari dokter asosiasi barusan membuat wajahku seakan ditusuk ribuan jarum panas, aku lebih baik mati daripada hidup cacat seperti ini!"
Semua orang menahan napas melihat aktris idola mereka kini terlihat seperti monster yang menyedihkan.
Dokter Wijaya di seberang jalan tersenyum sinis melihat adegan tersebut.
"Lihat saja, pemuda penipu itu pasti akan langsung lari ketakutan saat melihat tingkat keparahan racun di wajah Nona Bella."
Namun dugaan dokter sombong itu sepenuhnya salah total.
Genta sama sekali tidak mundur apalagi merasa jijik melihat nanah yang keluar dari wajah aktris cantik tersebut.
Dia justru berjongkok dengan tenang dan menyeka air mata Bella menggunakan saputangannya.
"Berhentilah menangis Nona Bella, air matamu hanya akan membuat lukamu semakin perih," ucap Genta lembut.
Genta kemudian berdiri dan mengambil sebuah cawan kecil berisi pasta herbal berwarna hijau dari atas mejanya.
Dia menatap lurus ke arah Dokter Wijaya dan ratusan pasien konglomerat di jalanan dengan sorot mata yang penuh dominasi mutlak.
"Hari ini, aku akan membuka mata kalian semua untuk melihat bahwa ilmu pengobatan modern kalian hanyalah setitik debu di hadapan warisan Tabib Sakti!"
Tanpa ragu sedikitpun, Genta menyendok pasta hijau berbau wangi itu dan mengoleskannya langsung menutupi seluruh sisik merah di wajah Bella.
"Arrrgghhh!"
Bella menjerit keras saat salep herbal itu menyentuh kulitnya yang rusak.
Kerumunan massa langsung heboh dan bersiap menerobos masuk untuk memukuli Genta karena dianggap menyiksa pasien.
Namun belum sempat ada yang melangkah maju, jeritan Bella mendadak berhenti.
Tubuh aktris itu berhenti bergetar, dan tangannya yang tadinya terus berusaha menggaruk wajah kini terkulai lemas dengan perasaan lega.
"D-dingin... rasanya sangat sejuk seperti disiram es," gumam Bella dengan mata terbelalak tidak percaya.
"Rasa gatal dan panasnya... hilang sama sekali."
Kerumunan mendadak sunyi senyap bagaikan kuburan.
Dokter Wijaya membelalakkan matanya ngeri melihat perubahan instan yang terjadi pada aktris tersebut.
Pasta hijau di wajah Bella perlahan mengering dan berubah warna menjadi hitam pekat seolah menyerap semua racun mematikan dari balik pori-pori kulitnya.
Genta menyeringai puas, dia melipat kedua tangannya di dada dan menatap jam dinding di kliniknya.
"Tunggu empat belas menit lagi Nona Bella, dan kau akan melihat wajah aslimu kembali bersih tanpa noda sedikitpun."
Pertunjukan keajaiban medis terbesar di kota metropolitan akhirnya resmi dimulai, dan nama Klinik Tabib Genta bersiap menggoncang seluruh dunia malam ini juga.