NovelToon NovelToon
Menolak Cerai dari Sang Perwira, Aku Malah Jadi Permata Keluarganya

Menolak Cerai dari Sang Perwira, Aku Malah Jadi Permata Keluarganya

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Fantasi / Menikahi tentara / Antagonis Jahat
Popularitas:72
Nilai: 5
Nama Author: Aura Rizki

Larasati membuka mata dan mendapati dirinya terjebak di dalam sebuah novel — menjadi "istri pertama yang jahat", hamil enam bulan, tepat di detik sang suami, perwira dingin Arya Reksonegoro, mengucap satu kata: cerai.
Ia tahu jalan ceritanya. Di novel itu, tokoh seperti dirinya menggugurkan kandungan, bercerai, lalu menghilang — dan dua tahun kemudian keluarga Reksonegoro direhabilitasi, hidup bahagia bersama "tokoh utama wanita" yang terlahir kembali.
Tapi Laras menolak mengikuti naskah.
Saat keluarga suaminya difitnah, jatuh miskin, dan terusir dari Jakarta ke sebuah desa terpencil di Jawa Tengah, ia justru memeluk erat suaminya, menolak cerai, menolak menyerah. Dengan satu rahasia yang tak dimiliki siapa pun — ia tahu masa depan — Laras perlahan menghangatkan hati sang perwira yang dingin, memenangkan seluruh keluarga besar yang tadinya membencinya, dan satu per satu mementahkan rencana si "tokoh utama" yang terlahir kembali.
Yang tak ia duga: perempuan yang selama ini dianggap anak buangan ini... ternyata menyimpan rahasia asal-usul yang mengguncang seluruh negeri. Ibunya seorang pahlawan yang gugur. Ayah kandungnya — seorang jenderal legendaris yang selama puluhan tahun mencarinya.
Dari menantu yang dihina menjadi permata yang diperebutkan seluruh keluarga; dari istri buangan menjadi putri sang jenderal. Sekali ini, Laras akan menulis ulang takdirnya sendiri.
"Kalau kamu pikir aku akan menyingkir sesuai naskah… kamu salah besar, Mas."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aura Rizki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30

Bab 30

Pengumuman Guru Honorer

Pengumuman itu ditempel di papan SD Negeri Girimulyo pada Senin pagi.

Dibutuhkan satu guru honorer kelas rendah. Pelamar menyerahkan formulir, salinan ijazah, identitas, dan surat sehat. Seleksi terdiri atas tes tertulis serta simulasi mengajar di depan kepala sekolah dan komite.

Laras membaca setiap baris dua kali.

“Batas pendaftaran Jumat,” kata Arya di sampingnya. “Tes Senin depan.”

“Aku bisa memenuhi syarat.”

Pak Sutris keluar dari ruang guru. Kepala sekolah berusia sekitar lima puluh tahun itu menyapa mereka dan menunjuk meja pendaftaran.

“Semua berkas diserahkan dalam amplop tertutup,” jelasnya. “Nomor peserta diberikan setelah verifikasi. Pak Waluyo membantu menyebarkan kabar, tetapi penilaian dilakukan sekolah dan komite.”

Kalimat terakhir seolah sengaja diucapkan cukup keras untuk orang-orang yang berkumpul.

Bu Sri datang bersama Melati. Ia membawa map baru dan senyum yakin.

“Putri saya sudah sering membantu anak-anak,” katanya.

Bu Endang, guru senior, hanya menjawab, “Pengalaman bisa ditulis di formulir. Nilainya tetap dari proses yang sama.”

Melati melihat Laras memegang lembar pendaftaran. Senyumnya membeku sesaat.

“Kamu sungguh mau ikut?”

“Aku datang untuk mengambil formulir.”

“Pekerjaan guru tidak ringan. Kamu bisa melahirkan beberapa bulan lagi.”

Pak Sutris memandang perut Laras, lalu berbicara secara profesional. “Selama ada surat sehat dan pelamar mampu mengikuti seleksi, kehamilan bukan alasan kami menolak berkas. Bila diterima, penyesuaian menjelang persalinan dibicarakan sesuai kondisi.”

“Terima kasih, Pak,” kata Laras.

Arya mengambil dua formulir, satu untuk dibaca di rumah dan satu cadangan. Ia juga meminta daftar topik tes serta durasi simulasi.

“Dua puluh menit,” jawab Bu Endang. “Calon mendapat tema sehari sebelumnya. Kami menilai ketepatan materi, cara berkomunikasi, pengelolaan kelas, dan alat bantu.”

Tidak ada rahasia. Informasi yang sama diberikan kepada Melati serta tiga pelamar lain.

Di warung seberang sekolah, kabar berubah jauh lebih cepat daripada isi pengumuman.

“Anak Pak Kades pasti diterima,” kata seorang perempuan.

“Belum tentu. Bu Laras sarjana dan pandai mengatur anak,” bantah Bu Sari.

“Tapi dia akan melahirkan.”

“Orang hamil bukan berarti kehilangan otak.”

Ningsih yang duduk bersama Laras hampir menyemburkan teh karena kalimat itu.

Bu Sri masuk dan percakapan berhenti. Ia memesan gula, lalu berkata bahwa Melati sejak kecil bercita-cita mengajar.

“Cita-cita tidak diperiksa dalam tes,” ujar Ningsih setelah Bu Sri pergi.

“Jangan memancing perang,” kata Laras.

“Aku hanya menyebut fakta.”

“Dengan volume yang bisa didengar sampai sekolah.”

Ningsih tersenyum tanpa rasa bersalah.

Di rumah, keluarga membagi tugas. Sekar pergi ke tempat fotokopi di kecamatan bersama Pakde Karyo. Arya meminta surat sehat di Puskesmas sekaligus mengatur pemeriksaan rutin kandungan. Guntur memeriksa salinan ijazah dan identitas agar tidak ada yang tertinggal.

Pemeriksaan dilakukan keesokan paginya. Tekanan darah Laras normal, gerakan janin aktif, dan tidak ada tanda persalinan dini. Bidan tetap mengingatkan agar Laras tidak berdiri terlalu lama selama tes serta segera melapor bila muncul kontraksi teratur, perdarahan, atau air ketuban merembes.

“Tes tertulis berapa lama?” tanya bidan.

“Sembilan puluh menit.”

“Minta izin ke kamar kecil kalau perlu. Bawa air. Surat ini menyatakan kondisi saat diperiksa, bukan jaminan bahwa tubuh boleh dipaksa.”

Arya mencatat seluruh pesan meski Laras sudah hafal. Mereka juga memastikan rute dari sekolah ke Puskesmas dan siapa yang dapat menggantikan kendaraan bila Pakde Karyo sedang membawa penumpang.

Surat sehat dimasukkan ke map, terpisah dari buku KIA. Tidak ada hasil pemeriksaan yang ditempel di formulir selain keterangan yang diminta.

Laras menulis formulir sendiri. Pada bagian pengalaman, ia mencantumkan kegiatan membantu anak-anak belajar dan kemampuan administrasi, tanpa membesar-besarkan apa yang baru dilakukan beberapa minggu.

“Kenapa tidak tulis usaha jahit?” tanya Sekar.

“Karena aku tidak menjahit dengan mesin. Tugasku mencatat dan mengatur pesanan.”

“Tetap keterampilan.”

“Aku bisa menjelaskannya saat ditanya. Formulir bukan tempat membuat diriku terdengar lebih hebat dari kenyataan.”

Arya menguji pengetahuannya malam itu. Ia membaca soal matematika dasar, Bahasa Indonesia, Pancasila, dan situasi kelas. Laras menjawab cepat, tetapi tersendat ketika ditanya cara membantu murid yang terus mengganggu teman.

“Aku akan menegurnya.”

“Setelah itu?”

“Cari penyebab, pindahkan posisi duduk bila perlu, dan beri tugas yang membuat energinya terarah.”

“Kalau tetap mengganggu?”

“Bicara pribadi, catat pola, lalu libatkan wali dan guru lain.”

Arya mengangguk. “Lebih baik.”

“Mas menikmati menjadi penguji?”

“Sedikit.”

Laras melempar bantal kecil. Arya menangkapnya dan menyelipkan kembali di belakang pinggang istrinya.

Hari Kamis, mereka menyerahkan amplop. Petugas memeriksa daftar, memberi nomor peserta, lalu menandatangani tanda terima. Melati datang beberapa menit kemudian bersama Bu Sri.

Pak Sutris menempel daftar pelamar terverifikasi sore itu. Ada lima nama. Laras nomor tiga, Melati nomor empat.

“Tidak ada peserta tambahan setelah Jumat pukul dua,” kata kepala sekolah. “Soal disimpan oleh sekolah. Komite baru menerima salinan saat tes dimulai.”

Aturan itu memotong banyak bisik tentang titipan.

Pada warung sore hari, kelima nama mulai dibandingkan. Dua pelamar lain berasal dari dusun tetangga dan pernah menjadi tutor mengaji atau pendamping belajar. Laras menolak ketika seseorang menyebut mereka hanya pelengkap.

“Kalau prosesnya terbuka, semua punya peluang,” katanya.

Sikap itu membuat seorang pelamar bernama Rina mendatanginya. Mereka sepakat bertukar buku latihan tanpa membahas jawaban yang mungkin keluar. Persaingan tidak harus mengubah setiap orang menjadi musuh.

Melati melihat percakapan tersebut dari seberang jalan. Ia justru telah meminta Bu Sri mencari tahu siapa anggota komite yang mudah dipengaruhi. Bu Sri kembali membawa kabar buruk: dua anggota berasal dari wali murid, satu dari tokoh masyarakat, dan penilaian mereka dicatat terpisah.

“Bapak bisa bicara dengan Pak Sutris,” kata Bu Sri.

“Jangan sekarang,” jawab Melati cepat. Setelah perhatian desa tertuju pada keluarga mereka, tekanan terbuka dapat berbalik menjadi skandal.

Ia membutuhkan cara yang tidak terlihat seperti campur tangan.

Melati berdiri di depan daftar lebih lama daripada orang lain. Dalam hidup yang ia ingat, nama Laras tidak pernah berada satu baris di atas namanya.

“Nomor tidak menentukan nilai,” kata Laras saat melewatinya.

“Kamu yakin bisa tetap mengajar setelah anakmu lahir?”

“Aku akan mengatur hidupku kalau diterima.”

“Kalau tidak?”

“Aku pulang, makan, lalu mencoba jalan lain.”

Ketidakgentaran itu membuat Melati semakin marah. Baginya, pekerjaan tersebut adalah pintu yang wajib ia miliki. Bagi Laras, itu kesempatan yang layak diperjuangkan tanpa menjadikan kegagalan sebagai akhir hidup.

Menjelang senja, Melati kembali sendirian ke papan pengumuman. Ia meremas salinan formulir sampai sudutnya kusut.

Perburuan sudah melenceng. Arya sudah terlepas. Desa sudah berpihak pada Laras.

Kali ini, pikirnya, tidak boleh ada satu langkah pun yang salah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!