Davika Ovwua Mwohan adalah siswi kelas 3 SMA yang tidak hanya berpenampilan memikat layaknya boneka hidup dengan tubuh *gitar spanyol* yang seksi, tetapi juga memiliki kepribadian paling random dan kocak di antara teman-temannya. Di balik tingkah ajaibnya, Davika adalah koki andalan rumah yang jago menyulap segala jenis masakan mulai dari jajanan pasar hingga kuliner barat menjadi hidangan favorit keluarga, teman, hingga tetangga.
Keseharian Davika dipenuhi dinamika hubungan persaudaraan yang seru dan penuh warna. Ia terlibat hubungan ala "Tom and Jerry" dengan kakak pertamanya, Mas Gara, pria cuek dan berotot yang selalu bersedia menjadi ATM berjalan demi menuruti hobi makan dan tingkah acak Davika. Sementara itu, Mbak Nara, kakak keduanya yang cantik dan manis, turut melengkapi kehangatan dan keseruan lika-liku kehidupan masa muda Davika di dalam keluarganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oviamarashiin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sinyal Pengalih di Ambang Fajar
Keheningan malam di dalam gudang nomor empat perlahan mulai bergeser seiring dengan berjalannya waktu. Di luar dinding baja, sayup-sayup terdengar suara klakson kapal kargo yang bersiap angkat sauh di dermaga utama pelabuhan utara, memecah kesunyian dini hari yang kian dingin.
Gus Zayyad bersandar pada kursi hidrolik, matanya terpejam sejenak demi menekan rasa nyeri yang masih berdenyut di rusuknya. Namun, setiap kali ia membuka mata, pandangannya selalu tertumpu pada sosok mungil di depannya. Davika kini telah turun dari tangki bensin motor dan duduk bersila di atas lantai beton beralas tikar karet pembongkaran mesin. Dengan kepolosan yang luar biasa, tangan super kecilnya sibuk membuka sebungkus keripik kentang ukuran jumbo yang sempat ia sambar di swalayan tadi, mengunyahnya dengan ritme yang konstan hingga memicu bunyi kriuk yang memecah ketegangan.
"Gus, mau? Ini rasa rumput laut, enak loh. Daripada mukamu kaku terus kayak manekin toko jas," tawar Davika tanpa dosa, menyodorkan bungkus jajanan itu ke arah Zayyad.
Zayyad menggeleng pelan, sudut bibirnya yang dilapisi sisa *liptint peach* bergerak tipis. "Makanlah, Davika. Kamu sudah menghabiskan banyak energi untuk menjadi pembalap liar malam ini."
"Heh, bukan liar ya! Ini namanya mengemudi taktis darurat berlisensi Mas Gara," ralat Davika ceriwis, tidak terima kemampuannya disamakan dengan anak-anak trek-trekan gang sempit.
Tiba-tiba, monitor komputer kedua di dinding beton kembali berkedip agresif. Sebuah lampu indikator berwarna oranye menyala, memotong obrolan santai mereka. Sistem keamanan perimeter jarak jauh milik Hendra mendeteksi adanya aktivitas transmisi frekuensi radio yang mencurigakan dalam radius satu kilometer dari gerbang pelabuhan lama.
"Gus, lihat itu. Titik oranyenya bergerak melingkar," ujar Davika, meletakkan bungkus keripiknya dan langsung berdiri tegak. *Tweed jacket*-nya bergoyang mengikuti gerakan tubuhnya yang padat dan berisi.
Zayyad seketika ikut berdiri, mengabaikan rasa sakit di tubuh kekarnya. Ia melangkah mendekati layar monitor, menatap barisan gelombang radio yang terpampang. "Kamil mengubah strateginya. Mereka tahu armada kontainer saya mengunci jalan tol, jadi mereka menyisir area pelabuhan menggunakan unit pelacak sinyal seluler. Mereka mencari frekuensi ponsel kita."
"Aduh, ponsel Davik!" Davika panik, meraba saku jaket *oversized*-nya. "Tapi kan tadi Mas Gara bilang sinyal di sini sudah di-enkripsi pakai satelit cadangan?"
"Betul, tapi enkripsi satelit hanya menyembunyikan lokasi presisi kita dari jaringan publik. Jika mereka membawa alat pemindai arah genggam (*Direction Finder*) dalam jarak dekat, mereka masih bisa mendeteksi adanya lonjakan aktivitas data di sekitar gudang nomor empat ini," jelas Zayyad dengan analisis taktisnya yang rapi dan tenang.
Di layar, titik oranye itu kian merapat, menandakan setidaknya ada satu mobil pengintai milik Kamil yang sedang menyusuri deretan gudang kontainer tua di jalur luar.
"Pikiran Davik mendadak buntung lagi nih, Gus. Apa kita harus kabur pakai motor Mas Gara lagi?" tanya Davika, jemari mungilnya sudah bergerak refleks meraih helm balap hitam di atas meja mekanik.
"Tidak. Jika kita keluar sekarang, suara mesin dua silinder motor ini justru akan menjadi pemandu arah yang sempurna bagi mereka dalam keheningan malam seperti ini," cegah Zayyad. Tubuh tegapnya berputar, matanya memindai sekeliling bengkel taktis sebelum akhirnya mendarat pada sebuah perangkat radio komunikasi kuno berspesifikasi militer yang tergeletak di rak perkakas atas.
"Kita akan membuat sinyal pengalih," lanjut Zayyad, senyum tipis yang sarat akan kecerdasan taktis muncul di wajah tampannya yang berpenampilan *oppa* Korea itu. "Davika, ambil alih konsol komputer utama. Saya akan memprogram radio ini untuk memancarkan frekuensi ponsel kita secara statis, lalu melemparkannya ke dalam kontainer kosong di ujung dermaga lewat sistem katrol atas."
Davika melongo sesaat, namun mata green-gray langka miliknya langsung berbinar penuh kedegilan yang genius. "Oh! Jadi kita bikin jebakan Batman buat om-om baju hitam itu? Siap, laksanakan, Kapten Zayyad!"
Dengan kegesitan yang luar biasa, Davika melompat ke kursi operator komputer, jemari super kecilnya menari-nari di atas papan ketik dengan kecepatan kilat, bersiap menyinkronkan data pengalih yang akan dirakit oleh Gus Zayyad demi mengecoh sisa-sisa komplotan Kamil sebelum fajar menyingsing di bumi Jakarta.
...***************...
Jemari super kecil Davika bergerak bagai bayangan di atas papan ketik mekanik, menciptakan ketukan beritme cepat yang bergaung di dalam gudang baja yang sunyi. Riasan *cat-eye* di matanya yang berwarna *green-gray* langka tampak makin tajam di bawah pantulan cahaya monitor.
"Selesai, Gus! Data frekuensi ponsel Davik dan ponsel Gus sudah ter-kloning ke pemancar radio kuno itu!" seru Davika tanpa mengalihkan pandangannya dari layar yang kini menampilkan grafik gelombang yang melompat-lompat stabil.
Gus Zayyad yang berdiri di dekat rak perkakas langsung mengencangkan baut penutup perangkat radio militer tersebut menggunakan kunci pas. Di balik kemeja hitam formalnya yang kusut, otot lengan dan dadanya yang kekar mengencang sempurna, sementara simpul pita imut di bahunya ikut bergeser lucu seiring gerakannya yang taktis.
"Bagus. Sekarang buka pintu ventilasi jalur atas, Davika," perintah Zayyad, suara baritonnya mengalun rendah dan penuh otoritas.
Zayyad melangkah menuju sistem katrol kabel baja manual yang terhubung ke rel atas gudang, jalur yang biasanya digunakan Mas Gara untuk menggeser mesin motor balap seberat ratusan kilogram keluar menuju dermaga logistik pribadi. Zayyad mengaitkan radio pemancar tersebut pada ujung kabel baja.
*Kreeek... Kreeek...*
Dengan satu tarikan bertenaga dari tangan besar Zayyad, perangkat radio itu melesat naik menembus lubang ventilasi atas yang baru saja dibuka oleh Davika lewat tombol konsol. Melalui rel gantung yang menjulur keluar gudang, radio itu meluncur konstan dalam kegelapan malam, hingga akhirnya jatuh dengan bunyi debuman tumpul yang teredam jauh di dalam sebuah bangkai kontainer kosong setinggi empat meter di ujung dermaga luar.
"Umpan sudah aktif," gumam Zayyad sembari kembali ke sisi Davika, matanya menatap tajam ke arah layar monitor perimeter.
Benar saja, hanya dalam hitungan detik, titik oranye mencurigakan yang semula bergerak memutar di jalur luar pelabuhan mendadak mengubah arah secara drastis. Sinyal pengintai milik komplotan Kamil mendeteksi adanya lonjakan aktivitas seluler palsu di ujung dermaga, mengira bahwa target yang mereka cari tengah bersembunyi di dalam bangkai kontainer karat tersebut.
Dari balik celah jendela kaca kecil gudang nomor empat, Davika dan Zayyad bisa melihat sebuah mobil minibus abu-abu tanpa plat nomor perlahan bergerak senyap melintasi jalanan tanah pelabuhan yang basah, menjauhi area persembunyian mereka dan melaju lurus menuju jebakan Batman yang telah dipasang sempurna.
"Hahaha! Kena tipu mereka, Gus!" Davika menyenggol lengan kekar Zayyad dengan sikutnya, sifat *random*-nya kembali membubung tinggi. "Om-om baju hitam itu pasti mengira kita lagi mojok romantis di dalam kontainer karatan. Padahal di sini kita lagi main komputer sambil makan keripik kentang."
Zayyad hanya bisa mengembuskan napas pendek mendengar celetukan absurd gadis remaja di sampingnya. Namun, jarak yang begitu dekat membuat aroma wangi sisa rempah kunyit dan buah beri dari tubuh padat Davika kembali tercium oleh indra penciumannya. Zayyad berdeham kaku, mencoba mengalihkan fokusnya dari kedekatan fisik yang mendebarkan itu.
"Jangan lengah dulu, Davika. Ini hanya memberi kita waktu tambahan hingga fajar," sahut Zayyad, berusaha mengembalikan nada suaranya menjadi sedingin es. "Begitu matahari terbit, Kapten Sagara akan mulai menggerakkan bidak hukumnya dari Shanghai, dan kita harus siap mengawal Mbak Nara menuju dewan pengasuh pusat."
Davika mencibir jenaka, menampilkan ekspresi boneka hidupnya yang sangat menggemaskan di bawah pendar lampu LED. "Iya, iya, Gus kaku. Yang penting sekarang... bantuin Davik ngabisin keripik ini dulu, tangan Davik pegal habis ngetik kode taktis tadi!"
selalu bilangnya kitab😄😄😄