Di usianya yang menginjak 40 tahun, Alena—seorang wanita yang kerap dijuluki perawan tua—terpaksa menuruti permintaan orang tuanya untuk menghadiri sebuah acara perjodohan di rumah makan. Berdasarkan foto yang ia terima, ia dijadwalkan bertemu dengan seorang pria bernama Ferry yang berusia 45 tahun.
Setelah menunggu begitu lama hingga berniat pulang, Alena akhirnya dihampiri oleh seorang lelaki tampan. Namun, kejutan besar menanti ketika pria tersebut memperkenalkan diri bukan sebagai Ferry, melainkan Baskara, anak kandung mendiang Ferry yang baru saja berpulang.
Demi memenuhi wasiat terakhir sang ayah, Baskara dengan tegas meminta Alena untuk meneruskan pernikahan tersebut. Meski sempat ragu dan berniat menolak akibat perbedaan usia yang terpaut jauh, keteguhan hati Baskara membuat Alena dihadapkan pada pilihan tak terduga dalam hidupnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Mobil mewah Baskara berhenti tepat di depan teras megah kediaman keluarga Baskara.
Begitu pintu mobil terbuka dan Alena melangkah keluar, atmosfer di sekitar rumah itu berubah drastis.
Bukan hangatnya penyambutan yang terasa, melainkan dinginnya udara yang menusuk tulang, seolah kedatangan mereka adalah sebuah bencana.
Alena tampil begitu memukau dalam balutan gaun hitam sutra yang ia beli tadi.
Namun, keanggunan itu justru seperti bahan bakar yang menyulut api kebencian di mata orang-orang yang telah menunggu di dalam sana.
Saat mereka melangkah masuk ke ruang keluarga yang luas, Baskara menggenggam tangan Alena erat, memberikan perlindungan mutlak bagi istrinya.
Di sana, Mama Baskara duduk di sofa utama, diapit oleh Yanuar dan Arum, kedua adik tirinya yang sejak lama mengincar posisi Baskara.
"Mama, Yanuar, Arum. Kenalkan, ini Alena, istriku," ujar Baskara dengan nada tegas dan dingin, sama sekali tidak memberi ruang bagi bantahan.
Ruangan itu hening sesaat, sebelum akhirnya tawa pecah dengan begitu nyaring dan menghina.
"Kak... kakak tidak sedang melawak, kan?" Yanuar tertawa terbahak-bahak hingga memegangi perutnya.
"Ini wanita yang kamu pilih? Kupikir kakak punya selera berkelas, ternyata selera kakak hanya sebatas wanita keriput yang bahkan lebih pantas jadi pengasuh kita daripada istri!"
Arum ikut menimpali dengan seringai keji. "Lihatlah garis-garis halus di wajahnya itu, Kak. Apa Kakak Baskara kekurangan wanita muda di luar sana sampai harus memungut sisa-sisa di pasar?"
Alena merasakan dadanya sesak, namun Baskara tidak membiarkannya mundur selangkah pun.
Baskara sudah hendak membuka suara untuk membungkam mereka, ketika Mama Baskara mengangkat tangannya, menghentikan percakapan dengan tatapan angkuh.
"Cukup," ucap sang Ibu dengan nada yang tenang namun lebih tajam daripada belati.
"Baskara, kamu bebas membawa siapa pun ke rumah ini, tapi jangan harap kami akan mengakuinya sebagai bagian dari keluarga kita."
Mama Baskara kemudian menoleh ke arah tangga, lalu berteriak memanggil seseorang dengan nada yang sengaja dibuat lembut dan manis, berbanding terbalik dengan tatapannya pada Alena.
"Areta, sayang, kemarilah."
Seorang wanita muda muncul dari balik bayangan tangga.
Areta berjalan dengan anggun, mengenakan gaun sutra berwarna champagne yang menonjolkan kecantikan alaminya yang segar dan usia yang jauh lebih muda dari Alena.
Ia adalah wanita pilihan sang Mama, seseorang yang selama ini dipersiapkan untuk mendampingi Baskara—atau setidaknya, untuk merebut posisinya dari tangan Alena.
Areta tersenyum tipis ke arah Baskara, lalu menatap Alena dari ujung kepala sampai kaki dengan sorot mata yang merendahkan.
"Jadi... ini wanita yang selama ini membuat Kak Baskara kehilangan akal sehatnya?"
Cengkeraman tangan Baskara di pinggang Alena semakin menguat.
Pria itu melangkah maju satu langkah, menempatkan tubuhnya seolah menjadi perisai hidup bagi istrinya.
Suhu di ruang keluarga itu mendadak anjlok, berubah begitu dingin hingga membuat siapa pun yang mendengarnya merinding.
"Jaga mulut kalian," desis Baskara tajam, matanya menatap satu per satu anggota keluarganya dengan sorot membunuh.
"Aku tidak peduli dengan apa yang kalian inginkan atau siapa yang kalian bawa ke rumah ini. Alena adalah istri sahku. Status itu tidak akan pernah berubah, sekecil apa pun usaha kalian untuk merusaknya."
"Bas! Sadarlah!" bentak Arum histeris, tak terima dengan sikap keras kakaknya.
"Wanita tua ini cuma pembawa sial! Dia tidak selevel dengan keluarga kita! Kalau berita ini sampai tersebar ke para relasi bisnis, hancur sudah reputasi keluarga kita!"
Yanuar mengangguk setuju, mencoba memprovokasi suasana.
"Benar, Kak! Batalkan pernikahan konyol ini sekarang juga, atau kami akan pastikan posisimu di dewan direksi diguncang habis-habisan!"
Tekanan bertubi-tubi itu mulai menghujam mental siapa saja.
Alena, yang sejak tadi berusaha mempertahankan ketenangannya, merasakan rongga dadanya sesak.
Beban psikologis dari cercaan keluarga kaya raya ini begitu nyata.
Namun, alih-alih menangis atau bersembunyi di belakang punggung suaminya, Alena menarik napas dalam-dalam.
Ia menegakkan punggungnya, menatap lurus ke arah Mama Baskara dan kedua adik iparnya dengan sorot mata tenang yang memancarkan kedewasaan mutlak—sebuah ketenangan yang justru membuat orang-orang remeh di hadapannya merasa ciut sesaat.
Melihat istrinya mulai tertekan, emosi Baskara mencapai puncaknya.
Sebelum ada yang sempat melontarkan hinaan lain, Baskara bersuara dengan lantang, memecah ketegangan.
"Alena adalah pilihan mendiang Ayah, Ferry! Dan itu pasti menjadi pilihan Ayah yang terbaik untukku!" tegas Baskara tanpa keraguan sedikit pun.
Mendengar nama mendiang ayah tirinya disebut, mata Mama Baskara langsung membelalak lebar.
Kebencian yang selama ini dipendamnya terhadap mantan suaminya itu langsung tumpah ruah ke permukaan.
Wajah wanita paruh baya itu memerah padam karena murka.
"Bas!" teriak Mama Baskara sambil menggebrak meja di hadapannya.
"Lelaki tua bangka itu sudah mencuci otakmu! Bahkan setelah mati pun, bajingan itu masih berusaha menghancurkan hidup keluarga kita dengan meninggalkan wanita tidak tahu malu ini!"
Suasana di ruangan itu langsung teredam dalam kesunyian yang mencekam.
Alena tersentak mendengar betapa kasarnya Mama Baskara menghina mendiang pria yang telah menyelamatkan hidupnya dan mewariskan kebaikan pada putranya.
Baskara menatap sang ibu dengan sorot mata penuh kekecewaan mendalam, siap melontarkan kalimat balasan yang jauh lebih menghancurkan untuk membela kehormatan ayah dan istrinya sekaligus.
Suara decitan pintu utama ruang tamu yang terbuka lebar memecah keheningan yang menegangkan.
Semua pasang mata di ruangan itu beralih ke arah pintu, tempat seorang pria melangkah masuk dengan setelan jas mahal dan senyum angkuh yang terpatri di bibirnya—Billy.
Alena yang melihat sosok itu langsung mematung.
Napasnya tercekat. Dunia seakan berhenti berputar ketika ia menyadari kenyataan pahit yang baru saja tersingkap: mantan kekasih yang telah mengkhianati dan menghinanya di toko roti tadi pagi ternyata adalah darah daging dari keluarga suaminya sendiri. Billy adalah sepupu Baskara.
Billy, yang wajahnya masih menyisakan sedikit kemerahan akibat insiden lemparan gula halus di toko roti, langsung menangkap basah kehadiran Alena di tengah-tengah keluarga besar Baskara.
Seringai licik seketika terkembang di bibirnya. Ini adalah kesempatan emas untuk membalas dendam sekaligus menjatuhkan martabat wanita yang pernah ia buang.
Melihat kekacauan yang semakin di luar batas, pertahanan Alena akhirnya runtuh.
Air mata yang sejak tadi mati-matian ia tahan di pelupuk matanya akhirnya tumpah juga membasahi pipinya.
Ia menarik pelan lengan jas Baskara dengan tangan yang bergetar hebat.
"Bas... aku pulang saja. Aku tidak diterima di sini," bisik Alena parau, suaranya sarat akan luka dan keputusasaan.
Billy memanfaatkan momen itu dengan menyela keras, sengaja mengeraskan suaranya agar didengar oleh seluruh anggota keluarga yang hadir.
"Dia mantan kekasihku yang sudah aku buang di tempat sampah, Bas!" teriak Billy lantang tanpa rasa malu, menunjuk Alena dengan tatapan menghina.
"Dan bodohnya, kamu malah memungut sampah itu untuk dijadikan istrimu?"
Bugh!
Satu suara hantaman keras menggema di seluruh sudut ruangan.
Tanpa aba-aba, tanpa peringatan, dan dengan kecepatan yang membuat siapa pun tidak sempat bernapas, Baskara melayangkan tinju kerasnya tepat ke rahang Billy.
Pukulan telak itu membuat Billy kehilangan keseimbangan, terhuyung mundur, dan tersungkur jatuh menimpa meja hias di dekatnya hingga vas bunga pecah berkeping-keping.
Sudut bibir Billy langsung berdarah, sementara ia meringis kesakitan sambil memegangi rahangnya yang nyaris copot.
Mama Baskara, Arum, Yanuar, dan Areta menjerit kaget melihat tindakan brutal tersebut.
"Baskara! Apa yang kamu lakukan pada sepupumu sendiri?!" bentak Mama Baskara histeris, sementara Yanuar dan Arum segera maju membantu Billy berdiri.
Baskara sama sekali tidak bergeming. Ia melangkah maju, berdiri kokoh di antara Alena yang sedang menangis dan Billy yang terkulai lemah.
Aura membunuh yang terpancar dari tubuh Baskara begitu pekat hingga membuat seisi ruangan merinding ketakutan.
Tatapannya menajam bagai silet, mengunci setiap orang yang berani menuntut pengusiran terhadap istrinya.
Keluarga Baskara berteriak ricuh, menuntut agar Alena segera diusir dari rumah itu karena dianggap membawa malapetaka.
Di sisi lain, Billy menyeringai puas dari balik punggung Yanuar, merasa sukses menjebak Baskara dalam jurang kehancuran keluarganya sendiri.
Kini, di bawah sorot mata penuh kebencian dari darah dagingnya sendiri, Baskara dihadapkan pada pilihan mutlak: melangkah mundur dan membiarkan istrinya diinjak-injak demi menjaga keutuhan semu keluarganya, atau berdiri membela Alena dengan risiko memicu perang terbuka yang siap menghancurkan seluruh hidupnya.
kayaknya sih gt,apa lagi usia mereka yg beda jauh dan pernikahan yg hanya di kalangan keluarga aja,duh Alena kasihan km,bagus kamu mati aja lah😭😭😭😭😭,tp lok iya gt ceritanya AQ ud baca yg mirip2 sih Thor...jadi bsk2 lagi AQ gak mau lah bacanya,soalnya buat asam lambung q bs naik Thor...gak rela lok perempuan tu di buat seperti itu😭😭😭😭