Hannah pernah kehilangan segalanya—rumah tangga, impian menjadi seorang ibu, dan kepercayaan pada cinta. Saat ia mulai menata hidupnya kembali, Rayyan hadir tanpa memaksa, hanya perlahan membuktikan bahwa cinta yang tulus tidak pernah lahir dari paksaan. Namun ketika masa lalu kembali muncul, Hamnah harus memilih, tetap hidup bersama luka, atau memberi kesempatan pada hati untuk percaya sekali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nathasya90, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DBL26
TAMU YANG TAK DIUNDANG
Beberapa hari setelah Hannah berangkat ke Singapura, rumah itu terasa jauh lebih sunyi daripada biasanya. Tidak ada aroma masakan yang menyambut saat Romi pulang kerja. Tidak ada suara televisi yang sengaja dinyalakan Hannah agar rumah terasa hidup. Bahkan meja makan yang biasanya terisi dua piring kini hanya menyisakan satu.
Awalnya Romi mengira ia akan segera terbiasa. Ternyata tidak.
Sore itu ia baru saja memarkirkan mobil di garasi. Tas kerja masih menggantung di bahunya ketika langkahnya mendadak terhenti.
Seseorang berdiri di depan teras rumahnya. Wanita itu mengenakan blus putih sederhana dengan rambut yang dibiarkan tergerai. Begitu menyadari Romi datang, senyum di wajahnya langsung mengembang.
"Hai, Mas."
Romi membeku. Butuh beberapa detik sampai akhirnya ia berhasil menguasai keterkejutannya.
"Kamu ngapain di sini?"
Bukannya menjawab, Jelita justru melirik ke arah tas kerja yang masih dibawa Romi.
"Baru pulang ya?"
"Aku tanya, kamu ngapain di sini?"
Nada suara Romi terdengar jauh lebih tegas. Refleks ia menoleh ke kanan dan kiri, memastikan tidak ada seorang pun yang memperhatikan mereka. Jalan di depan rumah memang tampak lengang, tetapi itu sama sekali tidak membuatnya tenang.
"Kalau ada tetangga yang lihat gimana?" desisnya pelan.
Jelita justru terlihat santai.
"Lagakmu kayak orang yang lagi ketahuan selingkuh."
"Ngaca dulu deh."
"Kan belum."
Romi mengembuskan napas panjang, berusaha menahan emosi.
"Jelita, kita sudah sepakat buat hati-hati. Terus sekarang kamu malah datang ke rumah?"
"Aku cuma mampir."
"Kalau Hannah tahu?"
"Dia lagi di Singapura."
"Masalahnya bukan itu."
"Lalu?"
"Kalau ada orang lihat kita berdiri di depan rumah begini, mereka bisa salah paham."
Jelita menyandarkan tubuhnya ke pagar teras.
"Tenang aja. Beberapa hari ini aku sudah memperhatikan lingkungan sini."
Romi mengernyit. "Maksudnya?"
"Kompleksnya sepi. Banyak rumah yang belum ditempati. Tetangganya juga kelihatannya sibuk sama urusan masing-masing."
"Kamu tahu dari mana?"
"Soalnya aku tinggal di sini."
Romi mengangkat sebelah alis. "Apa?"
Jelita mengangkat telunjuknya ke arah seberang jalan. "Itu rumahku!"
Tatapan Romi otomatis mengikuti arah yang ditunjuk. Rumah bercat putih yang selama ini tidak pernah ia perhatikan ternyata sudah berpenghuni.
"Tunggu!"
Ia kembali menatap Jelita.
"Kamu tinggal di depan rumahku?"
"Iya."
"Sejak kapan?"
"Baru beberapa hari."
Romi sampai mengusap wajahnya sendiri.
"Gila."
"Kamu kenapa sih kalau ketemu aku, kata yang keluar selalu itu?"
"Ya karena kamu memang gila."
"Aku juga baru tahu rumah yang ditawarin temanku ternyata persis di depan rumahmu."
"Terus kamu tetap ambil?"
"Ya kenapa nggak?"
Romi benar-benar dibuat kehabisan kata. Ia sama sekali tidak menyangka wanita itu akan berada sedekat ini dengan kehidupannya.
"Pokoknya lain kali jangan datang ke rumahku."
"Galak banget."
"Aku serius."
"Aku juga serius."
"Aku nggak bercanda, Jelita."
Wanita itu akhirnya mengangguk kecil. "Baiklah."
Romi mengembuskan napas lega. Namun kelegaan itu hanya berlangsung beberapa detik.
"Aku mau ambil rantangku."
Romi mengernyit.
"Rantang?"
"Iya."
"Rantang apa?"
"Yang kepinjam di rumah ini."
"Kepinjam? Sejak kapan rumahku pinjam rantang kamu?"
Jelita mengembuskan napas kecil.
"Istrimu yang bawa."
Romi langsung menatapnya.
"Hannah?"
"Iya, Hannah. Memangnya siapa lagi?"
"Aku nanya kapan Hannah bawanya."
"Waktu aku kasih makanan beberapa hari yang lalu."
Romi terdiam beberapa saat. Ia memang ingat Hannah pernah membawa pulang makanan dari seorang tetangga. Namun istrinya tidak pernah menyebut siapa orangnya, apalagi sampai mengatakan bahwa wanita itu adalah Jelita.
"Oh… jadi makanan itu dari kamu?"
"Iya."
"Oh..."
“Terus?”
“Terus apa?"
“Ya aku ambillah. Pasti masih ada di rumah ini, kan? Aku cuma mau ambil."
"Kalau memang ada, nanti Hannah yang antar."
"Nggak usah, Mas. Aku ambil sendiri saja"
Belum sempat Romi bereaksi, Jelita sudah melangkah melewatinya.
"Hei!"
Wanita itu tetap berjalan.
"Jelita!"
"Kenapa?"
"Jangan masuk."
"Loh, aku cuma mau ambil rantang."
Ia kembali melangkah menuju pintu.
"Jelita!"
Romi refleks menyusul sambil menahan daun pintu yang baru saja dibuka wanita itu.
"Jangan sembarangan masuk."
"Mas."
Jelita menatapnya sambil menghela napas pelan.
"Aku cuma mau ambil rantang. Lima menit selesai."
"Tetap aja."
"Aku nggak bakal ngapa-ngapain kok."
"Itu bukan masalahnya."
"Lalu?"
"Ini rumahku."
"Makanya aku izin kamu."
"Kamu itu bukan izin. Kamu kasih tahu."
Jelita justru terkekeh pelan.
"Oke, sekarang aku izin."
"..."
"Boleh aku ambil rantangku?"
Romi memijat pelipisnya pelan. Wanita ini benar-benar tahu bagaimana membuat orang kehabisan alasan.
Tanpa menunggu jawaban lagi, Jelita melangkah masuk ke dalam rumah. Romi hanya bisa mengembuskan napas panjang sebelum buru-buru menutup pintu. Setidaknya ia tidak ingin ada seorang pun yang melihat Jelita masuk ke rumahnya.
Sementara itu, Jelita sudah lebih dulu menuju dapur. Ia membuka satu per satu lemari dapur, lalu bergantian memeriksa rak piring dan kabinet bawah.
"Di mana, ya..."
Romi mengembuskan napas kasar.
"Kalau nggak tahu, kenapa nekat masuk?"
Jelita menoleh sambil tersenyum kecil.
"Namanya juga nyari, Mas."
Beberapa detik kemudian matanya berbinar.
"Nah! Ketemu."
Ia mengangkat rantang stainless miliknya dengan wajah puas.
Sementara itu, tanpa mereka sadari, tirai salah satu rumah di ujung jalan bergeser pelan. Seseorang mengamati rumah Romi beberapa saat sebelum kembali menutup tirainya rapat.
Romi dan Jelita sama-sama tidak menyadari bahwa sore itu, kehadiran Jelita di rumah tersebut ternyata tidak luput dari perhatian seseorang.
Jangan lupa kasih ⭐⭐⭐⭐⭐ biar othor makin semangat up nya ya.
Ditunggu semua komenannya.
Love sekeboon buat kalian💐