NovelToon NovelToon
Jangan Paksa Suamiku Selingkuh

Jangan Paksa Suamiku Selingkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Mandul / Konflik etika
Popularitas:622
Nilai: 5
Nama Author: Vitamaya

Vonis dokter menjadi titik balik dalam hidup Zulfa dimana dirinya hanya bisa memiliki anak melalui program bayi tabung. Di tengah harapan yang rapuh, sang ibu mertua yang selama ini tampak penuh dukungan, diam-diam menyusun rencana yang mengguncang, ia menyuruh Arslan, putra semata wayangnya, untuk berselingkuh.

Arslan menolak keras tunduk pada keinginan ibunya. Ia tetap berdiri di sisi sang istri, menguatkan setiap langkah Zulfa meski harapan berkali-kali runtuh. Namun, konflik tak berhenti di sana. Sang ibu sengaja menghadirkan masa lalu Arslan ke permukaan, mengancam keutuhan rumah tangga yang mereka bangun dengan susah payah.

Di tengah tekanan, air mata, dan kegagalan program bayi tabung yang terus menerpa, Zulfa dihadapkan pada pilihan paling sulit dalam hidupnya, antara terus berjuang atau berhenti?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vitamaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hasil yang tak diharapkan

Tak terasa, dua minggu telah berlalu.

Hari ini, Zulfa teringat jadwalnya untuk melakukan pemeriksaan laboratorium—tes beta HCG yang hasilnya jauh lebih akurat dibandingkan test pack. Dengan menggenggam surat pengantar dari rumah sakit, ia bergegas menuju laboratorium bersama Arslan.

Setibanya di sana, mereka tak perlu menunggu lama. Nama Zulfa segera dipanggil oleh petugas medis.

Zulfa duduk di kursi yang telah disediakan. Seorang petugas menghampiri, lalu memintanya bersiap untuk pengambilan darah. Tanpa ragu, Zulfa melipat lengan bajunya. Jarum suntik bukan lagi hal yang menakutkan baginya—benda itu justru seakan sudah menjadi sahabat karibnya selama bertahun-tahun lamanya

Sebuah tali dililitkan di lengannya untuk menahan aliran darah sejenak. Petugas itu kemudian dengan terampil menusukkan jarum ke kulitnya, mengambil darah yang mengalir perlahan ke dalam tabung kecil.

Zulfa hanya diam. Tatapannya kosong, seolah pikirannya melayang ke tempat lain—ke segala kemungkinan yang bisa terjadi dari hasil pemeriksaan hari ini.

Setelah selesai, petugas meminta Zulfa menunggu hasil selama dua jam. Hasil tersebut akan dikirimkan melalui email, sehingga ia dan Arslan tak perlu kembali lagi ke rumah sakit.

Dua jam adalah waktu yang terasa singkat, namun bagi Zulfa, itu seperti menunggu vonis atas perjuangannya selama ini.

Hasil itulah yang akan menentukan perjalanan panjangnya—program bayi tabung yang kini telah memasuki percobaan keenam.

Semoga ini yang terakhir... batin Zulfa lirih, menyimpan harap sekaligus takut yang bercampur menjadi satu.

Arslan yang sejak tadi menunggu di luar segera bangkit dari duduknya saat melihat Zulfa keluar dari ruang tindakan. Ia melangkah cepat, menghampiri sang istri dengan raut wajah penuh perhatian.

"Mau ke mana lagi setelah ini?" tanyanya lembut.

"Aku mau langsung pulang aja," jawab Zulfa singkat, nyaris tanpa ekspresi.

Arslan menatapnya sejenak, mencoba membaca apa yang tak terucap. Ia tahu, pikiran Zulfa sedang dipenuhi satu hal—hasil pemeriksaan yang akan mereka terima beberapa jam lagi.

"Yakin cuma mau pulang?" tanyanya lagi, kali ini dengan nada lebih hati-hati.

Zulfa mengangguk pelan, meski sorot matanya terlihat jauh, seolah sedang tenggelam dalam kecemasan yang tak bisa ia sembunyikan. Arslan menghela napas tipis. Sebenarnya, ia ingin mengajak Zulfa berjalan-jalan sejenak—sekadar mengalihkan pikirannya, memberi ruang bagi hatinya untuk bernapas. Ia tak tega melihat istrinya terus larut dalam ketegangan.

"Kalau kita mampir sebentar... ke mana gitu? Nggak lama, cuma buat cari udara segar, gimana?" bujuknya perlahan.

Zulfa terdiam. Tangannya saling menggenggam, seolah sedang menimbang antara lelah di tubuhnya dan riuh di kepalanya.

"Aku cuma mau pulang aja. Aku sudah punya rencana buat bikin kue hari ini."

Sepertinya, Zulfa sudah menemukan caranya sendiri untuk mengalihkan pikiran—menjauh sejenak dari bayangan hasil laboratorium yang membuat jantungnya berdenyut tak menentu.

"Bagus kalau begitu," sahut Arslan.

Belum sempat ia menambahkan sesuatu, ponselnya tiba-tiba berdering. Arslan melirik layar sebentar, lalu melangkah menjauh untuk mengangkat panggilan itu.

Dari kejauhan, Zulfa bisa melihat raut wajah Arslan berubah serius. Percakapan singkat itu tampak penting—terlihat dari bagaimana Arslan sesekali mengangguk, lalu menatap ke satu titik dengan fokus.

Beberapa saat kemudian, panggilan itu berakhir. Arslan kembali menghampiri Zulfa.

"Maaf ya... sepertinya hari ini aku cuma bisa mengantarmu pulang, aku harus segera kembali ke kantor. Ada klien yang datang mendadak." Ucapnya pelan. Zulfa mengangguk kecil.

"Nggak apa-apa." Jawabannya singkat, tapi cukup untuk membuat Arslan sedikit ragu. Ia menatap istrinya, seolah ingin memastikan bahwa ia benar-benar baik-baik saja.

"Yakin?" tanyanya lagi, lirih.

Zulfa memaksakan senyum tipis.

"Iya. Aku juga mau istirahat... sama mulai bikin kue."

Arslan terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. Meski masih ada rasa khawatir, ia tahu—kadang Zulfa memang butuh ruang untuk menghadapi semuanya dengan caranya sendiri.

"Kalau begitu, nanti kabari aku kalau hasilnya sudah keluar, ya," ucapnya lembut.

Zulfa kembali mengangguk. 

"Pokoknya kamu jangan berpikir yang aneh-aneh, ya," ucap Arslan pelan, menatap Zulfa dengan penuh kesungguhan.

Ia menggenggam tangan istrinya, seolah ingin menyalurkan kekuatan lewat sentuhan itu.

"Apa pun hasilnya nanti... aku akan tetap di sini, bersama kamu. Aku akan selalu mendukung apa pun yang kamu inginkan."

Zulfa terdiam. Tatapannya mulai melembut, meski kegelisahan itu masih belum sepenuhnya hilang. Arslan menghela napas pelan, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih dalam—lebih jujur.

"Buat aku, kebahagiaan dan kesehatan kamu itu jauh lebih penting dari apa pun."

Kalimat itu sederhana, tapi terasa hangat. Sejenak, mampu meredakan riuh di hati Zulfa—meski hanya sedikit. Namun, begitu Arslan memalingkan wajah, senyum tipis itu perlahan memudar. Kecemasan yang sejak tadi ia tahan kembali merayap pelan, memenuhi ruang di dadanya.

***

Sesampainya di rumah, Zulfa tak langsung beristirahat. Ia justru bergegas menuju dapur, seolah ingin segera menuntaskan "misinya" hari ini—membuat kue favorit keluarga Arslan, yaitu baklava.

Kue khas Turki itu terkenal dengan lapisan pastri tipis yang renyah, berpadu dengan manisnya madu dan taburan kacang. Namun kali ini, Zulfa ingin membuat versi yang lebih autentik—mendekati rasa asli dari negeri asalnya. Semua bahan sudah ia siapkan. Beberapa di antaranya bahkan ia beli langsung dari Turki melalui aplikasi belanja online, demi mendapatkan cita rasa yang sempurna.

Dengan penuh kesungguhan, Zulfa mulai bekerja. Ia menimbang bahan, mencampur, lalu menguleni adonan dengan telaten. Setiap gerakan tangannya seolah menjadi cara untuk menenangkan dirinya sendiri—mengalihkan pikiran dari sesuatu yang sejak tadi menghantui.

Agar suasana tak terasa sunyi, ia memutar lagu-lagu bertempo cepat. Sesekali, Zulfa ikut bersenandung, bahkan bernyanyi kecil mengikuti irama. Senyum tipis mulai terlukis di wajahnya. Tak lupa ia mengabadikan moment tersebut dengan merekamnya melalui ponsel yang ia punya untuk ia bagikan kepada seluruh followersnya. Pasti itu akan terlihat menyenangkan ketika mendapat ribuan like dan ratusan komentar dari mereka yang selalu memuji proses memasak Zulfa yang selalu terlihat menarik dan menyenangkan.

Untuk sesaat, ia benar-benar tampak bahagia. Seolah lupa... bahwa ada sesuatu yang sedang ia tunggu. Sesuatu yang bisa mengubah segalanya. Denting notifikasi terdengar nyaring di tengah dapur yang semula riuh oleh musik. Jantung Zulfa seketika berdegup lebih cepat—tak beraturan.

Tangannya yang masih dipenuhi adonan buru-buru dibersihkan. Dengan langkah tergesa, ia menghampiri meja tempat ponselnya tergeletak. Napasnya terasa berat, seolah setiap langkah membawa beban yang tak kasatmata.

Layar ponsel itu menyala. Sebuah email masuk. Matanya membelalak. Jemarinya bergetar saat membuka file yang terlampir. Detik-detik itu terasa begitu panjang... menyesakkan.

Lalu, deretan angka itu muncul.

Zulfa terpaku.

Jantungnya berdegup keras, seolah ingin keluar dari dadanya. Ia membaca sekali... dua kali... berharap ada yang salah.

Namun tidak.

Tubuhnya melemah. Perlahan, ia merosot jatuh ke lantai.

Air matanya luruh tanpa bisa ditahan. Tangannya gemetar saat kembali menatap layar ponsel, memaksa dirinya memastikan—barangkali ia keliru membaca.

Namun tidak.

Angka itu tetap sama.

0,0 sekian.

Kosong. Yang artinya, tak ada kehidupan yang tumbuh di dalam rahimnya. Sebenarnya... jauh di dalam hatinya, ia sudah memahami kondisinya. Apa lagi yang bisa ia harapkan... dari seorang perempuan dengan kadar AMH di bawah angka satu?

Harapan itu sejak awal memang rapuh. Namun tetap saja—ia terus menggenggamnya, mencoba percaya, mencoba bertahan, meski berkali-kali kenyataan memaksanya jatuh di titik yang sama. Isakannya pecah, memenuhi ruang dapur yang kini terasa begitu sunyi. Semua harapan yang sempat ia bangun perlahan runtuh, meninggalkan luka yang semakin dalam.

Program bayi tabungnya... yang keenam... kembali gagal.

Tak lama kemudian, ponsel Zulfa kembali bergetar.

Di layar, nama Arslan tertera jelas.

Zulfa hanya menatapnya sekilas... lalu memalingkan wajah. Ia tak sanggup mengangkat panggilan itu. Tangisnya justru semakin pecah, memenuhi ruang dapur yang kini terasa begitu sunyi.

Beberapa detik kemudian, sebuah pesan masuk.

"Gimana hasilnya? Kalau emailnya sudah masuk, tolong kirimkan file-nya. Aku juga mau lihat hasilnya."

Tulisan itu terasa seperti pisau yang mengiris perlahan. Napas Zulfa tersengal, dadanya sesak. Ia menggenggam ponselnya erat, namun tak satu pun kata mampu ia balas. Air matanya jatuh tanpa jeda. Di saat yang sama, langkah kaki terdengar mendekat. Seorang pelayan rumah tangga muncul di ambang dapur, wajahnya tampak canggung dan ragu.

"Maaf, Nyonya Zulfa mengganggu, di ruang tamu... ada Nyonya Farah. Beliau ingin bertemu." ucapnya pelan, hampir berbisik. 

Zulfa membeku.

Dadanya semakin terasa berat.

Benar-benar bukan waktu yang tepat.

Di saat ia bahkan belum mampu menerima kenyataan ini, ibu mertuanya justru datang. Zulfa menunduk, mencoba mengatur napasnya yang berantakan. Ia mengusap air mata dengan punggung tangan, meski percuma—tangis itu tak kunjung berhenti.

Pikirannya dipenuhi pertanyaan.

Kenapa mama datang sekarang?

Apa beliau sudah tahu kalau hari ini hasilnya keluar?

Apa beliau juga ingin tahu hasilnya...?

Semakin ia mencoba menenangkan diri, semakin kacau isi kepalanya. Rasa sedih, takut, dan tekanan bercampur menjadi satu, menyesakkan tanpa ampun. Untuk sesaat, Zulfa merasa... ia benar-benar sendirian menghadapi semuanya.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!