NovelToon NovelToon
Satpam Sakti: Sang Raja Serigala

Satpam Sakti: Sang Raja Serigala

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: Vyrkon

Bima hanyalah satpam bergaji kecil di apartemen mewah Surabaya. Ia diremehkan preman, diinjak atasan, dan dipandang rendah penghuni kaya. Tak ada yang tahu, pria ini dulunya Sang Raja Serigala, pemimpin tentara bayaran legendaris, pewaris Aji Surya Candra, serta pemilik rahasia yang bisa mengguncang kota.
Kembali ke tanah air untuk menepati janji melindungi kerabat rekan seperjuangan yang gugur, Bima bersembunyi sebagai satpam dan menanggung segala hinaan. Musuhnya datang beruntun: korlap satpam, konglomerat pengirim pembunuh, hingga Padepokan Giri Wesi. Ia menumbangkan lawan di ring maut Sayembara Pedang Emas, membongkar konspirasi Kelab Arwah, dan mencapai puncak ilmu silat Manunggal.
Di sisinya berkumpul berbagai wanita: janda anggun, polisi cantik keturunan jenderal, direktur muda, dan pesilat wanita misterius. Cinta, dendam, kuasa dan rahasia saling bertaut.
Mereka memerintahnya berlutut. Bima membuat semua orang mendongak kepadanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Bab 15: Rapat yang Berubah Jadi Ancaman

Keesokan pagi, Anindya mengantar Bima ke Larissa Couture.

Sedan putihnya melaju di antara lalu lintas Surabaya yang mulai padat. Hubungan mereka membaik setelah insiden Reno, tetapi masih ada kehati-hatian baru di setiap percakapan.

"Pergelangan Gopar benar-benar patah?" tanya Anindya.

"Kemungkinan. Saya suruh dia ke rumah sakit."

"Kamu bilang itu seperti menyuruh orang membeli obat flu."

"Kalau saya ikut panik, tulangnya nggak akan menyatu lebih cepat."

Ponsel mobil berdering. Nama Bu Vanya muncul di layar. Anindya menerima melalui pengeras suara.

"Pagi, Non Vanya."

"Pagi, Kak Anin. Jadwal rapat Selvi dimajukan ke jam dua. Tolong siapkan ringkasan valuasi dan kontrak calon mitra."

"Siap."

Vanya berhenti sejenak. "Kamu sedang menyetir?"

"Iya. Aku sekalian mengantar Bima."

"Satpam baru kita?"

Bima melirik Anindya.

"Iya."

"Bagaimana sebenarnya orangnya? Kemarin dia membuat Gita ingin memecat sekaligus mengajak berdebat."

Anindya menjawab setelah jeda singkat. "Mulutnya kadang menyebalkan. Tindakannya juga terlalu berani. Tapi kalau keadaan benar-benar buruk, dia orang yang bisa dipercaya."

Bima memandang jalan agar Anindya tidak melihat senyumnya.

"Baik," kata Vanya. "Sampai kantor."

Panggilan berakhir.

"Ternyata Kak Anin masih mau membela saya."

"Aku memberi penilaian kerja, bukan pujian."

"Bedanya tipis."

Karena harus mengantar Sasa lebih dulu dan lalu lintas tersendat, mereka tiba tiga puluh menit setelah jadwal Bima. Ia sudah mengabari Pak Hadi sejak awal perjalanan dan mencatat keterlambatan untuk diganti pada akhir shift.

Pak Hadi, kepala regu senior berambut memutih di pelipis, hanya menunjuk buku absensi.

"Tulis alasan dan jam masuk. Besok berangkat lebih awal. Di sini prosedur berlaku untuk semua."

"Siap, Pak Hadi."

Bima baru selesai menandatangani ketika Vira datang dari lobi. Ia mengenakan setelan hijau tua dan sepatu hak tinggi. Tatapannya jatuh pada jam dinding, lalu nama Bima di buku.

"Hari kedua sudah terlambat," katanya. "Pak Hadi, orang seperti ini seharusnya nggak lulus masa percobaan."

"Sudah memberi kabar dan akan mengganti waktu," jawab Pak Hadi.

"Tetap saja. Kemarin dia juga bicara meremehkan pekerjaanku."

Bima berdiri. "Saya bilang kemampuan Mbak Vira menguasai ruangan adalah keahlian komunikasi. Bagian yang Mbak dengar terpotong."

"Enak saja memperbaiki ucapan setelah ketahuan."

"Kalau saya benar meremehkan, saya pasti bilang kampanye terakhir Larissa terlalu mengandalkan wajah Mbak Vira. Padahal data interaksinya naik tiga puluh persen karena konsepnya tepat."

Vira berkedip. "Kamu melihat laporan kampanye?"

"Angkanya ada di layar lobi kemarin."

Ia hendak membalas, tetapi ujung hak sepatunya tersangkut tepi keset. Tubuhnya oleng.

Bima menangkap siku dan bahunya sebelum jatuh. Begitu Vira kembali seimbang, ia langsung melepaskan tangan.

"Kesetnya bergeser," kata Bima. Ia berjongkok, merapikan keset, lalu memberi tanda agar petugas kebersihan memasang penahan.

Vira menyentuh sikunya. Kemarahan di wajahnya melemah.

"Kali ini aku anggap selesai," katanya. "Tapi jangan terlambat lagi."

"Siap, Mbak Vira."

Saat pergi, sudut bibir Vira hampir membentuk senyum.

Pukul dua siang, suasana gedung berubah.

Selvi datang bersama dua staf hukum dan seorang pria bermata satu. Pria itu mengenakan kemeja hitam, tubuhnya padat, dan bekas luka menutup mata kiri. Kartu nama yang diserahkan kepada resepsionis bertuliskan Darman, direktur PT Garda Hitam.

Pak Hadi menempatkan Bima di luar ruang rapat karena para tamu membawa dua pengawal yang diminta menunggu di lobi. Bima memeriksa undangan, mencatat identitas, lalu berdiri dekat pintu tanpa ikut campur.

Di dalam, Selvi meletakkan surat penawaran resmi di atas meja.

"Delapan puluh miliar rupiah untuk akuisisi penuh," katanya. "Pembayaran tunai setelah pemeriksaan dokumen. Ini peluang yang sangat baik sebelum pasar mode berubah."

Gita membalik beberapa halaman. "Valuasi internal kami sudah melewati seratus dua puluh miliar. Kerja sama internasional yang sedang dijajaki bisa membawa nilai di atas seratus lima puluh. Tawaran ini bahkan tidak mendekati wajar."

"Kerja sama itu belum ditandatangani," jawab Selvi. "Nilainya masih mimpi."

Vanya tetap tenang. "Kalaupun saya ingin menjual, keputusan harus melalui pemegang saham dan pemeriksaan independen. Saya menolak angka ini."

Selvi mendorong dokumen kedua. "Ada paket tambahan. Seluruh keamanan internal dialihkan ke PT Garda Hitam. Biayanya kami tanggung selama proses akuisisi."

"Jadi kalian ingin membeli murah sekaligus menguasai akses gedung?" Gita menutup map. "Tidak."

Salah satu staf hukum Selvi mencoba mengambil alih. "Surat ini baru penawaran awal dan tidak mengikat. Pihak Larissa dapat membuka ruang uji tuntas sebelum menandatangani perjanjian jual beli saham."

"Justru karena tidak mengikat, kami berhak menolaknya sekarang," jawab Vanya. "Tidak ada kewajiban membuka data perusahaan kepada calon pembeli yang belum menunjukkan bukti dana dan pemilik manfaat akhirnya."

Gita menunjuk lampiran. "Nama pihak pembeli hanya perusahaan kendaraan investasi yang berdiri enam bulan lalu. Tidak ada laporan keuangan audit, tidak ada surat bank, dan tidak ada penjelasan siapa yang mengendalikan dana."

Selvi tersenyum tipis. "Semua akan diberikan setelah ada persetujuan prinsip."

"Persetujuan prinsip pun harus dibawa ke pemegang saham," kata Vanya. "Direksi tidak bisa menyerahkan kendali perusahaan melalui rapat satu jam. Dan pengalihan tim keamanan membutuhkan pengadaan terpisah, pemeriksaan izin, serta persetujuan operasional."

Kedua staf hukum Selvi saling pandang. Secara dokumen, mereka tidak punya alat untuk memaksa. Nilai tawaran dan dua meterai hanya dibuat agar tekanan di luar kertas terlihat resmi.

Darman yang sejak tadi diam akhirnya bersandar ke depan.

"Keamanan bukan hal murah, Bu Vanya. Gedung dengan kain mahal, data desain, dan klien asing mudah mendapat masalah. Jalanan Surabaya bisa menjadi tidak ramah."

Nada itu cukup halus untuk disangkal, cukup jelas untuk dipahami sebagai ancaman.

Vanya menekan tombol perekam rapat resmi di meja. "Apakah Pak Darman sedang menyatakan bahwa gedung kami akan mengalami gangguan jika tawaran ditolak?"

"Saya hanya memberi nasihat profesional."

Dari luar pintu, Bima berkata, "Nasihat profesional biasanya dilengkapi analisis risiko. Bukan ancaman yang dibungkus kemeja hitam."

Semua kepala menoleh.

Darman berdiri. Mata kanannya menyapu seragam Bima dengan penghinaan terbuka.

Dua staf hukum serentak menutup laptop, seolah sudah tahu negosiasi akan berubah menjadi kekerasan.

"Satpam baru, jangan ikut urusan orang besar."

"Saya menjaga pintu. Kalau tamu mengancam orang di dalam, itu menjadi urusan saya."

Selvi menatap Vanya. "Beginikah staf Anda berbicara kepada mitra?"

"Anda belum menjadi mitra," jawab Gita.

Darman berjalan mendekati Bima. "Minta maaf dan berlutut."

Bima melirik lantai. "Keramiknya bersih, tapi saya sedang kerja."

Harga diri Darman pecah.

Kaki kanannya menghantam lantai.

KRAK!

Keramik retak di bawah solnya. Jari-jari tangan Darman mengeras membentuk Cakar Rajawali, lalu melesat ke perut Bima tanpa peringatan.

1
GEMBONG SAKTI
hilangkan penyebutan saya, pakai aku malah lebih bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!