Lin Qian adalah sosok misterius yang menyembunyikan kekuatan dahsyatnya di balik kehidupan sederhana sebagai pemilik Pusat Seni Bela Diri di Kota Yunzhou. Di matanya, kehidupan fana adalah pelarian dari dunia persilatan yang penuh intrik dan pertumpahan darah.
Namun ketenangan itu terusik ketika murid kesayangannya, Han Yu, hampir tewas akibat konspirasi licik Han Bojin dari Kamar Dagang Yunzhou. Kejadian itu memaksa Lin Qian keluar dari bayang-bayang ketenangan dan menunjukkan secuil kekuatan sesungguhnya—kekuatan yang bahkan membuat seorang Kaisar Bela Diri sekelas Ye Bei berlutut ketakutan hanya dalam hitungan detik.
Kini, berbagai pihak mulai melirik keberadaan Lin Qian. Ada yang ingin berlindung di bawah naungannya, ada yang ingin memanfaatkannya, dan ada pula yang—karena ketidaktahuan—berani mengusiknya.
Semuanya akan segera menyadari satu kebenaran yang sama:
Ada langit di atas langit. Dan langit itu bernama Lin Qian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 : Papan Catur Sang Senior & Pisau yang Tak Ternilai
"Apakah kalian tahu seperti apa wilayah dalam radius sepuluh ribu li dari Kota Yunzhou ini pada zaman dahulu?" tanya Patriark Tianhe tiba-tiba dengan nada berat dan penuh makna.
Zhu Yun menggelengkan kepala bingung. "Saya tidak tahu, Paman."
"Dalam catatan teks-teks kuno yang telah lama hilang, wilayah ini dulunya dikenal sebagai Tanah Para Dewa," jelas Patriark Tianhe sambil menatap sekeliling seolah melihat sejarah yang tersembunyi di balik setiap batu dan pohon. "Meskipun sekarang tampak suram dan mundur karena alasan yang tak diketahui, fakta bahwa Yunzhou tetap menjadi titik tumpuan strategis sejak ribuan tahun lalu membuktikan bahwa tempat ini sama sekali bukan daerah biasa."
"Tapi… apa hubungannya dengan Senior Lin?" tanya Zhu Yun makin tak paham.
Patriark Tianhe menghela napas panjang. "Apakah kau belum mengerti? Yunzhou ini pasti menyimpan rahasia besar yang belum terungkap. Kemungkinan besar… Senior Lin menggunakan kota kecil ini sebagai pijakan, dan seluruh wilayah ini sebagai papan catur, untuk menjalankan sebuah permainan strategi yang mengguncang langit dan bumi!"
Begitu kata-kata itu keluar, tubuh Zhu Yun seketika menegang dan bergetar hebat.
Menggunakan satu kota kecil sebagai basis, dan satu wilayah besar sebagai papan permainan catur? Ambisi dan wawasan setinggi itu — hanya membayangkannya saja sudah membuat bulu kuduknya meremang. Itu adalah hal yang bahkan tak berani ia impikan sebagai pemimpin satu sekte besar.
Namun logika berpikirnya berkata: Kalau bukan untuk tujuan besar seperti itu, bagaimana mungkin sosok sehebat Senior Lin mau berdiam diri di tempat terpencil seperti ini?
"Tapi Paman… kalau begitu… bukankah kita juga termasuk di dalam papan catur itu?" tanya Zhu Yun dengan mata terbelalak dan penuh kepanikan.
"Betul sekali." Patriark Tianhe mengangguk pelan, tak menyangkal. "Kita semua hanyalah bidak-bidak kecil di dalam rencana besar senior."
"Lalu… apa yang harus kita lakukan? Apakah kita dalam bahaya?"
"Dasar bodoh!" Patriark Tianhe menatap tajam keponakannya. "Ubah cara ber pikirmu! Di mana ada bahayanya? Menjadi bagian dari rencana besar seorang Ahli Agung seperti beliau justru adalah keberuntungan terbesar kita. Kau tahu tidak? Ratusan tahun terakhir ini, Sekte Lingxue kita terus-menerus merosot, makin lama makin lemah. Kalau dibiarkan, lambat laun nama kita akan hilang ditelan sejarah."
"Apakah kau rela nasib kita berakhir begitu?"
Suara berat itu membuat hati Zhu Yun bergetar. Rela? Tentu saja tidak. Ia rela berkorban apa saja demi mengembalikan kejayaan sekte.
"Kita memang tidak bisa memahami isi kepala Senior, tapi kita bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk mendekat dan belajar," kata Patriark Tianhe sambil melangkah maju. "Ayo masuk."
Keduanya berjalan masuk ke dalam kios.
Baru saja melangkah masuk ke ruang depan, mata Zhu Yun langsung tertuju pada delapan belas lukisan senjata yang tergantung di dinding. Niat membunuh dan tekanan yang memancar dari sana begitu nyata hingga ia hampir jatuh berlutut karena ketakutan. Untung saja Patriark Tianhe dengan sigap menarik lengannya dan menahan agar ia tidak bersikap kurang ajar.
Meski begitu, keringat dingin sudah membasahi punggung Zhu Yun.
Kini ia benar-benar, sepenuhnya yakin. Rasa ragu yang tersisa hilang tak berbekas. Ia bahkan mulai berpikir bahwa menjadi bidak catur bagi Sang Senior adalah sebuah kehormatan — dan mungkin inilah jalan agar Sekte Lingxue kembali ke puncak kejayaan.
Mereka melewati ruang depan menuju halaman belakang.
"Eh? Di mana Tuan Lin?"
Lin Qian tak terlihat di mana pun. Namun, pandangan Zhu Yun terkunci pada satu titik di bawah pohon tua di sudut halaman. Matanya melotot nyaris copot, wajahnya pucat pasi, dan jarinya menunjuk ke arah sana dengan gemetar hebat.
"P-Paman… lihat itu…! Itu… itu adalah Serigala Iblis Pemakan Surga!!"
Patriark Tianhe hanya melirik sekilas ke arah Xue Yan yang sedang duduk patuh terikat di sana, lalu mengerutkan kening dengan nada meremehkan.
"Hanya seekor Serigala Iblis saja, kau berisik sekali. Apa yang hebohnya?"
"Paman! Itu bukan binatang biasa! Itu adalah salah satu makhluk terkuat di dunia iblis! Keberadaannya saja sudah legenda! Dan di sini… diikat begitu saja seperti anjing peliharaan?!"
"Dasar orang kampung," Patriark Tianhe mendengus, merasa malu dengan reaksi keponakannya. "Waktu aku datang kemarin saja, Senior Lin hampir menggunakan hewan itu sebagai bahan campur anggur. Apa yang aneh? Santai saja."
Tentu saja, lelaki tua itu lupa betapa dirinya sendiri dulu juga hampir jatuh terduduk saat pertama kali melihat Xue Yan.
Di sudut pohon, Xue Yan yang mendengar semua itu hanya bisa menundukkan kepala dalam-dalam, pura-pura tertidur. Harga dirinya sudah lama ia kubur jauh-jauh di dalam tanah.
"Maaf ya, tadi aku ke dapur sebentar untuk menyiapkan sesuatu," suara Lin Qian terdengar dari arah samping.
Ia berjalan keluar sambil membawa pisau dapur tajam yang berkilauan di tangannya.
Saat melihat pisau itu, tubuh Patriark Tianhe yang biasanya tenang seketika menegang kaku. Napasnya tertahan, matanya menatap tajam ke arah bilah pisau itu seolah terhipnotis.
Di sampingnya, Zhu Yun yang belum pulih dari keterkejutan melihat serigala legendaris, kini seolah disambar petir kedua kalinya. Pisau dapur sederhana itu — aura yang memancar, kilatan dingin yang tajam hingga ke tulang sumsum — benda itu jauh lebih mengerikan bagi mereka dibandingkan Xue Yan tadi.
Keduanya terpaku diam, mata mereka tak berani berkedip.
Patriark Tianhe mulai berdebar kencang. Mungkinkah? Apakah beliau tahu aku datang untuk apa? Apakah beliau bermaksud memberikan benda itu kepadaku?!
Apalagi saat Lin Qian berjalan mendekat selangkah demi selangkah sambil memegang pisau itu. Suhu udara di sekitar terasa makin panas.
Lin Qian tersenyum tipis, lalu mengulurkan pisau itu ke depan.
"Ini, ambillah."
Seketika, darah sekujur tubuh Patriark Tianhe berdesir hebat. Ia merasa sesak napas karena haru dan rasa syukur yang luar biasa.
Benar! Beliau tahu! Beliau pasti sudah tahu tujuan kedatanganku! Beliau memiliki wawasan ilahi — mengerti kebutuhanku bahkan sebelum aku sempat membuka mulut! Kebaikan sebesar ini… bagaimana aku bisa membalasnya?!
Air mata haru hampir menetes dari sudut matanya. Ia berlutut dengan gemetar di tanah, suaranya parau karena emosi.
"Senior Lin… kebaikanmu ini… Sekte Lingxue tidak akan pernah melupakannya seumur hidup!"
Dengan kedua tangan terulur hormat, ia menerima pisau itu.
Di sampingnya, Zhu Yun akhirnya sadar sepenuhnya. Inilah senjata yang dibicarakan pamannya. Inilah yang bisa mengubah nasib sekte mereka. Tak heran jika paman berani menghadapi Patriark Xuanwu yang sepuluh tahun lebih kuat. Dengan benda ini di tangan, Xuanwu hanyalah debu.
Tanpa perlu dikomando, Zhu Yun ikut berlutut di samping pamannya, kepala menunduk rendah hingga menyentuh tanah.
"Hei, hei… apa-apaan ini? Cepat bangun, bangun." Lin Qian terburu-buru membantu mereka berdiri, bingung melihat reaksi berlebihan itu. Namun kedua lelaki tua itu tetap bersikeras bersujud tiga kali baru mau bangkit.
"Ah, kenapa harus repot-repot begini…" gumam Lin Qian sambil menggeleng pelan.
Baginya, kejadian ini sangat sederhana.
"Pisau ini cuma pisau dapur biasa . Aku ingat terakhir kali kita memasak, kamu bilang pisau di rumahmu kurang tajam. Kebetulan aku baru saja buat yang baru, jadi yang lama ini sudah tidak terpakai. Daripada ditumpuk debu, lebih baik kuberikan saja."
Ia menggeleng dalam hati melihat reaksi mereka.
Dunia ini memang tidak adil. Ada yang kaya raya, ada yang melarat. Sepertinya Pak Tua Tianhe ini hidupnya susah juga. Sampai pisau dapur saja tidak punya yang layak. Lihat saja senangnya, dapat pisau saja sudah menangis terharu — persis orang yang kebagian arang saat musim salju.
"Bagimu mungkin ini biasa saja, Tuan Lin. Tapi bagiku… ini sama berharganya dengan memberi arang di tengah salju yang tebal," ucap Patriark Tianhe dengan suara gemetar sambil memegang pisau itu seolah memegang harta suci.
Lin Qian hanya mengangguk paham. Betul juga, bagi orang susah barang begini memang berharga sekali.
Patriark Tianhe dengan sangat hati-hati menyimpan pisau itu ke dalam kantung penyimpanan benda — seolah takut tergores sedikit saja. Rasa syukurnya kini meluap sampai ke langit. Awalnya ia mengira proses meminjam senjata suci ini akan sulit, penuh syarat, atau ujian berat. Siapa sangka, Sang Senior memberikannya begitu saja dengan santai, tanpa menuntut apa pun.
Dengan pisau ini, ia punya keyakinan seratus persen untuk mengalahkan Patriark Xuanwu. Ini bukan hanya menyelamatkan nyawanya — ini menyelamatkan ribuan nyawa di Sekte Lingxue.
Setelah cukup tenang, Patriark Tianhe teringat sesuatu. Ia mengeluarkan sebuah benda bulat berwarna merah menyala yang memancarkan panas hebat ke sekelilingnya. Begitu benda itu keluar, udara di sekitar mereka seketika menjadi hangat, bahkan terasa membara.
"Paman… itu… Mutiara Api?! Harta karun pusaka Sekte kita?!" seru Zhu Yun kaget. Ia tak menyangka pamannya rela mengeluarkan benda berharga itu.
"Tuan Lin, saya tahu barang-barang kami mungkin tidak ada artinya bagi Anda. Tapi ini adalah tanda terima kasih kecil dari hati kami. Mohon… mohon terimalah ini," kata Patriark Tianhe sambil mengangkat Mutiara Api itu dengan kedua tangan.
Lin Qian mengambil benda itu, membolak-baliknya, dan merasakan panasnya.
Wah, panas sekali. Sepertinya digali dari dasar gunung berapi yang dalam. Di dunia ini memang banyak benda aneh dan unik ya.
"Bagus juga ini. Warnanya merah cerah, cocok untuk dipajang di meja. Aku suka, terima kasih ya," kata Lin Qian sambil tersenyum dan langsung menyimpannya begitu saja.
Patriark Tianhe tersenyum pahit dan lega sekaligus. Lega karena pemberiannya diterima, tapi pahit karena bagi Sang Senior, harta pusaka yang dipertaruhkan nyawa untuk mendapatkannya ini hanya dianggap sekadar pajangan meja.
Benar kata orang — semakin tinggi tingkat kekuatan seseorang, semakin jauh pula pandangan dan selera mereka. Jarak antara mereka dan Sang Senior ibarat jarak antara semut dan langit.
Setelah mengucapkan terima kasih berkali-kali, Patriark Tianhe menatap Lin Qian dengan pandangan penuh hormat dan rasa ingin tahu yang besar.
"Senior… bolehkah saya bertanya sedikit? Apa rencana Anda selanjutnya ke depannya? Bolehkah Anda memberi kami sedikit petunjuk atau bocoran arah tujuan Anda?"
Di sampingnya, Zhu Yun juga ikut menajamkan telinga, menahan napas menanti jawaban yang mungkin bisa mengubah seluruh nasib Sekte Lingxue mereka selamanya.
----Bersambung Bab 11 ----