Walaupun lima belas tahun telah berlalu, namun nyatanya Zenion masih belum mampu melupakan malam kelam yang menghancurkan seluruh hidupnya.
Kala itu, sebuah tragedi berdarah pecah di kerajaan tempat Zen tinggal, meninggalkan luka dan trauma yang membekas seumur hidup. Di kepalanya masih teringat jelas bagaimana sang ibu dihabisi dengan brutal di tengah kobaran api kastil yang melalap habis tempat tinggal mereka.
—————————
"Jangan sakiti mereka. Aku mohon!"
Suara napas yang tersengal hebat, deru langkah kaki yang memburu, dan suasana mencekam menyelimuti samar-samar kenangan pahit yang melintas tak beraturan dalam gelapnya dunia mimpi.
"Zen... Lucy... lari dari sini! Cepat lari!"
Seruan panik seorang wanita muda terdengar jelas. Tubuhnya terbelenggu dalam cengkeraman enam pria bertubuh besar, sementara suaranya terdengar serak dan penuh keputusasaan.
"Lepaskan ibuku! Lepaskan!" teriak bocah laki-laki itu dengan suara parau.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laabki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
mahkota daun sang putri
Amanda membawa anak kecil itu keluar dari area utama, bergegas menuju sebuah bangunan terbengkalai berukuran tidak terlalu besar yang berdiri tepat di sebelah panti. Ia memilih sebuah ruangan sempit di sudut gedung yang sudah lama tidak digunakan tersebut. Ruangan itu sunyi dan sedikit gelap, hanya diterangi seberkas cahaya redup yang menerobos masuk dari celah jendela kayu tua. Di dalam sana, kini hanya ada mereka berdua.
Amanda berjongkok di depan sang bocah, berusaha melunakkan nada suaranya meski isi kepalanya sedang berkecamuk tidak karuan.
"Siapa yang memberimu benda ini?" tanyanya pelan, sembari menunjukkan belati yang kini berada di tangannya. Senjata itu diserahkan kembali oleh Zen. Pria itu tadi sempat berbalik ke arah bangunan terbengkalai ini hanya untuk menyerahkan belati tersebut, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk menggeledah seluruh sudut halaman panti.
Anak perempuan itu terus menunduk. Jemari kecilnya saling menggenggam erat di atas pangkuan hingga bergetar halus. "Seseorang di pasar pagi tadi..." jawabnya lirih. "Dia memberiku permen dan gulungan kertas itu."
Amanda mengernyit samar. "Lalu? Apa yang dia katakan?"
Anak itu menggigit bibirnya sebelum melanjutkan dengan suara yang semakin mencicit. "Katanya... kalau aku menusuk perut Putri menggunakan benda itu..." Matanya masih berkaca-kaca, "...aku akan dijadikan anaknya. Aku akan punya rumah."
Amanda tertegun. Ada rasa sesak yang tiba-tiba menghantam dadanya. Jantungnya ngilu menyadari betapa kejamnya seseorang yang tega mengencingi mimpi polos seorang anak yatim piatu demi melancarkan aksi pembunuhan ini.
"Orang itu... apakah dia seorang pria atau wanita?" tanya Amanda lagi, kali ini nadanya jauh lebih serius.
"Pria..." jawab anak itu polos.
"Apa kau ingat bagaimana wajahnya?"
Anak perempuan itu menggeleng pelan. "Aku tidak ingat. Wajahnya tertutup jubah."
Amanda mengangguk paham, mencoba menggali petunjuk lain. "Lalu, pakaiannya seperti apa?"
Anak itu mendongak ragu-ragu, menatap Amanda dengan mata sembab penuh ketakutan. "Bagus," jawabnya polos. "Sangat bagus dan bersih. Seperti orang kaya."
Amanda terpaku. Dua alisnya saling bertaut. "Seperti seorang bangsawan?" tanyanya, memastikan dengan suara selembut mungkin.
Anak perempuan itu tampak kebingungan dengan istilah tersebut, namun ia tetap mengangguk kecil. "Mungkin."
Amanda mengangguk paham, kemudian menundukkan pandangannya untuk mengamati belati kecil di genggamannya dengan lebih saksama. Gagang senjata itu terbuat dari kayu hitam rawa yang dipoles sangat halus, memamerkan serat kayu langka yang biasanya hanya mampu dibeli oleh orang-orang dari kalangan atas. Ukiran rumit di bagian pangkalnya pun dibuat dengan detail yang teramat rapi, sangat jelas hasil tempaan pandai besi berpengalaman.
Sementara itu, sarung belatinya dibalut kulit hewan berwarna gelap yang masih tampak baru dan terawat, menguapkan aroma khas kulit samakan yang samar. Namun, saat sepasang mata Amanda turun menatap bilah logamnya yang gelap, ia merasakan sensasi dingin yang ganjil dan bobot yang kelewat padat, seolah itu bukan besi biasa yang kerap ditempa di Castlewood. Bahan semewah ini mustahil dimiliki rakyat biasa, apalagi tersesat di tangan seorang anak panti asuhan.
Semakin Amanda memperhatikannya, semakin besar rasa marah yang merayap di tengkuknya.
Jemari wanita itu perlahan mengepal kuat hingga buku jarinya memutih. Ia tahu betul, tidak semua kaum bangsawan di Castlewood menyukai Raja Arthur. Beberapa faksi berdarah biru bahkan secara terang-terangan sering menentang kebijakan Sang Raja yang dianggap terlalu memanjakan rakyat. Namun, Amanda tidak pernah membayangkan kalau mereka akan merendahkan diri hingga sekeji ini. Menggunakan anak kecil sebagai alat pembunuhan. Benar-benar tidak berprikemanusiaan.
Amanda menatap kembali anak perempuan di hadapannya. Wajah mungil yang kotor itu kini dipenuhi air mata, tubuhnya menyusut ketakutan seolah baru menyadari betapa mengerikannya dosa yang nyaris ia lakukan.
Tatapan mata Amanda yang semula tajam perlahan-lahan melunak, digantikan oleh rasa iba yang mendalam. Ia menghela napas panjang, lalu mengulurkan tangan untuk mengusap lembut rambut acak-acakan anak perempuan itu.
"Kau tidak bersalah," ucapnya lirih, suaranya bergetar menahan emosi. "Orang dewasa itulah yang membohongimu."
Mendengar kepastian bahwa dirinya tidak bersalah, bahu kecil sang bocah seketika terguncang hebat. Tangisnya pecah seketika, air matanya tumpah semakin deras membasahi pipi pucatnya yang ringkih.
Amanda mantapnya getir, kemudian menarik tubuh mungil yang gemetar itu ke dalam dekapannya, memeluknya dengan erat.
"Tidak apa-apa..." bisiknya pelan. Sebelah tangannya mengusap punggung anak itu dengan lembut. "Menangislah jika memang ingin menangis. Tidak ada yang akan memarahimu."
Anak perempuan itu menangis semakin keras di ceruk leher Amanda, seolah seluruh ketakutan yang selama ini dipendam akhirnya pecah sekaligus. Amanda hanya bisa memeluknya lebih erat, membiarkan gadis kecil itu meluapkan semuanya.
...****************************************...
Zen memperhatikan Amanda yang melangkah keluar dari ruangan sempit itu dengan gurat wajah yang jauh lebih keruh dari sebelumnya. Dari celah pintu yang belum tertutup sempurna, sepasang mata birunya sempat menangkap sosok anak perempuan tadi. Sang bocah telah tertidur lelap di atas sofa kayu tua. Napasnya masih tersendat pelan, sementara kedua kelopak matanya tampak membengkak akibat terlalu lama menangis.
Tatapan Zen tertahan beberapa saat. Jemarinya perlahan menggenggam gagang pedang di pinggangnya lebih erat. Orang macam apa yang tega memperalat mimpi polos seorang anak yatim piatu demi sebuah ambisi tak bermoral? Bajingan.
Sebelum berdiri di tempat ini, Zen telah menghabiskan beberapa menit terakhir menyisir seluruh area Panti Asuhan Esmeralda. Mulai dari riuhnya halaman depan, lorong-lorong belakang yang sepi, dapur panti yang dipenuhi kepulan asap, hingga semak-semak di sekitar bangunan. Semuanya telah ia periksa sendiri..
Namun semakin lama Zen menyisir tempat ini, semakin semuanya terlihat... normal.
Anak-anak masih bersorak riang di sekitar Cassia, berebut perhatian sang Putri yang membalas mereka dengan tawa lepas. Para pengasuh sibuk membagikan sisa logistik sembari mengobrol hangat dengan penduduk yang datang berkunjung. Tidak ada wajah yang tampak gugup. Tidak ada gerak-gerik mencurigakan. Bahkan tidak ada sesuatu sekecil apa pun yang cukup layak disebut ancaman.
Tapi karena itulah, Zen justru semakin tidak nyaman. Seseorang baru saja mencoba membunuh Cassia. Namun di tengah keramaian ini, ia bahkan tidak bisa menemukan jejak sekecil apa pun yang mengarah pada pelaku.
Zen mengusap rambut hitamnya yang sedikit berantakan, lalu mengembuskan napas pendek. Hanya ada dua kemungkinan. Pelaku itu sudah meninggalkan area panti setelah menyerahkan belati tersebut kepada sang bocah. Atau... Bajingan itu memang terlalu ahli dalam menyembunyikan dirinya di tengah kerumunan ini..
"Bagaimana? Apa kau menemukan pelaku utamanya?" tanya Amanda setelah langkahnya berhenti di depan Zen.
"Aku tidak menemukan satu pun orang yang mencurigakan." Zen menatap lurus ke arah halaman panti. "Semuanya terlihat normal."
Amanda sempat melirik ke sekeliling terlebih dahulu, memastikan dengan saksama tidak ada pasang telinga lain yang mendengar percakapan mereka. Setelah dirasa aman, ia mengikis jarak di antara mereka.
"Itu bukan tindakan murni seorang anak kecil," bisiknya lirih, nyaris tak terdengar. "Seseorang menyuruhnya untuk membunuh Putri Cassia."
"Aku sudah menduganya."
Amanda kemudian mengangsurkan belati kecil itu ke arah Zen. "Dan aku rasa... pelakunya bukan dari kalangan rakyat biasa."
Zen menerima belati itu. Jemarinya meraba gagang kayu hitam rawa yang dipoles halus. Hanya dengan sekali sentuh, ia sudah bisa menebak kualitasnya. Ukiran halus di pangkal gagangnya dibuat terlalu rapi untuk ukuran senjata murahan yang biasa beredar di pasar kumuh. Ketika Zen menarik sedikit bilahnya keluar dari sarung kulit, logam gelap itu mengeluarkan denging berat yang padat. Sesuatu dari material ini terasa melenceng jauh dari standar besi militer Castlewood.
"...Kalangan atas?" tanya Zen tanpa mengalihkan pandangan dari belati itu.
Amanda mengangguk pelan. Untuk sesaat, keduanya dilingkupi keheningan. Suasana hangat panti asuhan yang sebelumnya dipenuhi tawa anak-anak, kini terasa jauh lebih mencekam bagi mereka berdua.
Zen mengalihkan pandangannya kembali ke halaman utama. Dari kejauhan, ia melihat Cassia sedang duduk di tengah kerumunan anak-anak, tertawa riang tanpa beban. Gadis itu tampak begitu antusias ketika seorang anak laki-laki dengan wajah gugup memasangkan mahkota daun di atas kepalanya.
"...Jangan katakan apa pun padanya sekarang," ucap Zen pada akhirnya.
Amanda mengikuti arah pandang pria itu.
"Tentu," sahutnya lirih. "Aku tidak ingin merusak harinya."
Setelah beberapa saat, Zen kembali menoleh kepada Amanda.
"Kita harus melaporkan temuan ini langsung kepada Raja Arthur setelah tiba di istana."
Amanda mengangguk pelan tanpa mengatakan apa pun.
Di tengah hangatnya suasana panti, salah seorang pengasuh terdengar mulai memanggil anak-anak untuk kembali masuk ke dalam gedung utama. Riuh tawa yang sejak tadi memenuhi halaman perlahan-lahan mereda, digantikan suara langkah-langkah kaki mungil yang berlarian riang memasuki bangunan tua tersebut.
Matahari kini telah naik lebih tinggi di atas langit Castlewood. Udara yang tadinya sejuk perlahan mulai menghangat, menandakan pagi telah berganti menuju siang.
Cassia akhirnya berjalan menghampiri Zen dan Amanda dengan senyum cerah yang tak luntur sedikit pun. Di sela jemarinya, terselip beberapa ikat bunga liar pemberian anak-anak panti, sementara mahkota daun yang tadi dipasangkan bocah laki-laki masih bertengger sedikit miring di atas rambut cokelat keemasan miliknya.
"Di sini seru sekali!" Cassia mendekap erat sekeranjang kecil hadiah buatan tangan anak-anak itu ke dadanya. "Aku jadi tidak ingin pulang."
Amanda tersenyum tipis melihat ekspresi sang Putri yang tampak begitu hidup sejak menginjakkan kaki di tempat ini. "Tetapi Anda tetap harus kembali ke istana, Putri," sahutnya lembut.
Cassia langsung mengembuskan napas panjang secara dramatis sembari menurunkan bahunya lesu. "Menyebalkan sekali menjadi putri kerajaan. Aku jadi tidak bisa bermain sepuasnya."
Amanda hanya menggeleng pelan, senyum tipis masih bertahan di bibirnya. Sementara mata ungu Cassia bergulir, menatap Zen yang berdiri tegap tepat di sampingnya dengan ekspresi sedatar papan.
"Dan kau, Zen," Cassia menunjuk dada pria itu dengan telunjuknya, tidak memedulikan etika atau pun tata krama kerajaan. "Berhenti memasang wajah menyeramkan seperti itu. Kau membuat anak-anak ketakutan."
"Itu hal yang bagus, Putri." jawab Zen datar.
Cassia langsung melebarkan matanya tidak percaya. "Apa maksudmu yang bagus?!"
"Hamba tidak menyukai anak-anak."
Amanda langsung menoleh ke arah Zen dengan ekspresi terperangah. Di tengah panti asuhan yang dipenuhi anak-anak seperti ini, pria itu justru terang-terangan mengatakan bahwa dirinya tidak menyukai anak kecil. Dan benar saja—
"Kau serius mengatakan hal sekasar itu di depan tempat yang dipenuhi anak-anak?" Cassia menunjuk sekeliling mereka dengan wajah tidak habis pikir.
"Hamba hanya berkata jujur," jawab Zen tanpa sedikit pun merasa bersalah.
Cassia langsung memegangi dahinya. "Astaga... pantas saja mereka takut mendekatimu. Kau ini benar-benar tidak punya aura ramah sama sekali!"
"Ksatria seperti hamba tidak membutuhkan aura seperti itu, Putri."
"Itu bukan sesuatu yang bisa kau banggakan, Zenion!" Cassia mengambil dua langkah maju mendekati Zen, lalu menyipitkan matanya penuh kecurigaan. "Sebenarnya... kau ini punya perasaan tidak, sih?"
"Punya, Putri."
Cassia menaikkan sebelah alisnya dengan tatapan menantang yang jelas-jelas tidak percaya. "Kalau begitu kenapa kau selalu membuat orang lain tidak nyaman?"
Zen terdiam.
Cassia tetap menunggu sambil melipat tangan di dada. Namun hingga beberapa detik berlalu, tidak ada perubahan sedikit pun pada wajah pria itu.
"Kau lihat itu, Amanda?!" Cassia menoleh pada Amanda dengan ekspresi frustrasi. "Dia memang pria kaku tingkat akut!"
Amanda hanya mengulas senyum tipis. "Zen memang bukan orang yang pandai mengekspresikan dirinya, Putri."
"Amanda, itu bukan lagi 'tidak pandai'." Cassia menunjuk wajah Zen tanpa sungkan. "Itu sudah masuk kategori menyeramkan."
Rentetan protes Cassia tidak membuat pria itu terusik sedikit pun. Zen hanya mengembuskan napas pendek lalu melangkah tegas melewati mereka begitu saja.
"Kita harus kembali ke istana sekarang juga, Putri. Matahari sudah mulai meninggi."