Genre: Romance, Psychological Thriller, Suspense, Drama
Tag: CEO, Mantan Istri, Posesif, Psikopat, Penyesalan, Second Chance Romance
Sinopsis Resmi:
Dua tahun setelah menceraikan Kirana karena keangkuhannya, CEO Adrian Dirgantara didera penyesalan mendalam. Saat ia berniat merebut kembali hati mantan istrinya, Adrian mendapati Kirana telah menikah lagi dengan Rendy Baskoro.
Di mata publik, Rendy adalah suami sempurna. Namun di balik pintu rumah, Rendy adalah seorang psikopat manipulatif yang menyiksa dan menyekap Kirana dalam teror obsesi yang gila.
Menyadari Kirana dalam bahaya maut, Adrian mempertaruhkan nyawa dan seluruh kekuasaannya untuk menghancurkan Rendy. Akankah Kirana yang penuh trauma bisa kembali luluh dan selamat di pelukan Adrian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SPECIAL SEASON Episode 2: Garis Merah yang Mengubah Takdir
Sisa-sisa rintik hujan malam itu masih meninggalkan jejak basah di atas dedaunan pohon kamboja yang mengelilingi halaman belakang vila Uluwatu. Di dalam kamar utama, suasana mendadak senyap, menyisakan gema dari kalimat yang baru saja diucapkan Kirana. Alat tes digital di tangan Adrian terasa begitu berat, bukan karena bobot fisiknya, melainkan karena makna dari dua kata yang tertera di layar kecil itu.
"PREGNANT".
Adrian masih berlutut di lantai marmer kamar mandi, kedua lengannya melingkar erat di pinggang Kirana yang terduduk lemas bersandar pada dinding. Ia bisa merasakan detak jantung Kirana yang berpacu cepat, berirama sama dengan detak jantungnya sendiri yang bergemuruh di dalam rongga dada. Untuk seorang pria yang terbiasa mengendalikan angka-angka saham, mengakuisisi perusahaan logistik multinasional, dan menghadapi moncong senjata tanpa berkedip, detik ini adalah momen di mana seluruh otoritasnya runtuh dan digantikan oleh ketakutan sekaligus kebahagiaan yang teramat murni.
"Mas..." bisik Kirana, suaranya parau, pecah di sela-sela sisa tangisnya. Jemarinya yang dingin meraba rahang tegas Adrian, menghapus air mata yang jarang sekali—bahkan tidak pernah—ia lihat jatuh dari mata elang suaminya. "Kenapa kamu menangis? Kamu... kamu tidak bahagia?"
Adrian tersentak kecil, lalu menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ia melepaskan pelukannya perlahan, menangkup kedua pipi Kirana dengan telapak tangannya yang hangat. Tatapan matanya yang biasanya sedingin es kini memancarkan binar emosi yang begitu pekat.
"Bagaimana mungkin aku tidak bahagia, Kirana?" suara bariton Adrian terdengar bergetar, sebuah pemandangan yang akan membuat Rendra atau seluruh jajaran direksi Dirgantara Group tidak akan percaya jika melihatnya. "Ini... ini adalah hal terindah yang pernah terjadi di dalam hidupku setelah hari di mana kamu memilih untuk kembali ke sisiku. Aku menangis karena... karena aku merasa tidak pantas menerima berkah sebesar ini setelah semua luka yang pernah kubawa ke dalam hidupmu."
Kirana menggenggam pergelangan tangan Adrian, menatap dalam-dalam ke manik mata suaminya. "Jangan bicara seperti itu, Mas. Anak ini... dia hadir bukan karena masa lalu kita, tapi karena masa depan yang sedang kita bangun di sini."
Adrian tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh keharuan. Ia menundukkan kepalanya, mendaratkan seulas kecupan panjang dan sarat akan penghormatan di kening Kirana. Ciuman itu berlangsung lama, menyalurkan seluruh rasa syukur yang tak mampu diwakili oleh kata-kata. Setelah itu, dengan gerakan yang teramat hati-hati, Adrian menyelipkan lengan kanannya di bawah lutut Kirana dan lengan kirinya di punggung istrinya, membopong tubuh ringan itu keluar dari kamar mandi menuju ranjang utama mereka yang luas.
Ia meletakkan Kirana di atas kasur seolah-olah wanita itu adalah selembar kain sutra paling rapuh di dunia. Adrian menarik selimut tebal hingga sebatas dada Kirana, lalu ikut merebahkan tubuhnya di samping sang istri, menarik Kirana ke dalam dekapan dadanya yang bidang.
Malam itu, tidak ada pembicaraan tentang bisnis, tidak ada sketsa desain gaun, dan tidak ada lagi bayang-bayang Danuar Baskoro. Hanya ada sepasang kekasih yang saling mendekap di bawah selimut hangat, mendengarkan detak jantung satu sama lain, mencoba mencerna garis merah takdir yang baru saja mengubah arah hidup mereka untuk selamanya.
Keesokan paginya, matahari Bali terbit dengan kilau keemasan yang sempurna, mengusir sisa-sisa mendung malam hari. Namun, bagi Adrian Dirgantara, kedamaian pagi itu justru menandakan dimulainya sebuah misi perlindungan baru yang jauh lebih ketat.
Sejak pukul enam subuh, Adrian sudah duduk di tepi ranjang dengan ponsel yang menempel di telinganya. Di seberang panggilan, suara Rendra terdengar serak, khas seseorang yang baru saja terjaga dari tidur singkatnya setelah mengurus sengketa aset di Jakarta.
"Adrian? Ada apa menelepon sepagi ini? Apa ada masalah lagi dengan dokumen pengalihan Baskoro Logistics di Bali?" tanya Rendra, nadanya langsung berubah taktis dan siaga.
"Bukan urusan bisnis, Rendra," sahut Adrian, suaranya rendah namun penuh penekanan. Ia melirik ke arah Kirana yang masih terlelap dengan posisi memeluk bantal di sampingnya. "Kirana hamil."
Keheningan panjang sempat terjadi di seberang telepon. Rendra tampaknya membutuhkan waktu beberapa detik untuk mencerna informasi tersebut, sebelum akhirnya terdengar suara helaan napas lega yang luar biasa besar bercampur tawa kecil. "Demi Tuhan, Adrian... Kamu membuat jantungku hampir copot. Aku kira ada serangan baru dari pengacara Danuar. Tapi... selamat, Sahabatku. Akhirnya, ada berita baik yang benar-benar bersih dari darah dan air mata di dalam keluarga kalian."
"Terima kasih, Rendra," balas Adrian, matanya tetap mengunci wajah tidur Kirana. "Namun, itulah alasan aku meneleponmu. Kehamilan ini harus dijaga dengan kerahasiaan tingkat tinggi. Aku tidak mau ada satu pun media gosip saham di Jakarta yang mencium berita ini dan menjadikannya komoditas spekulasi pasar. Aku juga tidak mau ada fotografer nakal yang menguntit Kirana di Bali."
"Aku mengerti," sahut Rendra, nadanya kembali serius dan profesional. "Trauma mental Kirana bisa memburuk jika dia berada di bawah tekanan sorot kamera. Aku akan langsung berkoordinasi dengan tim keamanan privat kita di Bali. Mulai hari ini, akses perimeter luar vilamu akan diperketat. Setiap tamu atau kurir yang datang harus melalui pemeriksaan tiga lapis. Bagaimana dengan pemeriksaan medisnya?"
"Aku tidak mau membawa Kirana ke rumah sakit umum di Denpasar. Terlalu berisiko membiarkannya mengantre di tempat publik," ucap Adrian dengan sifat protektifnya yang mulai merayap naik. "Carikan dokter spesialis kandungan terbaik di Indonesia. Minta dia terbang ke Bali akhir pekan ini bersama seluruh peralatan USG portabel paling canggih. Pemeriksaan pertama harus dilakukan secara privat di dalam vila ini."
Rendra terkekeh pelan di seberang sana, meskipun ia tahu Adrian tidak sedang bercanda. "Sifat *overprotective*-mu mulai kumat, Adrian. Tapi baiklah, aku tahu bagaimana berharganya Kirana dan calon bayimu. Aku akan mengaturnya bersama Hendra Wijaya agar semuanya berjalan legal dan privat. Jaga istrimu baik-baik."
Setelah memutuskan panggilan, Adrian mengembuskan napas panjang. Ia meletakkan ponselnya di atas meja nakas, lalu kembali menatap Kirana yang mulai menggeliat kecil, menandakan wanita itu akan segera terbangun.
Pukul sepuluh pagi, Kirana bersikeras untuk tetap pergi ke butiknya di Seminyak. Meskipun Adrian sudah membujuknya dengan berbagai alasan agar ia beristirahat di rumah, Kirana tetap teguh pada pendiriannya. Baginya, butik itu bukan sekadar tempat bisnis, melainkan ruang pembuktian bahwa ia adalah wanita yang mandiri dan tidak lagi terkekang oleh ketakutan masa lalu.
Namun, begitu Kirana melangkah keluar dari pintu vila, ia tertegun melihat pemandangan di pelataran parkir. Di sana, sudah terparkir sebuah mobil SUV hitam anti-peluru berukuran besar, lengkap dengan dua orang pria berbadan tegap mengenakan setelan jas rapi dan *earpiece* di telinga mereka. Mereka berdiri tegap di samping pintu mobil yang terbuka.
"Mas... apa-apaan ini?" Kirana berbalik, menatap Adrian yang berjalan di belakangnya dengan setelan kemeja formal tanpa dasi.
Adrian melangkah mendekat, memegangi siku Kirana dengan lembut namun tegas. "Mulai hari ini, kamu tidak boleh menyetir sendiri, Kirana. Dan mobil sedan lamamu terlalu ringkih. Ini adalah tim keamanan privat yang ditunjuk langsung oleh Rendra. Mereka akan mengawalmu ke mana pun kamu pergi, termasuk saat kamu berada di butik."
Kirana mengernyitkan dahi, ada rasa tidak nyaman yang mulai menggelitik dadanya. Pengawalan ketat seperti ini mendadak membangkitkan memori lama saat ia masih menjadi tawanan tak kasat mata di rumah Menteng pada masa pernikahan pertama mereka. "Mas Adrian, aku ini cuma mau pergi ke butik yang jaraknya tidak sampai tiga puluh menit dari sini. Aku sedang hamil, bukan sedang menghadapi ancaman terorisme. Pengawalan seperti ini berlebihan."
"Tidak ada yang berlebihan jika itu menyangkut keselamatanmu dan anak kita, Kirana," potong Adrian, tatapan matanya mengunci pandangan Kirana dengan pendar otoritas yang tak terbantahkan. "Kondisi fisikmu sedang rentan. Dunia luar tidak seaman yang kamu kira. Biarkan mereka menjalankan tugasnya, demi ketenanganku saat bekerja."
Kirana menarik napas dalam-dalam, menyadari bahwa mendebat Adrian dalam mode pelindung seperti ini hanya akan membuang energinya. Akhirnya, dengan berat hati, ia melangkah masuk ke dalam kabin mobil SUV yang tebal dan kedap suara itu. Sepanjang perjalanan menuju Seminyak, Kirana hanya menatap keluar jendela, merasakan ada riak kecemasan baru yang justru lahir dari sikap suaminya sendiri.
Setibanya di butik, kehadiran dua pengawal berbadan tegap yang berjaga di depan pintu masuk butik seketika menarik perhatian para staf dan beberapa pelanggan. Kirana melangkah masuk dengan perasaan agak canggung, langsung menuju ke ruang kerja pribadinya untuk menghindari bisik-bisik yang mulai beredar.
Mbak Lastri masuk beberapa menit kemudian membawa secangkir teh jahe hangat, meletakkannya di atas meja kerja Kirana. Wanita paruh baya itu melirik keluar jendela kaca ruang kerja, menatap dua pengawal yang berdiri kaku di luar.
"Ibu Kirana... tampaknya Pak Adrian benar-benar menganggap serius kabar gembira ini ya," ucap Mbak Lastri dengan senyuman maklum mencoba mencairkan suasana.
Kirana mengaduk teh jahenya dengan lesu. "Urusan pengawalan ini membuatku agak pusing, Mbak Lastri. Mas Adrian mendadak berubah menjadi sangat protektif sejak semalam. Aku tahu dia cemas, tapi rasanya seperti... seperti aku tidak diberikan ruang untuk bernapas."
"Wajar saja, Ibu," Lastri duduk di kursi di depan meja Kirana, menatap bos mudanya dengan pandangan keibuan. "Pria seperti Pak Adrian, yang memiliki kekuasaan besar namun pernah hampir kehilangan hal paling berharga dalam hidupnya, pasti akan mengerahkan seluruh kekuatannya untuk memastikan kesalahan itu tidak terulang lagi. Apalagi ini menyangkut anak pertama. Sifat protektif itu adalah bentuk dari rasa takutnya yang teramat dalam."
Kirana terdiam, meresapi kata-kata Mbak Lastri. Ia tahu betul bagaimana hancurnya Adrian saat ia diculik oleh Rendy setahun lalu. Ia tahu bagaimana gilanya Adrian saat mengira dirinya akan pergi setelah mengetahui rahasia konspirasi masa lalu di Jakarta. Di balik topeng ketegasan dan keangkuhan seorang CEO Dirgantara Group, Adrian sebenarnya adalah seorang pria yang menyimpan ketakutan besar akan kehilangan.
Namun, di saat yang sama, Kirana juga tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa garis merah kehamilan ini mulai memicu sisi gelap dari sifat dominan Adrian—sisi yang dulu sempat membuat Kirana merasa terpenjara.
Sore harinya, sekitar pukul empat, Adrian datang menjemput Kirana secara langsung. Pria itu masuk ke dalam butik, mengabaikan tatapan kagum dari beberapa pelanggan wanita, dan langsung melangkah ke ruang kerja Kirana.
"Sudah waktunya pulang, Sayang," ucap Adrian sambil merapikan beberapa berkas di meja Kirana tanpa diminta. "Dokter spesialis yang diminta Rendra sudah mendarat di Bandara Ngurah Rai satu jam lalu. Mereka sedang menuju ke vila untuk pemeriksaan pertamamu."
Kirana menatap sketsa gaunnya yang baru selesai setengah. "Mas, tapi aku masih harus menyelesaikan detail pola untuk pesanan Nyonya Wijaya besok—"
"Bisa dilanjutkan besok, Kirana. Atau biarkan stafmu yang menyelesaikannya," sela Adrian dengan nada yang tidak menerima bantahan. Ia mengambil tas tangan Kirana, menggandeng jemari istrinya, dan menuntunnya keluar dari butik.
Sepanjang perjalanan pulang, keheningan yang agak kaku menyelimuti kabin mobil. Kirana memilih untuk diam, sementara Adrian sibuk memeriksa beberapa pesan teks dari Rendra terkait persiapan logistik medis di rumah.
Begitu mereka tiba di vila, ruang tengah mereka sudah berubah fungsi menjadi ruang periksa medis mini. Sebuah ranjang periksa portbal yang nyaman sudah terpasang, lengkap dengan mesin USG mutakhir yang layarnya masih menyala redup. Dua orang dokter spesialis senior dan seorang perawat menyambut kedatangan mereka dengan senyuman profesional yang ramah.
"Selamat sore, Tuan Adrian, Nyonya Kirana," ucap dokter pria paruh baya yang merupakan salah satu profesor obstetri terbaik dari Jakarta. "Kami di sini untuk memastikan pemeriksaan pertama berjalan senyaman dan seprivat mungkin."
Kirana melirik ke arah Adrian, yang hanya mengangguk tegas memberikan kode agar pemeriksaan segera dimulai. Dengan perasaan yang campur aduk, Kirana merebahkan tubuhnya di atas ranjang periksa. Perawat dengan cekatan mengoleskan gel bening yang terasa dingin di atas permukaan perut rata Kirana.
Dokter kemudian menggerakkan alat pemindai (*transducer*) di atas perut Kirana. Pandangan mata semua orang di ruangan itu seketika tertuju pada layar monitor besar yang berada di samping ranjang.
Awalnya, layar itu hanya menampilkan visual hitam-putih yang tampak abstrak dan kabur bagi mata orang awam. Namun, dokter dengan keahliannya menggeser alat tersebut ke sudut tertentu, memperbesar fokus pada sebuah titik kecil yang berada di tengah rahim Kirana. Sebuah kantung kehamilan yang masih sangat muda.
"Nah, ini dia," ucap dokter dengan nada suara yang hangat, menunjuk ke arah titik kecil tersebut. "Kantung kehamilannya berkembang dengan sangat baik di posisi yang sempurna. Usianya sekitar tiga minggu, persis seperti hasil tes mandiri Nyonya."
Dokter kemudian menekan sebuah tombol di mesin USG, mengaktifkan fitur sensor audio frekuensi tinggi.
Detik berikutnya, sebuah suara mendadak menggema, memenuhi seluruh penjuru ruang tengah vila yang sunyi.
Dug-dug-dug-dug-dug-dug...
Suara itu terdengar sangat cepat, ritmis, dan dipenuhi oleh energi kehidupan yang luar biasa murni. Itu adalah suara detak jantung pertama dari janin yang sedang tumbuh di dalam rahim Kirana. Sebuah suara yang menjadi bukti otentik bahwa sebuah takdir yang baru telah benar-benar lahir di antara mereka.
Air mata Kirana seketika meleleh membasahi pelipisnya. Ia membekap mulutnya sendiri, menatap layar monitor dengan pandangan yang dipenuhi oleh rasa takjub yang tak terlukiskan. Segala bentuk kekesalan, rasa terkekang, dan ketakutannya siang tadi menguap sepenuhnya dalam satu kedipan mata demi mendengar melodi kehidupan tersebut.
Di samping ranjang, Adrian berdiri membeku. Mata elangnya melebar, menatap lurus ke arah titik kecil di layar proyektor, sementara telinganya menangkap setiap ritme detak jantung yang berpacu cepat itu. Jari-jari tangannya yang besar tampak bergetar saat ia perlahan meraih tangan Kirana, menggenggamnya dengan teramat sangat erat.
Pria sedingin es itu kembali luruh di depan keajaiban ciptaan Tuhan. Detak jantung kecil itu seolah-olah menjadi suara lonceng yang meruntuhkan sisa-sisa tembok kegelapan di dalam jiwa Adrian. Anak itu ada. Anak itu hidup, dan anak itu adalah darah dagingnya sendiri bersama wanita yang teramat ia puja.
"Dia... dia sehat, Dokter?" suara Adrian terdengar parau, sarat akan kecemasan seorang ayah yang baru pertama kali mendengarkan kehidupan anaknya.
"Sangat sehat dan sangat kuat, Tuan Adrian," jawab dokter sambil tersenyum bangga. "Semua indikator awal menunjukkan perkembangan yang sempurna. Tugas Anda sekarang adalah memastikan Nyonya Kirana terhindar dari segala bentuk stres, kelelahan fisik, dan tekanan emosional."
Setelah pemeriksaan selesai dan tim medis pamit undur diri meninggalkan vila, keheningan malam kembali menyelimuti Uluwatu. Adrian dan Kirana duduk berdampingan di tepi ranjang utama mereka. Di tangan Kirana, terdapat selembar foto cetak pertama dari hasil USG siang tadi—sebuah foto hitam putih dengan lingkaran merah kecil di tengahnya.
Adrian memeluk tubuh Kirana dari belakang, menumpukan dagunya di pundak istrinya, ikut memandangi foto kecil tersebut.
"Mas..." bisik Kirana perlahan, memecah kesunyian. "Aku tahu kamu melakukan semua pengawalan dan pemeriksaan privat ini karena kamu teramat mencintai kami. Aku mendengarkan apa kata dokter tadi tentang menghindari stres."
Kirana membalikkan badannya sedikit, menatap lurus ke dalam manik mata Adrian. "Tapi tolong... jangan biarkan rasa takutmu berubah menjadi penjara baru bagiku. Aku ingin menikmati kehamilan ini sebagai wanita yang bebas, bukan sebagai seseorang yang harus terus bersembunyi dari dunia luar karena trauma masa lalu."
Adrian menatap mata bulat Kirana, menangkap kejujuran dan sisa rasa lelah di sana. Kata-kata Kirana seolah menjadi cermin yang merefleksikan ego protektifnya yang sempat lepas kendali sejak pagi tadi. Pria itu menarik napas dalam-dalam, lalu mengecup ujung hidung Kirana dengan kelembutan yang tulus.
"Maafkan aku, Sayang," bisik Adrian rendah, suaranya sarat akan penyesalan yang jujur. "Detak jantung yang kudengar tadi... membuatku sadar betapa besarnya tanggung jawabku sekarang. Aku akan belajar untuk mengendalikan ketakutanku. Aku tidak akan memenjarakanmu lagi. Kita akan melangkah bersama di bawah garis merah takdir ini, sebagai sepasang orang tua yang akan memberikan dunia terbaik untuk anak kita."
Kirana tersenyum manis, menyandarkan kepalanya di dada bidang Adrian. Malam itu, di bawah langit Uluwatu yang bertabur bintang, garis merah takdir tidak lagi terasa sebagai beban yang menakutkan, melainkan sebuah jembatan emas yang membawa mereka menuju fajar kehidupan yang sesungguhnya.
Bersambung~