Semua orang mengenal Bintang Prakasa sebagai pengusaha muda yang sukses, berwibawa, dan nyaris sempurna. Namanya terpampang di berbagai media sebagai pemimpin perusahaan besar yang terus berkembang dari tahun ke tahun. Dengan wajah tampan, kecerdasan tajam, dan kekayaan yang melimpah, ia menjadi sosok yang dikagumi banyak orang.
Namun tidak ada yang tahu kehidupan sebenarnya di balik senyum tenangnya.
Di balik dunia bisnis yang gemerlap, Bintang adalah pria yang mengendalikan salah satu organisasi paling berpengaruh di dunia bawah. Namanya dihormati sekaligus ditakuti. Satu perintah darinya mampu mengubah nasib seseorang dalam sekejap.
Meski memiliki segalanya, hidup Bintang tidak pernah benar-benar damai.
Lima belas tahun lalu, ayahnya meninggal dalam sebuah peristiwa yang dianggap sebagai kecelakaan. Semua orang menerima penjelasan itu, kecuali Bintang. Ia yakin ada tangan-tangan kotor yang terlibat dalam kematian ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 Dia Kembali
"Mustahil..." Viktor berbisik pelan sambil menatap pria muda itu tanpa berkedip.
Arga hanya tersenyum, ia berdiri dengan santai di tengah gudang tua itu seolah tidak menyadari bahwa kemunculannya baru saja mengguncang semua orang yang berada di sana.
Angin malam masuk dari celah-celah dinding besi yang berkarat dan membuat suasana semakin dingin, tetapi tatapan Viktor, Leonard, dan Damar jauh lebih dingin daripada udara di sekitar mereka.
"Kau terlihat seperti baru melihat hantu." Arga mengangkat bahu santai.
"Itu karena kau memang seharusnya sudah mati." Leonard menatapnya tajam.
"Aku sering mendengar kalimat itu." Arga tertawa kecil.
Bintang memperhatikan mereka bergantian, jelas ada sesuatu yang besar di balik kemunculan pria itu bahkan Leonard yang biasanya tenang terlihat kesulitan menyembunyikan emosinya.
"Siapa dia sebenarnya?" tanya Bintang sambil menatap Viktor.
Viktor tidak langsung menjawab, rahangnya mengeras sementara kedua tangannya perlahan mengepal.
"Dia salah satu orang yang berada di rumah itu malam kebakaran terjadi," jawab Damar pelan.
"Dan satu-satunya yang kami yakini tewas." Leonard menyipitkan mata.
"Namun ternyata kalian salah." Arga tersenyum tipis.
Rania memperhatikan pria itu dengan saksama, entah kenapa, ada sesuatu yang terasa aneh. Bukan karena kemunculannya, melainkan karena cara pria itu menatap dirinya. Seolah mereka pernah bertemu, padahal ia yakin itu tidak mungkin.
"Kenapa kau melihatku seperti itu?" tanya Rania sambil mengernyit.
Arga tidak langsung menjawab, senyumnya perlahan menghilang sebelum ia mengembuskan napas panjang.
"Karena kau jauh lebih mirip ibumu daripada yang kubayangkan."
Kalimat itu membuat jantung Rania langsung berdegup lebih cepat.
"Kau mengenal ibuku?" tanyanya cepat.
"Aku mengenal kedua orang tuamu." Arga menatapnya dalam.
Ruangan kembali hening.
"Jangan dengarkan dia." Viktor melangkah maju. "Dia hanya mencoba memainkan pikiranmu."
"Aku?" Arga terkekeh pelan. "Bukankah selama ini justru kalian yang melakukannya?"
Tidak ada yang menjawab. Karena tidak ada yang bisa membantahnya.
"Di mana pria yang ada di video itu?" tanya Bintang sambil mengalihkan pembicaraan.
"Itu pertanyaan yang lebih baik." Arga mengangguk pelan.
"Jawab."
"Aku bisa menjawabnya."
"Kalau begitu jawab."
"Tapi tidak gratis."
"Sudah kuduga." Bintang langsung mendengus.
Arga melangkah perlahan mengitari mereka.m, tatapannya bergantian menatap Viktor, Damar, Leonard, lalu berhenti pada Rania.
"Aku hanya ingin satu hal."
"Apa?" tanya Rania.
"Kebenaran."
"Kau datang ke tempat yang salah kalau mencari itu." Leonard langsung tertawa sinis.
"Benarkah?" Arga mengangkat sebelah alis. "Karena selama ini aku justru melihat kalian mati-matian menyembunyikannya."
"Arga..." Damar mengusap wajahnya kasar.
"Jangan." Arga mengangkat tangan. "Sudah dua puluh lima tahun, Damar. Aku lelah mendengar alasan."
Suasana kembali menegang, Bintang bisa merasakan bahwa hubungan antara pria itu dan orang-orang yang berdiri di sekitarnya jauh lebih rumit daripada yang dibayangkan.
"Apa yang sebenarnya terjadi malam itu?" tanyanya.
"Pertanyaan bagus." Arga menoleh.
"Jawab."
"Aku akan menjawabnya." Arga mengangguk pelan. "Tapi sebelum itu, ada seseorang yang ingin kalian temui."
Jantung Rania langsung berdegup lebih cepat.
"Apa maksudmu?" tanyanya pelan.
"Kalian datang ke sini untuk seseorang, bukan?" Arga tersenyum tipis.
Tidak lama kemudian, suara langkah kaki terdengar dari lantai atas gudang. Semua orang langsung menoleh, Rangga bahkan refleks memegang pistolnya saat bayangan seseorang mulai muncul dari balik pagar besi.
Rania membeku, Bintang ikut terdiam karena pria yang turun dari tangga itu adalah orang yang mereka lihat di video. Pria yang sangat mirip Bintang, pria yang disebut sebagai saudara kembar Rania. Wajahnya masih pucat, di dahinya masih terlihat bekas luka yang belum sembuh sepenuhnya namun ia masih hidup. Dan kini berdiri tepat di depan mereka.
Rania menelan ludah, pria itu juga menatapnya tanpa berkedip. Selama beberapa detik, tidak ada satu pun yang berbicara.
"Kau..." bisik Rania.
"Halo, Rania." Pria itu tersenyum tipis.
Jantung wanita itu langsung terasa berhenti.
"Kau mengenalku?" tanyanya pelan.
"Aku sudah mencarimu selama bertahun-tahun." Pria itu mengangguk.
Rania tidak tahu harus berkata apa, terlalu banyak emosi yang bercampur menjadi satu, bingung, takut, marah dan penasaran.
"Siapa namamu?" tanyanya.
"Raka." Pria itu menatapnya lembut.
"Kalau kau saudara kembar Rania, kenapa wajahmu justru mirip denganku?" Bintang menyipitkan mata.
Pertanyaan itu membuat ekspresi Raka langsung berubah, begitu pula Viktor dan Leonard bahkan Arga ikut terdiam.
"Ada apa?" Bintang mengernyit.
Tidak ada yang menjawab.
"Jangan bilang..." Bintang menatap mereka satu per satu. "Ada sesuatu yang belum kalian katakan lagi."
"Kau cepat belajar." Arga tertawa hambar.
"Sial!" umpat Bintang sambil mengepalkan tangannya. "Apa kali ini?"
Arga menatap Viktor, Viktor menatap lantai sedangkan Leonard menutup matanya sesaat dan reaksi mereka membuat firasat buruk mulai muncul di dalam diri Bintang.
"Katakan." Suaranya berubah dingin.
Arga mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya menatap lurus ke arah Bintang.
"Aku tidak tahu apakah ini waktu yang tepat."
"Katakan!" bentak Bintang.
Arga terdiam beberapa saat. Kemudian ia mengangguk pelan.
"Baik."
Semua orang menunggu, tidak ada yang bergerak, tidak ada yang berbicara dan saat Arga akhirnya membuka mulutnya, kalimat yang keluar membuat seluruh ruangan membeku.
"Karena pria yang kau lihat di depanmu bukan satu-satunya orang yang hilang malam itu." Arga menatap Bintang dalam-dalam. "Dan karena alasan itulah, kau juga harus mulai mempertanyakan siapa dirimu sebenarnya."
Bintang membeku, Rania langsung menoleh sedangkan Viktor terlihat seperti baru saja kehilangan seluruh kekuatannya.