Alexander Kingsley pernah menjadi seluruh dunia bagi Aurora Quinn. Pria itu mencintainya tanpa syarat dan berjanji menjadikannya bagian dari masa depannya.
Namun tanpa peringatan, Aurora
menghancurkan semuanya. Ia berubah, menjauh, menyakiti Alexander, lalu pergi begitu saja. Sejak hari itu, Alexander membencinya.
Lima tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali. Namun Alexander yang dulu hangat telah menghilang, berganti menjadi CEO muda yang dingin, angkuh, dan tak tersentuh. Tatapan penuh cintanya kini berubah menjadi tatapan penuh kebencian.
Sementara Aurora harus menghadapi pria yang tidak pernah tahu bahwa selama lima tahun ini, ia hidup dengan luka yang sama.
Ada rahasia dan kebenaran yang disembunyikan. Ada alasan mengapa Aurora memilih menjadi wanita paling jahat dalam kisah mereka.
"Jika suatu hari kau mengetahui alasan aku pergi, apakah kau masih sanggup membenciku, Alexander?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zanesa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Malam itu, Sophia Laurent duduk sendirian di apartemen mewahnya yang megah. Di atas meja kaca di hadapannya, tergeletak sebuah map dokumen berwarna hitam pekat. Map itu berisi seluruh lembar kehidupan seorang Aurora Quinn.
Mulai dari alamat tempat tinggal, riwayat sekolah, pekerjaan paruh waktu, hingga kondisi detail keluarganya. Sophia membuka halaman demi halaman dengan perlahan, membuat tatapannya semakin menajam.
---
"Aurora Quinn..." gumam Sophia pelan, mengeja nama itu dengan nada dingin.
Sejujurnya, dari sekian banyak lembar laporan, ia tidak menemukan satu pun catatan buruk. Tidak ada skandal masa lalu, tidak ada catatan kriminal, bahkan tidak ada kebiasaan buruk yang menyimpang. Fakta itu justru membuat Sophia semakin merasa kesal. Aurora benar-benar terlihat seperti gadis baik-baik tanpa cela.
Namun, begitu tiba di lembar terakhir, jemari Sophia mendadak berhenti. Sepasang matanya menemukan sebuah informasi yang sangat menarik.
Sophia menyunggingkan senyum tipis penuh kelicikan. "Jadi... keluargamu memiliki banyak lilitan utang?"
Ia menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi sembari menyipitkan mata. Bagi kalangan atas seperti keluarga Kingsley, masalah finansial yang buruk seperti ini bisa menjadi alasan paling sempurna untuk meremehkan dan mendepak seseorang.
---
Sementara itu, Aurora sama sekali tidak menyadari bahwa seluruh privasi kehidupannya sedang dikuliti. Ia justru sedang berjalan santai bersama Alexander di sekitar Central Park.
Hari itu cuacanya sangat cerah; langit biru bersih, hembusan angin sejuk, dan suasana hati Aurora terasa jauh lebih baik dibanding minggu-minggu sebelumnya.
"Kamu dari tadi tersenyum terus," tegur Alexander sambil melirik gadis di sampingnya.
Aurora menoleh menatapnya. "Memangnya kenapa? Tidak boleh?"
"Boleh saja. Aku suka melihatnya," sahut Alexander blak-blakan.
Aurora langsung memalingkan wajahnya ke arah lain demi menyembunyikan semburat merah di pipi, memicu tawa renyah dari Alexander. Sisi kasual kekasihnya ini selalu sukses membuatnya salah tingkah.
---
Mereka kemudian memutuskan untuk duduk di salah satu bangku taman sambil menikmati es krim. Keheningan di antara mereka terpecah saat Alexander tiba-tiba mengubah intonasi suaranya.
"Aurora, aku mau tanya sesuatu," ujar Alexander serius.
Aurora mengangguk santai. "Tanya saja, mau tanya apa?"
Alexander tampak berpikir selama beberapa detik, sebelum akhirnya menatap lurus kedua netra Aurora. "Menurutmu, bagaimana kehidupan kita dalam lima tahun dari sekarang?"
Gerakan tangan Aurora yang hendak menyuap es krim seketika terhenti. "Lima tahun?"
Alexander mengangguk pasti. "Iya, lima tahun lagi."
Aurora tertawa kecil, mencoba mencairkan atmosfer yang mendadak melankolis. "Aku bahkan tidak tahu besok siang mau makan apa, Alexander."
Alexander ikut tertawa, namun sorot matanya tetap menunjukkan keseriusan yang mendalam. "Aku sedang bertanya serius, Aurora."
---
Aurora mengalihkan pandangannya ke depan, mencoba meresapi pertanyaan berbobot itu.
"Lima tahun lagi..." Aurora tersenyum tipis, membayangkan masa depan indahnya. "Mungkin aku sudah lulus kuliah. Mungkin sudah punya pekerjaan tetap, dan mungkin sudah bisa menyewa apartemen kecil sendiri."
Alexander mendengarkan setiap bait kalimat itu dengan saksama, lalu kembali mengejar jawaban. "Terus?"
Aurora menoleh kembali, menatapnya bingung. "Terus apa lagi?"
Alexander mengulas senyum paling tulus yang pernah Aurora lihat. "Di dalam semua rencana lima tahunmu itu... aku ada di sana tidak?"
Deg. Jantung Aurora langsung berdegup kencang secara tidak beraturan.
"Alexander..." cicit Aurora pelan.
Alexander terkekeh, tidak ingin membuat kekasihnya terlalu tertekan. "Aku kan cuma bertanya, Aurora."
Aurora memalingkan wajahnya lagi, namun senyuman bahagia di bibirnya tidak bisa lagi disembunyikan. Setelah menarik napas panjang untuk mengumpulkan keberanian, ia akhirnya menjawab dengan suara teramat lirih.
"Iya... kamu ada di sana."
Untuk beberapa detik, Alexander hanya diam mematung dan menatap Aurora lekat-lekat. Tatapan yang begitu hangat dan penuh proteksi, seolah-olah Aurora adalah hal paling berharga yang pernah hadir di dalam hidupnya.
---
Malam harinya, Alexander mengantarkan Aurora pulang sampai ke depan gang rumahnya. Saat Aurora sudah memegang kenop pintu mobil dan hendak turun, Alexander tiba-tiba memanggilnya kembali.
"Aurora," panggil Alexander, suaranya terdengar sedikit ragu. Dan itu adalah hal yang sangat langka terjadi pada seorang pewaris Kingsley.
Aurora menolehkan kepalanya. "Hm? Ada apa?"
"Aku ingin mengenalkanmu kepada seseorang minggu depan," ungkap Alexander.
Aurora langsung menyipitkan matanya curiga. "Siapa lagi? Kakek Arthur kan sudah."
"Iya, kakek sudah," Alexander tersenyum tipis.
"Teman-teman dekatmu juga sudah semuanya."
"Iya, sudah."
"Lalu siapa lagi?" desak Aurora makin penasaran.
Alexander tersenyum semakin lebar, menatap lurus mata Aurora. "Ayahku."
Deg. Aurora seketika langsung membeku di tempat duduknya.
"Ayahmu?!" seru Aurora tak percaya.
Alexander tertawa lepas melihat ekspresi syok itu. "Aku selalu suka melihat reaksimu yang seperti ini."
"ALEXANDER! Aku serius!" pekik Aurora hampir panik. Menghadapi Victoria saja sudah membuatnya kehilangan nafsu makan berminggu-minggu, sekarang ia harus berhadapan dengan kepala keluarga besar Kingsley?
Namun, Aurora sama sekali tidak menyadari bahwa rencana pertemuan keluarga itu akan menjadi gerbang awal dari badai yang jauh lebih besar. Sebab di saat yang sama, Sophia Laurent sedang menyusun bidak catur berikutnya untuk menghancurkan, bukan hanya Aurora, melainkan ikatan hubungan mereka berdua.