NovelToon NovelToon
Jejak Kembali Ke Piala Dunia

Jejak Kembali Ke Piala Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Time Travel / Anak Genius
Popularitas:409
Nilai: 5
Nama Author: Naga Ruwet

Dika Pratama ialah seseorang yang secara tak terduga kembali ke masa SMA ya ditahun 2010. dikarenakan ia mendapatkan sebuah kesempatan untuk menebus penyesalan terbesar nya yaitu ia tidak memanfaatkan bakatnya yaitu bermain sepakbola, lantas di kehidupan ini ia akan bersungguh-sungguh dalam memanfaatkan bakatnya untuk membawa Indonesia menjadi juara piala dunia.


yuk ikuti terus bagaimana perjuangan Dika untuk menjadi seorang pesepakbola terbaik di dunia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naga Ruwet, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part II

" Kamu sudah plan semua ini dari jauh hari, huh?" tanya Pak Haris lirih.

"Sudah, Pak. Sejak pertama kali Bapak latih kami. Saya tahu apa kekurangan saya, saya tahu apa yang saya butuhkan, dan saya tahu jalan mana yang paling benar buat sampai ke puncak. Kalau saya terima tawaran Persebaya sekarang, itu jalan yang mudah, tapi itu jalan yang berakhir di sini saja, di Pulau Jawa. Kalau saya tolak dan saya pergi ke Inggris, jalannya berat, sulit, jauh, dan mungkin banyak rintangan... tapi itu jalan yang menuju dunia."

Dika tersenyum sedikit sedih, namun penuh tekad.

"Pak, saya orang Sidoarjo. Darah saya darah Sidoarjo. Saya bangga sekali bisa membela kota ini, membawa nama baik delta Brantas ini ke mana saja. Suatu hari nanti, kalau saya sudah sukses besar di Eropa, kalau saya sudah jadi pemain besar, saya janji... saya akan pulang ke sini. Saya akan bawa nama Sidoarjo harum ke seluruh dunia. Saya akan bikin akademi di sini, saya akan bantu pembinaan anak-anak muda di sini. Tapi untuk sekarang... izinkan saya pergi mencari ilmu, mencari ketajaman, mencari kualitas yang belum ada di sini."

Keheningan panjang terjadi di antara mereka, hanya terdengar suara angin berhembus di antara pepohonan di pinggir lapangan. Pak Haris menghela napas panjang, lalu perlahan-lahan senyum lebar dan bangga merekah di wajah tuanya. Beliau mengerti sekarang. Beliau sadar, beliau sedang tidak sedang menghadapi anak muda biasa. Beliau sedang menghadapi calon legenda.

Pak Haris mengulurkan tangannya, menjabat tangan Dika dengan sangat erat, lalu menepuk bahu anak itu dengan kekaguman mendalam.

"Maafkan Pak Haris ya, Dik... Pak kira kamu cuma anak muda yang berangan-angan. Ternyata... kamu sudah berpikir sampai sedetail dan sejauh ini. Pak salah. Pak terlalu memikirkan jalan yang enak dan dekat buat kamu, padahal kamu sedang membangun jalan terjal yang menuju ke langit."

Pak Haris menatap bangunan lapangan dan kota Sidoarjo di sekeliling mereka.

"Kamu benar, Dika. Kamu anak Sidoarjo yang hebat. Orang-orang di sini bangga punya kamu. Dan kalau keputusanmu sudah bulat untuk menolak tawaran Persebaya, Arema, dan yang lainnya demi mimpi ke Inggris... Pak dukung seratus persen. Pak akan bantu kamu urus semua surat dan penjelasan ke pengurus klub. Pak akan bilang pada mereka: Maaf, anak ini bukan milik satu klub saja. Anak ini milik masa depan sepak bola Indonesia, dan dia sedang bersiap menaklukkan dunia."

Mata Dika berkaca-kaca terharu mendukung dukungan itu. "Makasih banyak, Pak... Terima kasih sudah mengerti saya. Saya janji, saya tidak akan mempermalukan nama kota ini. Nama Sidoarjo akan saya sebut di setiap wawancara, di setiap pertandingan saya di luar nanti."

"Pasti akan, Nak. Pasti akan. Dan ingat satu hal... sepandai apa pun kamu, sehebat apa pun kamu nanti di Inggris sana... jangan lupa dari mana asalmu. Jangan lupa cara makan lontong kupang, jangan lupa bau tanah Sidoarjo, dan jangan lupa teman-temanmu di sini."

"Tidak akan pernah, Pak. Ini rumah saya. Di mana pun saya pergi, Sidoarjo tetap rumah saya."

Siang itu juga, Pak Haris mengundang kembali utusan Persebaya yang masih menunggu keputusan, beserta utusan klub-klub lain. Di ruang rapat, dengan tegas namun sopan, Dika menyampaikan keputusan besarnya.

"Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Persebaya Surabaya, kebanggaan masyarakat Jawa Timur, yang telah berkenan memberikan tawaran kehormatan ini. Juga terima kasih kepada Arema, Persela, dan seluruh tim yang berminat. Namun dengan segala kerendahan hati, saya harus menyampaikan bahwa saya belum bisa bergabung sekarang. Saya bertekad menyelesaikan pendidikan SMA saya di Sidoarjo terlebih dahulu, dan setelah lulus nanti, saya berencana melanjutkan karier sepak bola saya dengan mengikuti seleksi akademi di Inggris, untuk mencari pengalaman dan pembinaan di kancah internasional. Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya, dan semoga suatu saat nanti, kita bisa bekerja sama lagi."

Ruangan itu hening sejenak. Para utusan itu tampak kaget dan tidak percaya ada anak SMA yang berani menolak tawaran sebesar itu demi rencana yang terdengar muluk-muluk: Inggris. Namun, melihat ketegasan, kematangan, dan alasan logis yang disampaikan Dika, mereka sadar bahwa mereka sedang berhadapan dengan sosok istimewa.

"Keputusanmu berat, Nak," kata perwakilan Persebaya, mantan legenda tim yang sangat disegani. "Tapi aku suka keberanian dan pemikiranmu. Tidak banyak anak seusiamu yang berani mengambil risiko sebesar ini. Kami hormati keputusanmu. Ingat nama kami, kalau nanti di sana jalanmu terjal dan butuh tempat pulang... pintu Persebaya dan hati masyarakat Surabaya selalu terbuka buatmu, anak Sidoarjo."

Sore itu, berita penolakan Dika menyebar cepat. Ada yang memuji keberaniannya, ada yang menyebutnya gila, ada yang menganggapnya sombong. Tapi bagi Dika, omongan orang lain tidak lagi penting. Ia sudah meloloskan diri dari jeratan zona nyaman. Ia sudah memilih jalan yang benar menurut visi masa depannya.

Sore itu juga, di pinggir lapangan, Rio berlari menghampirinya dengan napas terengah-engah, wajahnya campur aduk antara kaget dan bangga.

"Dik! Dik! Aku denger kabarnya... kamu nolak Persebaya?! Kamu nolak tawaran jadi pemain profesional? Kamu gila ya?! Itu Persebaya lho, aku aja kalau ditawari langsung tanda tangan!" seru Rio heboh.

Dika tertawa lebar, menepuk bahu sahabatnya itu, lalu menunjuk ke arah utara, ke arah langit yang lebih luas.

"Rio, ingat janji kita? Kita mau ke Eropa, kan? Kita mau main di sana, kan? Kalau aku terima tawaran itu, aku bakal terjebak di sini. Aku harus buang jangkar itu, biar kapalnya bisa berlayar ke samudra luas. Sabar ya, satu tahun lagi kita lulus. Satu tahun lagi kita mulai petualangan sejati."

Rio menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum takjub. "Kamu emang pemimpin gila, Dika Pratama. Tapi aku percaya kamu. Kalau kamu bilang Inggris itu jalannya... ya sudah, aku ikut. Siapa tahu nanti aku jadi kiper andalan akademi di sana ya, kan?"

Matahari mulai terbenam di balik gedung-gedung kota Sidoarjo, menyisakan cahaya keemasan yang memantul di permukaan air selokan dan tambak. Dika berdiri tegak, seragam latihannya berkibar tertiup angin. Di dadanya, lambang Sidoarjo terasa makin berat maknanya. Di dalam dompetnya, tersimpan kekayaan rahasia yang nilainya terus melonjak, menjamin bekal keuangannya nanti. Di kepalanya, bahasa asing dan strategi sepak bola terus terasah.

Keputusan besar sudah diambil. Pintu menuju karier lokal sudah ditutup dengan sengaja, agar pintu menuju karier global terbuka lebar. Satu tahun ke depan akan menjadi tahun persiapan paling krusial, paling intens, dan paling menentukan dalam hidupnya.

Dika menatap langit yang mulai gelap, tersenyum penuh percaya diri.

"Tunggu aku, Inggris. Tunggu aku, akademi-akademi besar. Aku datang bukan cuma buat tes masuk. Aku datang buat menaklukkan kalian, dan membawa nama Sidoarjo, nama Jawa Timur, nama Indonesia, terbang setinggi langit."

Perjalanan makin menanjak tinggi. Dika Pratama resmi menolak kemewahan di depan mata demi kemegahan di ujung dunia.

1
WER
semangat author bikin bab nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!