NovelToon NovelToon
Kelopak Bunga Dan Duri Jiwa

Kelopak Bunga Dan Duri Jiwa

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mafia / Transmigrasi
Popularitas:31
Nilai: 5
Nama Author: kawaichanopi

🌹 Kelopak Bunga dan Duri Jiwa

Shen Yue, dokter psikologi tegas berusia 25 tahun, berpindah jiwa ke tubuh Su Xinyi, gadis penjaga toko bunga yang hidup menderita di bawah kekejaman kerabatnya. Takdir mempertemukannya dengan Xiao Chen, penguasa mafia kejam yang menyimpan rahasia: ia mengidap gangguan kepribadian ganda—berubah dari sosok dingin mematikan menjadi pemuda ceria yang memuja bunga.

Di tengah bahaya, intrik musuh, dan tingkah laku Xiao Chen yang sering kali konyol, Shen Yue berusaha menyeimbangkan jiwa orang yang dicintainya. Di antara kelopak bunga indah dan duri tajam, tumbuhlah cinta gelap antara penyembuh jiwa dan pria yang terbelah hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kawaichanopi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mekar Di Tengah Beku

Sore itu, taman belakang kediaman Xiao yang telah lama sunyi dan mati, akhirnya kembali riuh oleh aktivitas. Bukan suara pertengkaran atau ancaman maut yang biasa terdengar di tempat ini, melainkan suara tawa renyah, suara percikan air, dan suara tanah yang dibalikkan cangkul.

Xiao Lei bekerja dengan semangat berapi-api. Dengan kekuatan fisik yang luar biasa dari tubuh Xiao Chen, ia mengangkat ember-ember besar berisi air, mencangkul tanah yang keras dan beku itu seolah sedang membelah tumpukan kapas, serta memindahkan bebatuan berat dengan mudahnya. Keringat mengucur deras di dahinya, namun senyumnya tak pernah luntur sedikit pun. Setiap kali Shen Yue memberi petunjuk, ia mengangguk antusias dan melakukannya dengan sebaik-baiknya, persis seperti murid teladan yang ingin memuaskan gurunya.

Di sisi lain, Shen Yue bergerak dengan tenang dan teliti. Di tangan kurusnya, ia memegang cangkul kecil dan sekop kayu, mengolah tanah itu dengan gerakan lembut namun pasti. Ia tidak hanya sekadar menyiram air atau membuang sisa tanaman mati. Setiap kali tangannya menyentuh tanah, ia membisikkan kata-kata lembut, mengalirkan rasa damai dan kasih sayang ke dalam saraf-saraf tanah yang telah lama membeku itu.

Bagi Shen Yue, ini bukan sekadar berkebun. Ini adalah terapi. Setiap gumpalan tanah yang hancur, setiap tetes air yang meresap, adalah simbol dari rasa sakit yang dihapuskan dan kehangatan yang masuk ke dalam celah-celah hati yang dingin itu.

"Pelankan tenagamu sedikit, Xiao Lei. Jangan sampai akar-akar yang masih hidup di bawah sana terpotong," tegur Shen Yue lembut sambil menunjuk ke arah gundukan tanah yang baru saja dicangkul pemuda itu.

Xiao Lei langsung menghentikan gerakannya, wajahnya berubah cemas seolah baru saja melakukan kesalahan besar. Ia berjongkok cepat, menyingkirkan tanah dengan hati-hati menggunakan jari-jarinya yang besar dan kasar. "Maaf, maafkan aku, Yue! Aku tidak bermaksud kasar. Aku hanya... aku hanya ingin cepat-cepat membuat tempat ini indah lagi."

Shen Yue tersenyum tipis melihat tingkah polos itu. Ia berlutut di sampingnya, ikut membantu membersihkan sisa tanah. "Aku tahu niatmu baik. Tapi hal indah tidak bisa dibuat dengan terburu-buru, dan tidak bisa dengan kekuatan kasar. Seperti halnya kepercayaan, seperti halnya hati... mereka butuh kesabaran dan kelembutan untuk tumbuh kembali. Mengerti?"

Xiao Lei mengangguk pelan, matanya menatap tajam ke tanah, menyerap setiap kata yang diucapkan gadis itu. "Mengerti. Seperti aku sama Xiao Yi ya? Kalau aku memaksanya untuk ceria atau berubah dengan keras, dia malah makin keras kepala dan dingin. Tapi kalau aku sabar dan lembut... kadang dia mau mendengarkan."

Shen Yue tertegun sejenak, lalu menatap pemuda itu dengan pandangan baru. Di balik keceriaan dan kepolosannya, Xiao Lei ternyata jauh lebih peka dan mengerti keadaan daripada yang ia duga. Ia adalah keseimbangan alami yang diciptakan oleh jiwa itu sendiri.

"Benar sekali. Kau sangat pintar, Xiao Lei," puji Shen Yue tulus.

Wajah Xiao Lei langsung bersinar terang, senyumnya melebar hingga menyentuh telinga. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena malu namun bahagia. "Hahaha! Kalau dibilang begitu sama Yue, rasanya capek seharian ini langsung hilang seketika!"

Di ambang pintu taman, A-Ming berdiri diam mengawasi. Matanya yang biasanya kaku dan tanpa ekspresi kini sedikit melembut. Sudah bertahun-tahun ia melayani tuannya, melihat kediaman ini selalu diselimuti awan kelabu dan ketakutan. Melihat pemandangan di hadapannya saat ini—Tuan Muda yang tertawa bahagia, tanah yang kembali basah dan hidup, serta aroma segar yang mulai menguar—rasanya seperti mimpi yang indah namun nyata.

Nona Su... kau benar-benar membawa perubahan yang tak terbayangkan, batin A-Ming pelan.

Waktu berlalu begitu saja. Matahari perlahan tenggelam di ufuk barat, meninggalkan lukisan langit berwarna jingga, ungu, dan merah muda yang mempesona. Cahaya senja masuk ke dalam taman, menyinari butiran-butiran air yang menempel di daun dan tanah, berkilauan seperti permata.

Tanah yang tadinya keras dan berdebu kini telah berubah menjadi gembur dan basah. Warna cokelat kusamnya berganti menjadi cokelat tua yang hidup, memancarkan aroma kesuburan dan harum tanah basah yang khas. Sisa-sisa tanaman yang mati telah dibersihkan, diganti dengan bibit-bibit baru yang dibawa Shen Yue dari tokonya pagi tadi: bunga mawar berbagai warna, melati, kenanga, bunga pagoda, dan tanaman merambat yang indah.

Dan yang paling istimewa, di tengah taman, tepat di dekat kolam kecil, mereka menanam kembali bunga mawar merah tunggal yang bertahan hidup itu, memberinya tempat lebih luas dan tanah yang jauh lebih baik.

Shen Yue berdiri tegak, menyeka keringat di keningnya dengan punggung tangan. Tubuhnya terasa lelah, otot-ototnya terasa nyeri karena bekerja seharian, namun hatinya terasa sangat puas dan damai.

"Sudah selesai," ucap Shen Yue pelan, suaranya terdengar jelas di udara senja yang tenang. Ia menatap sekeliling taman dengan pandangan penuh kasih sayang. "Sekarang kita tunggu saja. Dengan tanah yang baik, air yang cukup, dan... perasaan yang tulus... mereka pasti akan tumbuh dan mekar."

Xiao Lei berdiri di sampingnya, napasnya sedikit terengah namun matanya berbinar-binar takjub. Ia menatap hamparan tanah baru itu seolah sedang melihat istana emas yang paling indah di dunia.

"Indah... sangat indah...," bisiknya terharu. Ia menoleh menatap Shen Yue, lalu tiba-tiba berlutut berjinjit, menatap gadis itu dengan pandangan penuh kekaguman dan rasa hormat yang mendalam. "Terima kasih, Yue. Terima kasih sudah mau melakukan ini. Terima kasih sudah tidak jijik, tidak takut, dan tidak pergi meninggalkan kami... meninggalkan aku."

Kalimat itu diucapkan dengan sangat serius, sangat dalam, hingga membuat hati Shen Yue tersentuh. Ia berjongkok menyamakan tingginya, menatap lurus ke mata jernih itu.

"Aku tidak melakukan ini hanya untuk bunga, Xiao Lei. Aku melakukan ini untuk kalian. Untukmu, untuk Xiao Yi... dan untuk sisi lain dirimu yang masih bersembunyi. Karena kalian berharga. Sama berharganya dengan bunga-bunga indah ini," jawab Shen Yue lembut namun tegas.

Belum sempat Xiao Lei menjawab, angin senja berhembus sedikit lebih kencang. Aroma dingin yang sangat dikenal kembali menyelinap masuk ke ruang itu. Cahaya di mata Xiao Lei perlahan meredup, senyum di bibirnya memudar, digantikan oleh garis rahang yang menegang dan tatapan mata yang tajam serta penuh penilaian.

Postur tubuh yang tadi santai dan ceria, kini berubah menjadi kokoh, angkuh, dan penuh wibawa.

Xiao Yi kembali mengambil alih kendali.

Ia berdiri perlahan, menatap sekeliling taman yang telah berubah drastis itu dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran rasa tak percaya, rasa heran, dan rasa harap yang berusaha ia sembunyikan rapat-rapat. Ia berjalan perlahan mengelilingi taman, langkahnya berat dan berirama, seolah sedang memeriksa benteng pertahanan yang baru dibangun.

Ia berhenti tepat di depan tanaman mawar merah yang kini berdiri gagah di tengah taman. Tangannya yang besar dan kasar terulur perlahan, jari-jarinya menyentuh kelopak redah itu dengan gerakan yang begitu hati-hati, begitu lembut, seolah menyentuh barang paling fragile di dunia.

"Dia... terlihat lebih kuat," gumam Xiao Yi pelan, suaranya rendah dan berat. Ia menoleh menatap Shen Yue yang masih berlutut di tanah. "Kau benar-benar mengubahnya. Kau mengubah tempat yang mati ini menjadi hidup kembali."

Shen Yue bangkit berdiri, membersihkan debu tanah di jubahnya. Ia menatap Xiao Yi dengan tenang. "Aku bilang padamu, Xiao Yi. Tidak ada tempat yang benar-benar mati selama masih ada kehidupan yang mau tumbuh. Dan lihatlah... tanah ini sekarang hangat. Dinginmu sudah hilang dari sini."

Xiao Yi terdiam. Ia menatap telapak tangannya sendiri, lalu menatap tanah yang gembur itu. Selama bertahun-tahun, ia percaya bahwa keberadaannya membawa kematian dan kehancuran. Apa pun yang ia sentuh akan rusak, apa pun yang ia cintai akan pergi. Namun hari ini... untuk pertama kalinya, ia melihat bukti nyata bahwa kehadirannya tidak selamanya membawa kehancuran. Bahwa ada sesuatu yang bisa tumbuh indah bersamanya.

Perasaan yang rumit bergejolak di dadanya. Ada rasa bahagia yang samar, ada rasa takut bahwa semua ini hanyalah mimpi yang akan hilang, dan ada rasa syukur yang mendalam pada gadis kecil di hadapannya ini.

Xiao Yi melangkah mendekat. Ia berhenti tepat di depan Shen Yue, jarak di antara mereka sangat dekat. Aura dinginnya masih ada, namun tidak lagi tajam dan menusuk seperti dulu. Kini, dingin itu terasa seperti angin pegunungan yang sejuk, bukan lagi es yang mematikan.

"Kenapa?" tanya Xiao Yi tiba-tiba, matanya menatap tajam tepat ke manik mata gadis itu. "Kenapa kau berusaha sekeras ini? Kau tidak mendapat apa-apa dari kami. Bersama kami berbahaya. Musuhku banyak. Bahkan diriku sendiri adalah bahaya terbesar bagimu. Kenapa kau tetap bertahan?"

Pertanyaan itu sederhana, tapi pertanyaan yang paling dalam. Pertanyaan yang selama ini menghantui dirinya. Kenapa ada orang yang mau mendekati iblis?

Shen Yue tersenyum tipis, senyum yang tulus dan damai. Ia mendongakkan kepalanya, menatap lurus ke mata hitam yang penuh keraguan itu.

"Karena aku melihat apa yang ada di balik 'iblis' itu, Xiao Yi," jawab Shen Yue pelan namun jelas. "Aku melihat seorang pria yang kesepian, yang terluka, yang memakai baju zirah besi tebal agar tidak disakiti lagi. Aku melihat pria yang sebenarnya ingin melindungi semua yang ia sayangi, tapi tidak tahu caranya selain dengan kekerasan dan ketakutan. Aku melihat dua jiwa indah yang terperangkap dalam satu tubuh yang tersiksa. Dan sebagai manusia... dan sebagai dokter... aku tidak bisa memalingkan wajah dari rasa sakit itu."

Shen Yue mengangkat tangannya perlahan, menyentuh dada bidang Xiao Yi, tepat di tempat jantungnya berdetak kencang.

"Dan mungkin... karena di dunia yang asing ini... di tempat yang sama sekali baru bagiku... kaulah dan Xiao Lei-lah satu-satunya hal yang membuatku merasa punya tujuan. Kaulah rumah yang aku cari tanpa sadar."

Keheningan panjang menyelimuti ruangan itu. Hanya terdengar suara angin berhembus lembut dan dedaunan yang mulai berdesir pelan.

Matahari sudah benar-benar tenggelam, digantikan oleh bulan purnama yang bersinar terang di langit biru tua. Cahaya perak bulan turun membasahi taman itu, membuat tanah yang baru diolah itu berkilau lembut.

Xiao Yi menatap gadis itu lama sekali. Kilatan emosi yang rumit bertabrakan di matanya, akhirnya menyatu menjadi satu perasaan yang mendalam, kuat, dan mutlak. Perasaan yang melampaui rasa ingin tahu, melampaui rasa penasaran, melampaui rasa kagum.

Perlahan, tangan besar Xiao Yi terulur, menyentuh pipi Shen Yue dengan jari-jarinya yang kasar namun lembut. Ia membelai wajah itu dengan hati-hati, seolah takut sentuhannya saja akan merusak keindahan itu.

"Kalau begitu..." bisik Xiao Yi parau, suaranya bergetar sedikit karena emosi yang tertahan. "Kalau aku adalah rumahmu... maka aku akan membangun tembok setinggi langit dan sedalam bumi agar tidak ada satu pun yang bisa masuk mengganggu, dan tidak ada satu pun yang bisa keluar meninggalkannya. Kau milikku, Yue. Sejak hari ini, napasmu, hidupmu, masa depanmu... semuanya terikat padaku. Kau tidak boleh pergi, tidak boleh berpaling. Kau adalah milikku, sama seperti aku adalah milikmu."

Itu bukan ucapan cinta yang romantis dan manis. Itu adalah ikatan darah, sumpah setia, dan kepemilikan mutlak. Keras, dingin, dan penuh duri... tapi di dalamnya tersimpan kasih sayang yang begitu besar dan dalam hingga nyaris meledak.

Shen Yue tersenyum lembut di bawah sentuhan tangan itu. Ia mengangguk pelan.

"Aku setuju. Aku milikmu, dan kau milikku. Kita saling memiliki, saling menyembuhkan, dan saling menjaga."

Di sudut taman, bunga mawar merah itu bergoyang pelan tertiup angin malam, kelopaknya mekar sedikit lebih lebar, memancarkan aroma harum yang manis namun tajam. Di balik bayang-bayang kesadaran, jauh di dalam lorong gelap yang paling dalam, sosok ketiga—Xiao Mo—terbangun sebentar, merasakan ikatan kuat yang baru saja terjalin, matanya yang gelap dan sedih menatap ke arah cahaya itu dengan rasa ingin tahu dan rasa sakit yang mendalam, sebelum kembali tenggelam dalam diamnya.

Di ambang pintu, A-Ming menghela napas panjang sambil tersenyum tipis, lalu menundukkan kepala hormat.

Malam itu, di kediaman yang dulu dingin dan menakutkan itu, benih-benih cinta dan harapan telah ditanamkan bersama bibit bunga-bunga itu. Dan sama seperti bunga mawar yang indah namun berduri... kisah mereka pun akan tumbuh menjadi cinta yang indah, namun penuh bahaya, pengorbanan, dan kekuatan yang tak tergoyahkan.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!