kisah seorang wanita yang berusaha melupakan mantannya yang mengkhianati kepercayaan.
diperjalanan menemukan jati diri dan kehidupan baru
sebuah kisah cinta yang manis namun penuh komedi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma Nirmala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14
...****************...
Hari-hari berlalu cukup cepat.
Kerja sama antara Hills Corporation dan Andreas Corporation berjalan jauh lebih sukses dari perkiraan banyak orang.
Proyek demi proyek selesai dengan hasil memuaskan.
Dan anehnya,Semakin sering bekerja bersama, hubungan Arseno dan Evelyn juga semakin… nyaman.
Meski keduanya masih sering saling menyindir dan bertengkar seperti anak-anak.
Pagi ini, bandara terlihat sibuk dengan aktifitas penerbangan.
Seperti sekarang Pesawat jet pribadi milik Arseno sudah siap di landasan.
Kosta berdiri sambil mengecek jadwal penerbangan, sedangkan Naomi sibuk memastikan seluruh dokumen presentasi aman.
“Meeting dengan investor Singapura dimulai besok pagi,” ujar Naomi sambil melihat tablet.
“Kita masih punya waktu malam ini untuk briefing tambahan,” tambah Kosta.
Namun,di sisi lain Bos mereka malah sedang berdebat soal koper.
“Aku bilang aku bisa bawa sendiri,” ujar Evelyn sambil menarik koper kecilnya.
Arseno mengangkat alis. “Aku hanya menawarkan bantuan.”
“Aku masih punya tangan jika kau lupa.” sahutnya
“Keras kepala seperti biasanya.” ujar Arseno.
“Itu bentuk kecurigaan ku belum hilang tuan sombong..!”
Arseno langsung memejamkan mata sebentar. “Kau masih memakai kata itu?”
“Selamanya sampai kau bosan.”
Kosta menatap Naomi pelan. “Mereka selalu begini?”
Naomi menghela napas. “Sekarang malah lebih parah, mereka akan berdebat tidak tahu tempat, kemarin mereka berdebat tentang potongan pizza yang tidak simetris..”
Kosta melongo saat mendengar itu.
Beberapa menit kemudian perjalanan bisnis Mereka pun dimulai, Mereka sudah berada di dalam jet pribadi.
Interior pesawat terlihat mewah dan nyaman.
Evelyn duduk di kursi dekat jendela sambil membuka tablet kerjanya.
Arseno duduk di seberangnya.
Sedangkan Naomi dan Kosta duduk agak jauh di belakang, memberi ruang pada dua bos mereka.
Pesawat mulai mengudara.
Awalnya suasana masih formal.
Arseno membuka dokumen digital di laptopnya.
“Investor Singapura kemungkinan akan fokus pada sektor teknologi.”
Evelyn mengangguk.
“Aku sudah membaca profil mereka. Mereka cukup agresif.”
“Mereka suka hasil cepat dan akurat.” jawab Arseno.
“Berarti cocok dengan gaya kerja Anda.” ujar Evelyn.
“Memangnya gaya kerja Anda tidak agresif?” sahut Arseno.
“Aku lebih elegan dan terstruktur.” jawab Evelyn sangat percaya diri.
Arseno terkekeh kecil. “Elegan katanya.”
“Kenapa tertawa?” sanggah Evelyn.
“Aku masih ingat seseorang yang menendangku tanpa bicara.”
“Itu refleks survival, semua wanita harus memilikinya.”
“Itu percobaan pembunuhan, jika kamu tidak tahu.” sangkal Arseno.
Evelyn tertawa kecil sambil membuka botol air mineral.
Obrolan bisnis terus berjalan beberapa saat.
Namun seperti biasa, topik mulai melebar ke mana-mana.
“Tadi pagi aku hampir telat gara-gara anjingku,” keluh Evelyn tiba-tiba.
Arseno melirik. “Kau punya anjing?”
“Golden Retriever.” jawab Evelyn singkat.
“Namanya?”
Evelyn terdiam sebentar… lalu berkata dengan wajah santai, “Tofu.”
Hening sejenak.
Arseno menatapnya beberapa detik. “...Kau memberi nama anjingmu tahu?”
Evelyn langsung defensif. “Itu nama yang lucu!”
“Itu nama makanan yang lembek, apa cocok dengan anjing.” tanya Arseno sedikit penasaran.
“Tofu sangat menggemaskan dan dia sangat suka sama dipanggil dengan nama itu.” jawab Evelyn memberikan alibinya.
“Aku tidak meragukan anjingnya. Aku meragukan pemiliknya.” jawab Arseno dengan nada mengejek.
Evelyn langsung melempar bantal kecil ke arah Arseno. “Kurang ajar.”
Arseno menangkap bantal itu sambil tertawa kecil.
Naomi dan Kosta saling melirik dari belakang.
Kosta berbisik pelan, “Itu… Pak Arseno barusan tertawa lagi?”
Naomi terlihat sama syoknya.
“Sejak kenal Nona Evelyn, beliau jadi sering tertawa…”
Di kursi depan Evelyn masih melanjutkan ceritanya.
“Dan Nora bilang Tofu lebih pintar daripada mantanku yang bodoh.”
Arseno langsung tertarik.
“Sahabatmu itu yang waktu di club?” tanya Arseno sedikit mengingat momen di klub malam.
Evelyn langsung menyipitkan mata. “Kau masih ingat?”
“Dia sangat berisik.” jawab singkat Arseno.
Evelyn tertawa.
“Benar kan? Nora memang cerewet sekali, Dia bicara tanpa napas, Kadang aku curiga dia sebenarnya radio.”
Arseno juga ikut tertawa.
“Dan dia selalu ikut campur urusanku,” lanjut Evelyn dramatis. “Kemarin dia memaksaku ikut yoga.”
“Kau ikut?” tanya Arseno.
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Aku tertidur lima menit setelah instruktur mulai bicara, aktifitas itu sangat membosankan.”
Arseno memegang dahinya sambil tertawa kecil.
“Kau ini sebenarnya lucu atau menyedihkan?”
“Dua-duanya.” jawab Evelyn terdengar biasa saja.
“Kau cocok jadi komedian.” ujar Arseno.
“Dan Anda cocok jadi CEO galak.”
“Itu memang pekerjaanku.” tanpa menyangkalnya Arseno langsung mengakui itu.
“Tidak,” Evelyn menunjuk wajah Arseno. “Wajah Anda memang terlihat suka memecat orang.”
Arseno mengangkat alis.
“Serius?”
“Kalau ada orang lihat Anda pertama kali, pasti langsung berpikir: ‘wah, bonus tahunan saya hilang.’” sambung Evelyn dengan suara sarkas.
Kosta langsung menunduk menahan tawa.
Arseno melirik asistennya tajam. “Kosta.”
“Maaf, Pak.” jawab Kosta.
Namun jelas bahunya masih bergetar menahan tawa.
Evelyn lagi-lagi menang telak.
Ia tersenyum puas sambil minum jusnya.
“Akhirnya ada yang setuju denganku.”
Arseno menggeleng pelan. “Aku baru sadar…”
“Apa?”
“Kau sangat cerewet kalau sudah nyaman.”
Evelyn langsung terdiam sebentar.
Lalu perlahan berkata, “…Aku nyaman?”
Arseno juga sedikit terdiam.
Mata mereka bertemu sesaat.
Suasana mendadak berubah lebih tenang.
Naomi dan Kosta yang melihat dari belakang langsung saling pandang.
Namun sedetik kemudian, Evelyn langsung memalingkan wajah sambil berdeham kecil.
“Itu karena perjalanan panjang membosankan.”
“Tentu saja,” jawab Arseno santai, meski ada senyum tipis di bibirnya.
Pesawat terus melaju membelah langit menuju Singapura.
Dan di tengah perjalanan bisnis itu, Hubungan mereka semakin dekat tanpa disadari.
...****************...