NovelToon NovelToon
Diusir Jadi Pembantu, Dipinang Sang Mayor

Diusir Jadi Pembantu, Dipinang Sang Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Pengasuh / Menikahi tentara
Popularitas:94
Nilai: 5
Nama Author: Raven Ayu

Sepuluh tahun Arum jadi "calon menantu" keluarga Prasetyo. Nyatanya? Cuma pembantu tanpa gaji yang mencuci, memasak, dan menahan hinaan setiap hari.

Begitu Reyhan—putra keluarga itu—lulus dan kuliah di Jakarta, Arum langsung ditendang keluar. Alasannya satu: **"Kamu nggak sederajat lagi."**

Ia lalu dibuang ke rumah dinas Mayor Bramantyo Adiwangsa—**"Sang Macan"**, perwira berhati batu yang baru pulang terluka dari perbatasan. Konon tatapannya saja bikin prajurit menunduk. Arum pikir ia cuma akan jadi pengurus rumah biasa.

Tapi lelaki dingin yang katanya tak pernah melirik perempuan itu… malam demi malam menatapnya makin dalam.

Saat keluarga Prasetyo datang menghina, sang Mayor menendang pintu dan berdiri di depannya:
**"Di rumahku, dia orangku. Sentuh sehelai rambutnya, coba saja."**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raven Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30

Bab 30: Malam Hujan, Kumanjakan Kamu Setinggi Langit

Beberapa hari kemudian, hujan turun sejak petang dan tidak menunjukkan tanda akan berhenti.

Atap Blok C-3 berdetak tanpa jeda. Udara dingin merayap melalui celah jendela, membuat kaki kanan Bara berdenyut sampai ke pinggul. Ia duduk di kursi dekat ruang tamu sambil menahan kompres hangat yang disiapkan Arum.

"Terlalu panas?" tanya Arum.

"Tidak."

"Wajah Pak Mayor bilang iya."

"Wajahku memang begini."

Arum hampir tertawa. Ia mengurangi lapisan kain pada kompres, lalu menaruhnya kembali dengan hati-hati. Sejak naik motor bersama, jarak di antara mereka berubah. Masih ada aturan dan pintu yang tidak dilewati, tetapi keheningan tak lagi terasa canggung.

Malam itu, Bu Yanti sudah pulang setelah makan malam. Arum akan tidur di kamar kecil, sementara Bara tetap di ruang utama. Mereka berdua tahu hujan membuat orang lain malas keluar dan rumah terasa lebih sepi daripada biasa.

"Gaunnya belum dipakai," kata Bara.

"Saya simpan untuk hari baik."

"Hari biasa juga boleh baik."

Arum menuangkan teh jahe. "Saya belum terbiasa punya pakaian yang dipilih untuk saya. Takut cepat rusak."

"Kalau rusak, beli lagi."

"Pak Mayor selalu menganggap semua bisa dibeli lagi."

"Tidak semua."

Nada suaranya membuat Arum mengangkat mata.

Bara memandang hujan di jendela. "Kepercayaan tidak bisa. Waktu juga tidak."

Arum duduk di kursi seberang. Untuk beberapa saat hanya bunyi air yang berbicara. Lalu ia mengusap bekas tipis pada pergelangan tangannya, tempat jari Karta pernah mencengkeram.

"Dulu saya berpikir kalau saya bekerja lebih keras, keluarga Prasetyo akhirnya akan menganggap saya keluarga," katanya. "Setiap kali Bu Yatmi marah, saya kira saya kurang cepat. Kalau makanan habis, saya pikir saya tidak pantas makan karena belum selesai bekerja."

Bara tidak menyela.

"Ketika Reyhan memberi tusuk konde, saya menyimpannya seperti harta. Bukan karena mahal. Karena saya takut kalau tidak berterima kasih cukup lama, tidak akan ada lagi orang yang ingat ulang tahun saya."

"Kamu berumur dua belas tahun."

"Tapi sampai sekarang, sebagian diri saya masih seperti anak itu." Arum menatap tangannya. "Kalau menerima gaun, jaket, atau rumah yang aman, saya langsung menghitung kapan semuanya akan ditagih."

Bara meletakkan kompres. "Aku tidak akan menagih tubuhmu, pilihanmu, atau hidupmu."

Arum menahan napas.

"Kalau saya tidak bisa membalas semua kebaikan Pak Mayor?"

"Berhenti menyebut perhatian sebagai utang."

"Mudah bagi Pak Mayor mengatakan begitu."

"Tidak." Bara menunduk pada bekas luka di tangannya. "Aku juga hidup dengan menghitung. Siapa yang menolong, siapa yang pergi, berapa banyak nyawa yang harus kubayar dengan tugas berikutnya. Itu cara orang yang tidak punya rumah bertahan."

Arum mengenal sedikit kisah panti asuhan, tetapi Bara tidak pernah membukanya sedalam itu. Ia berpindah duduk ke kursi yang lebih dekat.

"Pak Mayor juga takut ditinggalkan?"

Bara tersenyum tanpa gembira. "Aku terbiasa ditinggalkan. Itu berbeda."

"Kalau terbiasa, kenapa waktu saya diculik Pak Mayor kelihatan sangat marah?"

"Karena aku tidak mau terbiasa kehilanganmu."

Hujan terdengar semakin keras.

Arum memegang cangkir dengan kedua tangan agar Bara tidak melihat jemarinya bergetar. "Orang-orang sekarang baik karena tahu Ayah punya nama. Mereka memanggil saya calon Bu Mayor. Kadang saya takut kalau semua itu hilang, saya kembali jadi perempuan tanpa asal-usul."

Bara memiringkan tubuh, menghadapnya penuh.

"Namamu tetap Arum Wijaya meski tak ada satu orang pun memberi hormat."

"Tapi saya tidak tahu cara menjadi perempuan yang pantas berdiri di samping perwira."

"Aku tidak mencari pangkat untuk dinikahi."

Arum tersipu, tetapi luka di wajahnya belum hilang. "Saya gemuk, pendidikan saya biasa, saya lebih pandai menjahit daripada bicara. Di antara istri perwira, saya selalu merasa salah tempat."

"Siapa yang bilang tubuhmu salah?"

Arum menunduk. "Bu Yatmi sering bilang saya terlalu banyak makan. Kalau baju sempit, jatah saya dikurangi. Nunung juga pernah menertawakan pinggul saya waktu antre air."

Wajah Bara mengeras, tetapi Arum menyentuh ujung meja sebagai peringatan. "Jangan panggil mereka malam-malam. Saya hanya sedang bercerita."

"Aku dengar."

"Dulu saya mengikat kain lebih kencang supaya kelihatan kecil. Kadang sampai sulit bernapas."

"Jangan lakukan lagi."

"Pak Mayor menyuruh?"

"Aku meminta. Tubuhmu bukan hukuman."

Arum mengusap perutnya sendiri dengan gerakan malu. Sulit mempercayai bahwa bagian-bagian yang selama ini disembunyikan tidak perlu dimaafkan.

Bara mengambil selimut tipis dari sandaran kursi dan meletakkannya di pangkuan Arum karena udara semakin dingin. Ia tidak berkomentar tentang bentuk tubuh, hanya memastikan ujung kain menutup kakinya.

"Di panti," katanya setelah kembali duduk, "anak-anak sering menyimpan roti karena takut besok tidak ada. Butuh bertahun-tahun sampai aku bisa makan tanpa menyisakan setengah di saku."

Arum menatapnya. "Pak Mayor juga begitu?"

"Aku pernah tidur dengan dua potong roti keras di bawah bantal. Keesokan paginya dimakan semut. Aku tetap memakannya."

Arum tertawa kecil di sela air mata. "Sekarang Pak Mayor memaksa saya menghabiskan bubur."

"Karena aku tahu rasanya takut makanan berikutnya tidak datang."

Pengakuan sederhana itu membuat rasa malu Arum surut. Mereka bukan dua orang dari dunia berbeda. Keduanya pernah belajar menyimpan, menahan, dan tidak meminta hanya agar bisa bertahan.

"Lihat aku."

Arum mengangkat wajah.

"Aku tidak ingin kamu menjadi orang lain supaya pantas untukku," kata Bara. "Kalau aku punya jalan, aku akan membawamu melihat dunia yang lebih luas. Kalau aku punya uang, aku akan membeli yang membuat hidupmu mudah. Kalau orang merendahkanmu, aku berdiri di depan mereka."

Ia berhenti, memastikan Arum mendengar setiap kata.

"Aku akan memanjakanmu setinggi langit. Bukan supaya kamu berutang, tapi karena selama ini hidup terlalu pelit kepadamu."

Air mata Arum jatuh sebelum ia bisa menahannya.

"Jangan menangis."

"Saya tidak sedih."

"Air matamu tetap jatuh."

"Karena belum pernah ada yang bilang hidup terlalu pelit kepada saya. Biasanya orang bilang saya yang terlalu banyak meminta."

Bara menggeser kursinya lebih dekat. Nyeri di kaki membuat gerakannya sedikit berat, tetapi ia tidak mengeluh.

"Mulai sekarang, minta. Kalau aku bisa, aku beri. Kalau tidak bisa, aku bilang jujur."

"Kalau saya minta Pak Mayor jangan pergi?"

Pertanyaan itu keluar tanpa rencana.

Bara terdiam. Di luar, kilat memutihkan jendela sekejap.

"Selama bukan tugas yang memerintahkan, aku tinggal," jawabnya. "Kalau tugas memanggil, aku akan pulang."

Arum tahu itu bukan janji kosong. Ia juga memahami sejak awal bahwa mencintai prajurit berarti ada pintu yang suatu hari bisa ditutup oleh perintah.

"Kalau begitu," bisiknya, "malam ini tinggal."

Bara menatap wajahnya. Jarak di antara mereka tinggal satu lengan. Aroma jahe, tanah basah, dan wangi lembut Arum bercampur dalam udara hangat ruang tamu.

Ia mengangkat tangan perlahan, memberi Arum cukup waktu untuk mundur.

Arum tidak bergerak.

Jari Bara berhenti tepat sebelum menyentuh pipinya yang memerah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!