NovelToon NovelToon
Talak Setelah Akad

Talak Setelah Akad

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: YePeEs

Hari pernikahan yang harusnya menjadi hari paling bahagia bagi Zara sketika menjadi mimpi buruk, ia di talak oleh suaminya satu jam setelah akad pernikahan.
zara mendapatkan fitnah dari seseorang yang mistrius, hingga menhancurkan hidupnya. Zara mulai membangun hidupnya dengan menjauh dari keluarganya yang mengusir dirinya.
bagaimana perjuangan Zara setelah Di talak dihari pernikahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YePeEs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

​"Ayo, Za. Kamu udah mabuk berat."

​Niken memapah tubuh tegap Reza keluar dari lift khusus yang langsung menuju kamar Penthouse di lantai teratas hotel mewah milik keluarganya. Langkah kaki Reza limbung, napasnya yang beraroma alkohol berembus kasar di ceruk leher Niken.

​Begitu pintu kamar terbuka, Niken menuntun Reza masuk dan mengempaskan tubuh pria itu ke atas kasur king size yang empuk. Reza telentang, menatap langit-langit kamar yang berputar dengan pandangan buram.

​"Zara... kenapa kamu tega, Zar..." racau Reza parau, matanya setengah terpejam, namun bibirnya masih saja menyebut nama wanita yang telah menghancurkan ego besarnya.

​Niken yang baru saja menutup pintu kamar seketika menegang. Wajah cantiknya mengeras mendengar nama itu kembali disebut. Ia melangkah mendekati ranjang, berdiri berkacak pinggang menatap Reza yang tak berdaya.

​"Zara lagi, Zara lagi! Kamu itu bener-bener buta ya, Za?!" sentak Niken, suaranya melengking di dalam kamar yang sunyi.

​"Gue... gue sayang sama dia, Ken," gumam Reza, suaranya melemah saat tangannya meraba kasur kosong di sampingnya. "Gue nyesel langsung usir dia malam itu..."

​Niken tertawa sinis, suara tawa yang terdengar mengerikan. Ia duduk di tepi ranjang, lalu merangkak mendekati wajah Reza, menatapnya dari atas. "Nyesel? Kamu harusnya berterima kasih sama orang yang udah mutar video itu, Reza! Kalau video itu gak keluar, kamu bakal nikah sama perempuan kotor!"

​"Dia gak kotor... Zara gak mungkin kayak gitu..." Reza menggeleng lambat, air mata penyesalan menetes di sudut matanya yang merah.

​"Dia kotor karena aku yang bikin dia kotor!" teriak Niken di dalam hatinya, menahan kalimat itu agar tidak lolos dari bibirnya.

​Niken mencondongkan tubuhnya, menangkup wajah Reza dengan kedua tangannya yang dingin, memaksa pria itu untuk menatap matanya. "Lihat aku, Reza! Aku yang ada di sini malam ini! Bukan Zara! Aku yang punya segalanya buat kamu, bukan perempuan kampung itu!"

​Reza mengerutkan dahi, mencoba memfokuskan pandangannya yang buram. Dalam pengaruh alkohol yang pekat, wajah tebal dengan riasan tebal di depannya mendadak berbayang, berubah menjadi wajah Zara yang anggun.

​"Zara...?" bisik Reza lirih, tangannya bergerak naik, menyentuh pipi Niken.

​Niken tahu Reza sedang berhalusinasi, namun egonya yang terlanjur tergila-gila pada pria ini memilih untuk mengabaikannya. "Iya, Za... ini aku. Jangan tinggalin aku lagi."

​Tanpa menunggu lebih lama, Niken menundukkan kepalanya, membungkam bibir Reza dengan ciuman yang sarat akan obsesi dan dendam yang membara. Reza yang sudah kehilangan kesadaran sehatnya akibat minuman keras membalas ciuman itu dengan liar, menarik tubuh Niken ke dalam pelukannya.

​Malam itu, di bawah temaram lampu kamar penthouse, mereka tenggelam dalam kebersamaan yang salah. Niken tersenyum penuh kemenangan di sela malam mereka, merasa telah berhasil merebut kembali apa yang seharusnya menjadi miliknya sejak dulu.

​Ia memeluk erat tubuh Reza yang akhirnya tertidur pulas setelah meluapkan seluruh emosinya. Sambil mengelus rambut pria itu, mata Niken menatap dingin ke arah jendela kaca besar yang menampilkan kerlip lampu kota Jakarta.

​"Kamu milikku sekarang, Reza. Dan Zara... dia gak akan pernah bisa kembali lagi, bahkan dalam mimpi kamu sekalipun," bisik Niken kejam, menyimpan rapat rahasia video deepfake itu di bawah selimut kemewahan Rodena Grup yang malam ini resmi mengunci takdir mereka bersama.

****

​Suara derit halus pintu kamar utama lantai dua membuat Zara yang sedari tadi duduk memeluk lutut di atas ranjang langsung menegakkan tubuh. Matanya yang sembap dan merah menatap lurus ke arah pintu.

​Fahri melangkah masuk. Peci hitamnya sudah kembali bertengger di kepalanya, namun kali ini posisinya benar-benar tegak lurus—ciri khas Fahri jika otaknya sedang bekerja keras memikirkan perkara berat. Wajah cowok Tasik itu tampak lelah, namun sorot matanya yang tadi dingin kini sudah melunak.

​Melihat Fahri mendekat tanpa mengucapkan sepatah kata pun, pertahanan Zara runtuh. Dadanya sesak oleh asumsi yang sejak dua jam lalu menyiksa pikirannya.

​"Kalau kamu mau marah, marah aja, Fahri! Gak usah diam kayak gini!" seru Zara, suaranya bergetar menahan tangis yang siap pecah kembali. "Aku tahu kamu syok setelah lihat video itu. Kamu pasti mikir aku perempuan gak bener, kan? Kamu nyesel kan udah nikahin aku?"

​Fahri menghentikan langkahnya di ujung ranjang. Ia mengernyitkan dahi, menatap istrinya dengan pandangan heran. "Zar, siapa yang marah? Saya tadi cuma—"

​"Gak usah bohong!" potong Zara, air matanya kembali meluncur deras. Ia memalingkan wajahnya, melipat tangan di dada dengan bibir yang mengerucut sebal sekaligus cemas.

"Tadi pas setelah lihat video itu, muka kamu langsung berubah seram. Terus kamu pergi gitu aja ninggalin aku tanpa bilang apa-apa. Itu namanya apa kalau bukan marah? Cowok mana yang gak emosi lihat istrinya punya rekam jejak digital sehancur itu!"

​Fahri mengembuskan napas panjang. Ia berjalan memutari ranjang, lalu duduk di tepi kasur, tepat di samping Zara. Jarak mereka begitu dekat hingga Zara bisa mencium aroma sisa kopi hitam yang tadi diminum Fahri di bawah.

​"Teteh Jakarta, dengerin dulu..." Fahri mengulurkan tangannya, mencoba menyentuh pundak Zara, namun Zara dengan cepat menggeser duduknya, menjauh seolah-olah dirinya adalah seonggok virus yang menjijikkan.

​"Gak usah sentuh-sentuh! Nanti tangan kamu ketularan kotor!" ketus Zara, balik cemberut dengan tingkat ketegangan yang justru naik satu oktav. Rasa khawatir bahwa pernikahan mereka akan berakhir malam ini membuat egonya mendadak memasang benteng pertahanan yang tinggi.

​Fahri bukannya kesal, malah menahan senyum. Jiwa usilnya yang sempat beku di ruang bawah tanah tadi mendadak mencair melihat ekspresi cemberut Zara yang luar biasa menggemaskan di bawah temaram lampu kamar.

​"Astagfirullah... suudzon terus itu pikiran, heran saya," ucap Fahri sambil geleng-geleng kepala. Ia membetulkan posisi duduknya agar menghadap langsung ke arah Zara.

"Zara Amanta, dengerin suamimu yang tampan ini baik-baik. Tadi saya keluar kamar itu bukan karena marah sama kamu, apalagi nyesel nikahin kamu. Saya keluar karena saya mau mastiin satu hal."

​"Mastiin apa? Mastiin kalau itu beneran muka aku?!" sahut Zara ketus, masih enggan menatap Fahri.

​"Mastiin kalau video itu seratus persen PALSU!" tegas Fahri, menekankan kata terakhir dengan volume suara yang cukup kuat hingga membuat Zara seketika menoleh patah-patah.

​Zara mengerjap-erjap. Tangisnya mendadak berhenti. "K-kamu ngomong apa?"

​"Tadi saya manggil ahli telematika kepercayaan Abah ke sini. Kita bedah itu video pakai komputer spek dewa di bawah," Fahri memajukan tubuhnya, menatap lekat-lekat ke dalam mata bulat Zara yang masih basah.

"Dan hasilnya? Itu video deepfake, Zar. Editan AI tingkat tinggi. Muka kamu ditempel di badan orang lain, bahkan tanda lahir di leher kamu itu ada pergeseran piksel digital yang gak sinkron pas menoleh. Jadi, demi Allah, saya tahu dan saya percaya kalau wanita di video itu bukan kamu."

​Mendengar penjelasan Fahri, jantung Zara serasa berhenti berdetak selama beberapa detik. Ada rasa lega luar biasa yang membuncah di dadanya, sebuah batu besar yang selama berbulan-bulan menyumbat hatinya mendadak sirna. Suaminya percaya padanya. Fahri tahu dia tidak bersalah.

​Namun, alih-alih langsung tersenyum atau memeluk Fahri, rasa khawatir baru justru menyergap otak Zara. Alisnya kembali bertaut, dan bibirnya semakin maju beberapa senti. Ia kembali cemberut, bahkan lebih ditekuk dari sebelumnya.

​Fahri yang mengira Zara bakal terharu langsung melongo. "Lho? Kok malah makin cemberut? Harusnya kamu syukuran, Zar, minimal potong tumpeng di kamar."

​"Ya terus kalau videonya palsu, kenapa kamu tadi mukanya serem banget?!" protes Zara, suaranya meninggi, meluapkan rasa kesalnya yang terlanjur menumpuk.

"Kamu gak tahu apa dari tadi aku di sini jantungan? Aku udah mikir mau kabur ke luar negeri tahu gak! Lagian, kalau itu video palsu, siapa yang tega bikin editan sejahat itu cuma buat hancurin hidup aku, Fahri?! Aku takut... aku takut kalau orang itu bakal neror kita terus!"

​Rasa khawatir Zara beralih dari takut diceraikan menjadi takut akan ancaman tak terlihat yang sedang mengintai pernikahan mereka.

​Fahri menatap wajah cemberut dan ketakutan istrinya dengan pandangan yang dalam. Ia tidak menceritakan soal telepon misterius dari Rodena Grup tadi, juga tidak menyebut-nyebut nama Niken atau konspirasi bisnis ayahnya. Bagi Fahri, tugas Zara sekarang hanyalah beristirahat dengan tenang di dalam perlindungannya.

​"Udah, gak usah dipikirin siapa yang bikin," Fahri tiba-tiba maju, dan tanpa memberi kesempatan bagi Zara untuk menghindar, kedua tangan besarnya langsung mencubit gemas kedua pipi Zara hingga gadis itu memekik tertahan.

​"Mmpfh! Fahwiii! Sakiiit!"

​"Biarin! Lagian dibilangin malah cemberut terus, makin mirip bebek tahu gak?" kekeh Fahri, melepaskan cubitannya lalu mengacak-ngacak jilbab Zara hingga berantakan. "Soal siapa yang bikin, itu urusan saya sebagai kepala keluarga buat beresin. Tugas kamu sekarang cuma satu: tidur. Besok pagi, ikut saya ke kantor pusat Jakarta. Kita lihat siapa yang bakal kena mental duluan."

1
Anonim
❤️❤️❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!