NovelToon NovelToon
Istriku Seorang Putri

Istriku Seorang Putri

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyelamat / Perperangan
Popularitas:457
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Sinopsis

Putri viona Isabella berangkat menuju Kerajaan Timur untuk menikahi putra mahkota sesuai perjodohan antar kerajaan. Namun, di tengah perjalanan rombongannya diserang perampok hingga seluruh pengawal tewas.

Dengan tubuh penuh luka, viona melarikan diri ke dalam hutan dan diselamatkan oleh Derek Henrick, pria misterius yang memilih hidup mengasingkan diri. Seiring waktu, cinta tumbuh di antara mereka.

Saat identitas Fiona akhirnya terungkap, ia harus memilih antara memenuhi takdirnya sebagai seorang putri atau mempertahankan cinta yang telah menyelamatkan hidupnya. Namun, Derek ternyata menyimpan rahasia besar yang dapat mengubah nasib kedua kerajaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Keraguan di Pagi Hari

Matahari pagi menyinari kabin kayu melalui celah-celah jendela. Sinar kuning keemasan menerpa wajah Viona yang masih tertidur, membangunkannya perlahan. Ia membuka matanya, merasakan hangatnya sinar matahari di kulitnya. Untuk sesaat, ia lupa di mana ia berada. Lalu ia melihat cincin batu delima di jarinya, dan semua kenangan malam itu kembali—Derek, makan malam, dan cincin pusaka ibunya.

Ia tersenyum dan menoleh ke arah kursi di dekat perapian. Namun, Derek tidak ada di sana. Kursi itu kosong, hanya selimut tipis yang terlipat di atasnya.

" Derek?" panggil Viona pelan.

Tidak ada jawaban. Viona bangkit, merapikan rambut pendeknya yang berantakan, lalu berjalan ke pintu kabin. Ia membukanya, dan ia melihat Derek sedang duduk di atas batu besar di halaman depan, memandangi lembah luas di bawah. Punggungnya tegap, tetapi ada sesuatu yang terlihat berat di bahunya.

" Derek?" Viona memanggil lagi, kali ini lebih keras.

Derek menoleh. Matanya yang abu-abu menatap Viona, dan untuk sesaat, Viona melihat ada kegelisahan di sana. Namun, Derek segera tersenyum—senyuman hangat yang menutupi semua kegelisahan itu.

"Selamat pagi, Viona. Tidur nyenyak?"

"Cukup nyenyak." Viona berjalan mendekat, duduk di samping Derek di atas batu besar itu. "Tapi kau... kau tidak tidur semalaman, bukan?"

Derek sedikit terkejut. "Apa yang membuatmu berpikir begitu?"

"Matamu. Ada lingkaran hitam di bawahnya." Viona menatapnya dengan penuh perhatian. "Ada apa? Kau terlihat sangat gelisah sejak pagi."

Derek mengalihkan pandangannya, menatap lembah di bawah. "Tidak ada apa-apa. Aku hanya... memikirkan tentang perjalanan kita selanjutnya."

Viona tidak percaya sepenuhnya. Ia sudah cukup lama mengenal Derek untuk tahu bahwa ketika pria ini menghindari tatapan matanya, ada sesuatu yang ia sembunyikan. Tetapi Viona memutuskan untuk tidak memaksa. Jika Derek ingin berbagi, ia akan melakukannya saat sudah siap.

"Kau tahu," kata Viona, berusaha mencairkan suasana. "Aku belum pernah sarapan pagi di luar ruangan seperti ini. Di istana, aku selalu makan di meja marmer yang dingin, ditemani oleh pelayan yang diam. Tidak ada angin, tidak ada suara burung, tidak ada cahaya matahari yang menyinari wajahku."

Derek menoleh, tersenyum tipis. "Di istana, kau kehilangan banyak hal. Tapi di sini, kau mendapatkannya kembali."

"Ya." Viona menatap lembah yang luas. "Dan aku bersyukur kau membawaku ke sini."

Mereka duduk bersama dalam keheningan yang nyaman. Angin pagi berhembus, membawa aroma rumput basah dan bunga liar. Namun, keheningan itu terasa berbeda dari sebelumnya—seolah ada beban yang menggantung di udara, beban yang tidak terlihat tetapi terasa.

Beberapa saat kemudian, Derek berdiri. "Aku harus pergi ke desa di kaki lembah untuk membeli beberapa persediaan. Kita butuh tepung, garam, dan beberapa bahan makanan lain. Kau ingin ikut?"

Viona mengangguk bersemangat. "Tentu. Aku bosan hanya di kabin."

Mereka menaiki kuda dan menuruni lembah. Perjalanan ke desa itu memakan waktu sekitar setengah jam. Desa itu kecil—bahkan lebih kecil dari Desa Hujan Emas—tetapi pasar di pusat desa cukup ramai. Para pedagang menjual sayuran, daging, dan kain.

Viona berjalan di samping Derek, matanya memandangi barang-barang yang dijual. Ia berhenti di sebuah tenda yang menjual perhiasan kayu, tetapi Derek menariknya pelan.

"Jangan terlalu lama di sini," bisik Derek. "Kita harus cepat."

"Kenapa?" tanya Viona heran.

"Tidak ada alasan khusus. Hanya saja..."

Derek tidak sempat menyelesaikan kalimatnya. Tiba-tiba, seorang pria tua di tenda sebelah berbicara kepada pedagang kain di dekatnya.

"Kau dengar kabar dari Kerajaan Timur?" tanya pria tua itu.

"Kabar apa?"

"Dewan Raja mengeluarkan perintah baru. Mereka mencari seorang wanita yang mengenakan cincin emas dengan batu delima merah. Katanya, cincin itu adalah milik keluarga kerajaan yang hilang. Mereka menawarkan hadiah besar bagi siapa pun yang menemukan wanita itu—atau cincin itu."

Viona yang sedang melihat-lihat perhiasan kayu membeku. Ia menunduk, melihat cincin di jarinya. Cincin emas dengan batu delima merah.

Derek segera melangkah di depan Viona, menutupi tubuhnya dari pandangan pria tua itu. Ia meraih tangan Viona dan menariknya pelan menjauh dari tenda.

"Jangan melihat cincin itu," bisik Derek dengan suara sangat pelan. "Tutupi dengan selendangmu."

Viona dengan cepat menarik selendangnya, menutupi tangan kirinya. Jantungnya berdegup kencang. "Derek... cincin ini... apa itu cincin kerajaan?"

Derek tidak menjawab. Ia terus menuntun Viona keluar dari pasar, berjalan cepat menuju tempat mereka menambatkan kuda.

"Siapa aku sebenarnya, Derek?" Viona bertanya, suaranya mulai bergetar. "Siapa ibumu? Dan mengapa cincin ini dicari oleh Dewan Raja?"

Derek berhenti. Ia menatap Viona, dan untuk pertama kalinya, Viona melihat keraguan di matanya. Keraguan yang dalam.

"Aku akan menjelaskannya," kata Derek perlahan. "Tapi tidak di sini. Di sini terlalu berbahaya. Kita kembali ke kabin."

Mereka segera menaiki kuda dan meninggalkan desa. Sepanjang perjalanan pulang, Viona tidak berbicara. Pikirannya penuh dengan pertanyaan. Siapa Derek sebenarnya? Mengapa ia memiliki cincin yang dicari oleh Dewan Raja? Dan mengapa ia menyembunyikan semua ini darinya?

Saat mereka akhirnya tiba di kabin, Derek turun dari kuda dan membantu Viona turun. Ia menuntun Viona masuk ke kabin, menutup pintu, lalu berdiri di hadapan Viona dengan wajah serius.

"Viona, aku tahu kau punya banyak pertanyaan. Dan kau berhak mendapat jawaban." Derek menarik napas dalam. "Tapi sebelum aku memberitahumu, aku harus memastikan satu hal: apakah kau masih mau percaya padaku, apa pun yang aku katakan?"

Viona menatap Derek. Matanya penuh dengan konflik—antara rasa percaya dan rasa takut.

"Aku sudah menikahimu," bisik Viona. "Aku sudah memakai cincin ibumu. Kau sudah menjadi bagian dari hidupku. Tentu saja aku percaya padamu. Tapi kau harus jujur padaku, Derek. Siapa dirimu?"

Derek menunduk. Untuk waktu yang lama, ia diam. Lalu ia membuka mulutnya.

"Nama asliku bukan Derek Henrick. Henrick adalah nama belakang ibuku."

Viona menahan napas.

"Aku adalah Putra Mahkota Kerajaan Timur. Kakak dari Neil Minos. Dan cincin yang kau pakai di jari itu adalah cincin yang diberikan ibuku padaku sebelum ia meninggal. Cincin itu adalah tanda bahwa aku adalah pewaris sah takhta Kerajaan Timur."

Dunia terasa berputar di sekitar Viona. Ia mundur satu langkah, punggungnya menabrak dinding kayu kabin.

"Kau... kau adalah putra mahkota?" bisik Viona. "Kau adalah kakak Neil?"

Derek mengangguk. "Dan Neil... adikku... telah kabur dengan kekasihnya. Ayahmu telah menyatakan perang terhadap Kerajaan Timur. Dan cincin di jarimu kini menjadi target pemburuan Dewan Raja."

Viona merasakan lututnya lemas. Ia duduk di kursi kayu, tidak bisa berkata apa-apa.

"Aku tidak ingin menipumu, Viona," bisik Derek, suaranya penuh penyesalan. "Aku hanya tidak tahu bagaimana cara memberitahumu. Dan aku takut... jika kau tahu, kau akan pergi."

Viona mengangkat kepalanya. Air mata menggenang di matanya, tetapi ia tersenyum.

"Pergi? Derek, aku sudah menikahimu. Aku sudah mati di dunia luar. Tidak ada tempat lain untukku." Viona meraih tangan Derek. "Kau adalah rumahku sekarang. Tapi mulai sekarang, jangan sembunyikan apa pun dariku lagi."

Derek menatap Viona. Kehangatan memenuhi dadanya. Ia berlutut di depan Viona, menggenggam tangannya yang memakai cincin delima.

"Aku janji," bisik Derek. "Mulai sekarang, tidak ada lagi rahasia di antara kita."

Namun, di dalam hatinya, Derek tahu bahwa rahasia terbesar belum ia ungkapkan sepenuhnya. Dan di balik semua itu, bahaya besar sedang mendekat—mendekati lembah ini, mendekati kabin ini, dan mendekati Viona yang kini ia cintai lebih dari apa pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!