" Aku siap menikahimu kapanpun kau mau.. " Andrian berteriak kepada gadis yang berjalan menjauhinya.
" Tapi aku yang sekarang tidak mau.. Kakak terlalu dingin untuk gadis sepertiku. "
Indah, gadis ceria yang manja dan cerewet dihadapkan dengan perjodohan oleh ayahnya dengan anak dari salah satu sahabatnya sedari kecil. Pria dingin yang Indah sebut manusia kulkas satu pintu yang menjabat sebagai CEO di perusahaan perdagangan terbesar se-Asia. Bukan hanya kaya, dia juga pria tampan idaman kaum hawa.
Tapi akan seperti apakah kisah cinta mereka berdua ?? Bisakah dua pribadi yang berbeda itu bersatu dalam ikatan suci pernikahan ?? Mampukah Indah bertahan dengan sifat Andrian ??
Akankah masalalu yang membuat Andrian tidak lagi mengencani wanita akan muncul lagi di kehidupannya setelah berumah tangga dengan Indah?
Ikutin terus cerita Andrian dan Indah yang akan semakin seru untuk disimak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virgoanz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Runtuhnya Hati Indah
Tuhan mengetuk hati umatnya dengan banyak cara. Dengan banyak cara pula Tuhan meruntuhkan kerasnya hati Indah untuk menikah dengan Andrian.
Weekend yang biasanya Indah habiskan dengan jalan bersama teman-temannya atau mengganggu Andrian yang pasti akan tidur seharian jika dia tidak merengek untuk jalan. Berbeda kali ini, dia yang bangun kesiangan akhirnya terjebak dengan bundanya yang mengadakan arisan dengan teman sosialitanya di rumah.
Hampir semua teman-teman bunda membawa cucu mereka. Rata-rata berumur lima hingga sepuluh tahun. Mereka terlihat akrab bermain bersama. Mungkin karena mereka sering diajak setiap bulan jika nenek mereka arisan, sehingga mereka saling mengenal dan menjadi dekat.
Hanya Bunda Anita dan beberapa ibu yang tidak membawa anak kecil. Sebenarnya bukan salah Indah juga sih kenapa bundanya belum memiliki cucu. Karena memang bunda dan ayahnya setelah sepuluh tahun pernikahan baru Indah hadir. Jadi wajar jika teman-teman bunda sudah punya cucu, karena pasti anak mereka juga usianya diatas Indah.
Tapi tetap saja. Melihat tatapan mata bunda yang terintimidasi dengan teman-temannya membuat Indah merasa kasihan juga.
"Kapan nih jeng Anita punya cucu juga seperti kami. Rumah pasti tambah rame dengan hadirnya cucu jeng. Memang jeng Anita tidak ingin seperti kita-kita yang selalu membawa cucu?" Indah dapat melihat bundanya tersenyum dengan terpaksa.
"Saya terserah Indah saja. Kapanpun dia siap menikah, saya tidak akan memaksanya. Yang penting Indah bahagia itu sudah cukup untuk saya." Indah terharu mendengar jawaban bunda. Jika ibu yang lain pasti akan memojokkannya selagi banyak yang membela. Tapi lihat bundanya itu, tidak pernah memaksakan kehendak kepadanya. Selalu mementingkan kebahagiaan Indah.
Sekarang Indah tau kenapa setiap pulang arisan, bunda bukannya senang sehabis bertemu teman-temannya malah terlihat murung. Mungkin juga setiap arisan bunda selalu terpojokkan karena belum memiliki cucu.
"Mau Indah pinjemin Tiara buat bunda bawa setiap arisan?" bisik Indah di telinga sang bunda. Membuat wanita paruh baya itu terkekeh.
"Kamu tuh ada-ada saja." membelai lembut rambut anaknya.
"Biar bunda gak ditindas terus!"
"Mereka tidak menindas bunda. Mereka hanya menunjukkan betapa bahagianya mereka dengan kehadiran cucu pada keluarga mereka." bela sang bunda.
"Ah bunda mah gak seru! Terlalu baik sama mereka. Jelas-jelas mereka lagi pamer ke bunda!" masih dengan berbisik, tidak ingin ada yang mendengarnya.
"Memangnya nak Indah belum ingin menikah?" pertanyaan salah satu teman bunda Anita membuat Indah yang sedang berbisik kepada bundanya menoleh ke sumber suara.
"Sebentar lagi tante. Doakan saja." jawab Indah dengan senyum manisnya.
"Oh ya? Kata bundamu, kamu belum mau menikah?" teman bundanya itu terlihat kaget. Begitu juga bunda Anita yang disebelahnya. Bunda tidak menyangka Indah akan menjawab seperti itu. Bukannya tidak suka, hanya saja jika Indah tidak sungguh-sungguh dengan perkataanya, bunda akan malu menghadapi teman-temannya.
Tapi Indah menanggapi semua pertanyaan yang dilontarkan teman-teman bundanya dengan santai.
"Nanti kalau sudah dekat pasti undangannya sampai ke rumah tante semua."
"Kita ikut senang mendengarnya. Semoga berjalan lancar ya sayang." Doa yang terdengar tulus dari salah satu teman bunda Anita yang di aminkan lainnya. Hanya ada satu yang terlihat tidak suka. Orang yang sama yang selalu pamer cucu kepada bunda Anita setiap kali arisan. Padahal ada beberapa ibu lagi yang juga belum memiliki cucu. Tapi entah kenapa hanya bunda Anita yang menjadi sasaran.
***
Menjelang sore acara arisan sudah selesai, dan tamu juga sudah pulang semua.
"Sayang. Kamu tau kan dengan apa yang kamu sampaikan tadi kepada teman-teman bunda?" tanya bunda lembut.
"Tau kok bun. Bunda tenang aja." Indah menjawab dengan sibuk memakan cemilan didepam televisi.
"Akan menikah bukan berarti besok kan.." imbuhnya sembari tersenyum menunjukan giginya yang putih rapi.
"Ya ampun Indaaahhhh kamu tuh. Mau ditaruh dimana muka bunda??!!" seru bunda Anita. Membuat ayah Gilang yang berada di ruang kerja sampai keluar menghampiri anak dan istrinya.
"Kenapa ini, sampai anak kesayangan ayah dimarahin?" memeluk bahu istrinya yang sedang memijit pelipisnya menghadapi anak semata wayangnya.
"Anakmu tuh yah. Bilangnya sebentar lagi nikah. Bilang kalau sebentar lagi teman-teman bunda dapet undangannya. Tapi anakmu cuma ngomong doang. Mau ditaruh dimana muka bunda. Kalau begini bunda nggak mau ikut arisan lagi!!" rajuk Bunda Anita.
"Bagus itu kalau tidak ikut arisan. Jadi ayah pengeluarannya berkurang." goda ayah Gilang membuat Indah tertawa dan semakin membuat wanita paruh baya itu cemberut.
"Bunda tenang aja.." Indah mendekat dan ikut memeluk bundanya dari samping.
"Indah akan terima lamaran kak Rian. Suruh aja mereka datang kemari buat melamar Indah dengan benar." imbuh Indah dengan serius.
"Kamu yakin sayang?" mata ayah dan bundanya berbinar bahagia.
"Ya mau di tunda sampai kapan juga tetep aja kan kalian jodohin Indah. Jadi ya udah secepatnya saja."
"Oke kalau begitu. Ayah akan telefon papi mertua kamu buat membicarakan masalah ini." Ayah Gilang dengan semangat menuju ruang kerjanya mengambil ponsel untuk menghubungi Alex Dawson.
"Tapi inget ayah!! Suruh kak Rian buat perlakuin Indah dengan baik setelah menikah!!" teriak Indah saat ayahnya mulai menjauh. Dijawab acungan jempol oleh pria yang sudah menjaganya sampai sebesar ini.
"Tapi kamu sudah yakin kan sayang buat menikah dengan Andrian?" tanya Bunda Anita memastikan. Dia tidak ingin putrinya menyesal atau tidak bahagia karena merasa terpaksa.
"Bunda yakin gak sama Kak Rian? yakin gak dia bisa menjaga dan bahagiain Indah?" Indah menjawab pertanyaan bundanya dengan pertanyaan.
"Bunda sudah mengenal Andrian dari kamu belum lahir. Bunda tau dia anak yang baik. Dan bunda percaya kalau Andrian bisa menjaga dan membahagiakan kamu." Bunda memeluk Indah dengan sayang. Setitik air mengalir diujung matanya. Ada rasa bahagia anaknya akan segera menikah. Tapi ada rasa tidak rela karena itu berarti anaknya akan menjadi milik orang lain dan akan meninggalkannya dan sang suami.
"Kenapa bunda menangis?" tanya Indah saat tidak sengaja air mata bunda Anita jatuh mengenai pundaknya.
"Bunda bukan menangis. Bunda hanya bahagia sayang. Bunda tidak menyangka anak bunda yang nakal ini sebentar lagi akan berumah tangga." Indah tersenyum dan semakin memeluk bundanya erat.
"Kamu harus menjadi istri yang baik untuk suamimu. Layani dia dengan baik. Jangan sampai dia mencari pelayanan dari wanita di luar sana. Ini pernikahan sakral dan membawa nama Tuhan di dalamnya. Jadi jangan pernah bermain - main dengan pernikahan. Layani suamimu urusan perut dan hasratnya. Bunda menantikan cucu yang lucu dari kamu." Indah terkekeh. Belum juga lamaran sudah meminta cucu saja.
"Dan sering-sering kunjungin bunda disini. Karena bunda pasti akan sangat merindukan suara berisik kamu." suara bunda yang bergetar menahan isakannya membuat Indah juga meneteskan air mata. Indah juga enggan untuk berpisah dari orang tuanya. Tapi dia sadar, setelah menikah nanti Andrianlah pemiliknya.
Ayah Gilang yang tidak jauh dari mereka ikut menitikan air mata. Sama dengan istrinya, dia juga berat jika Indah meninggalkan dirinya. Karena rasa sayang keduanya yang begitu besar untuk seorang Indah Sofia Renjana.
*
*
*
pertama baca ini dulu lanjut ke novel mamanya
sudah ta vote thor
trus ke demi dia
n terdampar di sini karena suka karakter indah di demi dia
usul bagaimana kalau Authornya kasih tahu urutan produksi novelnya... supaya fansnya bisa runut ngikutinnya.... heheheh just usul