Apa yang terjadi saat seorang putri kaya yang jahat akhirnya jatuh miskin? Adakah yang akan menolongnya dari jeratan? Dialah Prisha.
Di titik paling kelam saat ia hampir menyerah pada hidup, sebuah uluran tangan asing datang menawarkan pelampung darurat. Sebuah kesepakatan rahasia bernilai triliunan rupiah disodorkan ke hadapannya.
Demi bertahan hidup dan merebut kembali apa yang menjadi haknya, Prisha terpaksa melangkah masuk ke dalam sangkar emas milik keluarga Tanubrata. Ia harus berhadapan dengan Saka Tanubrata, pria yang memegang kunci keselamatan sekaligus kehancurannya.
Ini adalah kisah tentang harga diri yang dipertaruhkan, rahasia di balik kemewahan, dan sebuah takdir bersyarat. Mampukah Prisha bertahan di dunia barunya, atau justru ia akan hancur dalam permainan yang ia mulai sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rinnaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Penjajah kebun belakang.
Di bawah naungan pohon ek tua yang megah ini, Prisha merasa telah menemukan kembali takhtanya. Embusan angin mendung yang membawa aroma tanah basah menerpa wajahnya, menerbangkan beberapa helai rambut hitamnya yang legam.
Setelah beberapa menit tenggelam dalam keheningan hamparan bunga Daisy liar, Prisha mengetuk-ngetukkan jemarinya di atas sandaran tangan kursi roda. Keputusannya sudah bulat. Mulai detik ini, sudut terasing ini akan menjadi tempat favoritnya di seluruh penjuru mansion Tanubrata.
Prisha mendongak, menatap Bora yang masih berdiri tegap di belakang kursi rodanya. "Bora, panggil orang-orang. Mulai sekarang, aku mau tempat ini dirawat dengan benar. Rapikan semak-semak liar di sekitar hamparan Daisy ini, bersihkan ranting-ranting mati di pohon ek, dan ... oh ya, buatkan aku sebuah ayunan kayu yang kuat, yang digantung di salah satu dahan kokoh pohon ini."
Perintah itu terdengar seperti titah mutlak dari seorang ratu, dan bagi Bora, perintah itu adalah mandat yang harus segera diselesaikan. "Baik, Nona. Segera saya atur," jawab Bora tanpa keraguan sedikit pun.
Kurang dari satu jam kemudian, siang yang semula mendung dan sunyi itu tiba-tiba berubah menjadi medan kesibukan yang luar biasa gempar. Atas koordinasi cepat dari Bora, halaman belakang mansion yang biasanya tenang mendadak dipenuhi oleh belasan orang. Tidak hanya para tukang kebun internal rumah Tanubrata yang dikerahkan, Bora bahkan memanggil beberapa tukang kebun bayaran profesional dari luar menggunakan jalur kilat untuk mempercepat proses penataan.
Bunyi gunting rumput, deru mesin pemotong dahan, hingga langkah kaki yang terburu-buru bersahutan, mengubah hamparan Daisy liar yang semula terabaikan menjadi sebuah proyek taman yang ambisius.
Ajaibnya, ayunan kayu yang diminta oleh Prisha diselesaikan paling pertama oleh para tukang kayu. Dengan tali tambang besar yang kuat dan papan kayu kokoh yang dipelitur rapi, ayunan itu kini menggantung dengan gagah di dahan pohon ek terendah.
Prisha, yang tidak bisa banyak bergerak karena gips di kakinya, tersenyum puas. Ia meminta Bora memapahnya untuk duduk di atas ayunan tersebut. Dari atas ayunan kayu, dengan Bora yang mendorong punggungnya secara pelan dan ritmis, Prisha mengawasi jalannya pekerjaan besar itu bagaikan seorang mandor agung yang tengah memantau wilayah jajahannya.
Di tengah-tengah kesibukan itu, Pak Malik, Kepala Pelayan senior sekaligus ayah kandung Bora, berjalan mendekat ke arah pohon ek. Langkah kakinya yang anggun mencerminkan pengabdian puluhan tahun di kediaman ini. Di belakang Pak Malik, mengekor beberapa pelayan muda yang membawa nampan-nampan perak berisi menu makan siang mewah hari ini, lengkap dengan aroma sup iga yang menggugah selera.
Melihat kedatangan mereka, Prisha menepuk tangannya sekali. "Pak Malik! Sempurna sekali waktunya. Tolong atur agar sebuah meja makan diletakkan di bawah pohon ek ini juga. Aku mau makan siang di sini saja, sambil menikmati pemandangan dan angin mendung."
Pak Malik sempat mengerjapkan matanya sejenak, sedikit terkejut dengan permintaan yang tidak biasa itu. Di rumah ini, aturan dan tata krama adalah segalanya, dan belum pernah ada seorang pun bahkan Tuan Besar Tanubrata sekalipun yang meminta makan siang di tengah semak bunga liar.
Namun, melihat binar keras kepala di mata Prisha dan bagaimana putrinya, Bora, memberikan kode anggukan samar, Pak Malik akhirnya membungkuk patuh. "Baik, Nona Prisha. Saya akan meminta pelayan menyiapkan meja dan kursi putih untuk Anda."
Maka, tingkat kesibukan di mansion itu naik dua kali lipat. Semua orang benar-benar dibuat sibuk hanya demi memenuhi kenyamanan satu gadis berkaki gips.
Di bagian depan mansion, sebuah mobil sedan mewah hitam berhenti dengan decitan halus. Saka Tanubrata melangkah keluar dengan raut wajah yang tampak sedikit tegang.
Kedatangannya kembali ke rumah di jam kerja seperti ini bukan tanpa alasan; ada beberapa berkas transaksi penting dan dokumen legalitas perusahaan yang tertinggal di dalam brankas rahasia ruang kerja pribadinya, brankas dengan sistem keamanan biometrik berlapis yang hanya bisa dibuka oleh sidik jari dan retina matanya sendiri.
Namun, begitu melangkah melewati pintu utama, alis tebal Saka seketika bertaut. Ia mengernyit bingung. Suasana rumahnya terasa sangat berbeda dari biasanya. Para pelayan tampak berlarian ke sana ke mari dengan wajah panik sekaligus terburu-buru.
Sebelum Saka sempat mencerna situasi, dari arah pintu samping, dua orang pelayan luar tampak terengah-engah menggotong sebuah meja bulat besar berbahan besi cat putih, disusul pelayan lain yang membawa dua kursi taman senada, berlari terburu-buru menuju ke arah kebun belakang.
Belum sempat ia bersuara, dari arah tangga dalam, seorang pelayan wanita setengah berlari turun dengan tangan mendekap kain taplak meja brokat mahal. Pelayan itu hampir saja menabrak Saka, membuatnya terlonjak kaget sebelum akhirnya membungkuk hormat dengan tubuh gemetar.
"Maaf, Tuan Muda! Permisi!" ucap pelayan itu terburu-buru, lalu kembali melanjutkan langkah cepatnya menuju area luar tanpa menunggu respons Saka.
Rasa penasaran Saka seketika terusik, mengalahkan tujuannya semula yang ingin ke ruang kerja. 'Apa yang sebenarnya sedang terjadi di rumahku? Apa ada serangan teroris atau kebakaran?' pikir Saka heran. Didorong oleh rasa ingin tahu yang besar, Saka memutar langkahnya, berjalan tegap mengikuti rute para pelayan yang menuju ke arah halaman belakang.
Begitu sampai di area luar, pemandangan di depannya membuat Saka sempat terpaku. Suasana di kebun belakang sangat ramai, tepatnya berpusat di area yang selama ini ia cap sebagai semak pengganggu—hamparan bunga Daisy.
Saka melangkah menyusuri jalan setapak yang kini sudah bersih dari rumput liar. Dari kejauhan, di bawah pohon ek tua yang biasanya sepi dan suram, kini telah berdiri sebuah meja bundar putih cantik berselimut kain brokat mewah.
Di sekeliling meja itu, beberapa pelayan berdiri dengan sikap tegap di belakang seorang gadis bergaun satin merah muda yang baru saja bersiap mengangkat sendok makannya. Gadis itu, dengan santainya, sedang mengayun-ayunkan kaki kanannya yang sehat di atas ayunan kayu baru.
Pak Malik, yang sedang menginstruksikan pelayan untuk menuangkan air, adalah orang pertama yang menyadari kehadiran sang tuan muda. Ia segera berbalik dan membungkuk kecil, diikuti oleh seluruh pelayan di tempat itu.
"Tuan Muda Saka, selamat siang," sapa Pak Malik sopan, wajah tuanya tampak sedikit tidak enak hati karena suasana kebun yang mendadak berubah drastis. "Apakah Anda memutuskan untuk pulang dan ingin menikmati makan siang di rumah hari ini? Saya bisa meminta koki menyiapkan satu porsi lagi untuk Anda di sini."
Prisha, yang baru saja hendak menyuapkan potongan daging ke dalam mulutnya, menghentikan gerakannya. Ia menoleh, menatap Saka dengan binar jenaka yang langsung menghiasi sepasang mata indahnya.
"Oh, Kak Saka pulang? Kebetulan sekali. Ayo, duduk di sini dan makan siang bersamaku sambil melihat para pekerja menata taman ini," seru Prisha tanpa beban, nadanya terdengar begitu akrab seolah-olah ia adalah nyonya besar di rumah tersebut.
Saka tidak langsung menjawab. Ia melangkah mendekat, berdiri di tepi karpet portabel yang sengaja digelar di bawah pohon, lalu mengedarkan pandangan tajamnya ke sekeliling kebun yang kini sudah berubah bentuk menjadi lebih rapi dan estetis.
"Apa yang sebenarnya sedang terjadi di sini?" tanya Saka, suaranya terdengar rendah dan dingin, menuntut penjelasan atas kekacauan visual yang mendadak terjadi di kediamannya.
Prisha tersenyum lebar, mengetuk garpunya ke pinggiran piring perak dengan pelan. "Merawat bunga Daisy, tentu saja."
Saka mendengus sinis, melirik ribuan kelopak putih di bawah kakinya. "Semak-semak liar ini? Kau membuat seluruh pelayan di rumahku berlarian seperti kehilangan akal hanya untuk mengurus semak pengganggu?"
Prisha langsung mengerucutkan bibirnya, menatap Saka dengan pandangan tidak terima. "Bunga, Kak Saka. Bunga! Ini namanya bunga Daisy, bukan semak liar. Matamu itu perlu diperiksa ke dokter ya, masa keindahan sejelas ini dibilang pengganggu?"
"Cih, terserah kau saja," sahut Saka malas, menolak untuk terlibat dalam perdebatan konyol mengenai definisi tanaman di siang hari yang mendung ini. "Aku tidak punya waktu untuk meladeni kegilaanmu. Aku harus segera kembali ke kantor setelah mengambil dokumen."
"Hei, bagaimana dengan tawaran makan siangnya? Makanan di sini sangat enak, lho. Sayang kalau dilewatkan," panggil Prisha lagi saat melihat Saka sudah mulai memutar tubuhnya.
Saka menghentikan langkahnya sejenak tanpa menoleh ke belakang. "Aku akan makan siang bersama klien penting nanti di restoran. Nikmati saja semak-semakmu itu sendiri."
Karena rasa penasarannya sudah terobati—meskipun menyisakan rasa jengkel di dadanya akibat tingkah tebal muka Prisha—Saka melanjutkan langkah tegapnya, berjalan kembali masuk ke dalam mansion dengan aura kokohnya yang biasa.
Prisha memberengut kesal melihat tanggapan dingin tersebut. Ia menusuk potongan daging steak di piringnya dengan kekuatan ekstra, meluapkan kejengkelannya sambil terus menatap punggung lebar Saka yang perlahan menjauh dan menghilang di balik pintu kaca besar. "Dasar manusia es tanpa estetika," umpat Prisha pelan sebelum kembali mengunyah makanannya dengan lahap.
Sementara itu, di sepanjang koridor menuju ruang kerjanya, Saka berjalan dengan pikiran yang mendadak berkecamuk. Sebuah gelengan kepala heran tak mampu ia sembunyikan dari wajah kakunya.
"Gadis itu ... dia bahkan belum ada satu minggu tinggal di rumah ini," gumam Saka dengan suara baritonnya yang pelan, nyaris berupa bisikan pada dirinya sendiri. "Tapi dia sudah berhasil menjungkirbalikkan dan mengacaukan seluruh kediamanku hanya dalam waktu setengah hari."
Saka menghentikan langkahnya tepat di depan pintu ruang kerja, menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan dadanya yang mendadak terasa aneh. Ada sebersit rasa terheran-heran yang menyusup di antara egonya yang setinggi langit.
Selama puluhan tahun ia hidup dan memimpin di kediaman Tanubrata, semua orang—mulai dari pelayan, kolega bisnis, hingga gadis-gadis kelas atas yang mencoba mendekatinya—selalu berjalan di atas cangkang telur, bersikap sangat hati-hati dan ketakutan setengah mati setiap kali berada di dekatnya.
Namun Prisha? Gadis bangkrut yang kehilangan segalanya itu justru bertingkah sebaliknya. Tidak ada satu pun orang yang seberani dan setebal muka Prisha Kaelen sebelumnya. Gadis itu tidak gentar pada penolakannya, dan kini ... gadis itu bahkan dengan berani menjajah halaman belakang rumahnya tanpa izin.
Bersambung....