Suatu malam, entah kenapa, muncul semacam notifikasi aneh di kepala Doni — seperti pesan sistem di game, tapi ini nyata. Sistem ini memberinya satu informasi akurat setiap minggu: bisa berupa saham yang akan melejit, barang langka yang harganya bakal meroket, atau peluang bisnis kecil yang menguntungkan. Masalahnya, modal Doni nyaris nol. Jadi cerita ini bukan tentang tiba-tiba kaya, tapi soal gimana Doni pelan-pelan memutar informasi terbatas jadi modal, sambil tetap kuliah, kerja part-time, ngurusin teman-teman kos yang berisik, dan menghindari kecurigaan orang-orang di sekitarnya kenapa dia tiba-tiba "beruntung" terus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachmat Rachimullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dari Kejauhan
Area perkebunan itu jauh lebih luas dari yang Doni bayangkan. Begitu motor mereka parkir di lapangan khusus panitia, pemandangan yang terhampar bikin Doni sempat lupa sejenak sama tujuan sebenarnya deretan pohon kopi rapi sejauh mata memandang, gudang-gudang besar berdinding seng mengkilap, dan sebuah bangunan utama bergaya kolonial yang berdiri gagah di tengah kompleks, temboknya putih bersih dengan pilar-pilar besar di bagian depan.
"Itu kayaknya rumah utama keluarga Wijaya," bisik Casanova, nunjuk bangunan kolonial itu sambil pura-pura sibuk ngecek kamera. "Sepupu gue bilang, di situ juga base camp acara hari ini."
Doni menelan ludah, ngerasa dadanya makin sesak tiap detik makin deket ke lokasi.
Panitia relawan udah nunggu di tenda pendaftaran, seorang perempuan muda berseragam rapi ngasih mereka rompi oranye bertuliskan "PANITIA" dan lanyard identitas.
"Kalian bertiga di seksi dokumentasi ya? Silakan langsung koordinasi sama Mas Bimo di dekat panggung utama," kata perempuan itu, sambil nyoret nama mereka di daftar hadir.
Mereka jalan menuju panggung utama, melewati deretan meja panjang yang udah ditata rapi buat pembagian sembako, ratusan warga sekitar perkebunan udah mulai berkumpul, duduk di kursi plastik yang disusun berbaris, wajah-wajah mereka penuh harap nunggu acara dimulai.
Sinta jalan di sebelah Doni, sesekali ngelirik ke arahnya, ngerasain ketegangan yang nggak bisa disembunyikan dari gerak-gerik Doni yang jauh lebih kaku dari biasanya.
"Lo oke, Don?" bisiknya pelan.
"Oke, Sin. Cuma... deg-degan banget."
"Tarik napas. Kita di sini buat liat dulu, bukan buat bikin keputusan besar hari ini."
Doni mengangguk, mencoba nurutin saran itu, meski susah nemuin ketenangan di tengah suasana yang makin ramai dan riuh oleh persiapan acara.
Jam sepuluh kurang lima belas menit, panitia mulai ngatur barisan di dekat panggung, tanda acara bakal segera dimulai. Doni, Sinta, dan Casanova ambil posisi di sisi kanan panggung, kamera DSLR udah siap di tangan Casanova, sementara Doni pegang kamera cadangan yang lebih kecil, alasan resmi buat "dokumentasi dari sudut berbeda."
Tepat jam sepuluh, suara MC menggema dari pengeras suara, mengundang seluruh hadirin buat berdiri menyambut kedatangan keluarga besar Wijaya.
Dari arah bangunan kolonial itu, serombongan orang mulai berjalan menuju panggung beberapa pria berkemeja rapi, wanita-wanita berkebaya, anak-anak kecil yang digandeng orang tuanya.
Di tengah rombongan itu, berjalan pelan tapi tegap, seorang pria tua berbaju batik cokelat, rambutnya udah putih semua, tapi posturnya masih terlihat kokoh, tongkat kayu di tangan kanannya lebih terlihat sebagai aksesori wibawa daripada alat bantu jalan.
Doni merasa waktu seakan melambat. Jantungnya berdegup begitu keras sampai kerasa di telinganya sendiri.
"Itu... itu kakek gue," bisiknya, suaranya nyaris nggak terdengar, lebih ke gerakan bibir daripada suara sungguhan.
Sinta menggenggam lengan Doni pelan, seolah tau tanpa perlu ditanya lebih jauh. "Tenang, Don. Tarik napas."
Casanova diam-diam mengarahkan kamera ke rombongan itu, berusaha kelihatan profesional meski matanya sesekali melirik ke arah Doni yang berdiri mematung.
Pak Wijaya senior berjalan naik ke panggung, disambut tepuk tangan meriah dari warga.
Suaranya waktu mulai bicara lewat mikrofon terdengar berat, berwibawa, jenis suara yang keliatan terbiasa didengarkan tanpa dibantah.
"Selamat pagi, Bapak Ibu sekalian. Terima kasih sudah hadir di acara Panen Raya kita tahun ini..."
Doni berdiri di sisi panggung, cuma berjarak sekitar lima belas meter dari sosok yang selama ini cuma jadi nama dan cerita pahit dari ibunya.
Dia mengamati setiap gerak-gerik pria tua itu caranya berdiri tegap meski usianya udah sepuh, caranya tersenyum ke arah warga dengan wibawa yang keliatan udah jadi kebiasaan puluhan tahun, caranya sesekali menoleh ke belakang panggung, memberi isyarat kecil ke salah satu stafnya.
Ada sesuatu yang aneh yang Doni rasakan matanya. Bentuk alisnya. Cara dia mengernyit sedikit waktu mikir. Semua itu terasa familiar, seolah Doni pernah melihatnya di cermin, atau di wajah ibunya sendiri waktu lagi serius mikirin sesuatu.
"Sin," bisiknya pelan, "gue kayak ngeliat bagian dari muka Ibu di wajah dia."
Sinta menatap ke arah panggung, terus balik menatap Doni, matanya melembut. "Mungkin emang itu yang bikin ini berat banget buat lo, Don. Dia bukan orang asing sepenuhnya."
Pidato sambutan berlangsung sekitar sepuluh menit, isinya standar ucapan syukur, harapan buat masyarakat sekitar, sama sedikit cerita soal sejarah perkebunan yang udah tiga generasi dipegang keluarga Wijaya.
Doni mendengarkan tiap kata dengan seksama, meski separuh pikirannya sibuk dengan pertanyaan yang berputar-putar apakah dia harus maju sekarang, memperkenalkan diri, atau tetap di posisi aman sebagai relawan tak dikenal.
Begitu pidato selesai, Pak Wijaya turun panggung, mulai berjalan keliling area pembagian sembako, disertai beberapa staf dan anggota keluarga lain. Rombongan itu bergerak mendekat ke arah tempat Doni dan Sinta berdiri, jarak yang tadinya lima belas meter perlahan menyusut jadi sepuluh, lalu delapan meter.
Jantung Doni berdegup semakin kencang. Tangannya yang pegang kamera mulai berkeringat dingin.
"Don," bisik Sinta, "dia makin deket. Lo mau ngapain?"
Doni menatap sosok yang makin jelas terlihat di depannya kerutan di wajahnya, cara jalannya yang pelan tapi mantap, tatapan matanya yang tajam menyapu sekeliling seolah menilai segala sesuatu dalam sekali pandang.
Untuk sepersekian detik, mata mereka nyaris bertemu Pak Wijaya sempat melirik ke arah kerumunan relawan berompi oranye di sisi panggung, termasuk ke arah Doni.
Doni buru-buru menunduk, pura-pura sibuk ngatur fokus kamera, jantungnya berdegup seolah mau melompat keluar dari dada.
Pak Wijaya lewat begitu saja, nggak menunjukkan tanda-tanda mengenali atau curiga sama sekali, cuma sekilas pandangan biasa ke arah para relawan yang emang tugasnya berjaga di sekitar situ.
Begitu rombongan itu udah cukup jauh, Doni menghela napas panjang, badannya lemas seketika, seolah semua tenaga yang dia tahan selama beberapa menit terakhir baru saja terlepas semua.
"Lo oke, Don?" tanya Sinta, khawatir, memegang lengan Doni yang sedikit gemetar.
"Oke, Sin. Cuma... deket banget tadi. Gue sempat mikir dia bakal notice gue."
"Untung nggak," kata Casanova, ikut menghela napas lega, kamera masih tergantung di lehernya. "Kalau ketauan tadi, entah gimana jadinya."
Doni menatap punggung Pak Wijaya yang makin menjauh, dikelilingi rombongan keluarga dan staf, masuk lagi ke deretan tenda VIP yang udah disiapkan khusus di dekat panggung.
Ada perasaan campur aduk yang sulit dia jelaskan lega karena belum ketahuan, tapi juga kecewa karena sebenarnya, jauh di dalam hati, ada bagian dari dirinya yang berharap kakeknya bakal melihat, bakal mengenali sesuatu, bakal menunjukkan reaksi apapun, bahkan kalau itu penolakan sekalipun.
"Gue belum siap, Sin," gumamnya pelan, lebih ke dirinya sendiri daripada ke Sinta. "Tadi gue kira gue siap, tapi begitu dia deket, gue malah nunduk kayak pengecut."
"Itu bukan pengecut, Don," Sinta menjawab lembut. "Itu namanya belum waktunya. Ada bedanya."
Doni mengangguk pelan, meski hatinya masih dipenuhi pertanyaan yang sama besarnya dengan sebelum dia datang ke tempat ini kalau bukan hari ini, kapan dia akan benar-benar siap menghadapi sosok yang, entah kenapa, terasa begitu dekat sekaligus begitu jauh sekaligus.