Arka kehilangan segalanya dalam satu malam ketika warung makan peninggalan almarhum orang tuanya dihancurkan oleh lintah darat dan kekasihnya meninggalkannya demi pria kaya yang sombong. Di ambang keputusasaan saat mencoba memasak seporsi nasi goreng terakhir di tengah puing-puing warungnya, sebuah suara mekanis misterius tiba-tiba bergema di dalam kepalanya. Berbekal Sistem Kuliner Sakti yang memberinya hadiah uang tunai dan keterampilan tingkat dewa setiap kali pelanggannya merasa puas, Arka memulai langkah balas dendamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Klang!
Spatula baja itu akhirnya terlepas dari genggaman tangan Arka dan jatuh ke dalam wastafel pencucian.
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam dan area pujasera Grand Malika City mulai sepi.
Arka menyandarkan tubuhnya yang basah oleh keringat ke dinding konter dengan napas terengah-engah.
Sesi penjualan makan malam tadi jauh lebih brutal dan gila daripada saat pembukaan siang harinya.
Ratusan pelanggan baru datang berbondong-bondong karena mendengar rumor tentang kelezatan Sop Buntut dari mulut ke mulut.
"Lengan kananku rasanya mau putus, aku benar-benar sudah mencapai batas fisik manusia normal." Arka memijat bahunya yang terasa kaku dan nyeri.
Walaupun ia memiliki stamina yang sedikit lebih baik sejak mendapatkan sistem, melayani ratusan porsi sendirian tetaplah sebuah siksaan.
Ia harus menjadi kasir, koki, sekaligus pelayan yang mengantarkan makanan ke meja terdekat.
"Kalau begini terus, aku bisa mati kelelahan sebelum omset lima ratus juta itu tercapai." Arka bergumam sambil menatap tumpukan mangkuk kotor yang belum dicuci.
Tiba-tiba, suara mekanis sistem yang sangat peka terhadap keluh kesah inangnya kembali berbunyi.
[Ding!]
[Sistem mendeteksi bahwa beban kerja Host telah melebihi kapasitas operasional tunggal.]
[Fitur Baru Terbuka: Mata Dewa Penilai Karyawan.]
Layar biru transparan muncul tepat di depan wajah Arka yang sedang kelelahan.
"Mata Dewa Penilai? Fitur macam apa lagi ini sistem?" Arka bertanya dengan rasa penasaran yang mengalahkan rasa lelahnya.
[Mata Dewa Penilai adalah fitur pasif yang memungkinkan Host untuk melihat status tersembunyi dari calon karyawan.]
[Host dapat melihat angka Potensi Bakat dan Tingkat Loyalitas dari skala 0 hingga 100.]
[Karyawan dengan loyalitas di bawah 50 berisiko tinggi untuk berkhianat atau mencuri resep rahasia Host.]
Mata Arka langsung berbinar terang membaca penjelasan dari sistem yang sangat luar biasa itu.
"Ini sangat sempurna, aku memang berniat mencari asisten besok pagi tapi takut salah pilih orang." Arka tersenyum puas.
Mencari karyawan di industri kuliner memang sangat riskan karena banyak kasus pencurian resep atau penggelapan uang kasir.
Dengan fitur baru ini, Arka bisa menyaring kandidat terbaik tanpa perlu khawatir dikhianati dari dalam.
Malam itu Arka pulang ke rumah kontrakannya yang kecil dengan hati yang sangat tenang dan penuh rencana.
Sementara itu, di sudut lain area pujasera yang sudah tutup, suasana sangat tegang sedang terjadi.
Beberapa pemilik kios makanan senior sedang berkumpul secara sembunyi-sembunyi di salah satu meja yang gelap.
Ada Pak Anton, pemilik kios Bebek Bakar Nusantara yang biasanya paling ramai di pujasera itu.
Lalu ada Bu Rina, pemilik kios Mie Ayam Berkah yang pelanggannya hari ini turun drastis.
"Anton, kau lihat sendiri kan bagaimana anak baru itu merampas semua pelanggan kita hari ini?" Bu Rina berbicara dengan nada berbisik namun penuh rasa iri.
"Kios mie ayamku hari ini cuma laku sepuluh porsi, padahal biasanya jam makan siang saja bisa habis lima puluh porsi." Tambahnya dengan wajah merengut kesal.
Pak Anton menggebrak meja perlahan dengan tangan besarnya.
Brak!
"Aku juga merasakannya Rina, bebek bakarku sisa banyak dan terpaksa kubawa pulang malam ini." Pak Anton mengertakkan giginya dengan marah.
Mereka berdua adalah penguasa lama di pujasera itu dan tidak terima ada anak baru yang langsung mendominasi penjualan.
"Kita tidak boleh diam saja, kalau dibiarkan sebulan, kios kita bisa bangkrut total." Ucap Pak Anton sambil menyalakan rokoknya secara sembunyi-sembunyi.
"Lalu apa rencana kita? Kios itu katanya diundang langsung oleh Nona Clara, kita tidak bisa asal mengusirnya." Bu Rina mengingatkan tentang koneksi Arka.
"Nona Clara itu sibuk mengurus proyek mal yang lain, dia tidak akan sempat mengurus masalah sepele di lantai pujasera." Pak Anton tersenyum licik penuh tipu daya.
"Kita gunakan Pak Joko, manajer operasional lantai ini, untuk menekan anak baru itu dengan aturan tidak tertulis pujasera."
Pak Anton mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal dari dalam saku jaketnya.
"Aku akan menyuap Pak Joko besok pagi agar membuat hidup si anak baru itu tidak tenang di sini." Pak Anton menyeringai membayangkan rencana jahatnya.
Bu Rina ikut tersenyum puas, merasa bahwa Arka akan segera tunduk pada senioritas mereka.
Keesokan paginya, matahari bersinar cerah menyinari Grand Malika City.
Arka tiba di kiosnya pada pukul delapan pagi dan langsung menempelkan selembar kertas putih di kaca etalasenya.
Kertas itu bertuliskan "DIBUTUHKAN SEGERA: ASISTEN KIOS. GAJI MENARIK."
Karena pujasera berada di dalam mal yang ramai, tidak butuh waktu lama bagi beberapa pencari kerja untuk melihat pengumuman tersebut.
Sekitar pukul sembilan, seorang pemuda berpenampilan urakan dengan rambut dicat pirang datang menghampiri konter Arka.
"Bang, saya mau melamar kerja jadi asistennya, gajinya berapa nih?" Pemuda itu bertanya dengan nada yang kurang sopan sambil bersandar di etalase.
Arka menatap pemuda itu dengan tenang dan langsung mengaktifkan fitur barunya di dalam hati.
"Sistem, gunakan Mata Dewa Penilai." Perintah Arka.
Seketika itu juga, sebuah jendela informasi kecil berwarna biru muncul tepat di atas kepala pemuda berambut pirang tersebut.
[Nama: Budi]
[Potensi Bakat: 30/100 (Sangat Pemalas)]
[Tingkat Loyalitas: 15/100 (Suka mencuri uang kasir)]
Melihat angka yang mengerikan itu, Arka langsung tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya.
"Maaf Mas, lowongannya mencari yang punya pengalaman, sepertinya Mas belum cocok." Arka menolak dengan halus namun tegas.
Pemuda itu mendecih kesal lalu pergi meninggalkan kios Arka dengan langkah menghentak.
Satu jam berlalu dan Arka telah menolak empat orang pelamar lainnya.
Kebanyakan dari mereka memiliki loyalitas di bawah empat puluh atau memiliki potensi bakat yang terlalu rendah untuk bekerja di dapur yang sibuk.
Tepat saat Arka hampir menyerah untuk mencari asisten hari ini, seorang gadis muda berjalan ragu-ragu mendekati konternya.
Gadis itu mengenakan kemeja putih sederhana yang sudah sedikit kusam dan celana kain hitam.
Rambutnya diikat rapi ke belakang dan wajahnya terlihat sedikit pucat namun memancarkan aura pekerja keras.
"Permisi Mas, apakah lowongan asisten kiosnya masih terbuka?" Gadis itu bertanya dengan suara yang sangat lembut dan sopan.
Arka menoleh dan menatap gadis itu dengan seksama.
"Masih Kak, silakan perkenalkan diri dulu." Jawab Arka dengan senyum ramah agar gadis itu tidak terlalu gugup.
"Nama saya Nisa Mas, umur saya sembilan belas tahun, saya baru lulus SMK jurusan tata boga." Nisa memperkenalkan dirinya sambil menundukkan pandangan.
"Saya butuh pekerjaan ini untuk membantu biaya pengobatan ibu saya yang sedang sakit di kampung." Tambah Nisa dengan nada suara yang sedikit bergetar karena sangat berharap diterima.
Arka tidak langsung menjawab, ia memilih untuk memastikan semuanya melalui sistem.
"Sistem, pindai gadis ini sekarang." Batin Arka.
Cahaya biru yang tidak kasat mata memindai tubuh Nisa dari atas ke bawah dalam hitungan detik.
[Nama: Nisa]
[Potensi Bakat: 85/100 (Sangat teliti dan berbakat dalam manajemen bahan)]
[Tingkat Loyalitas: 95/100 (Sangat berterima kasih dan rela berkorban demi atasannya)]
Mata Arka membulat sempurna melihat deretan angka yang sangat fantastis itu.
Potensi bakat delapan puluh lima berarti Nisa bisa diajari berbagai tugas dapur dengan sangat cepat tanpa banyak kesalahan.
Dan tingkat loyalitas sembilan puluh lima adalah angka yang sangat langka, menandakan bahwa Nisa tidak akan pernah mengkhianati Arka dalam kondisi apa pun.
"Ini ibarat menemukan berlian tersembunyi di tumpukan pasir." Batin Arka dengan penuh kegembiraan.
"Baiklah Nisa, kamu diterima bekerja mulai hari ini juga." Arka memberikan keputusannya dengan suara lantang dan tanpa ragu.
Nisa seketika mengangkat kepalanya dengan mata yang melebar karena tidak percaya ia diterima secepat itu.
"B-benarkah Mas? Tanpa tes wawancara yang rumit atau masa percobaan tanpa gaji?" Nisa bertanya dengan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Tidak perlu tes rumit, aku percaya pada instingku." Arka berbohong sedikit demi menutupi keberadaan sistem.
"Gajimu adalah tiga juta rupiah sebulan ditambah uang makan harian, dan kalau kerjamu bagus, akan ada bonus di akhir bulan." Arka menyebutkan nominal yang cukup besar untuk ukuran asisten baru.
Air mata Nisa akhirnya jatuh menetes membasahi pipinya karena rasa syukur yang luar biasa.
"Terima kasih banyak Mas Arka, saya berjanji akan bekerja sekeras mungkin untuk membalas kebaikan Mas." Nisa membungkuk berkali-kali dengan penuh rasa hormat.
"Sudah, jangan menangis, lebih baik kamu simpan tasmu di loker bawah dan pakai celemek ini." Arka menyodorkan sebuah celemek hitam bersih bertuliskan Dapur Arka Absolute.
Nisa segera mengusap air matanya dan memakai celemek tersebut dengan semangat yang menyala-nyala.