Bagi Rahma Wulandari, Sakti Prawira adalah sosok kakak asuh masa kecilnya yang galak dan protektif. Namun, garis takdir mendadak berubah ketika impiannya menjadi dokter terancam kandas akibat kesulitan ekonomi. Satu-satunya jalan keluar yang ditawarkan orang tuanya adalah sebuah perjodohan. Demi masa depan, Rahma akhirnya pasrah. "Gak apa-apa deh nikah sama Kak Sakti, dia sudah aku anggap seperti kakaku sendiri!"
Di sisi lain, Sakti seorang Komandan TNI AD yang terkenal tegas, kaku, dan berhati dingin sejak ditinggal menikah oleh masa lalunya merasa tak habis pikir. "Kenapa aku harus menikah dengan gadis bau kencur dan masih ingusan itu?" protesnya keras. Baginya, menikahi sahabat adiknya sendiri adalah hal yang konyol.
Namun, titah orang tua tak bisa diganggu gugat. Pernikahan beda usia dan prinsip ini pun tetap terjadi.
Mampukah pernikahan yang terbentur perbedaan usia, prinsip, dan watak ini menumbuhkan benih-benih asmara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 31
Sakti melangkah cepat dengan dada membusung, menembus rimbunnya tanaman hias di taman belakang. Tanpa menimbulkan suara langkah kaki yang berarti, ia tiba-tiba sudah berdiri tegak persis di belakang punggung Rahma. Aura dingin dan mengancam yang menguar dari tubuh sang Kapten seketika membuat atmosfir di sekitar bangku taman itu mendadak membeku.
Sakti menatap bengis ke arah Mayor Adnan, seolah-olah ingin menguliti hidup-hidup dokter militer di hadapannya itu.
"Sebenarnya kau datang ke kampus ini niat untuk mengejar pelajaran yang ketinggalan, atau memang sengaja ingin bertemu berduaan dengan mayor sialan itu?!" desis Sakti dengan suara rendah namun sarat akan penekanan, jarinya menunjuk lurus dan kasar tepat ke arah wajah Mayor Adnan.
Mayor Adnan yang ditunjuk seperti itu langsung menghembuskan napasnya panjang dan memijit pelipisnya yang mendadak terasa pusing. Ia tidak menyangka komandan lapangan yang terkenal taktis ini bisa langsung kehilangan akal sehatnya hanya karena terbakar api cemburu.
Sementara itu, Rahma seketika menelan ludahnya dengan susah payah. Jantungnya serasa merosot ke lambung. Rasa gugup yang luar biasa kembali menyerangnya hingga seluruh tubuhnya gemetar hebat karena harus menghadapi kesalahpahaman yang jauh lebih besar dari kemarin.
"B... bukan begitu, Kak. Kak Sakti sudah salah paham!" jawab Rahma terbata-bata sembari memutarkan kepalanya ke belakang, menatap wajah suaminya yang kini tampak sangat menyeramkan.
Tanpa memperdulikan bantahan istrinya, Sakti langsung mencengkeram kedua bahu mungil Rahma dengan erat. Tatapan matanya yang tajam bagai elang masih mengunci mati wajah Mayor Adnan di depannya.
"Kak, ini tidak seperti yang Kakak lihat!" mohon Rahma lagi dengan bibir yang bergetar menahan tangis karena takut sekaligus malu.
Sakti mendekatkan wajahnya ke telinganya Rahma, berbisik dengan nada yang sangat posesif namun cukup keras hingga terdengar oleh Adnan.
"Kau sepertinya sudah tidak takut lagi dengan hukumanku kemarin siang ya, Rahma? Apa perlu aku menghukum mu lagi sekarang juga di depan pria tidak tahu malu ini, hah? Atau biar sekalian semua mahasiswa di kampus ini tahu kalau kau itu adalah istriku, milikku!" tegas Sakti dengan suara lantang yang menggelegar, membuat beberapa mahasiswa yang melintas di sekitar taman sempat menoleh penasaran.
Mendengar ucapan Sakti yang semakin melantur dan mulai membawa-bawa harga diri Rahma di depan umum, Mayor Adnan akhirnya tidak bisa lagi tinggal diam menahan kekesalannya.
"Kapten! Tolong amankan dulu egomu dan dengarkan penjelasan dari Rahma serta dariku!" potong Mayor Adnan tegas, menggunakan wibawa pangkatnya yang setingkat lebih tinggi.
"Alah... diam kau! Tak kusangka kau tega menusukku dari belakang dengan mendekati istriku sendiri. Dasar mayor sialan!" semprot Sakti geram, dadanya naik turun dengan napas yang memburu hebat.
Rahma yang sudah berada di ambang keputusasaan berusaha memegang tangan Sakti yang masih mencengkeram bahunya, mencoba meredam amarah suaminya.
"Kak, Rahma mohon... tolong Kakak percaya kali ini saja sama Rahma. Rahma beneran tidak ada hubungan apa-apa dengan Dokter Adnan! Kedatangan beliau ke sini sebenarnya bukan untuk menemui Rahma, tapi... eh...!"
Kalimat Rahma mendadak terputus di udara. Pandangannya teralihkan ke arah koridor taman.
Dari arah gedung utama, sesosok wanita dengan pakaian formal yang sangat modis namun sopan tampak berjalan anggun menuju ke arah mereka. Wanita itu adalah Profesor Asha. Parasnya yang teramat cantik dan tegas seketika membuat beberapa mahasiswa yang berpapasan dengannya menatap tanpa berkedip.
Melihat kehadiran sang Profesor, Mayor Adnan yang tadinya tampak kesal mendadak langsung menegakkan posisi berdirinya. Sorot matanya yang dingin seketika berubah menjadi lembut dan penuh damba, mengabaikan sepenuhnya amukan singa milik Kapten Sakti yang masih berdiri murka di depannya.
Profesor Asha terus melangkah anggun, hingga akhirnya ia berdiri tepat di samping bangku taman. Kehadiran dosen muda yang terkenal dingin dan berwibawa itu seketika mengubah suasana ketegangan di tempat tersebut.
Mayor Adnan yang tadinya tampak kesal menghadapi amukan Sakti, kini benar-benar bertransformasi. Sorot matanya berubah drastis menjadi begitu lembut, teduh, dan sarat akan binar kekaguman, persis seperti pandangan seorang pria yang tengah jatuh cinta setengah mati. Ia bahkan sempat merapikan kerah seragamnya dengan gerakan canggung yang sangat kentara.
Sakti yang masih berdiri tegap mencengkeram bahu Rahma seketika terpaku. Otak militernya yang taktis perlahan mulai mencerna situasi nyata di depannya. Pandangannya beralih dari tatapan memuja Mayor Adnan, beralih ke arah Profesor Asha, dan berakhir pada istrinya. Detik itu juga, kesadarannya menghantam dada Sakti dengan keras.
'Jadi... yang ditunggu oleh Mayor Adnan sedari tadi bukan Rahma? Melainkan wanita ini?' batin Sakti kaget, merasa sangat bodoh sekaligus malu karena ego cemburunya telah salah sasaran.
Rahma yang melihat situasi ini segera mengambil kesempatan emas untuk mencairkan suasana sekaligus menyelamatkan diri dari ke posesifan suaminya. Ia memaksakan sebuah senyuman termanisnya dan menyapa dosen pembimbingnya tersebut.
"Selamat siang, Profesor Asha," sapa Rahma se-sopan mungkin, sembari perlahan melepaskan cengkraman tangan Sakti di bahunya yang kini sudah mulai melonggar karena suaminya masih syok.
"Selamat siang, Rahma," sahut Profesor Asha dengan nada suara yang tenang namun berwibawa. Pandangan matanya kemudian melirik sekilas ke arah Sakti dan Adnan dengan dahi sedikit berkerut, heran melihat dua perwira militer sedang berdiri tegang di taman belakang kampusnya.
Rahma dengan sigap langsung menunjuk ke arah tote bag yang dipegang erat oleh Mayor Adnan. "Oh iya, Prof. Ini Dokter Adnan yang kemarin saya ceritakan. Beliau sengaja datang ke kampus hari ini untuk mengantarkan buku referensi kedokteran langka yang sangat Profesor cari-cari selama ini. Karena bukunya sudah sampai, kalau begitu... saya izin undur pamit duluan ya, Prof, Dokter. Kebetulan suami saya sudah menjemput dan kami ada urusan penting yang harus diselesaikan sekarang juga."
Mendengar ide cemerlang dan brilian dari Rahma, Mayor Adnan langsung bernapas lega. Di dalam hatinya, ia bersorak kegirangan dan sangat berterima kasih atas bantuan batu loncatan yang diberikan oleh istri Kapten Sakti itu.
"Ah, iya... betul sekali, Profesor Asha. Ini buku-buku yang kita bicarakan kemarin lewat Rahma," timpal Mayor Adnan dengan senyum termanisnya, langsung menyodorkan tote bag tersebut sembari membuka obrolan manis dengan sang Profesor.
Sakti yang masih linglung hanya bisa pasrah saat Rahma tiba-tiba meraih pergelangan tangannya dengan erat. Dengan langkah cepat dan setengah menyeret, Rahma menuntun suaminya menjauh dari area taman belakang menuju area parkiran mobil yang lebih sepi. Salma yang diam-diam mengintip dari balik pilar koridor hanya bisa menahan tawa kemenangan melihat wajah kakaknya yang kini tampak sangat kikuk dan bodoh.
Begitu tiba di dalam mobil dinas milik Sakti, Rahma langsung menutup pintu dengan keras. Ia melipat kedua tangannya di dada, lalu membalikkan tubuhnya menghadap Sakti dengan napas yang masih memburu akibat kesal, malu, dan lelah menahan gugup sejak tadi.
"Sekarang Kak Sakti lihat sendiri, kan?!" semprot Rahma langsung, meluapkan kejengkelannya yang sudah tertahan sejak di taman. "Siapa yang ditemui oleh Dokter Adnan? Siapa yang bersalah di sini?!"
Sakti berdehem kaku, membuang pandangannya ke arah kemudi mobil. Wajahnya yang biasa sangar kini memerah sempurna karena malu yang luar biasa. "Aku... aku tidak tahu kalau dia sedang mendekati dosenmu itu," gumam Sakti pelan, mencoba membela diri meski suaranya terdengar sangat ciut.
"Makanya, Kakak itu jangan langsung main tuduh dan pakai emosi!" omel Rahma dengan mata berkaca-kaca karena sisa rasa takutnya tadi. "Dokter Adnan itu sedang mengincar Profesor Asha yang super dingin itu. Karena aku mahasiswi bimbingannya, Dokter Adnan meminta bantuanku untuk menjadi perantara dan Mak comblang mereka. Buku-buku tadi itu umpan dari Dokter Adnan biar bisa mengobrol berdua dengan Profesor! Dan aku hanya berniat membantu beliau sebagai tanda terima kasih karena kemarin pagi Dokter Adnan sudah mau repot-repot datang mengobati Kakak yang demam tinggi!"
Mendengar penjelasan panjang lebar dan tulus dari istrinya, rasa bersalah langsung menghantam dadanya Sakti berkali-kali lipat. Ia merutuki kebodohannya yang begitu mudah dikuasai oleh rasa cemburu buta hingga nyaris mempermalukan istrinya sendiri di depan umum.
Sakti perlahan memutar tubuhnya menghadap Rahma. Dengan tatapan bersalah yang amat dalam, ia memberanikan diri meraih jemari tangan Rahma yang masih gemetar di atas pangkuannya.
"Rahma... maafkan aku," ucap Sakti tulus, suaranya melembut tanpa ada lagi nada ketus atau ego perwira. "Aku mengaku salah. Aku terlalu gegabah dan... aku cemburu melihatmu tertawa lepas bersamanya pagi tadi, sementara bersamaku kau selalu ketakutan. Maafkan aku yang sudah bersikap se-kasar tadi di taman."
Rahma tertegun mendengarnya. Untuk pertama kalinya, ia melihat sisi pertahanan ego suaminya runtuh sepenuhnya demi meminta maaf kepadanya. Rasa kesal di hatinya perlahan mulai mencair, berganti dengan debaran aneh yang kembali menggelitik dadanya saat menatap mata tajamnya Sakti yang kini memancarkan ketulusan yang nyata.
Bersambung...
kira2 siapa kah ya orang nya..
lanjutkan donk Thor
is the best deh friend yg ini.. hihihihihi
terus gali terus biar terbongkar
yg kemaren ketemu sama s dinda s yuda apa bukan si?
aku lupa othorrr.. heheheh
ttp tenang dlm menjalankan misi ini ya sakti..
Untungnya Rahma sudah tidak salah paham kembali..
semangat n semoga rencana kalian berhasil n ttp hati-hati n waspada