NovelToon NovelToon
Rugi Terus, Malah Jadi Bos Dewa!

Rugi Terus, Malah Jadi Bos Dewa!

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Kaya Raya
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Hadid

Rian Prasetyo dapat sistem gila: rugi = uang pribadi.

Masalahnya, setiap kali dia mencoba bangkrut, bisnisnya malah meledak sukses. Gaji karyawan selangit? Mereka jadi super loyal. Jual murah-murah? Pelanggan membludak.

Bikin game asal? Jadi bestseller dunia. Semua orang yakin dia jenius. Padahal dia cuma mau rugi.
Dari sarjana pengangguran dengan Rp 15.000 di kantong, Rian terpaksa menjadi bos konglomerat terkaya se-Indonesia — dan dia BENCI setiap rupiahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35

Bab 035: Perumahan 2.0

Arief Wibisono meminta satu lembar kertas besar pada hari pertamanya di kantor proyek.

Bukan laptop.

Bukan software 3D.

Bukan rapat panjang.

Hanya kertas putih sebesar meja dan satu kotak marker.

Rian Prasetyo, Pak Haryono, dan Hendro berdiri di sisi ruangan. Mereka menunggu. Arief menutup mata hampir satu jam, seolah sedang mendengar kota yang belum dibangun.

Lalu tangannya bergerak.

Garis pertama pelan.

Garis kedua lebih cepat.

Setelah itu, marker bergerak seperti air yang menemukan jalur. Jalan melingkar. Taman tengah. Rumah rendah dengan balkon saling menghadap ruang hijau. Jalur sepeda yang tidak bertabrakan dengan mobil. Kolam retensi yang menjadi danau kecil. Pasar komunitas. Klinik. Perpustakaan. Area bermain anak yang bisa diawasi dari banyak sudut.

Dua jam kemudian, Arief membalik kertas.

Pak Haryono menarik napas.

Hendro, yang biasanya tidak bereaksi, berkata pelan, "Ini... kawasan hidup."

Arief menatap Rian.

"Saya menyebutnya Hunian 2.0. Rumah lebih luas daripada tempat tidur. Rumah adalah sistem hidup."

Rian menatap garis-garis itu dan hanya memikirkan satu hal.

Ini pasti mahal sekali.

Indah.

Beberapa minggu kemudian, Taman Hijau Lestari berubah menjadi lokasi konstruksi yang hidup. Alat berat masuk. Area berbahaya diberi pagar. Struktur lama diuji satu per satu. Bagian yang tidak layak dibongkar. Pak Haryono mengatur jadwal dengan keras, Arief berjalan dari blok ke blok sambil membawa tabung gambar, dan Rian datang hampir setiap hari.

Secara resmi, ia datang untuk memantau kualitas.

Secara pribadi, ia datang untuk memastikan uang keluar secepat mungkin.

"Material jangan yang paling murah," kata Rian kepada Pak Haryono.

"Kita pakai yang terbaik sesuai fungsi, Pak."

"Kalau ada opsi lebih aman, pilih itu."

"Biayanya naik."

"Bagus. Maksud saya, keselamatan penting."

Pak Haryono makin sering menatap Rian seperti menatap orang yang membuat kepala pusing tetapi hati tenang.

Yang paling membuat pekerja bingung adalah makan siang.

Rian menolak ruang makan khusus. Setiap siang, ia mengambil nampan di kantin proyek dan duduk di antara tukang, mandor, sopir truk, dan pekerja kebersihan.

Menu kantin juga tidak masuk akal untuk standar proyek: nasi hangat, sayur, ayam atau ikan, telur, buah, sup, dan air minum dingin. Jika hujan, ada teh panas. Jika lembur darurat, makanan tambahan disediakan sebelum jam kerja diperpanjang.

Seorang pekerja tua pernah berbisik kepada temannya, "Saya tiga puluh tahun kerja bangunan. Baru kali ini bos makan sayur yang sama dengan kita."

Cerita itu menyebar lebih cepat daripada jadwal cor beton.

Rian juga membuat aturan keselamatan yang membuat semua mandor kebingungan.

Siapa pun yang melanggar aturan helm, sepatu, atau tali pengaman tidak didenda.

Ia langsung disuruh istirahat hari itu.

Dengan upah tetap dibayar.

"Pak, kalau dibayar untuk istirahat, nanti orang sengaja melanggar," kata Pak Haryono.

Rian menunjuk area tinggi.

"Kalau orang sengaja melanggar demi libur satu hari, berarti dia sudah terlalu lelah untuk naik ke sana."

Pak Haryono tidak bisa membantah.

Arief mendengar kalimat itu dari samping dan menatap Rian lama. Bagi Arief, desain manusiawi tidak berarti apa-apa jika pekerja yang membangunnya diperlakukan seperti alat.

Hari itu, rasa hormatnya kepada Rian bertambah satu lapis.

Sementara itu, Putri Larasati menelepon dari Dapur Garuda.

"Pak Bos, laporan mingguan. Pelanggan yang membeli alat makan kembali datang sesuai aturan 15 hari. Banyak yang bilang mereka merasa seperti anggota klub makan keluarga."

Rian hampir tersandung kabel di lokasi proyek.

"Anggota klub?"

"Iya, Pak. Mereka bahkan minta warna alat makan edisi anak."

Rian menutup mata.

Dunia benar-benar kreatif dalam menghancurkan rencananya.

Ia memutuskan berjalan ke area blok belakang untuk menenangkan diri. Di sana, beberapa material disusun di balik pagar sementara. Saat melewati tumpukan pipa, Rian melihat gerakan kecil.

Seorang anak laki-laki, sekitar lima atau enam tahun, sedang jongkok di dekat tumpukan besi, memainkan batu kecil seperti mobil-mobilan.

Darah Rian serasa berhenti.

"Hei!" Ia berlari mendekat. "Kamu dari mana?"

Anak itu terkejut, hampir menjatuhkan batu.

Tidak jauh dari sana, seorang pekerja perempuan berlari panik.

"Maaf, Pak! Itu anak saya. Saya tinggal sebentar ambil air. Suami saya juga kerja di blok depan. Tidak ada yang jaga di rumah."

Rian menatap tumpukan besi, lalu anak itu, lalu pekerja perempuan yang wajahnya pucat.

Ia tidak marah.

Justru karena ia tidak marah, perempuan itu makin takut.

"Berapa banyak pekerja membawa anak ke sekitar proyek?" tanya Rian kepada Pak Haryono yang baru tiba.

Pak Haryono diam sebentar. "Tidak banyak yang terlihat, Pak. Tapi mungkin ada. Banyak suami-istri sama-sama kerja harian."

Rian menggendong anak itu menjauh dari area material dan menyerahkannya kepada ibunya di zona aman.

"Mulai besok, buat tempat penitipan anak sementara di sisi timur. Gratis untuk semua pekerja. Ada penjaga, makanan, area tidur, dan mainan. Tidak boleh ada anak masuk area konstruksi."

Pak Haryono langsung mencatat.

"Siap, Pak."

Namun pikiran Rian sudah melompat lebih jauh.

Jika pekerja saja kesulitan menitipkan anak, bagaimana dengan keluarga yang nanti tinggal di Taman Hijau Lestari? Rumah bagus tanpa ekosistem anak hanya setengah solusi.

Malam itu, di kantor grup, Rian membuka peta kawasan.

Ia melingkari lahan kosong 60.000 meter persegi.

Bagas yang melihat dari samping langsung curiga.

"Bos, lu lingkarin tanah segede itu buat apa?"

Rian menulis di tengah lingkaran.

TK Garuda International.

Putri yang hadir lewat panggilan video berkedip.

"TK, Pak? Taman kanak-kanak?"

"Ya. Sekolah anak usia dini untuk warga Taman Hijau dan anak karyawan. Standar internasional. Bukan tempat titip anak asal aman."

Arief mengambil marker dan mulai menambahkan ide.

"Kalau untuk anak, ruang harus merangsang rasa ingin tahu. Perpustakaan kecil, kebun sayur, studio seni, ruang sains, lapangan bola, kolam pasir, workshop kayu aman..."

Rian menambahkan dengan wajah tenang, "Mini golf."

Bagas tersedak.

"Apa hubungannya TK sama golf?"

"Koordinasi motorik."

Arief, yang sudah mulai terbiasa dengan kegilaan produktif Rian, justru menulis.

"Bisa. Lalu area berkuda kecil untuk terapi sensorik."

Pak Haryono memijat pelipis.

Rian menambahkan lagi, "Indoor snow playground."

Ruangan hening.

Bagas menatapnya. "Bos. Kita tinggal di Indonesia."

"Karena itu salju mahal."

Kalimat itu keluar terlalu jujur.

Rian cepat-cepat memperbaiki, "Maksud saya, pengalaman anak harus luas."

Pak Haryono membaca daftar fasilitas: perpustakaan, science room, art room, kebun, mini golf, lapangan, area berkuda, indoor snow playground, ice rink kecil, klinik anak, dapur gizi.

"Budget?"

Rian menulis angka.

Rp 1.000.000.000.000.

Satu triliun.

Pulpen Pak Haryono berhenti bergerak.

Arief menatap angka itu, lalu berkata sangat serius, "Kalau ingin indoor snow playground yang stabil, kita perlu impor sistem pendingin khusus. Biaya satu item bisa mencapai Rp 200 miliar."

Mata Rian langsung menyala.

"Dua ratus miliar?"

Bagas menutup wajah.

Rian batuk kecil.

"Maksud saya, baik. Pesan."

1
Ardan
masih ada lanjutannya author?
Ardan
sangat memahami ya Gas 😄👍
Ardan
ya betul Gas, ini kalimat berbahaya dari sang dewa 😂
Ardan
saluutte 👍
Ardan
wkwkwkwk hihi 😂
Ardan
tak masuk akal yang sungguh menggelitik rasa kemanusiaan tinggi, novel diisi dengan kebingungan, tawa, haru dan kebahagiaan.
Ardan
saya selesaikan baca bab ini dengan derai air mata, thor kamu musti tanggung jawab 😭
Ardan
sama bangetzzz
Ardan
asli ini membuat saya meneteskan air mata 😭
Ardan
bagas sejatinya kawan dalam segala situasi ☺️👍
Ardan
rian sang dewa filosofi😄
Ardan
amppuuunnn ini suatu keindahan yang ditunggu rian, namun semu tak tergapai 😄
Ardan
proyek besar, sebesar harapannya untuk rugi atw malah untung nih ?😄
Ardan
terharu bangettttt dengernya Gas 😭🤣
Ardan
jadi penasara, ekspektasi ini akan terwujud seperti apa yak 🤣?
Ardan
dan ngomen kocak lagi si bagus, "bemcana lucu" sueerrr deh ini keren 😄👍
Ardan
huasseeemmmm, bagas lemes banget ngomong bener nya 🤣👍
Ardan
ampuuuuunnn niat banget ngomentar nya si bagas 🤣
Ardan
astaga seindah ini bisnis dalam novel, brutalllll 😭
Ardan
cikal bakal menderita diatas kesuksesan nih, hehe 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!