NovelToon NovelToon
PRIMUS ARISTOKRAT

PRIMUS ARISTOKRAT

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:359
Nilai: 5
Nama Author: elzio_yanuar

PRIMUS ARISTOKRAT
Dikhianati tunangan.
Diremehkan keluarga.
Bahkan dibunuh demi harta warisan.
Semua orang mengira hidup Primus Valerian Aristokrat telah berakhir.
Mereka salah.
saat kembali dari ambang kematian, Primus membawa kemampuan yang membuat seluruh dunia terkejut.
Bisnis? Tak ada yang bisa mengalahkannya.
Bela diri? Musuh-musuhnya tumbang dalam hitungan detik.
Strategi? Bahkan para konglomerat dan bangsawan tua dipermainkan olehnya.
Ketika identitas aslinya perlahan terungkap, para petinggi dunia mulai gemetar.
Karena pria yang dulu mereka hina ternyata adalah kunci menuju kekayaan, kekuasaan, dan rahasia terbesar keluarga Aristokrat.
Mereka pernah menginjaknya saat jatuh.
Kini giliran Primus berdiri di puncak dan menentukan nasib mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elzio_yanuar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PENGHIANATAN

Alunan piano dari sudut restoran masih mengudara, mengiringi denting halus sendok dan garpu perak yang beradu dengan piring porselen. Cahaya hangat dari lampu kristal raksasa di langit-langit Sky Garden memandikan meja mereka dengan kilau yang romantis.

Dari sudut pandang orang asing, mereka berdua tak ubahnya sepasang kekasih dari kalangan atas yang sedang merayakan momen intim. Sempurna tanpa cela.

Namun bagi Primus, kesempurnaan malam ini justru terasa janggal. Terlalu sunyi, terlalu dikondisikan. Dan dalam dunianya, ketenangan yang dipaksakan biasanya merupakan pembuka dari badai yang menghancurkan.

Vanessa duduk di hadapannya, jemarinya yang lentik tampak gelisah memainkan tangkai gelas anggur. Senyum di bibirnya masih seindah biasanya—anggun dan memikat. Hanya saja, Primus bisa melihat dengan jelas bagaimana wanita itu berkali-kali kehilangan fokus. Sorot matanya terlalu sering melesat ke arah pintu masuk, seolah mengantisipasi kedatangan sesuatu. Atau seseorang.

"Vanessa," panggil Primus, nadanya rendah, memecah kecanggungan di antara mereka.

"Ya? Kenapa, Primus?" Vanessa mendongak, ada sedikit riak keterkejutan di wajahnya.

Primus mengulas senyum tipis, menyandarkan punggungnya dengan santai. "Ada yang mengganggu pikiranmu? Kau terlihat agak tidak tenang sejak kita duduk tadi."

Vanessa memaksakan tawa kecil, mencoba mengembalikan ketenangannya yang mulai terkikis. "Ah, tidak ada. Kau terlalu sensitif. Aku hanya... memikirkan pekerjaan di butik yang belum selesai."

"Begitu."

Primus tidak mengejarnya lebih jauh. Ia memilih menyesap air putihnya dengan gerakan konstan. Namun di balik sikap tenangnya, alarm di dalam kepalanya sudah berdering kencang. Kebohongan kecil Vanessa barusan justru mempertegas satu hal: ada sesuatu yang sedang berjalan di balik punggungnya, dan tunangannya adalah bagian dari skenario tersebut.

---

Sementara itu, di balik kaca gelap lantai dua yang menghadap langsung ke arah meja mereka, Adrian masih berdiri kokoh. Gelas wine di tangannya berputar pelan, memantulkan warna merah darah di bawah temaram lampu.

Pria tua bertubuh tegap di sampingnya berdeham pelan. "Tuan Muda Adrian."

"Katakan," sahut Adrian tanpa mengalihkan pandangan dari Primus.

"Apakah memicu konflik di tempat umum seperti ini tidak terlalu berisiko? Dewan keluarga bisa saja menganggap ini sebagai tindakan yang kekanak-kanakan."

Adrian menarik sudut bibirnya, membentuk senyuman dingin yang sarat akan arogansi. "Kekanak-kanakan? Tidak, ini taktis. Primus terlalu pintar menyembunyikan emosinya saat rapat semalam. Orang yang terlalu tenang seperti dia itu berbahaya jika dibiarkan memegang kendali terlalu lama."

Ia menjeda kalimatnya untuk meneguk wine-nya hingga tandas. "Aku tidak sedang ingin mengujinya. Aku ingin mematahkan mentalnya sebelum dia sempat menyadari seberapa besar kekuatan yang bisa dia bangun di Cabang Timur."

---

Kembali ke lantai bawah, pelayan baru saja menyajikan hidangan utama. Aroma steak premium yang menggugah selera menguar di udara, namun Vanessa nyaris tidak menyentuh makanannya sama sekali. Ia hanya memotongnya menjadi bagian-bagian kecil tanpa minat.

Percakapan di antara mereka mengalir patah-patah. Hingga akhirnya, keheningan di meja mereka pecah secara paksa.

Brak.

Pintu ganda restoran terbuka dengan sedikit sentakan yang disengaja. Atensi sebagian besar pengunjung langsung tersedot ke arah ambang pintu.

Seorang pria muda melangkah masuk dengan gestur tubuh yang teramat percaya diri, bahkan cenderung congkah. Setelan jas rancangan desainer ternama, jam tangan edisi terbatas yang berkilau seolah berteriak meminta perhatian, serta senyuman meremehkan yang terpatri di wajahnya.

Gisik-bisik langsung menjalar di antara meja-meja pelanggan lain.

"Itu Kevin Hartwell, kan?"

"Pewaris utama Hartwell Group? Konglomerat yang menguasai jalur logistik distrik barat?"

"Mau apa dia ke sini?"

Tanpa memedulikan tatapan orang-orang, Kevin berjalan lurus, memotong area tengah restoran menuju meja tempat Primus berada. Langkahnya berhenti tepat di samping kursi Vanessa.

"Sayang, maaf aku membuatmu menunggu," ucap Kevin, suaranya sengaja dikeraskan hingga gaungnya terdengar jelas di meja-meja sekitar.

Seketika, atmosfer di sekitar tempat itu membeku. Wajah Vanessa mendadak kehilangan seluruh rona merahnya, berubah pucat pasi seputih kain kafan. Sementara Primus? Ia hanya menaikkan sebelah alisnya dengan gerakan yang teramat tenang.

"Kevin! Apa yang kau lakukan di sini?! Jangan sekarang, kubilang!" bisik Vanessa dengan nada panik yang tertahan, matanya bergerak liar memohon agar pria itu pergi.

Namun, Kevin justru terbahak. Baginya, kepanikan Vanessa adalah bumbu penyedap yang sempurna. "Kenapa harus bersembunyi? Cepat atau lambat dia juga harus tahu, kan?"

Dengan gerakan yang sangat natural sekaligus provokatif, Kevin menarik sebuah kursi kosong di dekat mereka dan duduk tepat di samping Vanessa. Jarak di antara keduanya terlalu intim, melanggar batas kenyamanan yang seharusnya dijaga oleh wanita yang sudah bertunangan.

Kevin menumpukan kedua lengannya di atas meja, menatap Primus dengan binar mata yang penuh dengan kemenangan. "Primus Aristokrat. Kurasa kita belum pernah berkenalan secara resmi."

Primus memperbaiki posisi duduknya, menyilangkan kaki dengan pembawaan yang begitu rileks, seolah-olah Kevin hanyalah lalat yang kebetulan hinggap. "Dan kurasa, aku tidak memiliki ketertarikan untuk mengenalmu."

Ujung alis Kevin berkedut mendengar respons dingin tersebut. Skenario yang ada di kepalanya adalah melihat Primus menggebrak meja, mencaci-maki, atau setidaknya menunjukkan gurat kemarahan yang bisa ia jadikan bahan tertawaan bersama Adrian nanti. Namun, mata abu-abu di depannya ini tetap sedatar air di dalam tempayan.

Kevin mendengus sinis, senyumnya berubah menjadi dingin. "Kau boleh bersikap sombong sesukamu, Primus. Tapi mari kita perjelas satu hal malam ini."

Ia mengulurkan tangan, merangkul pundak Vanessa dengan posesif. Gerakan itu membuat Vanessa memejamkan mata sesaat, bahunya gemetar, pasrah pada kehancuran reputasinya yang kini sedang dipertontonkan di depan umum.

"Aku adalah pria yang sebenarnya menempati posisi tertinggi di hati Vanessa. Hubungan kalian? Itu tak lebih dari sekadar transaksi bisnis yang membosankan di antara orang tua kita," ucap Kevin, menatap lurus ke dalam manik mata Primus dengan kilat menantang.

Sunyi.

Seluruh restoran mendadak kehilangan suaranya. Bahkan alunan piano pun entah sejak kapan telah berhenti. Semua orang menahan napas, bersiap menyaksikan ledakan amarah dari sang pewaris pertama keluarga Aristokrat yang baru saja dikhianati secara terang-terangan.

Namun, kejutan sesungguhnya justru datang dari Primus.

Ia sama sekali tidak melirik Kevin. Pandangan matanya mengunci lurus pada Vanessa yang kini tertunduk dalam. Sorot matanya tidak memancarkan kobaran api amarah, melainkan sebuah ketenangan yang dingin dan mematikan.

"Apakah semua yang dia katakan itu benar, Vanessa?" tanya Primus, suaranya terdengar sangat lembut, namun entah bagaimana, memiliki daya tekan yang membuat dada siapa pun yang mendengarnya terasa sesak.

Vanessa menggigit bibir bawahnya hingga hampir berdarah. Air mata mulai menggenang di sudut matanya, namun bibirnya tetap terkatung rapat. Keheningan dan penolakannya untuk membantah sudah menjadi jawaban yang jauh lebih gamblang daripada untaian kata.

Untuk pertama kalinya dalam sisa malam itu, Primus merasakan ada sesuatu yang patah di dalam dirinya. Bukan karena hatinya hancur sebagai seorang pria yang cemburu—sebab pertunangan ini memang diawali oleh kepentingan politik—melainkan karena rasa kecewa yang teramat dalam.

Selama dua tahun terakhir, di tengah kepungan serigala-serigala berbulu domba di dalam mansion Aristokrat, Primus mengira setidaknya Vanessa adalah satu-satunya manusia yang menyisakan sedikit kejujuran untuknya. Ternyata, ia terlalu melebih-lebihkan nilai sebuah ketulusan di dunia atas ini. Wanita di depannya ini tak lebih dari sekadar pion lain yang dikirim untuk menusuknya dari belakang.

Kevin yang melihat perubahan sorot mata Primus mengira dirinya telah berhasil memenangkan pertempuran mental ini. Ia tertawa puas, bersiap melayangkan hinaan berikutnya untuk menyempurnakan malam kemenangan Adrian.

Namun, Kevin yang malang tidak pernah tahu... bahwa di balik topeng kekecewaan yang ditunjukkan Primus, sebuah kalkulasi dingin yang baru saja selesai dirumuskan. Dan malam ini, panggung yang telah disiapkan Adrian untuk mempermalukannya, justru akan berbalik menjadi tempat eksekusi bagi kesombongan Kevin sendiri.

"BERSAMBUNG"

1
Toto Maki
sejauh ini alurnya bagus g muter" lanjut kembangkn lgi aku follow
yanuar saputra: terimakaaih kak atas saran nya, salam hangat☺
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!