Hari itu, Alya memberikan hadiah terakhir untuk suaminya.
Bukan harta, bukan pula kenangan. Melainkan kesempatan untuk hidup bersama wanita yang lebih dipilihnya.
Lalu ia pergi, membawa sebuah rahasia yang baru disadari Adrian saat semuanya sudah terlambat.
Follow instagram @Tantye005 untuk info seputar novel🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perempuan unik
Alih-alih menuju perusahaan untuk bekerja, Adrian memutar setir kemudi yang berlawanan arah. Sejak semalam Alya menganggu pikirannya. Dia tidak pernah menyangka bahwa istrinya hamil.
"Harusnya dia memberitahuku," lirih Adrian mengusap wajahnya kasar.
Laju mobilnya semakin cepat dan hanya membutuhkan beberapa menit untuk sampai di depan toko baju milik ibu mertuanya.
Dia menarik napas panjang, ini pertama kali dia berkunjung tanpa dampingan Alya. Setelah berpisah dia dan ibu mertuanya tidak berjumpa lagi.
"Ibu ...." Belum sempat dia menyapa, gulungan benang wol telah menimpa wajahnya.
Tatapan wanita paruh baya itu sangat tajam seolah ingin memakannya hidup-hidup.
"Berani sekali kalu menampakkan wajah brengsekmu setelah menyakiti putriku!" bentak ibu Alya.
"Dasar pria serakah! Seharusnya kau mengembalikan Alyaku jika sudah nggak mencintainya, bukan malah selingkuh dan menghamili wanita lain!"
"Apa kurangnya putriku sampai kau menyakitinya Adrian!"
"Ibu ...."
Adrian tidak berdaya, dia menerima pukulan dan tamparan di wajah dan tubuhnya. Amukan dari seorang mertua yang kecewa. Amarah yang seharusnya Alya lakukan padanya tetapi wanita itu enggang memaki. Malah mengikhlaskannya bersama wanita lain.
"Kau berlutut dikakiku saat memintanya. Kau menangis, kau berjanji membahagiakannya. Mana janjimu Adrian!"
Suara ibu Alya hampir hilang, dia histeris karena meluapkan segala unek-unek yang dia tahan dalam dirinya karena ada pria yang menyakiti putri yang dia usakan sebagai orang tua tunggal.
Adrian berlutut, memasrahkan dirinya dipukuli. Dia menunduk dan rasa penyesalan semakin menggerogoti hati dan pikirannya. Matanya berembun mendengar raungan ibu mertuanya.
"Maaf," lirihnya.
"Maafmu nggak akan memperbaiki apapun."
"Harusnya Alya menuntutmu. Meminta harta gono-gini dan memenjarakan dirimu karena telah melukainya! Harusnya kamu nggak membuat putriku sengsara Adrian!"
"Aku bersumpah kau dan istri barumu nggak akan menemukan bahagia seumur hidupmu!" Ibu Alya sampai terengah-engah, tidak bisa mengendalikan emosinya yang terlalu menyesakkan dada.
"Aku pantas mendapatkan sumpah itu, tapi tolong beritahu aku dimana Alya. Aku harus memastikan dia dan anakku baik-baik saja," ucap Adrian.
"Dia akan baik-baik saja selama kamu nggak muncul dalam hidupnya!"
***
Alya mengerjapkan matanya pelan, dia tidak membantah sama sekali mendengar omelan ibunya di seberang telepon setelah tahu dirinya hamil dan melarikan diri.
"Adrian datang dan memohon kepada ibu untuk memberitahu keberadaanmu."
"Jadi mas Adrian sudah tau?" lirih Alya. Kepalan tangannya tiba-tiba berkeringat. "Harusnya dia tahu setelah perceraian saja," lanjutnya tidak bersemangat.
Karena kehamilannya, sudah pasti proses perceraian di pengadilan agama akan berhenti. Padahal dirinya ingin segera terbebas dari Adrian.
Alya memutus panggilan ibunya lebih dulu karena mendengar ketukan pintu. Ketika membukanya dia menemukan atasan Sena.
"Saya mendengar dari Sena bahwa kamu nggak enak badan. Jadi saya membawa sup iga untukmu." Pradipta mengangkat barang bawaanya dengan senyuman tipis.
"Padahal mas nggak perlu repot-repot." Alya sedikit tidak enak, tetapi mendengar sup iga yang dibawa oleh Dipta dia juga tidak bisa menolaknya begitu saja.
Semalam dia sangat ingin memakan sup iga tetapi tidak tahu harus membeli dimana.
"Tapi mau kan?"
"Mas sudah makan? Kalau belum bisa sekalian makan siang bareng."
"Boleh."
Pradipta bergegas melepas sepatunya, tidak lupa mengepalkan tangan dan meninju ke udara. Tidak sia-sia tadi dia bertanya pada Sena tentang apa yang diinginkan Alya.
"Awal yang baik," gumamnya dan mengikuti kemana wanita itu melangkah layaknya anak kecil.
"Mas suka sop iga juga atau mau makan yang lain?"
"Saya makan apa saja, kebetulan sedang lapar."
"Oke makan sup iga yang mas bawa saja ya. Saya belum masak apapun."
Alya segera menyiapkan sup iga tersebut, sesekali menelan ludah karena sangat ingin mencobanya tetapi malu pada Pradipta jika mencicipi tanpa dipindahkan.
Aksinya yang sejak tadi mondar-mandir tidak pernah luput dari perhatian Pradipta. Ini pertama untuknya tertarik pada perempuan dan berusaha masuk dikehidupan percintaan.
Dulunya dia hanya fokus berkarir agar sukses dan membahagiakan orang tuanya. Dan sekarang mungkin sudah saatnya dia membahagiakan dirinya sendiri dengan mencari pendamping hidup.
"Dimakan mas," ujar Alya membawa dua mangkuk, untuknya dan Dipta.
Wanita itu langsung menyeruput kuah sup dan tersenyum lebar. Merasa puas akhirnya keinginannya terpenuhi.
"Rambut kamu." Pradipta bergerak untuk menahan rambut Alya yang hampir masuk ke mangkuk.
"Terimakasih."
"Jangan terimakasih terus."
Bahkan sampai sup Iga habis di mangkuk Alya, Dipta masih menatapnya.
"Alya boleh saya tanya sesuatu?"
"Tanya apa?"
"Kamu nggak membiarkan saya membocorkan identitasmu saat merias pengantin, padahal dia adalah artis papan atas. Sekali menyebut namamu, kamu akan banjir klien bahkan tanpa dipegang oleh Wo. Apa yang terjadi padamu sehingga lari saat hamil?"
Hening
Alya mengerjap pelan, dia tidak langsung menjawab Pradipta. Hal itu membuat suasana semakin menegang.
Sepertinya Pradipta menyesal telah mengikuti kata otaknya. Harusnya dia menahan diri agar tidak canggung.
"Oh iya saya kesana sekarang," ujar Pradipta pura-pura menerima telepon agar keluar dari suasana canggung tersebut. Dia langsung berdiri. "Saya ada meeting dadakan, terimakasih untuk jamuannya."
Usai mengucapkan kalimat tersebut, Pradipta langsung pergi tanpa menoleh sedikit pun.
"Untung saja aku jago akting," gumamnya. Dia segera melajukan mobilnya menuju gedung Golden Promise.
Dan saat tiba dia malah berpapasan dengan Sena di lobi.
"Sena ...," panggilnya membuat gadis itu dan karyawan lainnya berhenti. "Ikut keruangan saya," ujarnya.
Lantas Sena berpamitan pada teman barunya dan mengikuti langkah atasannya. Dia berdiri kikuk tepat di belakang Pradipta setelah berada di dalam lift.
Tinggi pria di depannya benar-benar membuat sakit leher jika harus melihat kepalanya.
"Saya membuat kesalahan ya Pak?" tanya Sena.
"Sup Iganya diterima dengan baik, terimakasih untuk informasinya."
"Sama-sama Pak. Saya senang kalau bapak benar-benar serius pada mbak Alya. Mbak Alya pokoknya harus bahagia."
Pradipta melirik Sena dengan ekor matanya. "Tapi saya membuat kesalahan. Saya mempertanyakan alasan kenapa dia lari saat hamil. Dia sepertinya nggak nyaman."
"Sudah pasti nggak nyaman buat mbak Alya lah pak. Secara mbak Alya meninggalkan suaminya karena suaminya selingkuh dan wanita itu sedang hamil. Jadi ...."
"Jadi?" Kali ini Pradipta bukan lagi melirik, melainkan berhadapan langsung dengan Sena karena terlalu penasaran.
Sedangkan yang ditanya menutup mulutnya dengan kedua tangan. Wanita itu benar-benar tidak bisa menjaga rahasia apapun. Terlalu ceplas-ceplos bahkan pada orang baru sekalipun.
"Mbak Alya menikahkan suaminya dengan wanita itu dan pergi." Sudah kepalang, Sena akhirnya bercerita.
Wanita itu mengerutkan keningnya melihat senyuman tipis Pradipta.
"Bapak tersenyum?"
"Saya bangga dengan keputusan Alya. Dia benar-benar perempuan menarik. Menikahkan suaminya lalu meninggalkan? Itu sama saja dia membuang sampah pada tempatnya," ujar Dipta.
.
.
.
Jangan lupa meninggalkan jejak. Like dan komen kalian semangat author
makin besar kepala aja diaa....
Biarkan Alya dengan kebahagiaan nya