NovelToon NovelToon
DEWA ABSOLUT BANGKIT DI PONTIANAK

DEWA ABSOLUT BANGKIT DI PONTIANAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem
Popularitas:717
Nilai: 5
Nama Author: Arrofy

Raka Pratama hanyalah pemuda yatim piatu dari Pontianak yang terbiasa diremehkan oleh dunia.
Namun pada malam ketika darahnya menetes di tepi Sungai Kapuas, langit Pontianak retak, para dewa terbangun, dan sebuah suara agung menyatu dengan jiwanya.
[Sistem Dewa Absolut aktif.]
[Selamat datang kembali, Tuan.]
Sejak malam itu, Raka bukan lagi manusia biasa.
Makhluk asing dari Dunia Immortal mulai turun ke Pontianak. Para kultivator menyusup ke kota. Keluarga-keluarga besar diam-diam bekerja sama dengan mereka demi kekuasaan.
Mereka semua mengira Raka menyimpan pusaka dewa.
Padahal yang bangkit dalam tubuhnya bukan pusaka.
Melainkan pemilik takhta yang dulu membuat para dewa berlutut.
Pontianak pun berubah menjadi medan perang antar dunia.
Dan Raka Pratama… adalah pusat dari kebangkitan itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3

Raka berjalan sendirian di bawah langit malam Pontianak.

Langkahnya pelan, tetapi tidak lagi lemah. Tubuh yang beberapa saat lalu penuh luka kini terasa ringan, seolah semua rasa sakit yang menempel di tulangnya telah dicabut paksa oleh sesuatu yang tidak bisa ia pahami.

Namun justru karena tubuhnya sudah pulih, pikirannya semakin kacau.

Ia masih bisa merasakan tanah basah di punggungnya. Masih bisa mendengar tawa Bram dan anak buahnya. Masih bisa melihat Sungai Kapuas yang terangkat ke udara seperti dinding raksasa. Masih bisa mengingat retakan langit, takhta emas, dan pedang hitam keemasan yang tertancap di hadapannya.

Semua itu terasa mustahil.

Tapi luka di tubuhnya benar-benar hilang.

Dan suara wanita itu masih ada di dalam kepalanya.

Raka berhenti di pinggir jalan. Beberapa motor melintas tidak jauh darinya. Lampu kendaraan memantul di aspal yang masih basah oleh sisa hujan. Dari kejauhan, suara orang tertawa di warung kopi terdengar samar, seolah dunia masih berjalan normal tanpa tahu apa yang baru saja terjadi di tepian Sungai Kapuas.

Raka menunduk melihat tangannya.

Tangannya tidak berubah.

Tetap tangan manusia.

Namun ketika ia mengepalkan jari-jarinya, udara di sekitarnya bergetar tipis. Sangat halus, hampir tidak terlihat, tetapi cukup untuk membuat genangan air di dekat kakinya beriak tanpa disentuh angin.

Raka menarik napas pelan.

“Aku sudah gila,” gumamnya.

Suara wanita itu terdengar tenang di dalam jiwanya.

[Tuan tidak gila.]

Raka langsung membeku.

Ia menoleh ke sekeliling, memastikan tidak ada orang di dekatnya. Jalanan cukup sepi. Hanya ada lampu-lampu kota, suara kendaraan dari kejauhan, dan bayangan gedung-gedung yang berdiri gelap di bawah malam.

“Kau masih di sini?”

[Aku selalu berada di sini sejak penyatuan dimulai.]

Raka menelan ludah. “Kau itu apa? Hantu? Jin? Dewa?”

Beberapa detik tidak ada jawaban.

Lalu suara itu terdengar lagi, tetap dingin, tetap anggun.

[Sistem Dewa Absolut.]

[Suara yang ditinggalkan untuk membimbing Tuan.]

[Penjaga awal dari takhta yang telah lama hilang.]

Raka memejamkan mata sebentar. Kepalanya terasa berat. Ia ingin menolak semua ini, tetapi tidak ada yang bisa ia sangkal. Terlalu banyak hal mustahil terjadi di depan matanya.

Langit retak.

Sungai berhenti.

Luka tubuhnya sembuh.

Bram dan anak buahnya berlutut hanya karena tatapannya.

Semua itu bukan mimpi.

Raka kembali berjalan.

“Kau bilang aku Dewa Absolut,” ucapnya pelan, nyaris seperti berbicara pada dirinya sendiri. “Tapi aku tidak ingat apa pun.”

[Ingatan Tuan masih tersegel.]

“Kenapa?”

[Karena jika semuanya kembali terlalu cepat, tubuh manusia ini akan hancur.]

Raka terdiam.

Tubuh manusia ini.

Kalimat itu membuat dadanya terasa aneh.

Selama dua puluh satu tahun, tubuh ini adalah satu-satunya hal yang ia punya. Tubuh yang bekerja, lapar, terluka, lelah, dan bertahan hidup. Namun suara itu menyebutnya seolah tubuh Raka hanyalah wadah sementara bagi sesuatu yang lebih besar.

“Kau bicara seolah aku bukan manusia.”

Untuk pertama kalinya, sistem tidak langsung menjawab.

Raka terus berjalan melewati jalan kecil menuju kawasan warung yang masih cukup ramai. Di sisi jalan, beberapa orang duduk di bangku plastik, mengobrol sambil minum kopi. Ada yang menertawakan sesuatu dari ponsel. Ada yang membicarakan pekerjaan. Ada juga yang hanya duduk diam menikmati malam.

Semuanya tampak biasa.

Tapi mata Raka mulai melihat hal yang tidak biasa.

Awalnya hanya samar.

Di tubuh seorang pria yang sedang merokok, Raka melihat kabut abu-abu tipis melayang di sekitar bahunya. Pada seorang ibu yang sedang membungkus makanan, ada cahaya putih lembut yang bergerak pelan seperti embun. Di tubuh seorang lelaki yang berdiri di dekat motor, ada garis merah gelap berdenyut di sekitar dadanya.

Raka berhenti.

Matanya menyipit.

“Apa itu?”

[Mata Dewa mulai menyesuaikan diri.]

Raka mengerutkan kening. “Mata Dewa?”

[Kemampuan untuk melihat lapisan yang disembunyikan oleh mata manusia.]

[Niat.]

[Aura.]

[Kebohongan.]

[Jejak makhluk asing.]

[Dan kelak, dosa yang melekat pada jiwa.]

Raka menatap orang-orang itu dengan napas tertahan.

Selama ini ia hanya melihat manusia dari wajah dan ucapan mereka. Sekarang, setiap orang seperti membawa warna di sekitar tubuhnya. Ada yang redup. Ada yang hangat. Ada yang gelap dan membuat dada Raka tidak nyaman.

Ia melangkah lagi, tetapi pikirannya semakin berat.

Dunia yang ia kenal ternyata tidak sesederhana yang ia kira.

Tidak lama kemudian, Raka sampai di sebuah warung kopi sederhana di pinggir jalan. Lampu kuning menggantung di depan warung itu, menerangi meja-meja kayu yang sudah mulai kusam. Aroma kopi hitam, gorengan, dan asap rokok bercampur di udara.

Warung itu bukan tempat mewah.

Tapi bagi Raka, tempat itu lebih hangat daripada kamar kontrakannya sendiri.

Di balik meja, seorang pria berusia lima puluhan sedang menuang kopi ke gelas kaca. Rambutnya sudah banyak memutih, wajahnya teduh, dan gerakannya tenang. Namanya Pak Harun.

Pak Harun mengangkat wajah ketika melihat Raka datang.

“Raka?”

Raka berhenti di depan warung.

Pak Harun menatapnya dari kepala sampai kaki. Matanya menyipit melihat pakaian Raka yang kotor oleh lumpur, meski wajah dan tubuhnya tidak menunjukkan luka.

“Kau dari mana malam-malam begini? Bajumu kenapa?”

Raka terdiam sesaat.

Ia tidak tahu harus menjawab apa.

Kalau ia berkata baru saja dihajar preman, Pak Harun pasti bertanya kenapa tidak ada luka. Kalau ia berkata langit retak dan sistem dewa masuk ke tubuhnya, mungkin Pak Harun akan menyuruhnya duduk sambil memanggil orang untuk membawanya ke rumah sakit.

Akhirnya Raka hanya menjawab pendek.

“Jatuh, Pak.”

Pak Harun menatapnya beberapa saat. Wajah tua itu tampak tidak sepenuhnya percaya, tetapi ia tidak memaksa.

“Duduklah. Kau mau kopi?”

Raka mengangguk pelan.

Pak Harun mengambil gelas, lalu mulai membuat kopi seperti biasa. Raka duduk di pojok warung, tempat yang sering ia tempati kalau sedang tidak ingin banyak bicara.

Di sekelilingnya, beberapa pelanggan masih mengobrol.

Namun kali ini, Raka tidak bisa mendengar semuanya dengan biasa.

Suara mereka terlalu jelas.

Terlalu tajam.

Bahkan bisikan kecil di meja paling ujung bisa masuk ke telinganya seperti orang itu berbicara tepat di sampingnya.

“Katanya tanah dekat sungai mau dibeli orang Mahendra semua.”

“Ya kalau keluarga Mahendra sudah mau, siapa yang bisa menolak?”

“Kasihan pedagang kecil di sana. Banyak yang dipaksa pindah.”

“Sudahlah. Orang kecil memang cuma bisa ikut aturan orang besar.”

Raka menunduk.

Nama Mahendra membuat dadanya terasa dingin.

Ia belum tahu banyak tentang keluarga itu, tetapi ia tahu Bram sering menyebut nama mereka ketika memeras orang. Keluarga Mahendra punya uang, tanah, orang bayaran, dan pengaruh. Orang-orang kecil takut pada mereka.

Pak Harun datang membawa segelas kopi hitam dan meletakkannya di depan Raka.

“Minum dulu. Wajahmu seperti orang baru pulang dari kuburan.”

Raka menatap kopi itu. Uap hangat naik perlahan.

“Terima kasih, Pak.”

Pak Harun duduk sebentar di kursi depan Raka.

“Kau ada masalah?”

Raka tidak langsung menjawab.

Ada banyak hal yang ingin ia katakan. Tapi tidak satu pun terdengar masuk akal.

Akhirnya ia hanya berkata, “Tidak apa-apa.”

Pak Harun menghela napas pelan.

“Orang yang bilang tidak apa-apa biasanya justru sedang menahan paling banyak.”

Raka menatap pria tua itu.

Di sekitar tubuh Pak Harun, Raka melihat cahaya putih keemasan yang samar. Tidak terang, tidak mencolok, tetapi stabil. Cahaya itu terasa hangat, seperti lampu kecil di tengah hujan.

Sistem berbicara di dalam jiwanya.

[Manusia tua ini lemah.]

[Namun hatinya bersih.]

Raka terdiam.

Pak Harun tentu tidak mendengar suara itu. Ia hanya menepuk meja pelan.

“Kalau ada yang terlalu berat, jangan dipendam semua. Tidak semua orang di dunia ini ingin menjatuhkanmu.”

Kalimat sederhana itu membuat dada Raka terasa sedikit sesak.

Ia sudah terlalu lama hidup sendirian sampai lupa bahwa masih ada orang yang bicara tanpa maksud buruk.

Namun sebelum Raka sempat menjawab, suara ribut terdengar dari luar warung.

Seorang pria berpakaian rapi masuk dengan langkah terburu-buru. Usianya sekitar tiga puluhan. Rambutnya disisir rapi, wajahnya tampak ramah, tetapi senyumnya terasa terlalu dibuat-buat.

Raka menoleh.

Begitu pria itu masuk, Mata Dewa di dalam dirinya berdenyut.

Di sekitar tubuh pria itu, kabut abu-abu bercampur garis merah gelap bergerak seperti asap kotor.

Raka menatapnya lebih lama.

Tiba-tiba, beberapa kata muncul samar di penglihatannya.

Niat tersembunyi: menipu.

Target: Harun.

Tingkat ancaman: rendah.

Raka membeku.

Ia hampir menjatuhkan gelas kopinya.

Pria itu menghampiri Pak Harun sambil tersenyum lebar.

“Pak Harun, malam-malam masih buka? Wah, rajin sekali.”

Pak Harun berdiri. “Oh, Pak Jaya. Ada apa malam begini?”

1
Alia Chans
keren banget plisss😖
Rayzent
menarik nih, lagi gabut 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!