"Mulai dari sekarang kamu adalah putraku, kamu yang akan menduduki tahta naga. Gantikan posisi kaisar, injaklah keparat itu."
Sang permaisuri berbisik sembari tersenyum, menatap ke arah seorang pangeran kecil berpakaian lusuh di istana terbuang.
Lin Krisan, merupakan putri tunggal dari jendral yang berkuasa. Diangkat menjadi permaisuri, setelah mendukung suaminya dari status pangeran hingga menjadi kaisar.
Namun, kasih sayang tidak didapatkannya. Kaisar lebih menyayangi para selirnya. Hingga pada akhirnya permaisuri Lin meninggal di istana dingin, setelah diracuni oleh kaisar.
Wanita yang terlahir kembali, kembali mengulangi waktu.
"Aku tidak akan berusaha merebut cintamu lagi. Tapi aku akan merebut tahtamu."
Menjadikan istana bagaikan papan catur, melucuti kekuasaan kaisar pengkhianat. Menjadikan putranya yang manis sebagai kaisar baru.
Tapi lebih dari itu, mata perdana menteri mengawasinya...atau menginginkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pilihan
“Yang mulia Ibu suri, hamba tahu kakak benar-benar tidak sengaja…” kalimat yang diucapkan oleh sang selir.
Permaisuri melirik ke arah dayang yang berada di sampingnya. Bagaikan memberikan isyarat, sang dayang segera maju.
Plak!
Satu tamparan melayang di pipi selir Shen. Semua selir yang berada di tempat ini terdiam, tertegun dengan apa yang dilakukan oleh permaisuri.
“Berani-beraninya ada yang sepertimu!” Bentak selir Shen.
“Tugas permaisuri juga termasuk mencakup untuk mengajarkan tata krama pada para selir. Selir Shen, Kenapa tidak memberi hormat padaku? Kenapa Kamu memanggilku kakak, jika aku selir dengan status yang setara denganmu. Maka kamu bisa memanggilku kakak. Tapi apakah kamu menganggap dirimu setara dengan permaisuri?” Kalimat demi kalimat yang tenang penuh penekanan.
“Bibi…” Selir Shen hanya dapat kembali menangis dan mengadu kepada bibinya.
“Seret dayang itu! Hukum dia dengan hukuman cambuk!” Perintah dari ibu suri.
“Siapa yang berani!” Suara bentakan dari permaisuri menggema. Raut wajahnya pada awalnya terlihat begitu tegang, tapi permaisuri kembali terlihat tenang. Kasim dan pengawal yang hendak bergerak mengurungkan niatnya.
“Dayang ku hanya menegakkan aturan. Itu sama sekali tidak melanggar etika dan peraturan. Akhir-akhir ini istana belakang peraturannya begitu longgar. Ini akan menjadi sebuah lelucon jika tersebar di kalangan bangsawan, bahwa, bahkan seorang selir rendahan dapat menghina permaisuri.” Wanita yang perlahan bergerak, duduk di tempatnya tanpa meminta izin.
“Kamu tidak menghormatiku, menentang otoritasku.” Ibu Suri menghela nafasnya mencoba untuk lebih bersabar bicara dengan wanita ini.”Permaisuri, seorang permaisuri yang baik tidak akan menaruh kecemburuan kepada selir. Tidak akan dengan serta merta memukuli selir. Itulah etika dasarnya.”
“Ibu suri, seorang permaisuri akan bertindak tegas dan tidak akan melepaskan seorang pencuri. Tapi kemarin aku sudah menjadi permaisuri yang begitu buruk. Bagaimana bisa aku hanya menendang seorang pencuri, seharusnya aku memberikan hukuman yang lebih pantas untuknya.” Sang permaisuri menghela nafas.”Aku memang benar-benar terlalu baik…”
“Apa maksudmu dengan mencuri?” Ibu Suri mengerutkan keningnya.
Sementara selir Shen terlihat begitu cemas saat ini.
Wanita yang bergerak cepat, selir itu berlutut di hadapan permaisuri. Kemudian berucap.”Yang mulia permaisuri, hanya karena hamba menghabiskan malam dengan Kaisar. Tapi yang mulia permaisuri malah menuduh hamba sebagai pencuri. Itu benar-benar suatu hal yang tidak adil. Hamba benar-benar tidak melakukan hal yang salah…”
Beberapa selir mulai berbisik, hampir semuanya mencemooh dan menertawakan tentang permaisuri.
“Kamu tahu, Kaisar sendiri bahkan mengatakan kepadaku bahwa dirinya tidak pernah menghabiskan satu malam pun dengan permaisuri.”
“Jika pun kabar itu bohong, misal saja Kaisar menghabiskan malam dengan permaisuri. Tapi sampai sekarang permaisuri tidak kunjung mengandung darah naga. Itu sudah pasti permaisuri mengalami kemandulan.”
“Sudah mandul masih memegang jabatan sebagai permaisuri. Kaisar dan ibu Suri benar-benar terlalu memanjakannya.”
“Hanya seorang wanita tidak berguna tapi memegang jabatan permaisuri. Dan sekarang malah menendang selir Shen.”
Kalimat demi kalimat setengah berbisik dengan nada mengejek. Semuanya sama sekali tidak mengurungkan niatnya.
Dulu dirinya selalu merasa tertekan dengan ini. Bahkan di kehidupan pertamanya, permaisuri melakukan berbagai hal agar Kaisar bersedia menghabiskan malam dengannya. Tidak ingin semua orang di istana ini mencemoohnya sebagai ayam yang bahkan tidak bertelur. Atau dengan kata lain permaisuri yang mandul.
“Permaisuri! Kali ini kamu sudah benar-benar keterlaluan! Segel Phoenix—” sebelum Ibu Suri memberikan perintah.
Permaisuri terlebih dahulu bangkit dari tempatnya duduk. Wanita yang masih dapat tersenyum dengan tenang. Dirinya dihina, dirinya dicemooh itu adalah hal yang luar biasa. Atau dapat dikatakan hal yang biasa.
Brak!
Lagi-lagi wanita di hadapannya ini ditendang olehnya. Hingga tersungkur di lantai.
“Permaisuri!” Ibu Suri bangkit dari tempatnya duduk kemudian menggebrak meja.
Selir-selir yang ada di tempat ini tersenyum tenang, termasuk selir Agung. Dengan begini cepat atau lambat posisi permaisuri akan digantikan.
Permaisuri mengangkat sebelah alisnya. Wanita itu tertawa kecil.”Riri keluarkan…”
Sang dayang mengeluarkan sebuah tusuk konde giok. Giok berkualitas, yang diukir oleh seniman, benar-benar motif yang indah, ditambah dengan lambang keluarga Lin berada di sana.
“Selir Shen tiba-tiba saja menggunakan harta bawaan hamba. Dan tega-teganya mengatakan bahwa ibu Suri yang memberikan kepadanya. Hamba sama sekali tidak akan percaya, jika selir Shen tidak mengatakannya sendiri. Jika kekerasan adalah hal yang salah. Maka mencuri juga lebih salah. Terutama mencuri dari keluarga Kerajaan.” Permaisuri melangkah mendekati Ibu suri.
Wanita itu menunduk, sama sekali tidak memberikan jalan keluar bagi wanita tua ini.”Hamba percaya Ibu Suri dan segala keagungannya, tidak akan mungkin mencuri harta bawaan hamba. Karena itu, hamba mengambil kesimpulan selir Shen dengan sengaja menggunakan nama ibu Suri untuk mengadu domba hamba dan ibu suri.”
Ibu Suri menelan ludahnya. Bagaimana bisa selir Shen dapat begitu ceroboh. Ibu Suri sendiri yang memberikan kunci dari gudang harta. Selir Shen dapat dengan bebas mengambil satu atau dua perhiasan. Asalkan jangan mengenakannya di hadapan permaisuri. Asalkan jangan sampai permaisuri mengetahuinya.
Selir Shen mendekat.”Semua yang dikatakan oleh permaisuri adalah kebohongan. Tusuk konde ini benar-benar diberikan oleh yang mulia Ibu suri. Permaisuri dengan sengaja membuat hamba terlihat buruk. Mohon Ibu Suri membela hamba.”
Permaisuri kembali melangkah, wanita itu kembali duduk. Meminum sedikit teh miliknya.
“Jadi maksudmu, Ibu Suri yang sudah aku anggap sebagai ibu kandungku sendiri mencuri harta bawaanku dan memberikannya kepada selir? Bagaimana kamu bisa berpikiran begitu rendahan, Dengan mengatakan hal buruk tentang ibu suri!” Permaisuri terlihat begitu murka, raut wajahnya yang tenang tiba-tiba berubah.
Prang!
Cawan teh dilemparkannya hampir mengenai selir Shen.
Semua orang terdiam, termasuk selir Agung. Biasanya permaisuri begitu mudah untuk dikendalikan. Tapi kenapa hari ini terasa begitu berbeda?
Permaisuri perlahan menghela nafasnya, bagaikan terlihat begitu tenang.
Istana adalah papan catur raksasa. Dan dirinya juga memegang kekuasaan tertinggi. Mereka ingin mengintimidasinya? Di kehidupan lalu memang bisa. Tapi di kehidupan saat ini jangan bermimpi.
Wanita yang melirik ke arah Ibu suri, bagaikan mendesak wanita tua itu untuk meninggalkan selir Shen. Untuk meninggalkan keponakannya sendiri.
Ibu Suri menelan ludah terlihat bimbang. Semuanya sudah terbukti, jika dirinya yang mengatakan membiarkan selir Shen mengambil perhiasan di gudang harta. Maka, hubungannya dengan permaisuri akan menjadi buruk.
Tidak! Sebelum keluarga Lin musnahkan, tidak baik baginya untuk memperburuk hubungan dengan permaisuri.
Wanita tua yang mengepalkan tangannya. Beberapa helai rambutnya sudah terlihat memutih.
“Bibi…katakan aku tidak mencuri. Permaisuri lah yang—” kalimat selir Shen disela.
Permaisuri menghela nafasnya, wajahnya tersenyum menatap ke arah Ibu suri.”Ibu suri, hamba hanya menendangnya dua kali. Itu sudah termasuk hukuman yang ringan. Untuk hukuman selanjutnya, harap yang mulia Ibu Suri pertimbangkan…ini tentang moral. Bagaimana bisa menggunakan nama ibu Suri sembarangan. Bahkan menuduh Ibu Suri mencuri harta bawaanku…”
Pion catur yang digerakkan olehnya. Satu persatu selir-selir ini akan dihabisi.
kalau Indomie baru selera ku🤭🤣🤣
🤣🤣🤣