NovelToon NovelToon
PANGERAN YANG TERSEMBUNYI

PANGERAN YANG TERSEMBUNYI

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Transmigrasi
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: subspace_illusion

Arya Sena adalah seorang anak yang tidak diketahui publik dari pasangan Tunggul ametung dan seorang wanita yang merawatnya ketika dia mengalami luka parah akibat perintah penguasa Kediri yang memerintahkannya untuk menumpas pemberontakan disuatu daerah, setelah terluka Tunggul Ametung dirawat oleh seorang perempuan didesa bersama beberapa orang setianya, dan disaat itu mereka tidak sengaja jatuh cinta, ketika sudah benar-benar pulih, Tunggul Ametung menyuruh gadis itu untuk melupakannya, ditambah dihatinya hanya ada istrinya Dedes, lalu tanpa diketahui perempuan itu mengandung, setelah kurang lebih sembilan bulan lahirnya anak di kandungnya seorang laki-laki, tapi tak lama bayi itu kemudian meninggal tak kuasa menahan kesedihan tanpa suami sekarang ditinggal anak yang baru dilahirkan, perempuan itu kemudian juga meninggal, lalu jiwa dari timeline modern merasuki tubuh bayi itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon subspace_illusion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERJAMUAN MALAM HARI

Malam harinya, suasana balairung istana Dharmasraya berubah menjadi perjamuan yang sangat megah. Obor-obor berdinding perak menyala terang, mengiringi dentingan gamelan dan tarian para dayang istana. Sebagai tamu yang membawa nama besar trah Mpu Bharada, aku didudukkan di jajaran meja kehormatan.

Sepanjang acara, tak sedikit pejabat tinggi dan bangsawan kerajaan yang bergantian mendatangiku. Mereka mencoba melempar senyum diplomatik, sekadar berkenalan, atau berusaha menggali latar belakangku di Singhasari. Aku melayani mereka santai, menjawab seadanya dengan nada ramah yang sudah ku poles.

Namun, ketenanganku terusik ketika seorang resi istana berpakaian serba putih mendekati mejaku. Dari sorot matanya, nampak jelas dia tidak datang untuk beramah tamah, melainkan membawa ambisi pribadi.

"Anak muda," buka resi itu dengan suara berat yang sengaja direndahkan. "Sebagai murid kepercayaan Mpu Ranajaya dan trah agung Mpu Bharada, kau pasti mewarisi rahasia kitab rahasia pemisah tanah Kahuripan, bukan? Katakan padaku, bagaimana susunan rapal ajian pembelah dimensi yang dipakai gurumu saat membagi kerajaan dulu?"

Aku menghentikan cangkir tuak yang hampir menyentuh bibirku. Pertanyaan yang sangat lancang

Rahasia semacam itu adalah batas sakral yang dilarang keras untuk dibocorkan, bahkan untuk sesama resi sekalipun. Entah dia murni menguji kemampuanku atau hanya iseng memanfaatkan posisinya di perjamuan ini, dia sudah menyeberangi garis batas.

"Kalau kau mau main-main, mari kita main sekalian" batin pirkiranku.

Tanpa perlu menggerakkan tangan atau merubah raut wajah, aku menatap lurus ke arah matanya. Di balik ketenanganku, aku merapalkan mantra esoteris secara batin.

Sebenarnya, menggunakan mantra-mantra pembalik takdir tingkat tinggi seperti ini punya konsekuensi berat: ia membakar karma baik penggunanya. Jika karma baik dalam diri sampai habis terkuras, energi gaib itu akan mulai menggerogoti dan membakar sisa usia. Tapi untuk sekadar memberi pelajaran kecil pada resi asing yang tidak tahu sopan santun ini, karma baikku masih jauh dari kata habis.

Seketika, garis-garis aliran nadi gaib di tubuh sang resi terputus paksa. Otot-otot di kedua kakinya mendadak mati rasa dan meliuk lemas bagai karet basah.

Seketika Resi itu menjerit saat tubuhnya kehilangan tumpuan dan ambruk terjerembap ke ubin batu, tepat di samping mejaku. Cangkir di tangannya pecah berantakan. Beberapa pejabat di sekitar kami langsung menoleh kaget.

Aku menunduk sedikit, menatap sang resi yang melantai dengan raut wajah datar.

"Resi," ucapku pelan namun cukup jelas ditangkap telinganya. "Apa yang kau tanyakan tadi adalah rahasia larangan dewata. Kau sendiri yang memancing bahaya dengan menanyakan hal yang tak seharusnya diusik. Inilah akibatnya jika mulut mendahului hikmat."

Wajah sang resi yang tadinya congkak kini pucat pasi bagai mayat. Ia mencoba menggerakkan kakinya, namun kedua tungkainya benar-benar mati total tak berdaya. Menyadari dirinya baru saja berhadapan dengan bahaya laten yang tak terlihat, ketakutannya membuncah.

"Ampun... Ampunkan hamba, Arya Sena!" bisik sang resi terbata-bata sambil meraih ujung jubahku dengan tangan gemetar. "Hamba khilaf! Hamba berjanji tak akan pernah mengulanginya lagi... Mohon tolong hamba!"

Aku menghela napas pendek. Merusak perjamuan orang bukan tujuanku ke sini.

"Ingat janjimu resi," bisikku dingin.

Aku kembali merapalkan mantra pembalik secara batin. Dalam sekejap, ikatan gaib yang menyumbat alir darah di kakinya terurai. Aliran hawa murni kembali menyapu saraf-sarafnya, mengembalikan fungsi ototnya seperti semula.

Sang resi buru-buru menarik kakinya, berdiri canggung dengan tubuh masih gemetar hebat, lalu membungkuk berkali-kali sebelum akhirnya mundur merayap menjauhi mejaku tanpa berani menoleh lagi.

Orang-orang di sekitar perjamuan yang melihat adegan itu hanya bisa berbisik-bisik ngeri. Mereka semakin yakin bahwa pangeran muda dari Jawa ini bukanlah sosok yang bisa dipermainkan.

Setelah insiden resi yang lumpuh mendadak itu berhasil diredam, suasana perjamuan kembali berangsur hangat. Raja Srimat Trailokyaraja yang duduk di singgasananya menatapku dengan binar mata penuh minat. Ia melambaikan tangan, memanggil beberapa orang untuk mendekat ke tengah balairung.

Dari balik tirai sutra di sisi balai, melangkah masuk tiga orang putri kerajaan bertubuh anggun dengan busana keemasan khas Dharmasraya. Paras mereka sangat jelita, membawa aroma wewangian bunga cempaka yang menyebar halus di udara.

Raja Srimat Trailokyaraja tersenyum lebar, menunjuk ke arah putri-putrinya.

"Arya Sena," panggil Raja Srimat Trailokyaraja dengan nada ramah nan santai. "Perkenalkan, mereka adalah putri-putriku. Sebagai seorang ksatria agung dan murid dari trah Mpu Bharada, kedudukanmu sangatlah dihormati di sini."

Sang Raja terkekeh pelan, melontarkan nada candaan yang tersirat makna diplomasi. "Bagaimana, Anak Muda? Apakah ada di antara mereka yang menarik perhatianmu?"

Mendengar ucapan itu, aku hanya menyunggingkan senyum tipis. 

Otak modernku langsung paham arah pembicaraan ini. Sebagai orang yang sudah menonton dan membaca ribuan kisah-kisah klasik kerajaan, pola politik perjodohan seperti ini sudah sangat tertebak. Mengikat ksatria kuat dengan ikatan pernikahan adalah cara paling klasik untuk mengamankan persekutuan.

Aku merapatkan kedua telapak tangan di dada, lalu menggelengkan kepala dengan tegas namun tetap sopan.

"Hamba sangat berterima kasih atas kebaikan dan perhatian Paduka Raja Srimat Trailokyaraja," ujarku tenang dan lugas. "Namun hamba harus menolaknya. Hamba sudah memiliki seorang istri di Singhasari, Dewi Rimbu. Kedatangan hamba jauh-jauh ke Dharmasraya ini murni untuk urusan bisnis dan pertukaran, bukan untuk mencari istri baru."

Mendengar penolakan ku yang begitu langsung dan tanpa ragu, ketiga putri itu tampak sedikit terkejut. Namun Raja Srimat Trailokyaraja justru tertawa kecil, menghargai kejujuran dan keteguhan prinsipku.

"Luar biasa," kekeh Sang Raja sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Seorang ksatria yang sangat setia pada janjinya. Baik kalau begitu, aku menghormati keputusan mu, Arya Sena."

Raja Srimat Trailokyaraja mengisyaratkan putri-putrinya untuk kembali ke peraduan, lalu mengangkat cangkir emasnya, melanjutkan perjamuan.

Di sela-sela menikmati hidangan dan pertunjukan tari, Sang Raja beberapa kali memiringkan tubuhnya ke arahku. Ia mulai menanyakan kondisi politik dan keamanan di Singhasari saat ini mungkin untuk menjajaki peluang kerja sama maritim atau sekadar membaca peta kekuatan kerajaan di tanah Jawa. Aku melayaninya dengan jawaban-jawaban yang diplomatis  tidak terlalu membocorkan rahasia dalam istana yang dipimpin Anusapati, namun tetap memberi kesan bahwa kerajaan Singhasari adalah mitra yang sangat kuat dan stabil.

Malam semakin larut diiringi musik gamelan dan tarian para dayang yang mengalun lembut, aku mendekati raja dan membahas tentang negosiasi tadi siang, dan kesimpulan dari obrolanku raja tertarik untuk menukar daerah itu dengan senjata dan zirah yang aku janjikan, tetapi untuk urusan resminya akan diumumkan nanti di balairung bersama pejabat yang lain.

1
blue.rose
Suka banget sama Sena, kelihatannya aja polos dan suka merendah, tapi aslinya diam-diam mematikan. liciknya itu elegan, nggak cuma modal otot tapi pake otak juga. dalang dari segala kejadian deh pokoknya, seru abis.
subspace_illusion: Terima kasih banyak atas dukungannya! Support dari kamu berarti banget buat cerita ini. Enjoy the next chapters!
total 1 replies
Victoria
alur cerita punya pacing yang pas banget. elemen fiksi sejarahnya kuat, tapi dikemas modern dengan konflik emosional dan kejutan plot yang bikin penasaran di tiap bab. karakter utamanya tegas dan punya pendirian.
subspace_illusion: Terima kasih banyak atas dukungannya! Support dari kamu berarti banget buat cerita ini. Enjoy the next chapters!
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!