Zhao Fei yang dijuluki Yang Mulia Petir Abadi, tewas ditikam murid kesayangannya sendiri setelah 10.000 tahun berkuasa di Alam Dewa.
Namun ternyata hukum karma memberinya kesempatan kedua. Rohnya dikirim ke dunia bawah, masuk ke tubuh seorang pemuda sampah dari keluarga miskin yang tidak punya bakat, tidak punya harga diri, dan tidak ada wanita yang mau menikahinya.
Kekuatan petirnya lenyap. Akar spiritualnya tertidur dan dirinya harus memulai semuanya dari nol.
Tapi dendam seorang dewa tidak pernah padam. Janji pada pemilik tubuh asli pun juga tidak akan diingkari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Pedang yang Kembali
Perjalanan dari Sekte Garuda menuju Gunung Cemara memakan waktu setengah hari. Zhao Fei berdiri di depan rumah Tabib Wen ketika matahari sudah meninggi. Rumah kayu sederhana dengan atap jerami itu tampak sunyi di tengah pepohonan rindang yang beberapa diantaranya bahkan telah dimodifikasi menjadi rumah pohon.
Tanpa berlama-lama, pemuda itu segera mengetuk pintu.
"Tabib Wen!"
Dia mengetuk lagi lebih keras.
"Tabib Wen! Ini Zhao Fei!"
Masih tidak ada jawaban juga selain angin yang berbisik di antara dedaunan.
Lantas Zhao Fei memutuskan untuk berkeliling rumah itu. Halaman depan dengan pot-pot tanaman herbal tertata rapi sejauh mata memandang. Daun-daunnya masih segar, baru disiram mungkin beberapa jam lalu, sekaligus menandakan jika Tabib Wen pasti baru saja pergi.
Dia berjongkok di kebun herbal, matanya menyapu setiap sudut. Tidak ada tanda-tanda orang bersembunyi. Kemudian pandangannya tertuju pada selembar kertas yang dipaku di tiang penyangga teras. Kertas itu berwarna kecokelatan, sedikit melengkung di tepinya karena terkena embun pagi.
Zhao Fei menghampiri tiang itu dan mengambil kertas tersebut tanpa basa-basi.
"Ada keperluan mendadak. Aku sedang pergi selama satu minggu. Jika ada yang perlu menemuiku, tinggalkan pesan pada Zhao Fei. Dia akan mencatatnya untukku."
Langsung saja Yang Mulia Petir Abadi mengerutkan kening dalam-dalam. Namanya jelas tertulis di sana, seperti Tabib Wen sudah tahu bahwa dia akan datang.
"Kenapa namaku yang tertulis di sini?" gumamnya menggaruk-garuk belakang kepala.
Dia membolak-balik kertas itu. Ternyata ada selembar kertas kecil yang ditempel di bagian belakang.
"Jangan mengeluh. Jaga tempat ini selagi aku pergi. Cuma seminggu saja. Sekte Garudamu itu tidak akan keberatan juga, kurasa."
Zhao Fei pun menghela napas panjang.
Tabib Wen tahu aku akan datang, bahkan dia tahu aku akan merasa keberatan. Orang tua itu memang lebih aneh dari yang aku kira.
Dia memasuki rumah yang segera menyuguhkan debu tipis di meja kayu dan rak-rak ramuan. Tidak terlalu kotor, tapi sudah jelas butuh sapuan. Entah kenapa, dia memutuskan untuk membersihkan tempat itu. Bukan karena dia suka bersih-bersih juga, mungkin karena dia tidak ingin Tabib Wen pulang dalam keadaan rumah yang berantakan setelah dia tempati.
Dia mengambil sapu dari belakang pintu. Menyapu lantai. Membersihkan meja. Merapikan rak-rak ramuan yang sedikit berantakan.
Setelah semuanya selesai, Zhao Fei menutup semua pintu. Jendela juga sampai rumah itu terasa lebih rapi dari sebelumnya.
Tanpa perlu permisi, pemuda itu langsung mengambil jubah kumal yang tergantung di dinding. Jubah itu milik Tabib Wen, terlalu besar untuk tubuhnya. Tapi cukup untuk menyamarkan identitasnya jika ada orang-orang yang mengenalnya.
Duduk bersila di lantai kayu belum pernah terasa segugup ini. Tapi Zhao Fei tetap memilih lanjut dengan menutup matanya.
Karena Tabib Wen tidak bisa aku temui sekarang, sepertinya mencari tahu tentang cincin ini adalah satu-satunya jalanku kembali. Aku harus tahu seberapa jauh kemampuanku bisa bergerak di Alam Dewa dan apa resikonya.
Setelah semalaman tidak bisa tidur karena pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu, dia memutuskan untuk mencoba lagi. Kali ini dengan sengaja.
Dia memegang cincin di jarinya. Menyalurkan qi dan memfokuskan pikirannya ke Alam Dewa.
Lama. Sangat lama.
Kemudian...
Setelah dirinya membuka mata, langit keemasan di atasnya segera memberi sambutan dengan udara segar bercampur aroma bunga yang tidak ada di dunia bawah.
Zhao Fei berdiri di tengah kota penuh nostalgia itu. Kembali ke masa lalu, lebih tepatnya ribuan tahun lalu, dia sering melewati tempat ini dalam perjalanan menuju perguruannya. Di sini ada pasar artefak, tempat para pengrajin menjual hasil karyanya. Kedai teh yang menyajikan daun teh dari lima alam berbeda, dan ada pula taman kecil dengan patung naga yang konon bisa bicara di malam bulan purnama.
Adapun orang-orang berlalu lalang tanpa ada yang menoleh alih-alih melihatnya.
Zhao Fei berjalan perlahan untuk menguji dengan melambai di depan mata seorang wanita yang sedang asyik memilih perhiasan di toko. Wanita itu tidak bereaksi. Dia bahkan sampai berteriak di dekat telinga seorang pria, namun pria itu tetap berjalan tanpa berkedip sekalipun.
Ternyata masih sama seperti tadi malam, batinnya. Tidak ada yang melihatku. Tidak ada yang mendengarku.
Tapi kekhawatirannya masih ada. Bagaimana jika Li Tianming bisa melihatnya? Atau para tetua, bahkan selir-selirnya dulu yang mungkin memiliki kemampuan khusus?
Dia memutuskan untuk tidak mengambil risiko. Cukup berjalan biasa, seperti pengunjung yang tidak terlihat dengan jubah kumal ini.
Zhao Fei berjalan meninggalkan keramaian. Menyusuri gang-gang sempit yang tidak pernah dia lupakan. Belok kiri di patung naga batu. Lurus sampai tiga persimpangan. Belok kanan di sumur tua yang sudah tidak berair.
Sementara tepat di ujung gang sana terdapat dinding batu yang terlihat biasa. Tapi Zhao Fei tahu rahasianya.
Tiga ketukan di batu kedua dari kiri. Dulu dia yang memasang formasi ini, dan tidak ada yang tahu selain dirinya.
Karena meski dia selalu menembus orang-orang di Alam ini, tapi untuk memasuki ruangan yang dilindungi formasi ternyata perlu sentuhan fisik. Pemuda itu lantas menekan telapak tangannya ke batu itu. Formasi itu merespons dengan bergeser ke samping, memperlihatkan lubang gelap di bawahnya.
Zhao Fei segera melompat turun, mendarat di lorong batu yang lembab. Dindingnya berlumut, tapi tidak dalam kondisi rusak. Sementara suasana di sini terasa lebih dingin dari atas. “Keberadaanku mungkin tidak bisa dirasakan penghuni alam ini, tapi ternyata aku masih bisa membuka formasi dengan sentuhan fisik.”
Dengan lebih antusias pemuda itu berjalan menyusuri lorong. Setiap beberapa langkah, ada lampu kristal yang menyala otomatis. Cahaya biru pucat itu benar-benar membantu dalam menerangi jalan setapak.
Seketika itu pula hatinya berdesir karena mengingat bagaimana dirinya membangun tempat ini ribuan tahun lalu. Sementara fungsinya adalah untuk menyembunyikan artefak-artefak berharga yang tidak ingin dia simpan di perguruan. Sekaligus berjaga-jaga jika suatu hari dia membutuhkannya.
Tapi dia tidak pernah menyangka bahwa yang membutuhkannya adalah dirinya sendiri dalam bentuk roh.
Akhirnya sampai juga di ruangan besar di ujung lorong. Artefak-artefak tersimpan dalam peti-peti batu yang tertata rapi. Pedang, tombak, baju zirah, jimat, pil dewa, semuanya ada.
Zhao Fei berdiri di ambang pintu. Pandangannya menyapu ruangan itu dengan perlahan.
Semua masih di sini. Tidak ada yang tahu tempat ini. Tidak ada yang mengambilnya, dan karena itulah dirinya terharu.
“Semua ini adalah milikku. Tapi sayangnya, sekarang aku hanya bisa melihatnya.”
Dia berjalan mendekati rak paling tengah. Di sana, tergantung sebuah pedang. Sarungnya polos, tidak berukir, tidak berhias. Tapi bilah di dalamnya adalah pedang terbaik yang pernah dia buat sendiri.
Zhao Fei mengulurkan tangan, mencoba mengambil lampu kristal kecil di dekatnya untuk penerangan tambahan, dan seperti yang dia ketahui, tangannya menembus lampu itu seperti hantu.
“Sudah kuduga.”
Dia berjalan ke arah pedang itu. Berdiri di depannya dan menatap bilah yang tersembunyi di dalam sarung.
“Setidaknya aku bisa melihatnya,” gumamnya. “Padahal jika aku bisa menggunakannya lagi, Alam Bawah ataupun Alam Dewa sekalipun bisa aku taklukkan dengan mudah.”
Dia mengulurkan tangan harap-harap bisa menyentuh sarung kayu hitam itu.
Dia ingin merasakan dinginnya.
Dan seketika itu matanya melotot. Tangannya tidak menembus karena justru memegang sesuatu yang nyata.
Perlahan, dia menggenggam gagang pedang itu. Mengangkatnya dari rak.
Pedang itu terasa berat, dengan bobot yang sudah dia kenal selama ribuan tahun.
Dia mengayunkannya sekali. Gerakan yang sudah dia kuasai sejak sebelum Li Tianming lahir. Pedang itu bersiut di udara, meninggalkan jejak cahaya biru tipis.
Jantung Zhao Fei pun berdebar bukan main.
“Hah?! Ini... bagaimana bisa?”
Dia berdiri seperti patung di ruangan itu, memegang pedang di tangannya. Sementara pikirannya berputar cepat.
“Jika aku bisa menyentuh pedang ini... apakah aku bisa membawanya?”
Dia mencoba memfokuskan pikirannya. Membayangkan pedang itu berada di dunia bawah. Membayangkan rumah Tabib Wen. Membayangkan tangannya yang masih memegang gagang pedang ini.
Hingga cincin di jarinya terasa hangat.
Dia menutup mata.
Ketika dirinya membuka mata, dia sudah duduk bersila di lantai rumah Tabib Wen. Udara dunia bawah yang lebih berat lantas memenuhi paru-parunya.
Dan di tangannya...
Pedang itu ternyata masih ikut bersamanya.