"Aku akan menjadi perisaimu, meski seluruh dunia menentang kita."
Menjadi satu-satunya manusia di antara kawanan serigala membuat hidup Luna selalu terancam. Tapi berada di dekapan sang Alpha tampan berhati dingin, dia menemukan perlindungan yang tak pernah ia duga. Akankah cinta mereka bertahan di tengah kutukan dan perebutan kekuasaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia Seleb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengumuman di Sinar Pagi
Cahaya matahari pagi menerobos masuk melalui celah-celah jendela kaca besar di kamar Yudha, membawa kehangatan baru yang mengusir sisa-sisa kabut malam. Luna perlahan membuka matanya. Sentuhan kasur yang empuk dan aroma kayu yang menenangkan langsung menyadarkannya bahwa dia tidak lagi berada di dunia manusia yang kejam.
Hal pertama yang dicari oleh sepasang mata bulat Luna adalah sudut perapian. Di sana, di atas kursi kayu besar, Yudha masih terduduk dengan posisi tegak. Pria tampan itu tampaknya tidak tidur semalaman, jaket kulit hitamnya diletakkan di sandaran kursi, menyisakan kemeja hitam yang membungkus tubuh tegapnya. Begitu mendengar pergerakan halus dari ranjang, Yudha langsung menoleh.
"Kamu sudah bangun?" tanya Yudha. Suaranya di pagi hari terdengar lebih berat dan dalam, sukses membuat debaran aneh kembali mampir di dada Luna.
Luna mengangguk pelan sambil membenahi posisi duduknya. "Kamu... benar-benar tidak tidur semalaman?"
Yudha bangkit dari kursi, melangkah mendekati ranjang dengan gerakan yang begitu tenang namun penuh pesona. "Satu malam tanpa tidur tidak akan melemahkan seorang Alpha, Luna. Dan seperti yang kukatakan semalam, hari ini kita harus turun ke aula bawah."
Mendengar kata 'aula bawah', guratan cemas langsung kembali menghiasi wajah manis Luna. Ingatan tentang kilatan mata keemasan penuh amarah dari para tetua dan anggota kawanan membuat perutnya mendadak mulas.
Seolah bisa membaca pikiran belahan jiwanya, Yudha mengulurkan tangan kekarnya. "Jangan takut. Gandeng tanganku, dan jangan pernah lepaskan. Biarkan mereka tahu bahwa kamu adalah bagian dari diriku sekarang."
Melihat ketegasan dan sorot mata protektif Yudha, Luna menarik napas dalam-dalam. Dia menyambut uluran tangan hangat pria itu, membiarkan jemari mereka saling bertautan erat. Rasa hangat dari telapak tangan Yudha seolah menyalurkan keberanian instan ke dalam tubuh manusianya yang rapuh.
---
Aula utama kastil *Silver Moon* sudah dipenuhi oleh ratusan anggota kawanan. Suasana di dalam ruangan batu alam itu sangat bising oleh bisik-bisik tegang. Para tetua kawanan, termasuk pria paruh baya berambut perak yang menentang Yudha semalam, berdiri paling depan dengan rahang terkatung rapat. Di sudut lain, Rina tampak berdiri dengan pergelangan tangan yang sudah diperban, menatap ke arah tangga dengan tatapan cemburu dan dendam yang membara.
Begitu Yudha muncul di puncak tangga sambil menuntun Luna, seluruh aula seketika senyap. Sunyi yang mencekam. Ratusan pasang mata langsung tertuju pada sosok Luna yang tampak begitu kecil dan kontras di samping tubuh tegap sang Alpha.
Yudha menuntun Luna turun undakan demi undakan tangga dengan langkah yang mantap. Tekanan aura dominasi yang dipancarkannya pagi ini jauh lebih pekat dan menekan daripada malam sebelumnya, seolah-olah dia sedang memasang dinding tak kasat mata di sekeliling tubuh Luna agar tidak ada satu pun intimidasi yang bisa menembusnya.
Setelah sampai di altar utama aula, Yudha membalikkan badan menghadap seluruh kawanannya, sementara tangan kirinya beralih merengkuh pinggang Luna secara posesif, menarik gadis itu lebih dekat ke sisinya.
"Aku mengumpulkan kalian semua di sini untuk satu keputusan mutlak yang tidak bisa diganggu gugat," suara Yudha menggelegar, bergaung di setiap sudut dinding batu kastil, membuat beberapa serigala muda refleks menundukkan kepala tanda patuh.
Yudha mengangkat tangan Luna yang berada di genggamannya tinggi-tinggi. "Gadis di sisiku ini bernama Luna. Dan mulai detik ini, dia adalah belahan jiwaku, takdir yang diturunkan oleh semesta untuk mendampingiku. Siapa pun yang menentang keberadaannya di sini, artinya kalian sedang menantang otoritas kepemimpinanku sebagai Alpha!"
Kasak-kusuk ketidakpuasan langsung pecah di antara para tetua. Sang tetua berambut perak melangkah maju, memecah keheningan dengan suara lantang.
"Yudha! Ini kegilaan! Bagaimana bisa kawanan *Silver Moon* yang terhormat dipimpin oleh seorang perempuan manusia yang rapuh dan tak berguna? Ini akan membuat kita menjadi bahan tertawaan kawanan lain, atau bahkan menjadi target empuk para *Rogue*!"
"Dia tidak akan menjadi target siapa pun, Tetua," potong Yudha cepat, matanya mendadak berkilat keemasan yang sangat terang, memancarkan ancaman yang begitu nyata.
Yudha mempererat dekapan tangannya di pinggang Luna, membuat gadis itu bisa merasakan kedekatan napas sang Alpha.
"Kekuatanku ada untuk melindunginya. Jika ada kawanan lain atau kaum *Rogue* yang berani menyentuh sehelai rambutnya saja, aku sendiri yang akan merobek jantung mereka dan membakar wilayah mereka sampai menjadi abu!"
Mendengar deklarasi perang yang begitu mengerikan dari mulut sang Alpha demi seorang manusia biasa, seluruh aula kembali terbungkam. Tidak ada yang berani bersuara lagi, termasuk Rina yang hanya bisa menggigit bibir bawahnya menahan amarah. Mereka tahu betul, Yudha bukanlah pemimpin yang suka membual.
Luna menatap profil samping wajah Yudha dari dekat. Di tengah ratusan makhluk berbahaya yang menginginkan kematiannya, pria tampan di sampingnya ini justru berdiri layaknya perisai baja yang siap menghancurkan dunia demi dirinya. Untuk pertama kalinya dalam hidup, Luna merasa bahwa ketidakberdayaan manusianya tidak lagi menjadi sebuah kesalahan.
---