Dua tahun lalu, Tsania memilih mengakhiri hubungannya dengan Arsen, pria yang sangat ia cintai. Bukan karena cinta itu hilang, melainkan karena sebuah rahasia pahit yang memaksanya pergi tanpa penjelasan. Sejak saat itu, mereka menjalani hidup masing-masing, menyimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Takdir mempertemukan mereka kembali dengan cara yang paling menyiksa.
Hari pertama bekerja di perusahaan impiannya berubah menjadi mimpi buruk ketika Tsania mengetahui bahwa CEO muda yang dingin, arogan, dan disegani semua orang adalah Arsen, mantan kekasih yang pernah ia tinggalkan. Kini, Arsen adalah bosnya.
Bagi Arsen, pertemuan itu bukan kebetulan, melainkan kesempatan untuk membalas rasa sakit yang selama ini ia pendam. Ia bersikap dingin, memberi tugas-tugas sulit, dan terus menguji kesabaran Tsania. Namun, di balik tatapan tajam dan sikap tak berperasaannya, masih tersimpan cinta yang tak pernah benar-benar padam.
apakah yang akan terjadi kepada mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tsania 26
Dinding-dinding kamar VVIP 601 yang luas mendadak diselimuti keheningan pekat ketika jarum jam dinding bergeser melewati angka dua malam. Tsania sudah lama tertidur pulas akibat pengaruh obat penenang dan penurun rasa nyeri yang diberikan dokter. Wajahnya yang tirus tampak dipayungi gurat kelelahan mendalam, namun hela napasnya kini jauh lebih teratur dibanding pagi tadi.
Klek.
Kait pintu mahoni kamar itu berbunyi sangat halus, hampir tak terdengar.
Sebuah bayangan tinggi besar melangkah masuk secara perlahan. Arsen, masih mengenakan kemeja hitam yang lengannya tergulung asal hingga siku dan jas yang dilipat di tangannya melangkah tanpa suara di atas karpet tebal ruangan. Wajahnya tampak pucat, dengan lingkaran hitam memudar dan mata merah yang menahan rasa lelah serta beban batin yang teramat masif.
Setelah memastikan pintu terkunci kembali dari dalam dan lampu kamar tetap redup, Arsen melangkah mendekati sisi tempat tidur. Dia berjalan dengan sangat pelan takut membangunkan Tsania. Karena kalau bangun, wanita itu pasti akan mengusirnya.
Langkahnya terhenti persis di samping ranjang Tsania. Selama beberapa menit, Arsen hanya berdiri mematung di sana, memandangi wajah wanita yang selama tiga tahun ini menguasai seluruh pikiran dan memicu dendam palsunya.
Air mata yang sejak sore ia tahan perlahan meledak di pelupuk matanya. Mutiara bening itu menetes panas, menyusuri rahang tegasnya dan jatuh membasahi lantai.
Arsen berlutut di lantai yang dingin, membuat posisinya sejajar dengan kepala tempat tidur Tsania. Jemari tangannya yang gemetar hebat terangkat perlahan, ragu-ragu di udara selama beberapa detik karena merasa kotor dan tidak pantas, sebelum akhirnya ia memberanikan diri menyentuh pipi Tsania.
Usapan jemari Arsen begitu lembut, sebuah sentuhan yang sangat kontras dengan perlakuan kasarnya di kantor beberapa hari lalu. Ia mengusap sisa jejak air mata yang telah mengering di pipi tirus Tsania, menyisir helai rambut halus yang menempel di dahi wanita itu dengan penuh kerinduan yang membakar dada.
"Sayang..." bisik Arsen, suaranya runtuh menjadi parau yang amat menyayat hati.
"Maafkan aku yang pengecut dan bo-doh ini hanya bisa menemui kamu dalam keadaan seperti ini... Karena aku tahu kamu sangat membenciku, membenci perlakuan kau setelah bertemu dengan kamu..."
Sentuhan hangat itu membuat Tsania sedikit bergumam dalam tidurnya. Wajahnya berkerut tipis, seolah ketakutan yang tersisa di alam bawah sadarnya merasakan kehadiran sosok yang selama ini menghantui mimpinya.
"Jangan takut, sayang... ini aku..." rintih Arsen lirih, memejamkan mata rapat-rapat saat merasakan dinginnya kulit Tsania di telapak tangannya. Arsen menggenggam lembut jemari kurus Tsania, menempelkan punggung tangan wanita itu ke pipinya sendiri yang basah oleh air mata.
"Aku mendengarnya, Nia..." tangis Arsen tanpa suara, dadanya naik turun menahan isakan agar tidak membangunkan lelapnya Tsania.
"Aku mendengar semua bisikanmu tadi sore... Aku mendengar betapa kamu membenciku dan menyebutku monster..."
Arsen mendekatkan bibirnya ke jemari Tsania, mengecup setiap buku jarinya berkali-kali dengan penuh kepasrahan dan penyesalan yang tak terhingga.
"Kamu benar, Sayang... Aku memang monster," bisik Arsen di atas kulit tangan Tsania.
"Aku pria bodoh yang dibutakan oleh dendam palsu... Aku pria jahat yang menyalahkanmu tanpa pernah mau mendengarkan penjelasanmu... Aku membiarkan rasa sakitku menutup mata dan hatiku dari kebenaran."
Arsen menyandarkan dahinya di tepi kasur, tepat di samping lengan Tsania. Air matanya merembes membasahi sprei putih rumah sakit.
"Maafkan aku... demi Tuhan, maafkan aku, Tsania..." rintih Arsen, suaranya pecah di tengah keheningan malam.
"Aku tidak tahu kalau Papaku mengirim orang untuk memukul ayahmu... Aku tidak tahu kalau kamu harus menguburkan ayahmu sendirian saat aku koma di Singapura... Kalau saja aku tahu neraka yang kamu lewati demi melindungiku, aku tidak akan pernah membiarkan tanganku ini menyakitimu walau cuma seujung kuku!"
"Maafkan aku yang membencimu selama ini karena aku mendapatkan kiriman foto dan video kamu bersama dengan beberapa laki-laki berbeda... Aku kira kamu pergi meningalkan aku karena ingin mendapatkan orang kaya, apalagi saat itu keadaan keuang keluarga aku sedang terpuruk. Namun ternyata semua itu adalah rekayasa papa agar aku fokus di perusahaan dan membangun keuangan keluarga kembali,"
Keheningan kamar itu seakan menjadi saksi bagaimana seorang CEO yang angkuh dan ditakuti di dunia bisnis kini hancur berkeping-keping di samping ranjang seorang wanita yang telah ia hancurkan fisiknya.
Arsen mengadahkan kepalanya kembali, menatap lurus wajah lelap Tsania dengan sorot mata yang sarat akan kerinduan yang tak tertahankan. Jempolnya kembali mengusap bibir pucat Tsania dengan sangat pelan.
"Ingatkah kamu dengan janji di kafe itu, Sayang?" gumam Arsen, menyunggingkan senyum samar yang sangat getir.
"Aku berjanji akan jadi pelindungmu... Aku berjanji tidak akan membiarkan siapa pun membuatmu menangis selama aku masih bernapas... Tapi ternyata, justru akulah yang menjadi penyebab air matamu menetes paling deras."
Arsen menarik napas panjang, menahan rasa sesak yang menghantam ulu hatinya bagai remukan karang.
"Sabtu malam nanti, Nia..." bisik Arsen tepat di dekat telinga Tsania, membiarkan nafas hangatnya menyentuh kulit leher wanita itu.
"Sabtu malam nanti aku akan mengakhiri semua sandiwara ini. Aku akan membatalkan pertunangan dengan Aurelia di depan ratusan media. Aku akan membongkar seluruh kejahatan Papaku di hadapan publik... dan aku akan melepaskan nama Pratama yang sudah berlumuran dosa ini."
Arsen menggenggam erat tangan Tsania, menatap wanita itu dengan tekad bulat yang mematikan.
"Setelah malam itu... kalau kamu mau memukulku, menamparku, atau mengusirku dari hidupmu selamanya, aku akan menerimanya tanpa perlawanan," tutur Arsen penuh kepastian.
"Tapi biarkan aku membayar semua rasa sakitmu dulu... Biarkan aku mengembalikan nama baikmu dan almarhum ayahmu ke tempat yang seharusnya."
Arsen membungkukkan tubuhnya lebih dalam, mendekatkan wajahnya lalu mengecup dahi Tsania dengan sangat lama, sebuah kecupan suci yang menyalurkan seluruh cinta, doa, dan penyesalan mendalam yang selama tiga tahun ini terpendam di balik cangkang esnya.
"Tidurlah yang nyenyak, Ratuku..." bisik Arsen pelan sebelum melepaskan genggaman tangannya dengan sangat berat hati.
"Mas Arsen ada di sini... menjaga tidurnya Tsania dari bayang-bayang."
Arsen perlahan berdiri dari posisi berlututnya. Ia melangkah mundur beberapa tapak tanpa melepas pandangannya dari wajah lelap Tsania, lalu menyelinap keluar dari kamar VVIP 601, kembali menjadi bayangan yang siap menerjang badai besar demi menebus dosanya di Sabtu malam mendatang.