NovelToon NovelToon
Bertukar Takdir Dengan Kembaranku

Bertukar Takdir Dengan Kembaranku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: raya Abc

Emma dan Ella Taylor, sepasang gadis kembar, terpisah sejak kecil akibat perceraian orang tua. Emma tumbuh di New York menjadi wanita pemarah dan sulit mengendalikan emosi, sementara Ella yang dibesarkan di Inggris justru bersifat pendiam, penakut, dan terbiasa mengalah.

Setelah dua puluh tahun, mereka bertemu secara tak terduga di atas kapal pesiar mewah.
Saling bercerita tentang beban hidup masing-masing, keduanya mengambil keputusan nekat untuk bertukar identitas dan menjalani hidup satu sama lain.

Akankah pertukaran ini menjadi jalan keluar, atau justru menjerumuskan mereka ke dalam masalah yang jauh lebih rumit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raya Abc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Batasan Yang Mulai Kabur

Pintu ruang CEO terbuka.

Klik.

Emma yang masih tersenyum melihat layar ponselnya langsung menoleh.

Dilihatnya Ralph masuk bersama map rapat di tangannya.

Refleks.

Emma segera menekan tombol merah.

Panggilan video dengan Ella langsung berakhir.

Ralph sempat menangkap sekilas wajah seorang wanita di layar sebelum sambungan terputus.

"Kau sedang menelepon siapa?"

Emma meletakkan ponselnya di meja.

"Hm."

"Siapa?"

"Oh hanya seorang teman karna aku mulai jenuh menunggu."

Ralph tidak bertanya lebih jauh.

Ia meletakkan map rapat di atas meja lalu melonggarkan dasinya sedikit.

Untuk pertama kalinya hari itu, raut lelah terlihat di wajahnya.

Emma memperhatikannya sekilas.

"Kau kelihatan lelah."

"Rapat berulang kali."

jawab Ralph singkat.

"Wajar."

Emma mengangguk kecil.

Ia sudah terbiasa melihat ekspresi seperti itu di dunia kerja.

Ralph mengambil segelas air.

Lalu menatap Emma yang masih duduk di kursi CEO miliknya.

"Kau tidak bosan disini?"

"Tidak."

"Apa yang kau lakukan selama aku rapat?"

"Membaca laporan perusahaan."

Ralph berhenti meminum airnya.

"Laporan?"

Emma menunjuk beberapa dokumen yang tadi ia baca.

"Bisnis properti."

"Lumayan menarik."

Ralph berjalan mendekat.

"Kau membacanya?"

"Iya tentu saja."

"Kau memahaminya?"

"Aku cukup jenius."

Emma menutup map itu.

"Proyek East River terlalu berisiko."

Ralph mengernyit.

"Kenapa?"

"Biaya pembebasan lahannya akan terus naik."

"Kalau terlalu lama..."

"...keuntunganmu habis."

Ralph menatap Emma cukup lama.

Pendapat itu...

Sama dengan yang disampaikan direktur keuangan beberapa jam lalu.

"Kau benar."

Emma mengangkat bahu.

"Ya tapi itu hanya pendapat biasa dari wanita yang minim pengalaman seperti ku."

Suasana kembali hening.

Emma berdiri dari kursi.

"Aku rasa aku harus pulang sekarang."

"Kenapa?"

"Aku sudah cukup mengganggumu sejak pagi."

"Kau tidak mengganggu."

Emma sedikit terkejut mendengar jawaban itu.

Ralph sendiri tampak menyadari kalimatnya.

Ia berdeham pelan.

"Maksudku..."

"...kehadiranmu tidak mengganggu pekerjaanku."

Emma tersenyum tipis.

"Itu terdengar seperti pujian lagi."

Ralph tidak menjawab.

Tatapannya justru tertuju pada Emma.

Semakin lama.

Semakin sulit ia menghubungkan wanita di depannya dengan Ella yang ia kenal selama lima tahun.

Wanita ini...

Berani.

Keras kepala.

Terus terang.

Dan...

Tadi di lift.

Ia menggandeng lengannya tanpa ragu.

Apakah itu hanya untuk membuat Christina mundur?

Atau...

Memang karena ada perasaan lain?

Pertanyaan itu terus berputar di kepala Ralph.

Ia ingin mengetahui jawabannya.

"Emma."

"Hm?"

"Apa kau tadi sengaja?"

Emma mengernyit.

"Sengaja apa?"

"Menggandeng lenganku."

Emma tersenyum kecil.

"Oh..."

"Itu."

"Iya."

Ralph melangkah mendekat.

"Kenapa?"

Emma menjawab datar.

"Aku tidak suka sekretarismu."

"Hanya itu?"

"Iya."

"Bukan karena kau cemburu?"

Emma langsung tertawa pelan.

"Cemburu?"

"Lucu."

"Aku serius."

Emma menggeleng.

"Aku hanya tidak suka melihat wanita yang terlalu nyaman berada di dekat suami orang."

Ralph terus menatapnya.

"Jadi bukan karena kau mulai menyukaiku?"

Emma mendecakkan lidah.

"Percaya dirimu tinggi sekali Tuan Alexander yang agung."

"Jawab saja."

Emma menghela napas.

"Tidak. Tentu saja tidak sama sekali."

"Benar?"

"Benar."

"Kalau begitu..."

Ralph mengambil satu langkah lagi.

Jarak mereka kini sangat dekat.

Emma spontan mendongak.

"Apa yang kau lakukan?"

"Tidak ada."

Namun Ralph tidak mundur.

Tatapannya tetap tertuju pada wajah Emma.

"Aku hanya ingin memastikan."

"Memastikan apa?"

"Apakah kau benar-benar tidak gugup."

Emma mengangkat dagunya.

"Aku tidak pernah gugup."

"Kau yakin?"

"Tentu."

Ralph terdiam sesaat.

Lalu perlahan mengangkat satu tangan.

Jemarinya menyingkirkan sehelai rambut pirang yang jatuh di dekat wajah Emma.

Gerakan itu begitu pelan.

Emma langsung membeku.

Jantungnya berdetak lebih cepat.

Ia adalah Emma.

Bukan Ella.

Apa yang sedang dilakukan pria ini?

Sebelum sempat berpikir lebih jauh...

Ralph mencondongkan tubuhnya.

Kecup.

Bibirnya menyentuh bibir Emma dengan singkat.

Hanya beberapa detik.

Lembut.

Tanpa paksaan.

Begitu Ralph menjauh...

Emma masih membeku di tempat.

Matanya membelalak.

Seolah otaknya berhenti bekerja.

Ruangan menjadi sangat sunyi.

Detik berikutnya...

Plak!

Sebuah tamparan mendarat di pipi Ralph.

Tidak terlalu keras.

Namun cukup membuat kepalanya sedikit berpaling.

Emma menatapnya dengan napas memburu.

"Kau..."

Suara Emma bergetar.

"Itu tidak lucu."

Ralph perlahan kembali menatapnya.

Wajahnya tetap tenang.

"Aku tahu."

Emma mundur beberapa langkah.

Di dalam dadanya berkecamuk berbagai perasaan.

Marah.

Bersalah.

Panik.

Ralph baru saja mencium wanita yang dikiranya adalah istrinya.

Padahal...

Yang berdiri di hadapannya adalah saudari kembar istrinya.

Emma mengepalkan kedua tangannya.

"Jangan pernah lakukan itu lagi."

ucapnya dengan nada rendah.

"Aku bukan..."

Kalimatnya terhenti tepat waktu.

Ia hampir saja membongkar rahasia mereka.

Emma segera menggigit bibirnya.

"...aku belum siap."

Ia memalingkan wajah.

Tidak berani lagi menatap Ralph.

Sementara Ralph mengusap pelan pipinya yang masih terasa hangat akibat tamparan itu.

Anehnya...

Ia sama sekali tidak marah.

Justru sebaliknya.

Di balik penolakan dan kemarahan Emma, ia menangkap sesuatu.

Wanita itu bukan marah karena jijik.

Melainkan karena terkejut.

Dan itu membuat Ralph semakin yakin...

Perubahan istrinya bukan hanya soal sikap.

Ada sesuatu yang jauh lebih dalam yang belum berhasil ia pahami.

Sedangkan Emma...

Hanya memiliki satu pikiran.

"Astaga..."

"Bagaimana aku menjelaskan ini pada Ella?"

Emma masih membeku beberapa detik.

Ujung jarinya tanpa sadar menyentuh bibirnya sendiri.

Jantungnya berdegup begitu cepat hingga memenuhi telinganya.

"Sial..."

"Apa yang baru saja terjadi?"

Ia menarik napas dalam, berusaha menenangkan diri.

Namun semakin ia mencoba melupakan ciuman singkat itu...

Semakin jelas bayangannya di kepalanya.

Bukan karena ia menyukainya.

Melainkan karena rasa bersalah yang tiba-tiba menghantamnya.

Ralph...

Mengira wanita yang diciumnya adalah Ella.

Padahal bukan.

Emma mengepalkan kedua tangannya.

"Aku harus pergi."

Tanpa menoleh lagi kepada Ralph, ia mengambil tasnya.

Langkahnya cepat.

Hampir tergesa-gesa.

"Emma."

Suara Ralph terdengar dari belakang.

Emma berhenti sesaat.

Namun ia tidak berbalik.

"Aku akan pulang."

Hanya itu.

Tidak ada penjelasan.

Tidak ada kemarahan lagi.

Ia kembali melangkah menuju pintu.

Klik.

Pintu ruang CEO terbuka.

Di luar ruangan.

Christina baru saja hendak mengetuk pintu sambil membawa beberapa berkas.

Namun langkahnya langsung terhenti.

Lady Alexander keluar dengan wajah dingin.

Tatapan tajam.

Rahang mengeras.

Dan bibir yang terkatup rapat.

Christina sedikit terkejut.

"Lady Alexander..."

Emma bahkan tidak berhenti.

Ia hanya menjawab singkat tanpa menoleh.

"minggir."

Satu kata.

Datar.

Namun cukup membuat Christina spontan bergeser ke samping.

Emma berjalan melewatinya tanpa sedikit pun memperlambat langkah.

Suara hak sepatunya menggema memenuhi koridor.

Semua staf yang berpapasan otomatis memberi jalan.

Tak seorang pun berani menyapa.

Aura wanita itu sedang sangat buruk.

Christina memandang punggung Emma yang semakin menjauh.

Lalu perlahan menoleh ke arah ruang CEO.

"Apa yang terjadi...?"

Ia akhirnya mengetuk pelan.

"Tuan?"

"Masuk."

Begitu pintu terbuka...

Christina langsung membeku.

Ralph masih berdiri di dekat jendela.

Jasnya sedikit berantakan.

Dasi yang tadi sudah dilonggarkan kini semakin longgar.

Namun yang membuat Christina terkejut...

Bukan penampilannya.

Melainkan ekspresi wajah pria itu.

Ralph sedang terdiam.

Satu tangannya terangkat perlahan.

Ujung jarinya tanpa sadar menyentuh bibirnya sendiri.

Tatapannya kosong.

Seolah sedang mengingat sesuatu.

"Tuan Ralph?"

Baru kali ini Ralph menoleh.

"Ada apa?"

Christina menyerahkan map yang dibawanya.

"Dokumen kontrak yang harus ditandatangani."

Ralph menerimanya.

"Letakkan saja."

Christina meletakkan map di meja.

Namun sebelum keluar...

Ia kembali melirik atasannya.

Selama bertahun-tahun bekerja...

Ia belum pernah melihat Ralph seperti ini.

Pria itu biasanya tenang.

Sulit ditebak.

Tidak pernah membiarkan emosi terlihat.

Hari ini...

Ada sesuatu yang berbeda.

Sangat berbeda.

"Tuan..."

Ralph mengangkat kepala.

"Masih ada lagi?"

Christina ragu beberapa detik.

"Lady Alexander tampak sangat marah."

"Apa terjadi sesuatu?"

Ralph terdiam.

Beberapa detik berlalu.

Kemudian sudut bibirnya terangkat sangat tipis.

"Hanya sedikit salah paham."

Jawaban itu justru membuat Christina semakin bingung.

Namun ia memilih tidak bertanya lagi.

"Kalau begitu saya permisi."

Pintu kembali tertutup.

Ruangan kembali sunyi.

Ralph memandang pintu yang baru saja dilewati Emma.

Lalu kembali menyentuh bibirnya dengan ujung jari.

Ciuman itu begitu singkat.

Hampir tidak berarti.

Namun entah mengapa...

Sensasi hangatnya masih terasa.

Selama lima tahun pernikahan mereka...

Tidak pernah ada kedekatan seperti itu.

Ia selalu menjaga jarak karena menghormati batas yang dibangun Ella.

Hari ini...

Untuk pertama kalinya batas itu runtuh.

Dan reaksi Emma setelahnya justru membuat pikirannya semakin dipenuhi pertanyaan.

Ia tidak melihat kebencian di mata istrinya.

Yang ia lihat...

Adalah kepanikan.

Dan itu jauh lebih sulit dipahami.

Ralph mengembuskan napas pelan.

"Apa sebenarnya yang terjadi padamu..."

gumamnya lirih.

Di sisi lain, Emma telah masuk ke dalam mobil dengan napas yang masih belum teratur.

Begitu pintu mobil tertutup, ia memejamkan mata.

Ia menyandarkan kepalanya ke kursi.

Perasaan bersalah terus menghantuinya.

Ia sadar...

Mulai saat ini, menjaga rahasia pertukaran mereka akan menjadi jauh lebih sulit daripada yang pernah ia bayangkan.

1
Sriza Juniarti
lanjut kk..terus berkaeya..bagus banget
Sriza Juniarti
lanjut kk
mulai ngikuti sepertinya menarik
putmelyana
omg seharian nyari cerita bagus akhirnya ketemu jga aku bakalan masukin daftar cerita favorit aku. gak sia² secrol cari cerita bagus akhirnya ketemu jga. next Thor ceritanya aku tungguin🥰
rhien90
lanjuuuutt kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!