Ara Milano tidak pernah menyangka satu malam akan mengubah seluruh hidupnya.
Ketika kakaknya menghilang sebelum pernikahan, keluarga Milano tidak memiliki pilihan lain. Demi menjaga perjanjian antara dua keluarga, Ara dipaksa mengenakan gaun pengantin dan menggantikan posisi kakaknya.
Pria yang menunggunya di altar adalah Dante Theo, pewaris keluarga mafia paling berkuasa, yang terkenal dingin, keras, dan tidak mengenal kata kompromi.
Dante tentu tahu wanita yang berdiri di hadapannya bukanlah pengantin yang seharusnya.
Sementara Ara merasa terjerat dalam pernikahan pengganti ini. Bahkan sejak di malam pernikahan, ia berulang kali mencoba kabur. Meskipun pada akhirnya usahanya seperti usaha menjaring angin.
Lama kelamaan keduanya terbiasa dengan kehadiran lainnya. Bagi Dante, gadis itu telah menjadi bagian dari perjanjian yang tidak boleh dilepaskan. Sekalipun harus ia akui, Ara bukan wanita yang mudah dikendalikan. Sayangnya ia juga tidak pernah sanggup kehilangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liza Navy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 — Umpan Yang Salah Sasaran
Sore itu, Ara duduk di sofa kamarnya yang menghadap ke balkon. Ia menikmati angin yang berhembus pelan dari luar. Angin itu membuat tirai jendela balkon sedikit melambai-lambai. Ia sedang tidak bersemangat melanjutkan membaca novel seriesnya. Ia hanya menatap kosong pemandangan halaman belakang mansion.
Ponselnya yang tergeletak di sampingnya tiba-tiba bergetar. Satu pesan. Lalu pesan kedua menyusul.
Ara melirik layar. Nama Alessia muncul. Ia tidak langsung membukanya.
Beberapa detik kemudian, ponselnya kembali bergetar.
##Kau benar-benar tidak ingin bertemu denganku?##
Ara menatap pesan itu tanpa ekspresi.
Tak lama kemudian, pesan berikutnya masuk.
##Aku kakakmu, Ara.##
Ara akhirnya mengambil ponselnya. Ia membuka seluruh percakapan, tetapi tidak membalas. Seperti yang sudah ia duga, Alessia tidak berhenti merongrongnya dengan pesan-pesan itu.
##Kau berubah setelah menikah. Kau bahkan tidak mau menemuiku.##
Jari Ara menjentik di atas layar. Ada satu hal yang membuatnya muak dari cara Alessia berbicara. Kakaknya selalu pandai mengubah sejarah.
Alessia akan mengambil satu bagian kecil dari masa lalu, lalu menghapus semua hal buruk yang terjadi.
Ia akui Alessia memang kakaknya. Tetapi tidak cukup baik untuk menjadi kakak. Pernah suatu ketika kakaknya itu tak sengaja menjatuhkan sabun ke tandon air minum. Kakaknya ketakutan dan tidak mau dihukum. Ara-lah yang dengan inisiatifnya sendiri, menutupi dan menanggung kesalahan Alessia. Tapi, kakaknya itu tanpa berkedip, tidak merasa bersalah bahkan ikut menghakimi Ara.
Ara hanya bisa menelannya. Ia tidak mungkin mengatakan kakaknya lah pelakunya. Ia hanya seorang yang rela jadi kambing hitam kakaknya. Agar kakaknya selalu tampak sempurna di mata ayah dan ibunya. Lagipula apa gunanya, tokh ia sudah mengakui kesalahan yang bukan miliknya.
Ara mengembuskan napas pelan. Ia tidak akan masuk ke permainan manipulatif Alessia. Ponselnya kembali bergetar. Kali ini muncul sebuah foto di notifikasi pesan nya.
Ara membukanya. Foto lama. Dua anak perempuan berdiri berdampingan di halaman rumah. Alessia yang lebih tua memegang bahu Ara, sementara Ara yang masih kecil tersenyum ke arah kamera.
Ara menatap foto itu cukup lama.
##Kau masih ingat siapa yang selalu ada untukmu?##
Ara tertawa pahit. "Selalu ada untukku?" gumamnya mengulang. Siapa yang selalu ada sebenarnya--pikirnya rancu. Kakaknya tidak pernah ada saat ia membutuhkannya. Ia ingat dua peristiwa pada masa lalunya. Ia sedang sakit bapil, dan terbaring di atas kasur. Bahkan untuk turun dari kasur, ia kesulitan, karena vertigo. Alessia menghindarinya bahkan tidak menjenguknya. Kakaknya itu takut tertular sakit batuk pilek. Tetapi selama ini ia selalu berusaha mengerti dan memakluminya. Padahal ketika Alessia sakit, ia yang merawatnya. Ia tidak pernah menjauhi Alessia seperti menjauhi orang yang sakit kusta, yang dilakukan kakaknya. Tetapi kakaknya itu pandai memutar balikkan fakta. Dan selama ini ia hanya menahannya.
Ara hendak membalas ketika sebuah pesan baru muncul.
##Kalau kau ingin tahu kenapa aku pergi hari itu, datang menemuiku.##
Ara menyipitkan mata. Disusul pesan berikutnya.
##Jangan bawa Dante.##
Lagi-lagi pesan untuk menemuinya datang. Juga pesan untuk tidak memberitahu Dante.
Sepertinya Alessia tidak benar-benar ingin menemui adiknya. Apa yang dilakukan kakaknya saat ini jauh lebih mirip seseorang yang sedang memancing. Perempuan itu sengaja memberikan sedikit informasi, menyembunyikan bagian terpenting, lalu membuat Ara datang untuk mendapatkan sisanya.
Ara mengetik.
##Aku mungkin sulit menemuimu.##
Balasan datang cepat. ##Kenapa? Apa karena Dante??##
##Tidak bisa kukatakan.## ketik Ara singkat.
##Kudengar Dante sangat memanjakanmu?## Meski tanpa emoticon, Ara menangkap kecemburuan dalam pesan Alessia yang baru masuk itu.
Ara memilih tidak menanggapi pesan itu.
##Jika kau ingin mengatakan sesuatu padaku, katakan saja lewat pesan##
##Tidak. Ada hal yang tidak bisa kukatakan lewat pesan.##
Ara mengetik lagi. Ia terlalu tidak sabar menghadapi kakaknya yang bertele-tele.
##Apa sebenarnya yang kau butuhkan dariku?##
Kali ini, Alessia tidak menjawab pertanyaan itu. Sebaliknya—
##Kau berubah sejak menikah dengannya.##
##Dante sudah membuatmu melupakan keluargamu.##
Ara menatap layar. "Tepat seperti dugaannya."
Alessia sedang mencoba menanamkan dua pikiran di kepalanya. 'Pertama, Dante adalah alasan Ara menjauh dari keluarga. Kedua, jika Ara masih peduli pada keluarga, Ara tidak akan keberatan datang menemui Alessia.
Ara mengetik perlahan.
##Kalau kau hanya ingin bertemu sebagai kakakku, kenapa Dante tidak boleh tahu?##
Kali ini, Alessia tidak langsung menjawab.
##Karena aku tahu, Dante tidak akan membiarkanmu datang.##
Jari Ara berhenti. Ia membaca kalimat itu dua kali. Sejujurnya beberapa hari terakhir ini, ia bertanya-tanya apakah Alessia ini termasuk tipe red flag. Karena kakaknya ini jelas tahu Dante suaminya, tapi sengaja menjatuhkan dan memberi kesan memperburuk. Terlebih kakaknya tipe manipulatif. Sekalipun ayah ibunya mengatakan yang sebaliknya. Kata mereka, Alessia tipe yang bertanggung jawab dan bisa diandalkan. Tetapi masalahnya apa yang Ara lihat berbeda dari apa yang dilihat oleh kedua orangtuanya.
Pesan kembali masuk membuyarkan lamunan Ara.
##Kau akan datang?##
##Masih kupikirkan.##
##Ingat! Jangan beritahu Dante! Jika kau masih ingin tahu kebenarannya##
##Maksudmu Dante ada hubungan dengan kepergianmu##
##Kau akan tahu saat kau datang menemuiku##
Sebuah lokasi dikirimkan. ##Temui aku di tempat ini##
Ara menatap layar selama beberapa saat. Alessia mungkin berharap sedikit provokasi bakal bisa menarik Ara nekad keluar menemuinya. Tetapi kakaknya tidak pernah tahu jika Dante membatasi pergerakannya. Ara tidak bisa keluar dari mansion sesuka hati. Itu kenyataan yang tidak bisa diubah.
Ara melihat lagi lebih detail lokasi yang dikirimkan. Tempat itu cukup jauh dari mansion.
##Apakah kau takut Dante tahu?##
##Ara suamimu itu mafia. Ia manusia berdarah dingin. Apa kau pikir jika ia tahu ia akan mengampuniku?##
Balasan cepat itu membuat Ara kembali berpikir. Apakah masalah ini benar-benar ada hubungan dengan Dante? Atau kakaknya sebenarnya hanya sedang mengarang cerita supaya tidak melibatkan Dante? Bahkan ketika Ara bertanya apa yang Alessia inginkan, Alessia menyerang hubungannya dengan Dante.
Ara bersandar perlahan ke bantalan sofa.
Tampaknya Alessia bukan sedang menunggu Ara. Ia seperti orang yang sedang terdesak. Ia hanya mau membuat Ara bergerak. Jika benar kesimpulannya, maka kakaknya itu mungkin membutuhkan sesuatu yang hanya bisa didapatkan jika Ara datang.
Ara menaruh ponsel di pangkuannya. Pesan baru masuk. Ia membuka dan membacanya.
##Besok. Kalau kau tidak datang, seseorang akan membayar harganya.##
Senyum Ara menghilang. Tatapannya mengeras. Ia membaca pesan itu sekali lagi. Apakah Alessia sedang mengancam nya?Mungkinkah ia sedang menahan seseorang.
Ara menggenggam ponselnya lebih erat. Ia mengirim balasan.
##Siapa?##
Layar tetap tak bergeming.
Di luar kamar, terdengar langkah kaki seseorang melewati koridor. Ara mengangkat kepala. Wajahnya berubah lebih serius.
Alessia akhirnya menunjukkan kartu trufnya. Hanya saja—Ara belum tahu siapa yang menjadi taruhan dalam permainan kakaknya kali ini.
***