NovelToon NovelToon
Dibuang Mertua, Ternyata Pewaris Triliunan

Dibuang Mertua, Ternyata Pewaris Triliunan

Status: sedang berlangsung
Genre:Menantu Pria/matrilokal / Kaya Raya / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ardana Bayu

Hendry Pratama, menantu keluarga Mahendra di Kota Biru, sudah tiga tahun menjadi bahan hinaan.

Mertua perempuannya, Mama Ayu, setiap hari memaki dan menuntut perceraian. Istrinya, Jessica, bersikap dingin. Satu-satunya yang menyayanginya hanyalah putri kecilnya, Daun.

Sampai suatu hari, telepon misterius mengubah segalanya.

"Pak Hendry, semua aset atas nama Anda sudah siap. Total: 576 miliar Rupiah."

Ternyata, Hendry adalah putra tunggal Hartanto Pratama — konglomerat terbesar yang pernah menguasai seluruh Asia Tenggara. Dia bukan menantu miskin. Dia adalah pewaris kerajaan bisnis triliunan.

Sekarang, semua orang yang pernah meremehkannya... akan berlutut.

"Kau pikir aku cuma sopir? Lihat baik-baik siapa yang sebenarnya menguasai kota ini."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13

Bab 13: Guru Tari untuk Daun

Putri Rahayu menatap tangan Hendry.

Beberapa detik lalu, pria di depannya baru saja membanting seorang anak konglomerat ke lantai parkiran seolah membalik karpet.

Namun sekarang, tangan itu terulur dengan tenang.

Tidak memaksa.

Tidak mencari kesempatan menyentuh.

Hanya menawarkan bantuan.

"Anda tidak apa-apa?" tanya Hendry lagi.

Putri menarik napas, lalu menerima tangannya sebentar untuk menyeimbangkan tubuh.

"Saya baik-baik saja. Terima kasih."

Pria muda yang terkapar di lantai mengerang. Wajahnya merah karena marah dan malu.

"Kalian lihat apa? Tangkap dia!" bentaknya kepada dua pengawal.

Dua pengawal itu saling pandang.

Mereka memang dibayar untuk menjaga Pak Hendry itu.

Tapi mereka baru saja melihat gerakan Hendry.

Cepat.

Bersih.

Tidak ada tenaga yang terbuang.

Orang yang bergerak seperti itu bukan orang biasa.

Salah satu pengawal maju setengah langkah, lalu berhenti ketika Bagus muncul di pintu pagar sekolah tari.

Tubuh Bagus seperti tembok.

Ia tidak berkata apa-apa.

Ia hanya menyilangkan tangan.

Pengawal itu langsung mundur lagi.

Hendry menatap pria muda di lantai.

"Minta maaf."

"Apa?"

"Kepada Bu Putri."

Pria itu menggertakkan gigi. "Kamu tahu akibatnya kalau..."

Hendry melangkah satu kali.

Kalimat itu mati di tenggorokannya.

"Maaf," gumam pria itu, hampir tidak terdengar.

"Lebih jelas."

Wajah pria itu semakin merah. "Maaf, Bu Putri."

Putri tidak menjawab. Ia hanya memegang pergelangan tangannya yang masih sedikit memerah.

Hendry berbalik kepada Daun.

"Takut?"

Daun menggeleng cepat. "Tidak. Papa seperti pahlawan."

"Pahlawan tidak suka berkelahi. Pahlawan hanya melindungi orang."

Daun mengangguk serius, seolah itu pelajaran penting.

Putri mendengar kalimat itu.

Matanya berubah sedikit.

Di dalam ruang latihan, lantai kayu bersih memantulkan cahaya siang. Cermin besar memenuhi satu sisi dinding. Beberapa anak kecil sedang berlatih gerakan dasar bersama asisten guru.

Putri membawa Hendry dan Daun ke ruang konsultasi kecil.

"Maaf atas keributan tadi," kata Hendry.

Putri justru menggeleng. "Anda tidak perlu minta maaf. Kalau Anda tidak datang, mungkin saya yang harus membuat laporan polisi."

"Saya datang untuk urusan anak saya."

Daun langsung duduk tegak. "Daun mau belajar tari."

Putri tersenyum. Wajahnya yang tadi tegang menjadi lembut.

"Daun suka tarian apa?"

"Yang roknya bisa muter."

"Balet?"

"Yang muter."

Putri tertawa kecil. "Baik. Nanti kita mulai dari gerakan dasar yang aman dulu."

Hendry memperhatikan cara Putri berbicara kepada Daun.

Tidak dibuat-buat.

Tidak meremehkan anak kecil.

Sabar.

Itu cukup.

"Saya ingin Bu Putri menjadi guru privat Daun," kata Hendry.

Putri tampak ragu. "Privat di rumah?"

"Ya. Dua kali seminggu."

"Maaf, Pak. Saya perlu jujur dari awal. Tarif privat saya cukup tinggi."

"Berapa?"

Putri menatap pakaian Hendry yang sederhana. Ia tidak bermaksud menghina, tetapi pengalaman membuatnya berhati-hati. Banyak orang ingin kelas privat, lalu menawar seperti membeli sayur.

"Rp 2 Juta per pertemuan. Satu pertemuan sembilan puluh menit. Untuk anak kecil, biasanya saya sarankan dua kali seminggu."

Ia menunggu reaksi Hendry.

Kaget.

Menawar.

Atau mundur.

Hendry hanya mengeluarkan ponsel.

"Satu bulan delapan pertemuan. Rp 16 Juta. Nomor rekening?"

Putri terdiam.

"Pak, maksud saya... bisa dibayar per pertemuan dulu."

"Tidak perlu. Kalau Daun cocok, kita lanjut. Kalau tidak cocok, sisanya tetap untuk waktu Bu Putri yang sudah disiapkan."

Putri menatapnya.

Orang ini punya uang dan nyali untuk memakainya.

Ia juga tahu menghargai pekerjaan orang.

Putri menyebutkan rekening. Beberapa detik kemudian, notifikasi masuk.

Rp 16.000.000.

Lunas.

Daun belum paham jumlah uang itu. Ia hanya memandang Putri dengan mata berbinar.

"Bu Putri datang ke rumah Daun?"

"Iya, kalau Papa dan Mama Daun setuju."

"Mama pasti setuju. Mama cantik. Bu Putri juga cantik."

Putri tertawa lagi. "Terima kasih, Daun."

Hendry berdiri.

"Alamat akan saya kirim melalui admin sanggar. Jadwal pertama minggu ini. Untuk keamanan, nanti ada penjaga rumah. Jangan kaget."

Putri mengangguk. "Baik, Pak Hendry."

Saat keluar, pria muda yang tadi dibanting sudah pergi bersama pengawalnya. Hanya mobil sport merahnya yang meninggalkan bau ban panas di udara.

Bagus mendekat.

"Pak Hendry, perlu saya cari tahu orang tadi?"

"Tidak sekarang. Kalau dia bergerak lagi, baru potong jalannya."

"Siap."

Daun menggandeng tangan Hendry sambil melompat kecil.

"Papa, Daun punya guru tari!"

"Iya."

"Nanti Daun menari untuk Mama."

"Mama pasti senang."

Sore itu, Jessica belum pulang. Ia masih berada di PT Daun Kreasi untuk menyiapkan proposal Wirawan. Rumah sudah lebih aman setelah kamera baru menyala di setiap sudut.

Daun tidur lebih awal karena terlalu lelah.

Hendry masuk ke ruang kerja kecil.

Di layar ponsel, ia membuka sebuah aplikasi live streaming. Ia jarang memakai aplikasi seperti itu, tetapi Dimas pernah mengatakan banyak informasi kecil justru muncul dari dunia yang tampak remeh: live, komentar, gosip, akun anonim, donasi.

Hendry membuat akun baru.

Nama pengguna: Si Angin.

Foto profil kosong.

Tanda tangan singkat:

Angin tidak terlihat, tapi selalu ada.

Ia menghubungkan dompet digital dan melakukan top up.

Rp 500.000.000.

Bagi sebagian orang, angka itu bisa membeli rumah kecil.

Bagi Hendry, itu hanya saldo percobaan.

Beranda aplikasi bergerak cepat. Penyanyi kafe, komedian amatir, penjual produk, gamer, guru olahraga, sampai kelas tari muncul bergantian.

Jari Hendry berhenti.

Di layar, Putri Rahayu sedang mengajar gerakan dasar.

Ia tidak memakai pakaian berlebihan. Hanya kaus latihan dan rok latihan panjang. Rambutnya diikat. Di belakangnya, ruang latihan terlihat sama seperti siang tadi.

Jumlah penonton hanya seratus lebih sedikit.

Komentar mengalir lambat.

Cantik, Kak.

Gerakannya halus.

Kapan live lagi?

Ada juga komentar kasar dari akun tanpa foto.

Hendry mengerutkan dahi.

Putri tetap tersenyum profesional.

"Untuk gerakan tangan, jangan terlalu kaku. Ikuti napas. Pelan saja."

Hendry melihat daftar hadiah.

Ia memilih satu hadiah virtual terbesar di aplikasi itu.

Garuda Emas.

Nilai satu kali kirim: Rp 10.000.000.

Ia menekan kirim.

Layar meledak dengan animasi burung emas terbang melintasi ruang live.

Komentar langsung meledak.

Apa itu?

Garuda Emas!

Sepuluh juta sekali kirim?

Si Angin siapa?

Putri berhenti di tengah gerakan.

Matanya membesar.

"Terima kasih... Si Angin?" suaranya sedikit bergetar. "Terima kasih banyak. Ini terlalu besar."

Hendry tidak mengirim lagi.

Satu cukup.

Ia hanya ingin membantu menaikkan live Putri agar komentar kotor tenggelam, dan agar algoritma memberi ruang lebih baik untuk kelas tarinya.

Beberapa menit kemudian, jumlah penonton melonjak. Dari seratus menjadi lima ratus. Lalu seribu.

Putri berusaha kembali mengajar, tetapi wajahnya masih tampak tidak percaya.

Setelah live selesai, notifikasi pesan masuk muncul.

Dari Putri Rahayu.

Halo, Si Angin. Terima kasih untuk hadiahnya. Kalau boleh, saya ingin mengucapkan terima kasih langsung. Bisa bertukar kontak?

Hendry membaca pesan itu.

Ia teringat wajah Jessica di mobil.

Terbayang Daun yang berkata ingin menari untuk Mama.

Ia mengetik perlahan.

Tidak perlu. Saya hanya menghargai kelas tari yang baik.

Beberapa detik kemudian, Putri membalas.

Tetap saja, hadiah Anda terlalu besar. Saya merasa tidak enak jika tidak tahu siapa Anda.

Hendry menjawab singkat.

Saya sudah menikah. Jaga jarak lebih baik.

Ia menutup aplikasi.

Di sisi lain kota, Putri duduk sendirian di ruang latihan yang sudah gelap.

Lampu ponsel menerangi wajahnya.

Ia membaca kalimat itu berulang kali.

Sudah menikah.

Jaga jarak.

Bukannya kecewa, rasa ingin tahunya justru semakin tumbuh.

Ia membuka profil Si Angin.

Tidak ada foto.

Tidak ada usia.

Tidak ada kota.

Hanya satu kalimat.

Angin tidak terlihat, tapi selalu ada.

Putri menatap layar lama sekali.

Lalu ia berbisik pelan, "Siapa kamu sebenarnya, Si Angin?"

1
Marchel
Seneng banget liat Yanto membeku seperti itu🤣🤣🤣
Marchel
Pasti Yanto punya niat terselubung
Marchel
Bagus Hendri kamu harus tegass
Marchel
Hendri mulut mertuamu lemesss bangetttt pengen aku sumpel pake baju cucian/Panic//Panic//Panic/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!