Kirana Maheswari dikenal sebagai wanita yang dingin dan sulit didekati. Sebagai sekretaris pribadi di Pradana Group, ia selalu menjaga profesionalitas dan tidak pernah memberi ruang bagi siapa pun untuk masuk ke kehidupan pribadinya.
Semua orang tahu Kirana sudah menikah.
Dan semua orang juga tahu bahwa ia sangat menjaga jarak dari pria mana pun.
Kecuali satu orang yang seolah tidak pernah mengerti arti menjaga jarak.
Aiden Pradana.
CEO muda yang tampan, kaya, cerdas, dan terkenal tidak pernah gagal mendapatkan apa yang diinginkannya.
Awalnya Aiden hanya penasaran.
Ia tidak mengerti mengapa ada seorang wanita yang sama sekali tidak terpengaruh oleh pesonanya. Saat wanita lain berlomba mencari perhatian darinya, Kirana justru selalu menghindar dan hanya berbicara seperlunya.
Semakin diabaikan, semakin besar rasa penasarannya.
Semakin Kirana menjaga jarak, semakin keras kepala Aiden mendekat.
Namun Aiden segera menyadari bahwa ketertarikannya telah berubah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 Foto tengah Malam
Nama itu membuat Kirana membeku. Ia tidak mengenal siapa wanita itu, tetapi sesuatu dalam dirinya langsung mengatakan bahwa pesan tersebut bukan sesuatu yang baik. Tangannya terasa dingin saat membuka aplikasi pesan yang baru masuk beberapa detik lalu.
"Rendra?" suara Kirana terdengar pelan.
"Hm?" jawab pria itu dari seberang telepon.
"Kamu kenal Selina?" tanya Kirana.
Keheningan langsung menyergap, begitu sunyi sampai Kirana bisa mendengar napas Rendra dengan jelas.
"Siapa?" tanya Rendra beberapa detik kemudian.
Terlambat karena jeda beberapa detik itu justru membuat hati Kirana semakin tidak tenang.
"Kalau tidak kenal, kenapa diam?" tanya Kirana curiga.
"Aku hanya bingung." Alasan Rendra.
"Bingung atau terkejut?" tanya Kirana lagi.
"Kirana."
"Aku sedang bertanya."
Nada bicara wanita itu tetap tenang, tetapi untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama ada tekanan yang jelas terdengar di balik setiap kata.
.
.
.
Di apartemen, Selina yang berdiri tidak jauh dari Rendra mulai terlihat gugup. Wanita itu tidak menyangka Kirana akan menerima pesan secepat ini, apalagi foto yang dikirim tadi bukan sesuatu yang bisa dijelaskan dengan mudah.
"Apa yang terjadi?" bisik Selina.
"Kamu kirim apa?" Rendra menutup mikrofon ponselnya.
"Aku tidak tahu dia istrimu," ujar Selina.
"Kamu kirim apa?" tanya Rendra lagi sedikit frudtasi.
Selina menggigit bibir. Rendra langsung merasa firasat buruk.
.
.
.
Sementara itu, Kirana akhirnya membuka foto yang dikirimkan. Satu foto, namun cukup membuat dadanya terasa sesak.
Di dalam foto itu terlihat Rendra sedang duduk di sofa. Tidak ada yang aneh dengan pose tersebut, masalahnya pantulan cermin di belakangnya memperlihatkan seorang wanita mengenakan pakaian tidur berdiri beberapa langkah dari sana.
Kirana menatap foto itu tanpa berkedip, tidak ada air mata karena pikirannya masih berusaha memahami apa yang sedang dilihatnya.
"Kirana?" suara Rendra kembali terdengar dari ponsel.
Wanita itu tidak langsung menjawab.
"Kirana."
"Aku melihat fotonya," ucap Kirana datar.
Kalimat sederhana itu langsung membuat wajah Rendra berubah pucat.
"Aku bisa menjelaskan."
"Bagus."
"Kirana."
"Aku ingin mendengar penjelasan yang masuk akal."
Untuk pertama kalinya selama pernikahan mereka, Rendra kehilangan kata-kata.
.
.
.
Di tempat lain, Aiden baru saja tiba di apartemennya. Pria itu melempar kunci mobil ke atas meja lalu membuka jas yang dikenakannya, namun sebelum sempat masuk ke kamar ponselnya bergetar.
"Ada apa?" tanya Aiden.
"Kirana," ucap Gavin tiba-tiba.
"Kenapa?" Aiden langsung berhenti melangkah.
"Saya rasa ada masalah besar," kata Gavin lagi.
"Kamu tahu dari mana?" tanya Aiden lagi.
"Dita menelepon saya."
"Sejak kapan kalian saling kenal?" Aiden mengernyit.
"Itu tidak penting."
"Itu sangat penting."
"Fokus, Bos."
"Oke. Ada apa dengan Kirana?" Aiden menghela napas.
"Dita bilang Kirana baru meneleponnya sambil menangis."
Kalimat itu langsung membuat ekspresi Aiden berubah karena selama ini ada satu hal yang hampir mustahil ia bayangkan, Kirana menangis?
.
.
.
Di rumahnya, Kirana masih duduk di tepi ranjang sambil menatap foto di layar ponsel. Telepon dengan Rendra sudah berakhir beberapa menit lalu tanpa kesimpulan apa pun, semakin banyak penjelasan yang diberikan pria itu, semakin banyak pertanyaan baru yang muncul.
Ponselnya kembali bergetar.
"Kamu di rumah?" tanya Dita begitu panggilan tersambung.
"Iya."
"Kamu menangis?" tanya Dita.
"Tidak."
"Kirana."
"Tidak banyak." Wanita itu mengusap sudut matanya.
"Nah, itu menangis namanya."
Kirana memejamkan mata, Dita mungkin satu-satunya orang yang benar-benar mengenalnya.
"Aku tidak tahu harus bagaimana."
"Foto itu jelas?"
"Sangat jelas."
"Aku datang sekarang." Dita langsung mendesah.
"Jangan."
"Aku tetap datang."
.
.
.
Satu jam kemudian, Dita benar-benar tiba. Begitu pintu dibuka, wanita itu langsung memeluk Kirana tanpa banyak bicara, tidak ada nasihat, tidak ada pertanyaan hanya pelukan sederhana yang entah kenapa membuat pertahanan Kirana runtuh.
"Aku bodoh ya?" tanya Kirana pelan.
"Tidak."
"Aku percaya dia."
"Itu bukan kesalahanmu."
Kirana tertawa kecil, namun suara itu terdengar lebih menyedihkan daripada tangisan.
.
.
.
Keesokan paginya, Kirana tetap berangkat bekerja karena selama hidupnya ia selalu menghadapi masalah dengan cara yang sama. Tetap berjalan, tetap bekerja, tetap berdiri meski sebenarnya ingin berhenti.
Saat memasuki kantor, beberapa karyawan menyapanya seperti biasa. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi semalam, tidak ada yang tahu bahwa rumah tangga yang selama ini ia pertahankan sedang berada di ujung jurang.
"Kirana," sapa Aiden.
Wanita itu menoleh, Aiden berdiri beberapa meter di depannya. Biasanya pria itu akan tersenyum atau melontarkan sesuatu yang membuat Gavin mengelus dada namun kali ini tidak, Aiden hanya menatapnya beberapa detik.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Aiden dengan sedikit melangkah maju.
Kirana ingin menjawab 'seperti biasa' atau 'saya baik-baik saja' tapi kalimat itu sudah terlalu sering ia gunakan, namun pagi ini untuk pertama kalinya kata-kata itu terasa sangat sulit diucapkan dan sebelum sempat menjawab seseorang tiba-tiba berjalan masuk ke area kantor.
Langkahnya tergesa, wajahnya pucat dan begitu melihat Kirana, pria itu langsung berhenti. Rendra, suaminya datang ke kantor.