Judul: My alter ego
Kehilangan orang tua, pengkhianatan suami, dan terjebak di kantor yang toksik membuat hidup Hira Lione hancur dalam semalam. Namun, saat keputusasaan mencapai puncaknya, sebuah suara misterius muncul di dalam kepalanya.
Demi membalas dendam, Hira membuat kesepakatan berbahaya: menyerahkan kendali tubuhnya pada sosok alter ego yang dingin dan kejam. Hira yang rapuh kini telah tiada, digantikan oleh predator yang siap meruntuhkan hidup siapa pun yang pernah menginjak-injak harga dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FantasiKuyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Kunci Emas Sang Ratu
Permukaan kartu akses berwarna emas itu terasa dingin di telapak tangan Hira.
Jarinya mengusap pelan logo perusahaan yang tercetak timbul di bagian tengah kartu. Benda sekecil ini adalah simbol kekuasaan mutlak di gedung ini. Benda yang selama bertahun-tahun digunakan Anita untuk menginjak-injak siapa saja yang menghalangi jalannya.
Dan sekarang, benda itu berada di tangannya.
Anita masih berdiri mematung di depannya. Tangan direktur wanita itu masih menggantung di udara, seolah enggan melepaskan sisa-sisa otoritasnya. Matanya membelalak menatap Hira.
Hira menurunkan tangannya. Ia mengabaikan tatapan Anita dan menoleh ke arah Teran.
"Ruangan master data ada di lantai dua belas," ucap Teran datar. Pria itu merapikan kancing jasnya dengan satu tangan. "Leo akan mengirimkan PIN override ke ponselmu. Pastikan kamu menemukan sesuatu yang pantas untuk membuang waktuku hari ini, Hira."
"Tentu, Pak Teran," jawab Hira singkat.
Teran tidak membuang waktu lebih lama. Ia membalikkan badan dan berjalan keluar dari divisi pemasaran. Leo segera mengikuti langkah bosnya dari belakang.
Tidak ada satu pun karyawan yang berani mengangkat wajah sampai langkah kaki Teran benar-benar menghilang di balik pintu utama divisi.
Hira memutar tubuhnya. Ia melangkah santai menuju mejanya sendiri, mengambil tas tangannya, lalu menyampirkannya di bahu.
Tanpa melirik ke arah Anita sedikit pun, Hira berjalan menuju pintu keluar divisi.
Sepatu hak tinggi merah marunnya kembali mengetuk lantai. Ketukannya terdengar seperti detak jam yang menghitung mundur kehancuran orang-orang di ruangan itu.
Baru sepuluh langkah Hira keluar dari pintu divisi dan memasuki lorong menuju lift, suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar mengejarnya.
"Hira! Tunggu!"
Hira tidak menghentikan langkahnya. Ia menekan tombol lift untuk naik.
Reza berlari menghampirinya. Napas pria itu tersengal. Kemejanya semakin berantakan dan dasinya sudah melonggar tidak keruan.
Reza mengulurkan tangan, berniat meraih lengan Hira.
Hira menepis tangan itu dengan punggung tangannya. Gerakannya sangat cepat dan keras.
"Jangan sentuh aku," desis Hira tajam.
Reza tersentak mundur. Ia menelan ludah, menatap istrinya dengan pandangan memelas yang menyedihkan.
"Hira, tolong dengarkan aku sebentar. Hanya lima menit," Reza memohon. Suaranya terdengar pecah. "Kamu tidak bisa melakukan ini. Kamu memegang akses master data? Kamu tahu apa yang bisa terjadi kalau kamu mengotak-atik data itu?"
Hira menatap angka digital di atas pintu lift yang bergerak turun.
"Aku tahu persis apa yang bisa terjadi," jawab Hira tanpa menoleh. "Anita akan dipenjara. Dan kau... kau akan memungut sisa-sisa harga dirimu di jalanan."
"Hira, kumohon!" Reza sedikit meninggikan suaranya. Ia melangkah maju, memblokir pandangan Hira dari pintu lift. "Pikirkan pernikahan kita! Pikirkan janjiku pada mendiang ayahmu!"
Mata Hira langsung menatap lurus ke arah Reza.
Di dalam kepalanya, jiwa Hira yang asli menjerit marah mendengar nama ayahnya disebut oleh mulut kotor pria itu.
{Beraninya dia! Beraninya dia membawa nama ayah setelah apa yang dia lakukan!}
Alter ego Hira tersenyum dingin. Ia mengambil alih amarah itu dan meraciknya menjadi senjata yang mematikan.
Hira memajukan wajahnya. Jaraknya hanya sejengkal dari wajah Reza.
"Kau membawa nama ayahku, Reza?" bisik Hira. Nada suaranya sangat pelan, tapi memotong lebih tajam dari pisau. "Pria yang semalam meremas paha bosnya di atas sofa saat istrinya menangisi kepergian orang tuanya... sekarang ingin bicara soal janji pernikahan?"
Bibir Reza bergetar hebat. Tidak ada satu pun kata yang bisa keluar dari tenggorokannya.
"Minggir," perintah Hira mutlak.
Reza menggeser tubuhnya secara refleks. Kakinya terasa lemas.
Pintu lift terbuka. Hira melangkah masuk. Ia berbalik dan menatap Reza yang berdiri kaku di lorong.
"Pulanglah dan kemasi barang-barangmu, Reza. Karena setelah aku selesai di lantai dua belas, jangankan rumah... kau bahkan tidak akan mampu menyewa kamar kos."
Hira menekan tombol penutup pintu.
Pintu besi itu bergerak menutup, memutus pandangan Reza yang menatapnya dengan keputusasaan absolut.
Hira menekan tombol lantai dua belas. Lift bergerak naik tanpa suara.
Ponsel di dalam tasnya bergetar. Hira mengeluarkannya.
[Pesan Masuk: Leo - PIN Akses Override: 884021. Seluruh kamera pengawas di ruang master data telah dimatikan dari pusat. Selamat bekerja, Bu Hira.]
Hira memasukkan ponselnya kembali. Ia tersenyum tipis.
{Teran benar-benar memastikan tidak ada jejak yang tertinggal. Pria itu menyukai eksekusi yang bersih.}
Pintu lift terbuka di lantai dua belas.
Lantai ini sangat berbeda dengan lantai divisi pemasaran. Lorongnya dilapisi karpet tebal berwarna abu-abu. Tidak ada lalu lalang karyawan. Semuanya sunyi.
Hira berjalan menyusuri lorong menuju sebuah pintu baja solid di ujung koridor. Pintu itu tidak memiliki gagang, hanya sebuah panel pemindai kartu dan layar sentuh kecil.
Hira mengangkat kartu emasnya dan menempelkannya ke panel pemindai.
Bunyi bip pendek terdengar.
Layar sentuh itu menyala.
[Masukkan PIN Override]
Jari-jari lentik Hira mengetikkan angka 8-8-4-0-2-1.
Terdengar suara klik yang sangat berat dari dalam mekanisme pintu baja tersebut. Pintu itu terbuka perlahan ke arah dalam.
Hira melangkah masuk. Sensor lampu menyala otomatis, menerangi deretan rak tinggi yang berisi server berkedip dan jajaran komputer arsip di sisi kanan ruangan.
Ini adalah jantung digital dari kantor cabang. Semua bukti, semua angka, semua kebohongan tersimpan di sini.
Hira duduk di kursi kulit di depan monitor utama. Ia meletakkan kartu emas itu di atas meja.
Jarinya menyentuh keyboard. Layar monitor raksasa di depannya langsung meminta akses login.
Hira mengetikkan ID Anita yang kini telah dialihkan kepadanya oleh sistem pusat.
[Selamat Datang, Eksekutif Hira Lione.]
Layar utama menampilkan ratusan folder direktori cabang.
{Mari kita lihat, di mana Anita menyembunyikan bangkainya.}
Hira menggerakkan mouse. Matanya memindai layar dengan kecepatan tinggi. Ia mengabaikan folder operasional standar dan langsung mencari direktori dengan akses terbatas tingkat tinggi.
Ia menemukan sebuah folder tersembunyi dengan nama 'Dana Taktis Ekspansi Cabang - Rahasia'.
Hira mengklik folder tersebut dua kali.
Terdapat belasan file spreadsheet di dalamnya. Hira membuka file yang memiliki ukuran paling besar.
Layar monitor menampilkan deretan panjang arus kas keluar. Angka-angkanya sangat fantastis, jauh lebih masif dari kasus kampanye digital Siska. Miliaran rupiah mengalir keluar dengan dalih pembayaran vendor konsultan independen.
Hira menelusuri kolom nama vendor.
Matanya menyipit saat melihat satu nama perusahaan vendor yang menerima aliran dana paling besar secara rutin setiap bulan.
[PT. Gemilang Solusi Bersama]
Hira membuka tab browser baru. Ia mengakses portal data internal perusahaan untuk memeriksa profil vendor tersebut.
Hanya butuh waktu kurang dari dua menit untuk membongkar lapisannya.
Perusahaan itu adalah perusahaan cangkang. Tidak ada kantor fisik. Tidak ada portofolio kerja.
Hira mengklik susunan direksi perusahaan vendor fiktif tersebut.
Sebuah seringai mematikan perlahan merekah di wajah Hira.
Matanya terkunci pada satu nama yang tercantum sebagai Komisaris Utama di perusahaan cangkang itu. Nama yang sangat ia kenal.
[Reza Adyatma]
{Bodoh,} desis sang alter ego di dalam kepala Hira. {Sangat, sangat bodoh. Memakai nama suami sendiri untuk mencuri uang perusahaan?}
Hira menyandarkan punggungnya ke kursi. Tangannya bersilang di depan dada.
Bukan hanya Anita yang korup. Suami yang selama ini merendahkannya, suami yang selalu mengeluh tentang gaji kecilnya, ternyata adalah lumbung penampung uang hasil korupsi terbesar Anita.
Hira menarik keyboard mendekat.
Jari-jarinya mulai menari di atas tuts, menyorot seluruh baris transaksi dan menyalinnya ke dalam drive eksternal yang terenkripsi.
{Reza sayang,} batin Hira sambil terus menatap layar monitor. {Sepertinya kau tidak akan hanya kehilangan pekerjaanmu. Kau juga akan kehilangan kebebasanmu.}
lg seru nih
jm 9 ketemu dar, trus ketemu her & si botak, trus ketemu taren(lupa) trus ketemu victor, ini ketemu kael🤔 hrs'a sdh sore x thor
kodammu luar biasa!
🤝
ampe qu ulang baca part 1 hlo
biasa'a dirasuki jiwa lain, ini malah dr diri sendiri, mgkin ini kodam yg memberontak🤭
semangat thor💪