Di dunia di mana kekuatan kultivasi menentukan segalanya, di mana kemampuan dan kekuasaan menjadi ukuran keberhasilan, ada seorang pemuda yang namanya perlahan mulai menancapkan akarnya dan menimbulkan getaran di seluruh wilayah. Dia adalah Xiao Xuan—pria yang tenang, penuh perhitungan, dengan tatapan mata yang tajam yang bisa menilai setiap situasi dalam sekejap, namun menyimpan kelembutan dan perlindungan yang hanya terlihat bagi orang-orang yang dia sayangi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13.Undangan di Atas Meja Giok dan Hadiah yang Mengguncang Perjamuan
Keheningan di dalam ruang kultivasi Xiao Xuan terasa begitu pekat, hanya menyisakan desah napasnya yang teratur seiring dengan perputaran energi spiritual di dalam meridian. Di sekelilingnya, udara samar-samar bergetar akibat sisa aura magnetik yang ia tempa selama beberapa jam terakhir. Pria itu selalu tahu cara mendisiplinkan dirinya; tidak ada hari tanpa kemajuan, sekecil apa pun itu.
*Tok. Tok. Tok.*
Ketukan pintu yang ritmis dan sarat akan penghormatan memecah keheningan tersebut.
"Masuk," ucap Xiao Xuan pendek, suaranya tenang tanpa riak.
Pintu kayu cendana itu terbuka perlahan, menampilkan sosok Tetua Agung Xiao Tian yang melangkah masuk dengan raut wajah yang lebih serius dari biasanya. Namun, binar jenaka di matanya tetap tidak bisa disembunyikan sepenuhnya saat ia merogoh sesuatu dari balik lengan jubah panjangnya. Sebuah gulungan undangan berwarna putih keperakan, berhiaskan sulaman benang emas spiritual yang memancarkan hawa dingin yang murni, diletakkan di atas meja giok di depan Xiao Xuan.
"Tuan Muda, orang tua ini membawa sesuatu yang menarik untukmu," ujar Xiao Tian, sambil mengelus jenggot putihnya.
Xiao Xuan melirik undangan estetik tersebut, alisnya terangkat tipis. "Undangan? Dari siapa, Tetua Xiao? Setahu saya, akhir-akhir ini saya tidak terlalu berambisi untuk menjalin relasi dengan anak-anak manja di kota ini."
"Surat ini diantar langsung oleh Tetua Ye Xiu dari Keluarga Angin Salju," jawab Xiao Tian, nadanya sedikit merendah untuk menunjukkan bobot nama tersebut. "Beliau secara khusus berpesan agar Tuan Muda sendiri yang membuka dan membaca isinya."
Mendengar nama Ye Xiu, tatapan Xiao Xuan sedikit menajam. Ye Xiu bukan sekadar tetua biasa; dia adalah orang yang selalu mendampingi kultivator legendaris Kakek Ye Mo menjelajahi Pegunungan Leluhur Suci yang berbahaya. Di dalam hierarki Keluarga Angin Salju, dia adalah sosok nomor tiga yang sangat dihormati. Jika orang sekaliber dia yang mengaturnya, maka ini bukan sekadar basa-basi remaja.
Xiao Xuan mengulurkan tangan, membuka segel lilin bermotif lambang badai salju, dan membaca bait demi bait tulisan puitis di dalamnya. Undangan itu ditujukan untuk merayakan hari ulang tahun cucu perempuan tercinta Kakek Ye Mo, Ye Ziyun. Dan nama Xiao Xuan tertulis di baris utama tamu kehormatan.
"Siapa saja dari keluarga lain yang menerima ini?" tanya Xiao Xuan, melipat kembali undangan itu dengan gerakan lambat yang anggun.
"Semua keluarga besar dan menengah di Kota Glory menerima undangan, Tuan Muda," Xiao Tian tersenyum tipis, ada nada bangga dalam suaranya. "Namun, orang-orang yang dikirim untuk menyampaikan undangan ke kediaman mereka hanyalah tetua luar atau bahkan tentara penjaga biasa. Jauh berbeda dengan perlakuan yang kita terima melalui Tetua Ye Xiu."
Xiao Xuan menyandarkan punggungnya pada kursi, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang dingin namun cerdas. *‘Orang tua itu... Kakek Ye Mo tampaknya sengaja menaikkan posisi Keluarga Xiao di mata publik. Dia ingin melihat apakah aku memiliki nyali untuk melangkah ke wilayah kekuasaannya setelah semua keributan yang kubuat.’*
"Jika tetua agung Keluarga Angin Salju sudah memberikan panggung seindah ini, menolaknya hanya akan membuat kita terlihat pengecut," ucap Xiao Xuan tegas, kepribadiannya yang matang dan anti-naif langsung mengambil keputusan taktis. "Tetua Xiao Tian, utus seseorang untuk memberi tahu Keluarga Angin Salju bahwa aku, Xiao Xuan, akan hadir tepat waktu dalam tiga hari. Selain itu, siapkan hadiah yang paling mewah dari perbendaharaan kita. Kau yang akan menemaniku langsung ke jamuan tersebut."
"Orang tua ini akan segera melaksanakannya. Segala urusan Tuan Muda tidak akan terlambat barang sekejap pun," jawab Xiao Tian penuh hormat sebelum akhirnya mengundurkan diri dari ruangan.
Setelah pintu tertutup, keheningan kembali melingkupi Xiao Xuan. Ia menatap undangan perak di tangannya, memikirkan setiap langkah catur yang harus ia ambil di kediaman Tuan Kota nanti.
Tiga hari berlalu dalam sekejap mata. Langit di atas Kota Glory begitu bersih, biru tanpa noda, dengan matahari pagi yang bersinar hangat seolah ikut menyambut hari besar ini.
Kereta kuda Keluarga Xiao yang anggun berhenti di depan gerbang utama Rumah Besar Tuan Kota. Suasana di sana sudah sangat ramai, dipenuhi oleh deretan kereta mewah dan riuh rendah suara para tamu. Aliran jubah sutra dari berbagai warna memenuhi pandangan. Para pembawa acara sibuk menyambut kedatangan para tokoh penting, sementara barisan penjaga kota berbaju zirah menjaga ketertiban dengan ketat.
Xiao Xuan melangkah turun dari kereta, diikuti oleh Xiao Tian yang membawa sebuah kotak giok panjang yang memancarkan aura spiritual yang kuat. Pandangan mata Xiao Xuan menyapu sekeliling dengan tenang; hampir seluruh kekuatan besar di kota ini telah berkumpul.
Di bawah bimbingan hangat dari pembawa acara utama yang mengenali lencana Keluarga Xiao, Xiao Xuan dan Xiao Tian dibawa masuk melewati koridor-koridor megah yang dihiasi ukiran es abadi. Namun, saat mencapai titik pembagian aula, mereka diarahkan ke jalur yang berbeda.
Xiao Xuan melangkah masuk ke aula komunikasi utama, dan setelah mengamati situasi, ia menyadari bahwa ruangan luas yang dipenuhi meja-meja penuh hidangan lezat ini hanya diisi oleh generasi muda. Sosok-sosok seperti Chen Linjian yang angkuh dan Ye Hong yang tenang terlihat di beberapa sudut.
Setelah bertanya dengan nada santai kepada pelayan yang lewat, Xiao Xuan mengetahui bahwa ini adalah pengaturan khusus dari Kakek Ye Mo sendiri. Sang Legenda sengaja memisahkan aula untuk kaum muda dan aula untuk para tetua, dengan alasan agar generasi muda bisa menikmati pesta tanpa merasa terkekang oleh kehadiran orang tua mereka.
*‘Orang tua yang menarik,’* batin Xiao Xuan, menghargai pemikiran dewasa tersebut. Dia sendiri paling malas jika harus duduk berbasa-basi mendengarkan pujian kosong dari para rubah tua pemimpin keluarga. Pengaturan ini sangat sesuai dengan seleranya.
Saat Xiao Xuan berjalan menuju tempat duduknya yang berada di baris depan, suasana di sekitar meja-meja generasi muda mendadak senyap selama beberapa saat. Beberapa pemuda yang tadinya tertawa keras langsung menahan napas, ingatan mereka tentang bagaimana Xiao Xuan menumbangkan mereka di arena beberapa hari lalu masih menyisakan rasa perih di harga diri—dan tubuh—mereka. Rasa trauma itu membuat mereka memilih untuk berpaling, tidak ada yang berani mencari masalah dengan "Genius Nomor Satu" yang baru ini.
Sebelum Xiao Xuan sempat menyentuh cangkir tehnya, sebuah gelombang energi yang teramat halus namun masif tiba-tiba menyelimuti sudut tempat duduknya. Suara langkah kaki yang berat namun tak bersuara mendekat, dan sesosok pria tua berambut perak dengan jubah abu-abu sederhana berdiri di sampingnya.
Kakek Ye Mo.
"Dasar bocah nakal," suara Ye Mo terdengar, berat namun mengandung kedekatan yang tidak biasa. "Kau sudah menginjakkan kaki di Rumah Tuan Kota dan bahkan tidak repot-repot datang menyapa orang tua renta ini terlebih dahulu? Apa kau sudah melupakan keberadaanku, hmm?"
Xiao Xuan tidak terkejut. Dengan ketenangan pria dewasa, ia berdiri dan membungkuk sedikit, memberikan penghormatan yang pas—tidak merendah, namun penuh rasa hormat. "Bagaimana mungkin, Senior? Dalam setiap langkah kultivasi saya, nama dan petunjuk dari Senior selalu menjadi panutan di hati saya."
Kakek Ye Mo menyipitkan matanya, menatap Xiao Xuan dengan pandangan menyelidik yang tajam sebelum mendengus pelan dalam hati, *‘Cih, bermulut manis. Aku bertaruh seratus batu spiritual, kau tidak sedang memikirkan orang tua ini, melainkan sedang mengincar cucu perempuan kesayanganku!’*
"Kata-kata kosong tidak ada gunanya di tempatku, anak muda," Ye Mo menepuk meja giok dengan pelan. "Mana sesuatu yang praktis? Kau tidak mungkin datang ke perayaan ulang tahun cucuku dengan tangan kosong, bukan?"
Xiao Xuan tersenyum tipis, gesturnya begitu tenang. "Tenang saja, Senior. Saya telah menyiapkan sebuah hadiah besar yang saya jamin akan membuat hadiah dari keluarga lain terlihat... sedikit tidak berarti. Namun, mengenai kondisi dan izin yang pernah kita bicarakan sebelumnya, bagaimana Senior akan menyikapinya?"
Ye Mo menatap Xiao Xuan selama beberapa detik, lalu mengembuskan napas panjang. "Jangan berpura-pura polos setelah kau mendapatkan begitu banyak keuntungan dari reputasimu saat ini. Kau sudah berada di aula ini, bukankah itu sudah menjadi jawaban? Aku tidak akan melarang kalian berdua untuk saling mengenal atau berinteraksi, tetapi ingat... ada batasan ketat yang tidak boleh kau langgar. Jika kau berani menyakiti atau memanfaatkan Ziyun, bahkan Keluarga Xiao-mu tidak akan bisa melindungimu dari kemarahanku."
Mendengar kepastian tersebut, kilatan kepuasan terpancar di mata dingin Xiao Xuan. "Terima kasih atas kemurahan hati Anda, Kakek."
Ye Mo yang tadinya ingin berbalik, mendadak menghentikan langkahnya dan menatap Xiao Xuan dengan alis berkerut, namun ada senyum tipis di sudut bibirnya. "Oh, sekarang kau baru tahu cara memanggilku Kakek? Bukankah di belakangku kau selalu menyebutku 'bocah tua' atau 'orang tua bangka'? Apa kau pikir telinga orang tua renta ini sudah tuli dan tidak tahu apa-apa tentang rumor di luar sana?"
Seketika itu juga, untuk pertama kalinya, Xiao Xuan merasa sedikit salah tingkah. Sifatnya yang biasanya dingin dan analitis mendadak terusik oleh sindiran langsung sang legenda. Ia berdehem pelan, mengusap hidungnya untuk menyembunyikan rasa canggung, dan membungkuk meminta maaf dengan tulus. "Itu... hanya kesalahpahaman dalam gurauan anak muda, Kakek. Mohon jangan dimasukkan ke dalam hati."
"Sudah, pergi sana. Jangan berdiri di sini dan merusak pemandangan orang tua ini," Ye Mo mengibaskan tangannya sambil terkekeh pelan, merasa puas karena berhasil membuat pemuda yang selalu bersikap sedewasa rubah itu mati kutu sejenak.
[Ding! (¯ ▽ ¯)ノ Oh la la... Tuan Muda kita yang dingin ternyata bisa merasa malu juga ya di depan seorang kakek tua? Sungguh pemandangan yang langka dan sangat menghibur! Bersiaplah, panggung utama perjamuan akan segera dimulai, jangan memalukan nama sistem hebat ini! ┐(´∇`)┌]
Notifikasi sistem yang sarkas itu berkelebat di benak Xiao Xuan, namun ia mengabaikannya dengan menutup mata sekejap, kembali ke pembawaannya yang tenang.
Tak lama kemudian, suara terompet spiritual ditiup, menandakan dimulainya acara utama. Pembawa acara naik ke atas podium tinggi di tengah aula luar, memegang sebuah gulungan emas, dan mulai membacakan daftar hadiah yang dibawa oleh masing-masing keluarga besar dengan suara yang menggema ke seluruh penjuru istana.
"Keluarga Shengming mempersembahkan... seratus kati Rumput Shengming tingkat tinggi!"
"Asosiasi Alkemis mempersembahkan... seratus botol Pil Ilahi Roh Primordial Angin Salju kualitas murni!"
"Keluarga Suci mempersembahkan... satu set Baju Zirah Tempur Peringkat Emas Hitam, lengkap dengan inti jiwa harimau!"
Setiap kali sebuah nama dan hadiah disebutkan, riuh tepuk tangan dan bisikan kagum terdengar dari para tamu. Hadiah-hadiah tersebut sudah tergolong sangat mewah dan mampu menyokong kultivasi seorang genius selama bertahun-tahun. Hingga akhirnya, pembawa acara mengambil napas dalam-dalam, menatap gulungan di tangannya dengan mata yang terbelalak tidak percaya sebelum membacakannya dengan suara yang bergetar karena syok.
"Keluarga Xiao mempersembahkan... satu set utuh Baju Zirah Tempur Peringkat Legenda, ditempa dari Logam Dewa Langit dan diberkati oleh Pola Prasasti Kuno!"
*Hening.*
Seluruh aula besar itu mendadak sunyi senyap, seolah-olah waktu telah berhenti berputar. Detik berikutnya, suara gemuruh diskusi dan seruan tidak percaya meledak bagai badai guntur.
"Apa?! Peringkat Legenda?!"
"Satu set utuh?! Apakah Keluarga Xiao sudah gila?! Benda semacam itu bahkan bisa menjadi pusaka pelindung sebuah sekte atau keluarga besar selama ratusan tahun!"
"Kekuatan finansial dan fondasi macam apa yang dimiliki Keluarga Xiao saat ini? Mengeluarkan barang Peringkat Legenda hanya untuk hadiah ulang tahun seorang gadis muda?!"
Para kepala keluarga yang duduk di aula sebelah bahkan sampai berdiri dari kursi mereka, menatap ke arah tempat duduk Xiao Xuan dengan pandangan yang dipenuhi rasa ngeri campur kagum. Nilai dari hadiah tersebut benar-benar menghancurkan dan menenggelamkan semua hadiah dari keluarga lain tanpa sisa. Di sudut ruangan, beberapa patriark dari keluarga menengah saling berbisik dengan wajah memerah karena antusias, "Luar biasa... Ini benar-benar gaya seorang penguasa sejati! Mulai hari ini, Keluarga Xiao adalah Bos besar kita! Kita harus segera merapat dan mencari perlindungan pada mereka!"