Alexander Wijaya hanyalah pengacara magang berpenghasilan pas-pasan, menanggung uang kos dan biaya kuliah adiknya sendirian — sampai malam ia dipermalukan habis-habisan oleh mantan kekasihnya, Priscilla Salim, di depan umum. Amarah dan keterhinaan itu justru membangunkan Sistem Pengacara Terkuat: panel status rahasia, kemampuan membaca pikiran, dan analisis bukti secepat kilat yang hanya bisa dilihat olehnya sendiri.
Sejak saat itu, setiap lawan yang meremehkannya berakhir mati sosial di ruang sidang. Namun di balik kebangkitannya, tersimpan luka lama: kematian ayahnya 27 tahun silam yang penuh kejanggalan, dan sebilah golok berdarah warisan keluarga yang menyimpan rahasia kelam.
Ketika seorang profesor dijatuhi vonis mati atas tuduhan yang tidak pernah ia lakukan, dan waktu eksekusi tinggal menghitung hari, Alexander harus membuktikan satu hal yang bisa mengubah segalanya — bahwa keadilan yang tak terlihat, lebih berharga untuk diperjuangkan daripada nyawanya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galaxy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
Kevin Tanuwijaya menemukan alamat itu pukul 16.40.
"Namanya Bapak Surya Mahendra," katanya, menaruh satu lembar fotokopi kartu investor lama di meja. "Dia investor pertama yang memberi Aeon akses ke arsip riset tua. Sudah pensiun. Tinggal di rumah kontrakan lama dekat Pasar Timur."
Alexander membaca alamatnya sekali.
"Dia mau bertemu?"
"Tidak."
"Bagus. Berarti dia tahu sesuatu."
Kevin menatapnya. "Itu cara berpikir pengacara?"
"Itu cara berpikir orang yang sudah terlalu sering melihat saksi takut sebelum ditanya."
Mereka pergi sebelum hari gelap.
Rumah Surya Mahendra berada di gang sempit di belakang Pasar Timur. Pintu kayunya sudah kusam, pagar besinya berkarat di bagian bawah, dan lampu teras menyala meski matahari belum sepenuhnya hilang.
Surya membuka pintu hanya selebar wajah.
"Saya sudah bilang lewat telepon, saya tidak mau terlibat."
Alexander tidak memaksa masuk.
"Kami tidak meminta Bapak terlibat dalam perkara yang bukan urusan Bapak. Kami hanya perlu memastikan asal-usul arsip yang pernah Bapak berikan kepada PT Aeon Robotika."
"Saya lupa."
"Bapak belum mendengar arsip mana."
Surya terdiam.
Kevin hampir bicara, tetapi Alexander mengangkat tangan kecil.
"Bapak Surya," kata Alexander, "kalau arsip itu tidak bermasalah, Bapak cukup menjawab sumbernya. Kalau bermasalah, diam Bapak justru membuat orang lain menentukan ceritanya."
Mata Surya bergerak ke ujung gang, seolah memastikan tidak ada orang mengikuti.
"Masuk lima menit."
Ruang tamunya sempit dan penuh kardus buku. Di dinding ada foto lama Surya muda memakai jas laboratorium di depan rak server. Di sudut foto, ada logo yang sudah pudar.
Institut Riset Nasional.
Alexander tidak langsung menunjuknya.
Ia duduk, mengeluarkan salinan laporan teknis bercap IRN, lalu meletakkannya di meja.
"Bapak pernah memberikan salinan laporan ini kepada investor Aeon?"
Surya tidak menyentuh kertas.
"Itu laporan umum."
"Umum untuk siapa?"
"Untuk orang yang pernah bekerja di sana."
"Di IRN?"
Wajah Surya menegang.
Kevin menatap Alexander, lalu Surya.
"Pak, ini hanya arsip teknis lama," kata Kevin. "Kenapa semua orang langsung takut begitu mendengar IRN?"
Surya menutup mata.
"Karena ada arsip yang tidak membunuh orang saat dibuat, tetapi membunuh orang saat dibuka lagi."
Ruangan menjadi sunyi.
Alexander mencondongkan badan sedikit.
"Bapak mengenal server riset eksternal yang dipakai menyimpan laporan ini?"
"Dulu beberapa proyek IRN memakai server cadangan di luar gedung utama. Alasannya keamanan data, katanya. Tapi sebenarnya supaya beberapa orang bisa mengontrol siapa yang melihat apa."
"Proyek apa?"
Surya menggeleng.
"Saya hanya staf teknis kontrak."
"Bapak ada di foto memakai jas laboratorium."
"Jas laboratorium tidak selalu berarti ilmuwan. Kadang hanya berarti orang yang disuruh memasang kabel."
Alexander membuka catatan Bab 32. Ia tidak menunjukkan Dadu IP, hanya log arsip lama yang sudah dicetak.
"Di log ini tertulis pengelola lama: B. Kusnadi."
Surya langsung berdiri.
Kevin ikut berdiri karena kaget.
Alexander tetap duduk.
"Bapak mengenal nama itu."
"Saya tidak mengenal siapa-siapa."
"Bapak baru saja menjawab sebelum saya bertanya."
Surya menggenggam sandaran kursi.
Tangannya bergetar.
Alexander menurunkan suara.
"Bapak tidak sedang diperiksa polisi. Saya advokat. Informasi dari Bapak akan saya perlakukan sesuai kewajiban kerahasiaan profesi. Kalau kelak perlu dipakai, bentuknya harus sah dan atas persetujuan yang benar."
Surya menatapnya lama.
"Advokat muda sekarang mudah sekali bicara soal perlindungan."
"Saya tidak bilang perlindungan itu mudah. Saya bilang saya tidak akan mengorbankan Bapak untuk jalan pintas."
Kalimat itu membuat mata Surya berubah.
Ia duduk kembali perlahan.
"B. Kusnadi dulu bukan nama kecil."
Jantung Alexander memukul tulang rusuknya.
"Nama lengkap?"
"Jangan minta saya menyebutnya malam ini."
"Baik."
Kevin terlihat tidak sabar, tetapi kali ini ia menahan diri.
Surya menunjuk laporan teknis.
"Server itu dulu dipakai untuk proyek alat pemindai gelombang otak. Jauh dari robot gudang atau paten komersial perusahaan temanmu. Proyek itu besar, terlalu besar untuk orang-orang muda yang percaya ilmu bisa menyelamatkan manusia."
Alexander merasakan lencana Herman Wijaya di saku jasnya seperti menjadi lebih berat.
"Siapa peneliti utamanya?"
"Ada beberapa."
"Salah satunya?"
Surya memandang meja.
"Salah satunya menghilang dua puluh tujuh tahun lalu."
Kevin menghirup napas tajam.
Alexander tidak berkedip.
"Menghilang bagaimana?"
"Resminya, dia dituduh memalsukan data riset. Namanya dibersihkan dari banyak catatan. Orang-orang yang pernah bekerja dengannya diminta melupakan. Beberapa dipindahkan. Beberapa diam. Beberapa seperti saya memilih hidup kecil."
"Dia mati?"
Surya menatap Alexander.
"Saya tidak melihat jenazahnya."
Jawaban itu lebih buruk daripada ya.
Alexander menelan rasa dingin di tenggorokannya.
"Apakah namanya Herman Wijaya?"
Surya menutup mata.
Terlalu lama.
Lalu ia berkata, "Saya bilang jangan minta saya menyebut nama malam ini."
Itu bukan penolakan.
Itu ketakutan yang memakai bentuk lain.
Alexander memasukkan salinan laporan kembali ke map.
"Kami tidak akan menulis nama Bapak dalam perkara Aeon tanpa persetujuan. Untuk kasus paten, kami cukup menelusuri asal server dan meminta audit resmi. Untuk urusan IRN, saya akan kembali jika Bapak siap bicara dengan cara yang aman."
Surya tertawa pendek, lelah.
"Cara aman untuk melawan masa lalu? Anak muda, kalau ada, kami semua sudah memakainya dulu."
Alexander berdiri.
"Mungkin dulu belum ada orang yang cukup keras kepala."
Surya menatap wajahnya.
Untuk sepersekian detik, wajah tua itu seperti melihat orang lain di balik Alexander.
"Kau anak siapa?"
Kevin langsung menoleh.
Alexander tidak menjawab cepat.
"Herman Wijaya."
Surya memegang meja.
Lampu teras di luar berkedip sekali.
"Pergi," bisiknya.
"Pak Surya..."
"Pergi sekarang. Dan kalau kau masih sayang ibumu, jangan datang ke sini tanpa rencana yang lebih kuat."
Alexander ingin menekan, tetapi suara Herlina dari makam seperti kembali:
Ketika kamu tidak hanya punya keberanian, tapi juga kekuatan.
Ia mengangguk.
"Terima kasih, Pak."
Di luar gang, Kevin baru berani bicara setelah mereka cukup jauh.
"Lex, ayahmu..."
"Jangan dulu."
"Tapi itu jelas..."
"Belum jelas secara hukum."
Kevin berhenti.
Alexander menatap map di tangannya.
"Dan kalau saya salah langkah, bukan cuma kasusmu yang rusak."
Malam itu, setelah Kevin pulang, Alexander duduk sendirian di kontrakan baru. Herlina dan Nathan sudah tidur. Amplop IRN-27/YP berada di meja kecil, belum dibuka lebih jauh.
Ia mengambil lencana Herman Wijaya dari saku.
Logam kuning tua itu menekan telapak tangannya seperti denyut nyeri yang tidak punya suara.
Alat pemindai gelombang otak.
Peneliti utama.
Dituduh memalsukan data.
Dua puluh tujuh tahun.
IRN.
Alexander menatap amplop tua itu.
Pertanyaan yang dulu masih samar kini berdiri tepat di depannya.
"Ayah," bisiknya, "apa sebenarnya yang mereka lakukan padamu?"